Cerita Tentang Donny dan Kemenangan Barcelona FC

833975_biglandscapeKali ini cerita tentang Khalid “Donny” Adam, penikmat PS 2. Umurnya 7 tahun, kelas I SD dan nampaknya menyukai sepak bola seperti bapaknya. Kesukaannya pada sepak bola berawal dari hadiah PS 2 dari ibunya dan daya tarik siaran-siaran televisi AnTV tentang Liga Indonesia yang tahun ini nampaknya lebih baik (tawuran semakin kurang) dan tentu saja Liga Italia dan Liga Premier (foto: http://www.uefa.com)

Dari kebiasaan PS2 dan responnya yang positif pada praktek, sayapun mengajaknya untuk menjajal lapangan rumput sebenarnya. Minggu lalu, itu kali ketiga Khalid Adam (7 tahun) menggunakan sepatu bolanya dan kostum klub yang dikenalnya, AS Roma. Walau bajunya terlihat kedodoran, sepatu nampak jadi beban di kakinya namun semangatnya untuk menjajal lapangan rumput rupanya sangat kuat.

Kami berputar-putar mencari lapangan kecil di sekitar lapangan Syech Yusuf Sungguminasa namun tak ada. Sempat menggunakan lapangan volley namun, kami tergusur oleh orang dewasa yang juga hendak main bola. Kamipun bergeser ke taman mainan, yang masih menyisakan ruang kecil untuk dia menendang bola.

Ya begitulah, “lapangan bola begitu susah dijumpai di Sungguminasa”. Tapi, semangatnya tidak boleh padam, kataku. Entah apa yang dibayangkannya. Dia menyukai olah raga yang juga paling disukai se-jagad raya. Paling tidak, jika mengamati pengetahuannya tentang nama-nama pemain bola internasional hingga klub liga Indonesia. Dari Petr Chech di Chelsea hingga Ali Aliyuddin di Persija.

Minatnya yang tinggi pada sepak bola sebenarnya sangat positif namun saya khawatir, tentang sekolahnya dan minimnya daya dukung untuk mengembangkan minatnya terhambat di sarana prasaran sepakbola di kota kami.

Pernah suatu ketika, Ibunya berteriak, seperti tak sadar ketika waktu menunjukkan pukul 03.00 dinihari, anaknya tak dilihatnya disampingnya. “Anakku…..mana” katanya setengah teriak. Saya terkaget dan bangun bergegas, ada apa, pikirku. “Anak kita mana?” Katanya. Saya hanya nyengir kemudian setelah saya tahu malam itu adalah malam semifinal piala Champion. Donny sudah duduk manis dengan iler mengering di pipinya di depan televisi.

Hampir tiap hari, baju yang dikenakannya adalah kostum klub dan kesebelasan, AC Milan, AS Roma, MU, Arsenal, kesebelasan Perancis, Jerman hingga Italia. PSM juga. “nampaknya tiada hari tanpa baju bola”.

“Menyukai Liverpool dan Barcelona”

Khalid ‘Donny’ Adam menyukai Liverpool, the Reds, figur Fernando Torres menawan hatinya. Torres memang terlihat tenang dan ganteng dimatanya. Tidak seperti saya yang menyukai si La Vecchia Signora Juventus. Hmmmm…Poster tim Liverpool kini bertengger di meja belajarnya.

Kawan-kawan…

Di Final Champion tahun ini, tidak seperti kakaknya Intan Marina (9th) yang menyukai MU, Donny memilih Messi. Kelincahan dan keramahan Messi jadi pemicunya.

“Lincah kaki kirinya, bapak” Katanya pada suatu ketika tentang Lionel Messi. “Kamu harus biasakan kaki kirimu juga, supaya komplit nanti skill tendangannya” Balasku.

Tadi malam, tepat pukul 03.00, setelah bunyi alarm berulang-ulang di telinga, sayapun bergegas membangunkannya. Kali ini saya yang pertama bangun. “Nak, bangunmaki, mainmi” Kataku halus di telinganya. Sekali bisik dia langsung bergegas ke ruangan tengah.

Kami menonton, bareng. Hanya berdua. Baju yang dikenakannya adalah kostum Chelsea. Hahahaha…Setelah 2 x 45 menit, tidak ada yang berlebihan. Kami memang kompak, sama-sama menjagokan Barcelona FC. “Tidak ada serapah yang berlebihan, tidak ada loncat-loncatan” diantara kami. Karena kami begitu yakin, Barcelona lebih baik dari MU. Messi lebih baik dan (santun) dibanding Ronaldo.

Saat selesai match, dengan skor 2-0 untuk Barcelona, Donny berseloroh “Ronaldo pe’lo dan jabe (bhs Makassar, loyo dan manja). Dia juga memuji tendangan indah Xavi, yang memberi umpan manis pada Messi dengan komentar “tendangan pisangna ga’gana pak di’?” Artinya tendangan pisang Xavi begitu indah pak ya?

“Betul nak, itu buah disiplin dan kerja keras” Batinku.

O ya, saat ini, dia masih kelas I SD, di Sungguminasa belum ada klub sepakbola untuk usia seperti itu. Padahal saya berharap dia bisa masuk klub sepak bola. “Nantipi kelas lima baru bisa” Kata Daeng Jarre tetangga saya. Anaknya memang telah dimasukkan di klub sepak bola di selatan kota, tepatnya di Pallangga.

Barcelona, klub katalan yang identik dengan ‘perlawanan’ pada hegemoni aristokrat Spanyol itu kini menjadi klub Pemenang Liga Champion 2009. Sang Raja Juan Carlos pun, harus menepis Real Madrid yang dicintainya demi Barcelona, demi kejayaan sepakbola Spanyol. Pasti! Spanyol juara Eropa tahun lalu, kini klub dari Spanyol juga merajai klub Eropa. Fantastik bukan?

Banyak hal menarik dari klub ini, selain Guardiola yang mumpuni hingga, kesederhanaan Messi. Kematangan Henry dan daya pikat Pique dan Xavi. Juga Iniesta, para kesatria Catalan yang jauh dari gembar-gembor. Walau terlihat kecil dibanding Vidic dan Ferdinand, mereka kuat mental dan fisik. COba lihat gol kedua Messi? Indah bukan?

Selamat buat Khalid “Donny” Adam yang berpihak pada Klub “Biasa” seperti Barcelona. Semoga dia bisa belajar tentang disiplin dan mental baik. Melupakan kekasaran Ronaldo yang kalap dan mencerap sikap positif Eto’o yang merangkul lawan-lawannya.

Saat note ini dibuat semoga Donny tidak terserang kantuk hebat di ruang kelasnya… 😀

Viva FC. Barcelona, I’m Sorry Ronaldo!

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s