<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>http://denung.wordpress.com</title>
	<atom:link href="http://denung.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://denung.wordpress.com</link>
	<description>.:Kamaruddin Azis:.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Sep 2010 03:05:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='denung.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/8666418ebc7f214ea1e4b42d2f61a3f6?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>http://denung.wordpress.com</title>
		<link>http://denung.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://denung.wordpress.com/osd.xml" title="http://denung.wordpress.com" />
	<atom:link rel='hub' href='http://denung.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Internet Sehat, Apa Itu?</title>
		<link>http://denung.wordpress.com/2010/09/01/internet-sehat-apa-itu/</link>
		<comments>http://denung.wordpress.com/2010/09/01/internet-sehat-apa-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 03:29:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reefberry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://denung.wordpress.com/?p=691</guid>
		<description><![CDATA[Saya baru saja mengatur meja dan modem Speedy untuk kedua anak saya, Intan dan Khalid saat ajakan mengikuti seminar bertemakan, &#8220;Dampak Psikologi, Penggunaan Teknologi Informasi dan Internet Pada Anak Serta Strategi Perlindungan,” di Hotel Quality Makassar tanggal 28 Agustus 2010 &#8230; <a href="http://denung.wordpress.com/2010/09/01/internet-sehat-apa-itu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=denung.wordpress.com&amp;blog=7946837&amp;post=691&amp;subd=denung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://denung.files.wordpress.com/2010/09/internet_pornography.jpg"><img src="http://denung.files.wordpress.com/2010/09/internet_pornography.jpg?w=150&#038;h=146" alt="" title="internet_pornography" width="150" height="146" class="alignleft size-thumbnail wp-image-693" /></a>Saya baru saja mengatur meja dan modem Speedy untuk kedua anak saya, Intan dan Khalid saat ajakan mengikuti seminar bertemakan, &#8220;Dampak Psikologi, Penggunaan Teknologi Informasi dan Internet Pada Anak Serta Strategi Perlindungan,” di Hotel Quality Makassar tanggal 28 Agustus 2010 datang.</p>
<p>Sebelumnya, di hari itu juga, saya baru saja mengaktivasi kapasitas internet ke Unlimited &#8220;Socialia&#8221; dengan kapasitas 384 kbps untuk internet di rumah. Kami leluasakan anak-anak mengakses internet di rumah. Selama ini, mereka mesti diam-diam untuk mengakses dari warnet. Bagi mereka, Seribu lima ratus rupiah untuk 30 menit terasa menyenangkan. Jika tidak menyimpan uang jajannya, mereka kerap minta uang untuk browsing. <span id="more-691"></span></p>
<p>Ada ketakutan yang kuat saat mengetahui mereka ada di warnet. Karenanya memberi pilihan untuk menjelajah dunia maya dari rumah rasanya lebih ringan. Tapi, internet memang selalu berwajah dua. Saat saya memperkenalkan ke mereka bagaimana memilih teman di FB dan melacak siapa-siapa yang jadi teman, saya kaget saat melihat salah seorang temannya menggunakan foto wanita tanpa busana. “Remove saja,” kataku!</p>
<p>Browsing di rumah pun ternyata tidak aman. Tetapi bagaimana mengontrol mereka?</p>
<p>Memang, beberapa kalangan bersikeras untuk menolak berlakunya sensor bagi penggunaan dunia internet, seperti yang marak dibahas di ranah twitter, group facebook dan milis-milis civil society. Alasannya, itu akan menjadi senjata pemerintah untuk membungkam kebebasan berekspresi warga, juga entry untuk mulai mematai-matai kebebasan warga. Tetapi bagi orang tua yang mesti awas pada dinamika situasi eksternal yang dapat berpengaruh pada anak-anak mereka tentu juga beralasan untuk mencari solusi.  Menutup peluang mereka mengenal internet bukan pilihan baik.</p>
<p>Bersama puluhan peserta seminar untuk guru, komunitas internet dan warga kaitannya dengan internet sehat yang diprakarsai Telkom itu, saya mendapat beberapa hal positif termasuk alasan mengapa Internet Sehat itu penting.</p>
<p>Menggandeng Dinas Pendidikan Nasional Kota Makassar, Telkom menggelar seminar yang dibuka oleh Drs Mahmud MPd, Kadis Diknas Kota Makassar dan dihadiri oleh Ibu Etik Agustini, dari PT Telkom.  Menurut beberapa pembicara, telah banyak terjadi contoh dekadensi moral anak-anak karena semakin terbukanya era informasi dan canggihnya dunia internet.  Mereka menyitir juga pernyataan JK yang menyebut bahwa dekadensi moral dapat bermula dari internet.</p>
<p>Persoalan “bagaimana mengontrol penggunaan internet oleh anak-anak,” menjadi pertanyaan kunci dalam seminar itu sehingga solusi “sementara” mereka adalah bagaimana mengadopsi apa yang disebut Internet Sehat, dengan mengefektifkan DNS Nawala. (www.nawala.org). Pelanggan Telkom Speedy sebagai misal dapat dapat menanyakan ihwal internet sehat ini termasuk jika ada konten negatif yang terlacak di internet mereka di rumah.</p>
<p>“Sila telpon ke line bebas pulas 0 800 1000 147, jika ingin menanyakannya” Katanya. Di sana operator akan memberikan arahan untuk memasang kode DNS Nawala sebagai filter pertama.</p>
<p>Situs dan Konten Porno</p>
