Kepada YTH Van Den Berg di Netherland

William Easterly pengeritik pembangunan dunia ketiga itu, memuji Muhammad Yunus warga Bangladesh sang peraih Nobel. Dalam bukunya “The White’s Man Burden” Yunus disebut sebagai peneliti baik, peneliti yang tanggap untuk turun ke desa. Datang menelisik sengkarut sosial ekonomi kelas bawah.

Sebelumnya, rencananya membangun irigasi desa dan penyediaan kredit bagi usaha petani, lumpuh dan sukses. Yunus berpikir, ada apa dibalik itu semua. Kemudian dia putuskan untuk turun langsung ke desa. Dia mengajak warga untuk berbincang dan memahami situasi faktual mereka. Lalu dia putuskan lagi memberi kredit, kredit skala kecil, bagi seorang pembuat tempat duduk dari bambu. Ya, microcredit! Dugaan dan upaya Yunus yang ditempuhnya merupakan suatu proses belajar yang baik.

Kegagalan dia tebus dengan pencarian benang merah persoalan. Dalam pada itu, pengalaman dan arah pembangunan masyarakat desa yang diselenggarakan selama ini memang sudah sepantasnya diangkat dan dielaborasi lebih jauh. Penting untuk mengkaji seberapa rentan masyarakat kita. Bagaimana mereka bertahan sejauh ini.

Bagaimana sejarah membentuk mereka. Dan tentu saja, dimana posisi rencana-rencana besar para perencana pembangunan itu. Mengapa mereka memandang desa sebagai obyek dan bukan kota, misalnya? “Tentang kondisi warga desa, bukankah mereka sudah tinggal dan beranak-pinak di desa sejak ratusan tahun yang lalu?”

Beberapa aktivis penganjur demokrasi yang gencar melakukan fasilitasi dan advokasi masyarakat pada kurun waktu 90an menggugat pendekatan beberapa donor atau orang kaya nun baik baik itu. Mengajukan tanya yang tak pernah ditanggapi serius. “Siapakah yang menyiapkan standar-standar pembangunan yang kerap disangka tujuan bersama itu. Yang akan dicangkokkan dalam setiap pelaksana pembangunan?” gugat mereka.

Selayang Pandang Dari “Desa Miskin” Kampung kediaman penulis, masuk dalam wilayah Desa Parasangan Beru, adalah bagian dari salah satu kecamatan yang oleh pemerintah setempat hingga donor dianggap masih terkebelakang. Paling tidak itu yang terbaca pada saat itu. Setidaknya, penulis menyaksikan dan merasakan bahwa niat baik membantu melalui proyek itu berawal dari dugaan bahwa daerah ini memang perlu bantuan.

Sungguhkah para donors, membaca dan mendengar celoteh para perencana, hanya manggut-manut saja? Bahwa wilayah ini adalah miskin dan kumuh, bahwa penduduk pada wilayah ini dipersepsi tidak kreatif dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan, pertanian dan ekosistem yang tersedia.

Para perencana mengalokasikan anggaran lalu berdatanganlah puluhan staf proyek, warga asing yang kemudian akrab dengan warga. Warga sebagai penerima tamu tentu menerima tamunya sebagai saudara sendiri. Mereka lapang hati pada suasana ruang tamu yang sempit. Penulis tepat berumur delapan tahun ketika proyek ini mulai diinisiasi.

Rekaman proses dan interaksi yang berlangsung lekat dalam ingatan. Sebagai kanak-kanak mungkin saya terlalu lincah mencerap segala cerita, kisah yang disebar para pekerja sosial kala itu. Saya masih menghapal wajah-wajah yang datang di kediaman kami. Menghapal warna motor dan merek yang ditunggangi para pekerja sosial itu. Juga, kanak-kanak yang terlalu dini belajar naik motor.

Foster Parents Plan International atau FPPI, lembaga yang mengusung misi kemanusian melalui bangunan pendidikan anak-anak dan bidang kesehatan. Mereka menjadi bagian dari rencana besar pembangunan global, kesetaraan dan upaya menuju proses perbaikan kualitas hidup yang lebih baik. Kantor proyek mereka di Makassar dan secara struktural, memiliki otoritas perwakilan negara hingga staf paling rendah, staf proyek tingkat dusun. Nampaknya, rencana besar sedang diusung oleh berbagai organisasi dan donor barat atas nama pembangunan dunia ketiga, alokasi sumberdaya dan penggalangan sponsor dan orang-orang kaya dari negara maju digiatkan.

Pemerintah setempat merestui, toh ada pihak luar yang dengan sukarela memberi bantuan. Bukankah tujuan pembangunan akan lebih cepat tercapai? Rumah-rumah reot diperbaiki, atap rumah dari nipah dianggap tidak layak lagi. Tiang bambu betung penyangga rumah dianggap tidak kokoh, kebiasaan warga yang buang hajat di sungai dan agang lompoa, dianggap jorok dan merusak pandangan mata pendatang. Agang lompoa adalah lorong ke sungai di kampung kami.

