Menelisik Ruang Privat Para Kawe-Kawe

pacarDi salah satu tangga KM Kambuno, jelang Ramadan, 1998. Sirene meraung. Kapal yang saya tumpangi dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta merapat di Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar, pelabuhan kapal terbesar di timur Indonesia. Saat menuruni tangga kapal tua yang penuh sesak itu, saya dikejutkan oleh sapaan seorang waria (kawe-kawe, istilah lokal Makassar). Berdialek Makassar, dengan nada bicara yang sepertinya akrab di telinga saya.

”Oe, battu kemaeko?” sapanya sambil mencolek lengan. Dari mana, katanya ”battu-a ri Jakarta,” kataku terperanjat. ”Ikau iyya?” tanyaku kembali. ”Battu tonga ri Jakarta,” katanya memberitahu ia juga dari Jakarta. Cara bicara nya spontan dan genit. Penampilannya begitu berbeda. Rupanya Jakarta telah mengubah penampilannya, dandan, gaya bicara dan fisiknya!

”Saya pulang libur dulu karena maumi bulan suci.” Kami berasal dari daerah yang sama, Galesong. Namun komunikasi kami sempat terputus, karena saya sudah dijemput keluarga. Dia hilang ditengah kerumunan penumpang yang berdesak-desakan.

Hingga, sepuluh tahun kemudian saya mendapat kabar bahwa dia telah meninggal dunia. Hanya sekitar dua tahun ia sempat tinggal di Jakarta sebelum ajal menjemputnya, disusul dua rekannya yang lain. Menurut orang-orang dekatnya, dia meninggal sekitar awal tahun 2000an. Orang-orang yang mengenalnya mengaku tidak mengetahui secara pasti penyakit yang dideritanya, namun, menurut mereka yang sempat berinteraksi, dia terlihat sangat kurus sebelum meninggal. Menyedihkan.

****
Kawe-kawe di Galesong, sudah lama jadi perbincangan. Jumlahnya sangat banyak. Paling tidak, itu yang terlihat saat ada acara-acara perayaan hari nasional di pusat kota. Saya ingat ketika kami menonton pertandingan bola saban tahun memperingati hari perayaan kemerdekaan mereka hadir juga meramaikan. Mereka sebagai penggembira walau faktanya mereka memang tidak pernah terlihat menonton bola. Juga ketika ada acara pemutaran film penyuluhan di lapangan hingga acara-acara peringatan ulang tahun kerajaan Galesong.

Di pusat kota Galesong sendiri, jumlah mereka yang berani tampil (mengakui dirinya sebagai kawe-kawe) ada tiga puluhan. Tapi angka ini bisa mendekati seratusan jika dihitung dari Galesong Selatan bagian selatan hingga Galesong Utara.

Saya terkenang beberapa tahun silam. Ketika, para penonton berdiri sesak di tepi jalan raya, sebagian berdiri di dalam area kompleks kantor legiun veteran di depan kantor Polsek Galesong Selatan. Bersama teman, kami berdiri kegirangan di deker jalan. Suasana riuh rendah. Dari arah utara, barisan kawe-kawe melenggang genit. Mereka terlihat apik dengan kostum warna warni. Make up membuatnya berbeda, walau terlihat menor. Tapi itu yang menyita perhatian warga, mengalahkan lagak barisan anak-anak sekolah yang mengikuti karnaval peringatan hari proklamasi dengan pakaian warna warni.

Nampaknya mereka jadi tertawaan penonton, seakan ada pada posisi rendah dan rentan. Selain ikut lomba gerak jalan itu, mereka ikut pula lombaan tata rias, karaoke hingga lomba pakaian busana. Komunitas mereka selama kurun waktu itu begitu aktif.

“Sebenarnya, pelibatan mereka pada acara seperti itu tidak ada soal, hanya saja motif pelibatan mereka harus jelas. Pelibatan mereka tidak boleh hanya untuk menjadi bahan lelucon atau tertawaan, ini tergantung niat pengundang” Kata Akbar Halim, aktivis LSM Gaya Celebes di Makassar, pada suatu sore ketika saya menemuinya pada tanggal 27 April 2009. “Mereka kan, bisa juga ikut memeriahkan hari raya, apalagi hari kemerdekaan bangsa ini” Katanya.