<p>Menurut Ketua Awari, Irwin Day yang merupakan mitra Telkom, seperti yang dikutip di blognya www.irwinday.web.id, untuk mengaktifkan sensor internet yang tidak sehat itu AWARI dengan Nawala Project-nya  mengundang rekan rekan Warnet dan Anggota Awari (utamanya pelanggan layanan internet PT Telkom) untuk melakukan uji coba layanan DNS Filter Nawala Project yang terbaru. DNS Nawala yang terbaru ini dirancang untuk digunakan oleh pengguna layanan internet PT Telkom (telkom Speedy,Telkomnet).</p>
<p>Dia juga mengatakan bahwa penting untuk memahami apa itu situs dan konten porno. Menurutnya, berbicara penyaringan pornografi di Internet maka kita harus mengerti dahulu sifat dari Internet dan mengapa kita harus berhati hati dalam menerapkan aturan ke dalam sistem penapisan.</p>
<p>Contoh yang paling aktual adalah sistem penapisan yang dilakukan oleh DNS Nawala. DNS Nawala menetapkan bahwa yang ditapis adalah situs porno. Situs porno ini mudah dikenali, karena memang tujuan pembuatannya adalah untuk menampilkan konten-konten pornografi baik dalam bentuk gambar maupun video. Sejak dari halaman depan situs tersebut sudah tergambar apa isinya. Situs situs seperti ini mudah ditetapkan untuk masuk ke dalam daftar situs yang diblok.</p>
<p>“Lain lagi kalau kita bicara konten porno, karena konten porno ini dengan mudahnya diunggah oleh pengguna internet ke sebuah situs yang bersifat umum. Mis: situs perkawanan (facebook, Friendster), situs berbagi berkas (4shared, Rapidshare), atau situs video (youtube),” Kata Irwin.</p>
<p>Inilah yang saya alami saat mengantar anak-anak untuk menyambangi dunia facebook seperti di awal tulisan ini. Mungkin website yang memang ditujukan untuk pornografi telah dilumpuhkan namun ide porno dapat saja menyusup ke jejaring sosial seperti Facebook. Sesuatu yang tidak mungkin di blok DNS Nawala. Mereka tidak akan memasukkan situs tersebut dalam daftar blok. Sebab begitu dimasukkan, maka bukan cuma konten porno tersebut tidak bisa di akses, namun keseluruhan situs tersebut akan di blok.</p>
<p>Jika Telkom atau Nawala project memblok Facebook tentu akan memancing persilatan di dunia maya. Betapapun diskusi tentang perlu tidaknya pengawasan atau filter internet belum tuntas namun bagi saya kontrol dan persuasi kepada anak-anak tetap merupakan tugas orang tua. Internet sehat, juga tergantung peran serta orang tua termasuk bagaimana menempuh langkah-langkah konstruktif dengan melaporkan website porno yang masih gentayangan.</p>
<p>Memudahkan tugas itu, kata Irwin, silahkan arahkan DNS pada PC atau Router/DHCP anda ke: &#8211; 180.131.144.144 &#8211; 180.131.145.145. Tim Pengembang DNS Nawala juga mengundang rekan rekan seandainya ada situs situs yang anda nilai berkategori: pornografi, judi, phising/malware.</p>
<p>Coba yuuu… </p>
<p>NB: sumber foto www.reliableanswers.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/denung.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/denung.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/denung.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/denung.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/denung.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/denung.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/denung.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/denung.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/denung.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/denung.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/denung.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/denung.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/denung.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/denung.wordpress.com/691/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=denung.wordpress.com&amp;blog=7946837&amp;post=691&amp;subd=denung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://denung.wordpress.com/2010/09/01/internet-sehat-apa-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3e9c62fd1efc5e046a82ff24357cfc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reefberry</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://denung.files.wordpress.com/2010/09/internet_pornography.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">internet_pornography</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita &#8220;Iguana&#8221; Dari Selayar</title>
		<link>http://denung.wordpress.com/2010/08/31/cerita-iguana-dari-selayar-2/</link>
		<comments>http://denung.wordpress.com/2010/08/31/cerita-iguana-dari-selayar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 04:28:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reefberry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://denung.wordpress.com/?p=685</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari setelah pulang dari Selayar pada bulan Mei 2010, saya tidak merasa telah mencatat satu temuan penting bagi ilmu ekologi atau kisah tentang ditemukannya spesies tak lazim di sana. Bahkan saat Sarbini, sahabat saya mengirim sms tentang matinya &#8220;iguana&#8221; &#8230; <a href="http://denung.wordpress.com/2010/08/31/cerita-iguana-dari-selayar-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=denung.wordpress.com&amp;blog=7946837&amp;post=685&amp;subd=denung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://denung.files.wordpress.com/2010/08/dsc_02781.jpg"><img src="http://denung.files.wordpress.com/2010/08/dsc_02781.jpg?w=640&#038;h=355" alt="" title="DSC_0278" width="640" height="355" class="aligncenter size-full wp-image-686" /></a>Beberapa hari setelah pulang dari Selayar pada bulan Mei 2010, saya tidak merasa telah mencatat satu temuan penting bagi ilmu ekologi atau kisah tentang ditemukannya spesies tak lazim di sana. Bahkan saat Sarbini, sahabat saya mengirim sms tentang matinya &#8220;iguana&#8221; yang sempat menyita perhatian warga Selayar itu.</p>