Warga sering berdiam disitu setiap pagi hari. Kakus dan bantuan sumur didrop ke kampung-kampung. Ternak Sapi dibagikan, dan mesin-mesin kapal dilekatkan di perahu-perahu nelayan. Rencana Besar Itu “Warga dianggap tidak punya pilihan, tidak punya modal dan bantuan pun mengalir” Kecamatan Galesong Utara, menjadi lokasi proyek berskala besar itu. 30 tahun lalu, Galesong Utara jadi lokasi program dari lembaga internasional bernama Foster Parents Plan Internasional.

Ada enam desa yang jadi lokasi proyek. Menurut Azis Daeng Salle, salah seorang motivator lokal yang direkrut oleh FPPI, proyek ini pertama kali masuk ke Galesong Utara pada bulan Juli 1978. Program ini diterima oleh warga dengan sukacita hingga berakhir pada 1986. Daeng Salle, selanjutnya direkrut sebagai Credit Union Worker, dan bekerja pada tahun 1981 hingga tahun 1986. “Organisasi proyek itu dioperasionalkan mulai dari Country Director yang dipimpin oleh Bapak Maman Ali Usman” Kenang Daeng Salle.

Pada tingkat kabupaten ditempatkan DOS atau District Officer Supervisor. Di desa ditempatkan Social Worker Chief (SWC) sedang pada tingkat dusun ditempatkan Social Worker Aid (SWA). “Rupanya, beliau masih hapal istilah-istilah proyek yang berbahasa Inggris itu” Cakupan program besar ini, meliputi program perbaikan rumah atau Home Improvement (HI).

Bagian ini menyalurkan tiang rumah menggantikan tiang lapuk dan tiang bambu, seng menggantikan atap nipah, balok dan papan menggantikan lantai jalinan bambu. Selain skema itu, dijalankan pula program Foster Child untuk jalinan anak angkat-orang tua asih, dimana beberapa anak usia sekolah dasar diberikan bantuan pakaian dan kebutuhan sekolah. “Kebiasaan ke sekolah dengan kaki telanjang atau sandal jepit, diganjar dengan sepatu-sepatu baru. FPPI menawarkan program Family Education melalui dukungan penyiapan pakaian sekolah, tas dan kebutuhan lainnya” Di kampung kami, lambat laun terkesan orang-orang barat adalah orang-orang kaya yang baik. Dermawan dari jauh. Mereka membantu pendidikan dan kesehatan.

Warga menyebut FPPI sebagai bantaun Canada ini karena lebih banyak bantuan yang mengalir dari parents Canada. Lebih banyak dari negara-negara lainnya di Eropa. Warga sangat senang mereka dibantu Canada. Baru sekali perwakilan parents, yang datang ke kampung kami. Seisi kampung gaduh dan tumpah ruah. “Balanda-Balanda” Warga utamanya ibu-ibu berteriak kegiarangan dan seperti baru saja mengalami masa-masa yang sangat luar biasa. Mereka mengikuti setiap langkah sang parents.

Berjalan dari rumah ke rumah hingga rumah Yola di dekat sungai. Saat itu salah seorang foster child, bernama Yola, sedang dikunjungi oleh foster parentnya dari negeri Belanda. “Mereka mengelukkan nama Belanda walau mereka selalu menyebut ini bantuan Canada”. Wajah para tetua desa riang ketika mereka diberi hadiah cerutu, cerutu dari Eropa.

Warga pasti tidak begitu tahu sejarah motif lembaga bantuan bernama FPPI yang diinisiasi oleh seorang jurnalis Inggris bernama John Langdon-Davies, serta Eric Muggeridge, sukarelawan pembantu pengungsi, kecuali bahwa mereka dibantu berbagai material. Spirit dibalik pendirian FPPI adalah untuk memberi bantuan kesehatan dan pendidikan bagi anak-anak dan ibu.

Awalnya bernama “Foster Parents Plan for Children in Spain” untuk membantu korban perang sipil Spanyol. Ditingkat desa, demi pencapaian tujuan proyek, staf lembaga mengidentifikasi anak asuh potensial dan mengarahkan mereka untuk berhubungan dengan para orang tua asuh ini melalui surat. Lalu hingga kurun waktu 4 tahun pertama, di Tahun 80an, berbagai bantuan fisik, mengalir ke pelosok kampung atau desa. Dari organisasi ini, dari sandang hingga papan. Seng, papan, tiang rumah hingga ternak. “Butuh waktu beberapa bulan untuk memperoleh balasan dan bantuan dalam bentuk material tersebut” Ide Proyek Yang Tak Pupus Foster Parents Plan International, (FPPI) adalah organisasi LSM yang ditopang oleh multi donors, dukungan sponsor dari beberapa negara negara, dan yang paling lama di Galesong.