Jika melibatkan dengan tujuan sebagai bagian perayaan seutuhnya, misalnya atas nama nasionalisme tentu akan sangat bagus” Mereka pasti akan tertantang untuk memberikan yang terbaik” ungkapnya lagi. “Mestinya semua pihak menghindari kebiasaan untuk menjadikan bahan tertawaan atau bahasa lokalnya, pa’bado-bado”

Namun dia tidak menampik bahwa, adanya pandangan sebelah mata pada kaum kawe-kawe itu, biasa juga dilatari oleh sikap mereka sendiri.

“Kerap juga mereka yang memancing perhatian yang berlebih sehingga menjadi bahan tertawaan”. Misalnya, jika mereka berjalan dengan melenggang lenggokkan badannya dengan genit.

Masih Ada Stigma

Membicarakan kawe-kawe bagai kisah tanpa akhir. Mereka ada dan lahir diantara kita. Mereka ada sejak lama. Perdebatan masih kerap terjadi tentang proses transformasi sikap dan perubahan fisiknya. Walau dalam perkembangan beberapa faktor sangat berpengaruh. Mereka bisa menjadi orang penting, misalnya menjadi ahli penyembuhan atau sanro. Di Makassar ada sanro yang bergelar Baba Sanro atau dibeberapa daerah seperti di Galesong ada beberapa yang menjadi tokoh adat, menjadi bissu seperti di tanah Bugis.

Namun demikian selama ini, banyak kalangan menilai bahwa status kawe-kawe sangat rentan terserang penyakit mematikan seperti HIV/Aids, padahal penyakit mematikan itu dapat berasal dari pihak di luar komunitas mereka.

Awal tahun 2000 hingga 2002, merupakan masa-masa kritis dan mencengangkan. Saat itu untuk Sulawesi Selatan utamanya Makassar terdapat puluhan kawe-kawe yang meninggal. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh Yayasan Gaya Celebes, tingginya tingkat kematian ini terkait dengan tingkat pemahaman para waria tentang betapa dampak hubungan seksual bagi mereka. Juga, tidak tangkasnya respon mereka atas permintan dan pola hubungan yang dikehendai user-nya.

Berbagai upaya penyadaran pada permulaan tahun 2000an telah dilaksanakan. Kala itu, demi merespon kekhawatiran semakin merebaknya ancaman penyakit. Berbagai forum dimanfaatkan untuk menyosialisasikan pentingnya menjaga sikap untuk tidak terjebak di terkaman penyakit HIV dan AIDS. Upaya-upaya penyadaran seperti Lomba Waria Cantik Peduli Bebas AIDS Narkoba sejak tahun 1998 hingga tahun 2008 dilaksanakan demi menggugah kesadaran mereka.

“Saya pernah ke Galesong dan mengenal beberapa kawe-kawe disana namun saya tidak ingat persis nama-nama benarnya, yang saya ingat ada nama Pingkan atau Peggy” Katanya. “Sayangnya, mereka sudah meninggal” Keluh pak Akbar.

Pentingnya Penyadaran

Satu-satunya kekhawtairan kita tentang mewabahnya penyakit ini adalah prilaku seksual. Namun ruang privat seperti ini nampaknya sulit untuk ditelisik. Padahal sangat beralasan untuk waspada melalui hubungan seksual, virus penyakit ini dapat bertahan dalam waktu lama dan mengancam saat tubuh berkurang daya tahannya. Bukan hanya pelaku tetapi juga orang-orang disekitarnya.

Seperti kekhawatiran penulis atas ancaman penyakit menular seperti HIV dan AIDS ini, pak Akbar sependapat bahwa solusi atas mewabahnya penyakit ini tidak boleh dibebankan pada kawe-kawe saja. Semua pihak perlu mengontrol prilaku seksualnya.