<p>Padahal saya telah berkunjung ke lokasi ditemukannya. Juga mewawancarai keluarga yang merawatnya serta mendokumentasikannya.  Setidaknya ini satu cerita tentang sisi lain pulau Selayar yang juga kaya fauna langka, yaitu ihwal ditemukannya satu hewan aneh menyerupai biawak tetapi lebih condong ke &#8220;iguana&#8221; dengan sisik yang mengagumkan. Ukurannya juga lebih besar dari iguana kebanyakan.<span id="more-685"></span></p>
<p>Hewan tak lazim ini di Selayar ini ditemukan pada tanggal  21 Mei 2010. Lalu mati beberapa hari kemudian.</p>
<p>***</p>
<p>Sore tanggal 25 Mei 2010, saya datang ke rumah Hajjah Andi Patta Kati di daerah Padang. Dia ditemani suaminya yang datang setelah kami menyaksikan si iguana di atas kasur. Dia diberi perlakuan khusus, di sisinya terletak bantal kepala warna oranye dan sarung batik. Dia mematung, terlihat jinak.  Beberapa anak-anak yang datang menjaga jarak. Mereka takut. Satu persatu warga datang melihatnya. Panjangnya sekitar 80 cm. warnanya hitam, dengan bintik-bintik putih cenderung keemasan. Di ekornya terdapat sirip keemasan selebihnya hitam pekat hingga ke ujung ekor.  Ada yang kagum ada pula yang iba.</p>
<p>&#8220;Dia ditemukan sekitar pukul 11 siang sebelum orang pergi shalat Jumat,&#8221; Kata Ibu Andi. Yang menemukannya adalah lelaki bernama Parman saat dia melintas ke tambak di seberang jalan tidak jauh dari rumahnya. Ditemukannya &#8220;iguana&#8221; ini mengingatkan Parman dan beberapa warga setempat yang dengan spontan memberitahu keluarga turunan Opu Karajeng di Padang.  Ini terkait dengan adanya peristiwa kehamilan seorang ibu dari keluarga mereka yang konon saat usia kehamilan delapan bulan, perutnya menjadi kosong.  </p>
<p>&#8220;Ada pula yang menceritakan upacara kematian di Pariangan dan hadirnya wujud turunan mereka  dan dilihat oleh sepupu satu kalinya melintas di sekitar kerumunan warga,&#8221; Kata Hajjah Andi. Si Iguana kemudian dipindahkan ke meja ruang tamu bersama sarung batiknya. Dia tenang di depan Hajjah Andi dan suaminya. Saya pun ikut mengelus kulitnya.</p>
<p>&#8220;Sejak dia datang, ada beberapa peristiwa aneh,&#8221; Kata Ibu Hajjah yang merawatnya. Di rumah seperti ada bau amis. &#8220;Saya kira bau itu berasal dari kolam tempat dia berdiam setelah dicek ternyata tidak ada bau,&#8221; Katanya lagi. Juga, terasa saat subuh, sepertinya ada yang sedang bergegas meninggalkan rumah ini, seperti ada yang keluar rumah,&#8221; Kata suaminya menimpali.</p>
<p>&#8220;Di sekitar lokasi kolam yang ditanami kembang, terdengar seperti ada orang yang sedang menimba dan cuci kaki,&#8221; Lanjutnya. Menurut pengakuannya, dari saluran pipa terasa ada air yang mengalir.</p>
<p>Lalu kenangan mereka pada kisah turun temurun tentang bayi yang dikandung lalu menghilang karena adanya bisikan yang mengatakan, &#8220;Saya ambil anakmu, karena kalau dilahirkan biasa dia akan mati&#8221;. Tidak jelas kapan kejadiannya, namun mereka menyebut bahwa itu terjadi pada tahun sejak penjajahan Jepang.</p>
<p>Wanita yang mengandung itu adalah Sitti Badariah Karaeng Maona, istri pertama Abdul Karim Arif Patta Hajji sekaligus ibu tiri, Hj Andi. Singkat cerita ihwal kehamilan yang kosong itu, kemudian mengarah pada pengakuan bahwa sebenarnya anak bayinya tidak hilang tetapi pindah ke tempat lain menjadi kisah saja.</p>
<p>Hadirnya iguana dengan tampilan yang tak lazim ini mengarahkan mereka pada satu dugaan tentang kisah keluarga mereka.   &#8220;Tapi ini baru dugaan saja ya. Bagaimana pun kita mesti menyayanginya,&#8221; Kata Haji Andi.  Jika melihat penampakan iguana tersebut memang berbeda dari yang jamak terlihat. Ada sisik dengan warna emas, lidahnya seperti lidah manusia, merah.</p>
<p>Iguana itu ada di rumah Hajjah Andi sejak sore hari dan selama di rumah Hajjah Andi, iguana diberi makan telur ayam rebus. &#8220;Tadi malam dia makan dua biji dan hari ini Cuma satu,&#8221; Kata Hajjah Andi. &#8220;Dia juga batuk-batuk seperti manusia,&#8221; Akunya lagi.</p>
<p>&#8220;Saya khawatir jika tidak dirawat atau diberi makan nanti ada yang aniaya,&#8221; Katanya lagi. &#8220;Ada yang bilang dipulangkan saja ke habitatnya, namun menurut paranormal setempat hewan itu mesti dijaga, itulah mengapa kami menjaganya,&#8221; Kata Ibu Andi.</p>
<p>Yang jelas sejauh ini tidak ada informasi atau temuan lain di Selayar seperti gambaran iguana di atas. Sarbini yang mencoba mencari referensi atau informasi tentang jenis iguana ini menyebut serupa spesies Soa soa Hydrosaurus Amboinensis. Yang jelas hewan itu telah mati dan mungkin tidak ada lagi yang bertahan hidup di Selayar. Entahlah&#8230;</p>