Namun jika warga ditanya, utamanya yang tinggal 30 tahun lalu disana, warga menyebutnya, Canada! Semua bantuan dianggap mewakili orang Canada. “Sempat tersiar kabar pula di kampung bahwa siapa-siapa yang mendapat bantuan akan diboyong ke Eropa oleh orang tua asuhnya” Namun demikian, proyek ini bertahan lama, selain ketersediaan dana dan aliran tak henti dari barat juga karena dalam evaluasinya para perencana perencana menyadari, fakta bahwa selain bantuan fisik itu warga harus digerakkan untuk mencari dan menyelesaikan sendiri masalahnya.

Dalam perkembangan FPPI memberikan fasilitasi pada program pembangunan masyarakat, Community Development. “Ini suatu pendekatan yang lebih terpadu untuk mendorong fasilitasi perencanaan yang berbasis pada kebutuhan faktual desa” Kata Daeng Salle. Menurutnya dari fasilitasi ini kemudian diidentifikasi beberapa kebutuhan kegiatan seperti pembangunan MCK, jembatan, gorong-gorong, gedung pendidikan seperti sekolah, kebutuhan mobiler dan balai pertemuan desa.

Menururt Daeng Salle, dalam perkembangannya FPPI juga menawarkan beberapa komponen kegiatan yang didukung oleh staf khusus seperti RSDW atau Resources Skill of Development Worker. Salah seorang staf kala itu adalah Yopie Lumoindong yang bagi warga Makassar, Yopie Lumoindong dikenal sebagai pengurus PSM Makassar. Turut hadir didalamnya adalah asisten bidang kesehatan yang saat itu diperankan oleh Dokter Hatta (kini dosen di Universitas Hasanuddin). Selain itu juga disiapkan asisten bidang teknis, atau Civil Engineering Worker, beberapa nama yang masih diingatnya adalah Anti Palimbong dan Agus Pasambe.

Program bantuan FPPI ini rupanya menggeliat terus, denyutnya diperpanjang oleh dukungan program pengembangan koperasi yang dibantu oleh Conrad Adenauer Stiftung (KAS), satu lembaga pembangunan internasional dari Jerman. Fokus mereka adalah dengan dikembangkannya lembaga keuangan bernama credit union. Program lanjutan ini adalah fasilitasi “satu desa satu koperasi”, harapannya agar warga yang telah difasilitasi bantuan fisik sebelumnya dapat lebih mandiri. Jauh dari pengaruh pemodal desa, warga desa menyebutnya papalele. Desa-desa yang menjadi lokasi program saat itu adalah desa Parasangan Beru, Bonto Sunggu, Bonto Lebang, Tamalate, Aeng Batu-Batu dan Bonto Lanra.

Semuanya masuk dalam wilayah Kecamatan Galesong Utara “Kini, rencana besar tentang kemandirian ekonomi melalui bangunan sistem koperasi yang dicita-citakan pupus. Pada akhirnya, unit usaha dan keuangan itu gagal berhadapan dengan situasi sosio-ekonomi bawaan desa.Satu keterkaitan historis, dari turun temurun. Rupanya warga lebih tertarik dengan pemodal desa itu”.

Akhirnya, kredit dari proyek, menjadi tidak efektif lagi. Konsep koperasi yang ideal itu sirna oleh penerimaan warga yang temporer. Koperasi lumpuh ketika harus berhadapan dengan pemodal besar, para pemilik dana besar dari kota yang menggurita melalui papalele. Pemodal besar itu, seperti bank pemerintah dan orang pengusaha kaya kota. Warga masih kembali ke pranata sosial lama mereka, mereka tergantung secara sosial-ekonomi kepada orang-orang kaya dan baik hati. Dari desanya, dari lingkungannya sendiri. ****

Saya kemudian terkenang ketika pertama kali pada tahun pertama proyek ini. Salah satu bagian dalam program itu adalah kewajiban menulis surat dari foster child, dari anak kepada orang tua asuhnya, foster parents di Eropa. “Saya ingat, kertas suratnya yang sangat tipis putih bergaris biru. Ingat, karena beberapa surat yang dikirim oleh anak asuh, saya yang tulis ulang dan perbaiki” “Kepada yang terhormat, orang tua asuh, Mr. Van Den Berg di Netherland.” Begitu kira-kiranya kalimat pembukanya.

Van Den Berg, nama orang tua asuhku di negeri kincir angin. Melalui bantuan para pekerja sosial itu, harapan kami sampai ke negeri seberang.

Kampung Jempang, 26 April 2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s