<p>Makassar, 20/08/2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/denung.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/denung.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/denung.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/denung.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/denung.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/denung.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/denung.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/denung.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/denung.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/denung.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/denung.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/denung.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/denung.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/denung.wordpress.com/685/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=denung.wordpress.com&amp;blog=7946837&amp;post=685&amp;subd=denung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://denung.wordpress.com/2010/08/31/cerita-iguana-dari-selayar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3e9c62fd1efc5e046a82ff24357cfc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reefberry</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://denung.files.wordpress.com/2010/08/dsc_02781.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_0278</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rindu Pepe&#8217; Pepe&#8217; Rumallang</title>
		<link>http://denung.wordpress.com/2010/08/28/rindu-pepe-pepe-rumallang/</link>
		<comments>http://denung.wordpress.com/2010/08/28/rindu-pepe-pepe-rumallang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 01:41:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reefberry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desa-Desa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://denung.wordpress.com/?p=668</guid>
		<description><![CDATA[Nun jauh dahulu, pada kampung-kampung penuh gairah  dan kecintaan yang dalam pada bulan penuh berkah dan maghfirah.  Pada saat kabel perusahaan listrik negara belum mengangkangi rumah-rumah panggung warga, pada saat mesin genset semahal pesawat terbang. Pada saat anak-anak dan orang &#8230; <a href="http://denung.wordpress.com/2010/08/28/rindu-pepe-pepe-rumallang/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=denung.wordpress.com&amp;blog=7946837&amp;post=668&amp;subd=denung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://denung.files.wordpress.com/2010/08/82onhxmnku1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-671" title="82ONhXMnKu" src="http://denung.files.wordpress.com/2010/08/82onhxmnku1.jpg?w=150&#038;h=150" alt="" width="150" height="150" /></a>Nun jauh dahulu, pada kampung-kampung penuh gairah  dan kecintaan  yang dalam pada bulan penuh berkah dan maghfirah.  Pada saat kabel  perusahaan listrik negara belum mengangkangi rumah-rumah panggung warga,  pada saat mesin genset semahal pesawat terbang. Pada saat anak-anak dan  orang tua hidup atas karunia alam kampung. Saat mereka berkreasi atas  apa yang mereka punyai.</p>
<p>Saat itu, masih pagi sekali.  Belasan anak-anak telah berkumpul di sekitar pepohonan punaga (bahasa  Makassar). Mereka mencari buahnya, biasa disebut pude, yang jatuh  berserakan dari pohon. Sekilas pohon punaga terlihat seperti pohon  nangka, dengan daun nyaris serupa, licin. Batangnya keras. Biasa  dijumpai berdiri kokoh di sekitar pohon mangga atau buah jambu putih,  tidak jauh dari anak-anak sungai. <span id="more-668"></span></p>
<p>Buah pude bentuknya lebih kecil dari bola pingpong dengan kulit keras. Di dalam buahnya terdapat isi yang kenyal dan berminyak. Buah berminyak itulah yang jadi sasaran anak-anak itu. Bukan hanya anak-anak, para remaja dan orang tua kerap ikut mencari.</p>
<p>Lalu, mau diapakan buah pude itu?</p>
<p>Malam-malam  menjelang peristiwa lailatul qadr di kampung-kampung disambut dengan  “appepe’-pepe’”. Satu tradisi di masyarakat beberapa tahun silam yang  menjadi ciri penerimaan dan apresiasi warga atas malam penuh berkah,  lailatul qadr. Biasanya dirayakan tiga malam berturut-turut, walau  beberapa warga tetap menyalakan lampu mereka hingga tujuh malam  berturut-turut.</p>
<p>Buah pude, dipecah dan isinya ditumbuk  untuk kemudian disatukan dengan isi buah pude yang lain. Dijemur dan  beberapa saat kemudian dibuat semacam adonan untuk dilumuri atau dibalut  di bilah bambu basah sepanjang 30 centimeter. Yang punya banyak buah  pude akan membuatnya lebih panjang. Biasanya panjang lumuran bisa sampai  20 centimeter. Bayangkanlah satu bilah kecil bambu yang telah dilumuri  isi buah pude dan ujungnya siap dibakar. Buah pude karena menyimpan  banyak minyak, sangat mudah terbakar dan tahan lama.</p>
<p>Anak-anak  lelaki lalu meletakkan semacam obor kecil berbahan buah pude itu di  depan rumah, di balik pagar bambu. Biasanya dibuat formasi baris. Antara  3 – 9 batang. Semakin banyak semakin ramai. Menyulutnya di mulai dari  ujung atas. Pepe’-pepe’ akan bertahan beberapa jam, untuk hari  berikutnya, mereka telah siapkan.</p>
<p>Bukan hanya pepe’ pepe’  dari pude’. Di malam menjelang dan memasuki peringatan lailatul qadr,  malam beribu maghfirah itu, warga akan membuat rumahnya semeriah mungkin  dengan cahaya buatan mereka. Mereka membuat obor kecil yang dibuat juga  berbaris. Biasanya dibuat dari sepotong bambu berukuran tidak lebih 50  cm. Bambu dilubangi, antara 5-10 lalu dimasukkan ranting bambu  menyerupai pipa, sepanjang 7 centimeter telah diisi kain perca.  Bayangkan sepotong bambu berisi minyak tanah dengan deretan pipa kecil  yang telah diisi kain yang siap disulut.</p>
<p>Bukan hanya itu.  Beberapa warga membuat pepe’ pepe’ dari kaleng susu bekas. Melubangi dan  menempatkan pipa kecil yang juga telah diisi kain, dan minyak tanah.  Bagi yang tertarik untuk tampil beda, lampu dari kaleng susu ini akan  ditutup dengan bekas tempat sabun colek yang berwarna warni, ada merah,  biru dan kuning lalu menggantungnya di teras (paladang) rumah mereka.</p>
<p>Formasi  pepe’pepe’ di malam Ramadhan (orang Makassar menyebut, Rumallang) di  kampung nun jauh dahulu, kira-kira sebelum tahun 80an, sebelum datangnya  listrik masuk desa sungguh beragam dan mengagumkan. Warga memanfaatkan  apa yang tersedia di kampung, buah pude’, bambu, kaleng bekas, kain  perca atau sumbu kompor sisa, dan lain sebagainya.</p>
<p>Warga  mulai menyalakan pepe’pepe’ mereka setelah selesai shalat magrib. Bagi  sebagian anak-anak ada yang lebih memilih jadi pejaga pepe’pepe’,  sebagian lainnya pergi tarwih. Yang, membuat ramai adalah seusai shalat  tarwih. Banyak warga, utamanya para remaja memanfaatkan malam penuh  cahaya itu dengan berkeliling kampung. Mereka menikmatinya.</p>
<p>Tapi  dalam setiap keramaian yang melibatkan banyak warga itu selalu saja ada  “godaan”. Sepertinya menjadi tradisi bahwa pepe’pepe’ (utamanya yang  terbuat dari minyak buah pude’) sangat diminati oleh anak-anak dan mesti  jadi rebutan. Sulitnya membuat pepe’pepe’ dari pude’, bagi sebagian  sebagian anak-anak sehingga mereka kerap mengambil pepe’pepe’ yang tidak  terjaga oleh si empunya rumah.</p>
<p>Seperti ada konvensi,  bahwa warga yang tidak menjaga pepe’pepe’ yang mereka taruh di kaki  pagar bambu rumah adalah kesempatan bagi anak-anak untuk mengambilnya.  Karena situasi ini, banyak anak-anak lebih memilih duduk di teras rumah  dan menjaganya</p>
<p>Asiknya di situ, mereka saling menjaga dan  jika ada yang kedapatan mengambil pepe’pepe’, maka dia tidak dipukul  atau disiksa tetapi ditertawai. “ya, kugappaiko!”, ya, saya pergoki!.  Yang mengambil hanya terkekeh dan dengan spontan mengembalikan  pepe’pepe’ curian.</p>
<p>Saat bersamaan pula, sebagian lelaki  dewasa menyulut meriam bambu. Bambu betung (pattung, Makassar) yang  besar dipotong sepanjang dua meter. Di buat satu lubang kecil di salah  satu ujungnya. Ruas dalam bambu telah  di lubangi hingga tembus ke  lubang sulut. Anak-anak remaja menyulut meriam bambu yang diposisikan  miring, sebagaimana layaknya letak meriam dalam perang terbuka.  Boom…duarrr!!!</p>
<p>Suasana menjadi semakin ramai. Ah, saya rindu suasana itu…</p>
<p>Sungguminasa, 28 Agustus 2010</p>
<p>*foto diambil dari okezone.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/denung.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/denung.wordpress.com/668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/denung.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/denung.wordpress.com/668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/denung.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/denung.wordpress.com/668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/denung.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/denung.wordpress.com/668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/denung.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/denung.wordpress.com/668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/denung.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/denung.wordpress.com/668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/denung.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/denung.wordpress.com/668/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=denung.wordpress.com&amp;blog=7946837&amp;post=668&amp;subd=denung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://denung.wordpress.com/2010/08/28/rindu-pepe-pepe-rumallang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3e9c62fd1efc5e046a82ff24357cfc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reefberry</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://denung.files.wordpress.com/2010/08/82onhxmnku1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">82ONhXMnKu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Speedy, Memilih Naik Kelas Ke Socialia</title>
		<link>http://denung.wordpress.com/2010/08/27/telkom-speedy-naik-kelas-ke-unlimited/</link>
		<comments>http://denung.wordpress.com/2010/08/27/telkom-speedy-naik-kelas-ke-unlimited/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 03:32:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reefberry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://denung.wordpress.com/?p=650</guid>
		<description><![CDATA[(gambar dari www.telkomspeedy.com) Hari ini, Jumat 27 Agustus 2010, jalan raya tidak terlalu padat saat saya mengarah ke Kantor Telkom Pettarani, Makassar, tepatnya Plasa Telkom. Ini kali pertama masuk ke kantor yang telah belasan tahun berdiri ini. Sesuai dengan hasil &#8230; <a href="http://denung.wordpress.com/2010/08/27/telkom-speedy-naik-kelas-ke-unlimited/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=denung.wordpress.com&amp;blog=7946837&amp;post=650&amp;subd=denung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://denung.files.wordpress.com/2010/08/4.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-664 alignleft" title="4" src="http://denung.files.wordpress.com/2010/08/4.jpg?w=150&#038;h=94" alt="" width="150" height="94" /></a>(gambar dari <a href="http://www.telkomspeedy.com">www.telkomspeedy.com</a>)</p>
<p>Hari ini, Jumat 27 Agustus 2010, jalan raya tidak terlalu padat saat saya mengarah ke Kantor Telkom Pettarani, Makassar, tepatnya Plasa Telkom. Ini kali pertama masuk ke kantor yang telah belasan tahun berdiri ini. Sesuai dengan hasil pembicaraan saya dengan ibu Mety, seseorang yang namanya tertulis di lembaran promo Speedy, saya mesti melapor ke tempat mereka. Tiga orang &#8220;resepsionis&#8221;, siap melayani para klien. Waktu telah berada di jarum jam 09.30 menit. Saya dapat nomor antrian 16. Saya tertegun dengan interior dalam ruangan yang sangat mewah dan lebar. <span id="more-650"></span></p>
<p>Karena hanya ingin menambah kapasitas ke unlimited, dengan kecepatan 384 kbps berbiaya Rp. 195,000,-, maka saya tidak terlalu lama dilayani. Setelah tandatangan persetujuan berlangganan, dan menyimpan uang Rp.6ribu untuk biaya materai, dalam waktu 1&#215;24 Jam, di rumah kami, layanan berinternet ria unlimited paket Socialia up to 384 Kbps akan segera dinikmati. Ada keterangan mereka bahwa setelah kuota mencapai 3 Gigabyte, kecepatan diturunkan menjadi 128 kbps.</p>
<p>&#8220;Akan berfungsi otomatis dalam waktu 1&#215;24 Jam,&#8221; Kata resepsionisnya.</p>
<p>Sebenarnya ada <em>tujuh paket </em>yang mereka tawarkan, <em>paket mail, chat, socialia, load, familia, executive dan biz</em>. Saya memilih paket <em>Socialia </em>karena selama ini saya ambil paket mail, pembayaran nyaris tidak pernah di bawah Rp. 200ribu.</p>
<p>Tentu saja ini kabar baik untuk anak-anak di rumah yang memang sedang keranjingan internet. Semoga saja kualitas layanan Speedy di paket Socialia ini memuaskan untuk digunakan berselancar ria di dunia maya.</p>
<p>Anda punya pengalaman dengan paket Socialia ini?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/denung.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/denung.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/denung.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/denung.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/denung.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/denung.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/denung.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/denung.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/denung.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/denung.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/denung.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/denung.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/denung.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/denung.wordpress.com/650/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=denung.wordpress.com&amp;blog=7946837&amp;post=650&amp;subd=denung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://denung.wordpress.com/2010/08/27/telkom-speedy-naik-kelas-ke-unlimited/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3e9c62fd1efc5e046a82ff24357cfc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reefberry</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://denung.files.wordpress.com/2010/08/4.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Main-Main Dengan MK</title>
		<link>http://denung.wordpress.com/2010/07/29/obrolan-di-phonam-hari-ini/</link>
		<comments>http://denung.wordpress.com/2010/07/29/obrolan-di-phonam-hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 09:49:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reefberry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://denung.wordpress.com/?p=642</guid>
		<description><![CDATA[Makassar 29 Juli 2010. Pagi tadi, Pahir Halim, mantan anggota KPU Makassar duduk bersebelahan dengan salah satu anggota DPRD Kota Makassar di dekat pintu masuk ruang berpendingin Warkop Phonam, Jalan Boulevard Makassar. Pahir adalah senior saya saat bekerja di salah &#8230; <a href="http://denung.wordpress.com/2010/07/29/obrolan-di-phonam-hari-ini/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=denung.wordpress.com&amp;blog=7946837&amp;post=642&amp;subd=denung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Makassar 29 Juli 2010. Pagi tadi, Pahir Halim, mantan anggota KPU Makassar duduk bersebelahan dengan salah satu anggota DPRD Kota Makassar di dekat pintu masuk ruang berpendingin Warkop Phonam, Jalan Boulevard Makassar. Pahir adalah senior saya saat bekerja di salah satu LSM di Makassar.  Kini jadi konsultan “pilkada” pada beberapa kabupaten penyelenggara pemilukada (pemilihan umum kepala daerah) di Sulawesi Selatan. </p>
<p>Beberapa sahabat mengenalnya sebagai “ahli pembuat kesimpulan atau rekomendasi”, utamanya jika menjadi fasilitator atau moderator diskusi politik.  Selalu menyenangkan ngobrol dengannya.<span id="more-642"></span></p>
<p>Saya minta satu voucher internet ke kasir dan menuju ruangan yang berpendingin. </p>
<p>Di dalam, duduk Andi M. Zulkarnain, alumni Ilmu Kelautan Unhas yang bekerja pada divisi CSR (Corporate Social Responbility) salah satu perusahaan besar di tanah Luwu. Dengan Cambang (begitu saya memanggilnya). Ini pertemuan kedua sejak satu bulan terakhir.  Dia dikenal akrab dengan beberapa aktivis LSM Makassar walau wilayah kerjanya ada di ujung utara Sulawesi Selatan. Dia akrab dengan beberapa tokoh politik dari jazirah Luwu, salah satunya Luwu Timur yang kini baru saja berperkara ihwal Pemilukada di Mahkamah Konstitusi.  </p>
<p>Cambang dan beberapa rekannya rupanya baru saja pulang dari Jakarta dan sempat menyambangi ruang sidang mahkamah konstitusi.</p>
<p><strong>Obrolan Kami</strong></p>
<p>Sebagaimana layaknya obrolan warung kopi, topic berputar dari kegiatan dia di Luwu Timur, dinamika masyarakat pendatang dan warga lokal, tradisi pedagang orang Bugis, pokok pikir mantan Wapres JK hingga bagaimana minat dagang orang Wajo, predikat yang disandang Cambang. </p>
<p>Wajo adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang terkenal dengan jiwa kesaudagarannya, jiwa pedagang. Selain itu juga dikenal sebagai gudangnya Professor yang banyak mengisi universitas ternama di Makassar.  </p>
<p>Diskusi kemudian mengarah pada jiwa entrepreneurship alias jiwa pedagang seperti yang kerap disinggung JK. JK termasuk yang mendorong tumbuhkembangnya spirit “pedagang” itu. “Inilah yang disebut Merchantilisme,” Kata seorang sahabat. </p>
<p>Itu bedanya mengapa orang Bugis lebih terampil menjadi pedagang, daripada “industriawan”. Coba bandingkan dengan orang Jawa, yang lebih kaya inovasi dalam mengubah produk menjadi banyak ragam.  Para pendatang menyulap daging menjadi sate, rawon, bakso dan lain sebagainya. Orang Jawa kaya inovasi.<br />
“Sementara orang Bugis piawai dalam berdagang beras, kakao, jagung dan lain sebagainya. Jelas bukan inovasi, itu hanya butuh keahlian dagang, komunikasi, pendekatan situasional dan keuletan,” Begitulah kesimpulan sementara kami.</p>
<p>“Tidak perlu sekolah untuk jadi pedagang,” Kata sahabat itu. </p>
<p>Lalu saya berpindah ke Cambang. </p>
<p>“Ngapain saja di Jakarta boss,?” Pancingku.</p>
<p>“Ya seperti ini, saya sempat ngopi di Phonam Jakarta. Di sana saya bertemu banyak aktivis termasuk Akbar Faisal anggota DPR RI dari Partai Hanura yang juga orang Wajo,” Katanya bangga. Di meja kami, beberapa saat kemudian datang Pahir. </p>
<p>Saya coba arahkan obrolan.</p>
<p>“Apa jadinya jika seorang saksi dari desa diboyong ke Mahkamah Konstitusi,?”. </p>
<p>Tiba-tiba saya ingat bahwa akan ada beberapa saksi dari calon pemenang Pemilukada Kabupaten Selayar yang akan diboyong ke Jakarta seperti yang saya baca dari salah satu harian di Makassar. Mereka akan didudukkan di depan Mahkamah Konstitusi. </p>
<p>Ya, di mahkamah konstitusi, benteng terakhir keadilan di Indonesa. </p>
<p>“Seperti apa kondisi di sana ya?”</p>
<p>“Wah jangan main-main pak,” Kata Cambang. “Suasananya sangat menegangkan,” Lanjutnya. </p>
<p>“Betul, “timpal Pahir. “Suasananya sangat megah, lapang dan jauh berbeda di ruang persidangan biasanya yang sempit. Jarak antara hakim dan saksi sangat jauh. Di Mahkamah Konstitusi pengacara, pembela dan siapa saja yang terkait dalam perkara Pemilukada, tidak boleh overacting atau mengada-ngada. Profesionalisme pengacara menjadi pertaruhan. Jika tidak siap pasti keok,” Kata Pahir.  </p>
<p>Terkait sengketa hasil Pemilukada, sejauh ini ada dua keadaan yang perlu dilihat terkait gugatan pemilukada, “ditolak atau diterima”. Ditolak artinya, ada beberapa pertimbangan murni MK yang putuskan berdasarkan kepada pertimbangan keadilan sosial, yang tidak semata-mata melihat data-data atau fakta persidangan.  Selain itu juga terkait dengan cakupan peran atau konteks. Ada beberapa yang mestinya bukan domain MK tetapi terkait dengan prosedur yang masuk di wilayah teknis pemilukada, seperti tenggat aduan. </p>
<p>Semisal, saat menolak gugatan kandidat kepala daerah di lima kabupaten yang menggelar pemilihan kepala daerah (pilkada) di Sulawesi Selatan (Sulsel) bulan Juni pada tangga 26 Juni. Menurut majelis hakim MK yang diketuai Mahfud MD, gugatan yang diajukan oleh kuasa hukum para kandidat yang kalah suara versi Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat sudah kedaluarsa sehingga tidak dapat diterima.  </p>
<p>&#8220;Permohonan pemohon telah melampaui tenggang waktu yang ditentukan,&#8221; kata hakim konstitusi Muhammad Alim saat membacakan pertimbangan putusan sengketa pilkada Gowa seperti dikutip dari Harian Tribun Timur, Makassar. Diterima artinya, mesti melengkapi dan akan diuji dipersidangan dengan menghadirkan bukti dan saksi-saksi. </p>
<p>Tiba-tiba saya membayangkan saksi dari desa yang bisa jadi telah dikarantina atau disetting sedemikian rupa supaya dapat memperkuat salah satu kandidat di depan Mahkamah Konstitusi. </p>
<p>Banyak hal yang mesti dipahami dan dikuasai oleh para pemohon/penggugat. Ada beberapa hal yang memang terlihat “angker”. Yaitu terkait relevansi atau konteks gugatan, urgensi fakta persidangan, sistematika, hingga kaitannya dengan tugas MK itu sendiri bahkan iklim persidangan yang memang sengaja dibuat seperti cara duduk saksi yang harus sopan.</p>
<p>Itulah mengapa kerapkali MK terlihat sangat kokoh, tegas dan tidak mau masuk ke wilayah spekulatif, seperti dugaan dan persepsi yang tak berdasar. </p>
<p>Mahkamah Konstitusi (disingkat MK) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan pemegang kekuasaan kehakiman bersama-sama dengan Mahkamah Agung. Menurut UUD 1945. Kewajiban dan wewenang MK adalah mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum. </p>
<p>“Jangan main-main di MK,” Kata Pahir dengan gaya bicaranya yang khas disertai gelak tawanya. </p>
<p>“Para pengacara atau praktisi hukum yang terbiasa dengan praktek persidangan di kabupaten/kota mesti benar-benar professional, dalam arti mesti mempersiapkan segala sesuatu dengan detil, sistematis dan tanpa persepsi atau dugaan-dugaan. Itu berarti bukan semata-mata mengutamakan pertimbangan emosional atau – gengsi &#8211; atas klien mereka saat terlampaui di perhitungan suara,” Katanya.</p>
<p>“Jangan pernah bilang, menurut perkiraan kami…Jika Daftar Pemilih Tetap (DPT), tidak bermasalah maka kami akan meraup suara pada pemilukada ini sekian persen,” Kata Pahir. “Itu pasti ditampik oleh MK,” Katanya.  “Dari mana dapat data bahwa sekian suara akan anda peroleh,?” Begitu jawaban Hakim jika ada pemohon dan pengacaranya membangun dugaan. </p>
<p> “Oleh karena itu, gugatan pemilukada memang harus benar-benar dipersiapkan, terukur, faktual dan tidak asal komplain,” Katanya lagi.</p>
<p>Menurut Cambang, yang disebut politik uang pun, kerap tidak dipahami oleh para pengacara atau saksi. Mereka kerap menyebut ada praktik suap tetapi itu “tidak sistematis” karena hanya dia yang mengalami. Disebut sistematis jika suap yang digunakan untuk mempengaruhi yang lain secara sistematis. Itulah mengapa saat ada saksi yang mengatakan menerima bukti suap, maka hakim melihat sisi dampak sistematisnya alias tidak selalu menjadi sumber keputusan. </p>
<p>“Termasuk pertimbangan massif atau tidaknya satu tindakan,” Tambah Pahir.</p>
<p>Posisi MK memang merupakan  benteng terakhir keadilan di Indonesia. </p>
<p>“Betul sekali, mereka memang sangat vital dan punya kapasitas yang mumpuni. Mahfud MD adalah salah tunya” Kata Pahir yang disebutnya justeru mempunyai sense of humor yang baik dalam menyikapi dinamika di persidangan. </p>
<p>Cambang buat kami tergelak saat dia menceritakan gaya para hakim saat membaca putusan dan membaca salinan perkara yang sangat tegas dan cuek pada protes atau keberatan dari peserta sidang. Dia menceritakan beberapa kejadian persidangan yang menunjukkan betapa emosi dan fokus saksi dapat terganggu jika mereka tidak siap menghadapi pertanyaan para hakim.  Demikian pula jika ada pengacara yang tidak kebagian kursi. </p>
<p>“Bisa saja mereka di suruh berdiri saja, saat tidak ada lagi kursi di ruang sidang,” Kata Cambang.</p>
<p>Lalu, saya membayangkan dinamika pemilukada di beberapa kabupaten yang kerap memobilisasi massa untuk berhadap-hadapan akan berlanjut ke sekitar gedung Mahkamah Konstitusi. </p>
<p>“Tidak ada itu,” Kata Pahir. Urusan mahkamah adalah memutuskan. “Jika ada yang memobilisasi massa itu urusan polisi,” Katanya.  “Justeru di situlah esensinya, semua pihak mesti menyerahkan sepenuhnya kepada Mahkamah Konstitusi dan tidak gegabah dalam menyodorkan eksepsi atau argumen,” Katanya lagi.</p>
<p>Memang, saat ini banyak kuasa hukum pemohon Pilkada yang kecewa atas keluarnya vonis seperti kelima pemohon dari Sulawesi Selatan. Menurut mereka seharusnya MK mempertimbangkan pokok perkara yang diajukan pihaknya. Mereka menyebut bahwa mestinya lebih mementingkan keadilan prosedural daripada substansial,”. Maksudnya pokok perkara dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.</p>
<p>Mahkamah Konsitutusi adalah benteng akhir keadilan dalam penyelenggaraan pemilukada. Karena fungsi itu, ada beberapa hal yang perlu diapresiasi. Pertama tentang suasana dalam proses di persidangan yang memang sangat “mulia”. Kesembilan anggota hakim bagaimanapun, mesti memutuskan bersama. Wakau dalam prakteknya, mereka membagi tiga diri dalam persidangan namun saat memutuskan tetap melibatkan kesembilan hakim itu dalam pleno sidang. Kedua, bagaimanapun praktek persidangan di sana menuntut pertimbangan faktual atau relevansi dengan keadilan hukum. Rasa percaya atau tunduk pada eksistensi Mahkamah Konstitusi merupakan satu keniscyaan.</p>
<p>Cambang menimpali, “Saat di Jakarta saya melihat seorang saksi, yang berbelit-belit dalam memberi keterangan menjadi tertekan. Sikap dan gaya komunikasi para hakim membuatnya stres. Bahkan ada yang bisa mules saat kedok mereka terbaca oleh Hakim,”.</p>
<p>“Apakah ada bukti bahwa saudara disuap?,” Tanya Hakim ditirukan Cambang kepada saksi.</p>
<p>“Ada pak Hakim,” Jawab saksi sambil menunjukkan sebungkus mie isntan.</p>
<p>“Tanggal berapa saudara diberi?. Mengapa saudara tidak makan saja,?” Tanya Hakim.</p>
<p>Saksi gelagapan. Komentar yang disampaikan Hakim membuat saksi warga biasa ini jadi bingung. </p>
<p>Kami tergelak sekaligus prihatin atas cerita Cambang ini.</p>
<p>Makassar, 29/07/2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/denung.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/denung.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/denung.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/denung.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/denung.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/denung.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/denung.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/denung.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/denung.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/denung.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/denung.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/denung.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/denung.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/denung.wordpress.com/642/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=denung.wordpress.com&amp;blog=7946837&amp;post=642&amp;subd=denung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://denung.wordpress.com/2010/07/29/obrolan-di-phonam-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3e9c62fd1efc5e046a82ff24357cfc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reefberry</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