Sebagai misal, ulah beberapa kawe-kawe di Karebosi itu tergantung pada siapa-siapa saja datang. Banyak sekali yang datang ke sana untuk melampiaskan hasrat seksualnya. Berbagai latar belakang sosial merumput di Karebosi untuk memuaskan nafsunya. Kawe-kawe yang datang kesanapun, punya motif yang berbeda, tetapi secara umum motif ekonomi.

Jika membaca prilaku seks yang marak disana nampaknya, pola hubungan mereka juga bervariasi. “Apapun caranya, hubungan seperti itu tetap berpeluang menularkan penyakit”. Penyakit bisa datang dari lelaki yang datang maupun si penjaja. Tapi hal itu, menjadi semakin sulit, jika membaca bahwa penyakitHIV/Aids itu, tergantung daya tahun tubuh. Semakin rendah daya tahan tubuh semakin cepat terjangkiti, begitupun sebaliknya.

“Itu tidak berarti bahwa virus itu hilang. Dia bisa menyerang kapan saja dan siapa saja” Tandasnya. Seperti kata Akbar Halim, saat ini memang ada kesulitan dalam menyampaikan pesan-pesan penyadaran kesehatan seks di kalangan kawe-kawe. Banyak dari mereka yang masih tidak terbuka dan cenderung skeptis dengan himbauan. Banyak dari mereka yang menyebut,”ah tidakji itu, karena kita ini sudah lama begini nda ada apa-apanya, sehat-sehatji”.

Tapi upaya ini tidak boleh berhenti, karena selain mereka masih ada pelaku lain yang perlu diwaspadai. Ya, para pelanggan atau user tentu saja. Perbandingan tentang daya imun yang disebutkan sebelumnya, dapat pula berlaku pada perempuan pekerja seks komersial. Mereka bisa terjangkiti penyakit dalam sekejap namun adapula yang hanya menyimpan virus alis tidak terdeteksi. Jadi, semacam ancaman tersembunyi.

Fenomena diatas, berdasarkan hasil kajian LSM Gaya Celebes, ada beberapa kondisi dan pemahaman yang berlaku dalam kawe-kawe ini, misalnya ada kawe-kawe yang malu kalau mereka punya alat kelamin lelaki.

“Padahal ada beberapa temuan, justeru mereka yang menjadi pelaku aktif dari hubungan itu alias merekalah yang diminta untuk jadi memuaskan tamu untuk hubungan seks”. Semacam gigolo! Pernah dengar istilah jalla’? Saat itu di Galesong, istilah ini disebut untuk menyebut kebiasaan kawe-kawe yang artinya, hubungan seksual ala gay. Entah dari mana awalnya istilah ini.

Kawe-Kawe Kini

Saat ini ada puluhan yang secara terang-terangan menunjukkan keadaan dirinya yang kawe-kawe namun tidak sedikit pula yang masih sembunyi-sembunyi. Penulis mencoba menelusuri cerita tentang kawe-kawe ini dengan menemui salah seorang yang saya hormati, Namanya Coggo Daeng Pajja.

Di bulan Januari 2009, untuk memperoleh informasi dan bertatap langsung saya mengunjunginya di salah satu sudut Dusun Bayowa, Desa Galesong Baru. Umurnya kini mendekati 60 tahun namun fisiknya terlihat bugar. Kulitnya yang hitam kecoklatan terlihat kuat dan bugar. Bagi Coggo Daeng Pajja, keberadaannya yang masih bugar itu adalah bukti bahwa dia bisa bertahan dengan kebersahajaannya. Saya bertemu lagi dengannya setelah hampir dua puluh tahun tidak pernah melihatnya.

Pada pagi hari ini, dia mengingatkan saya beberapa kawannya yang telah tiada, dia sebut Daeng Kebo, Daeng Tuju, Maro dan I Imba. Kawan-kawan yang dulunya juga kerap jadi teman ngobrol kami ketika masih menghabiskan masa sekolah di SMP Negeri Galesong.

Selama ini, Coggo hanya berdiam di Kampung Bayowa, menjalani hidupnya dengan sederhana. Kita tidak perlu menuntut yang macam-macam, kita nikmati hidup saja.

“Ya, kamma tommi anne kodong keadaanga” Katanya yang artinya, ya, beginilah saja keadaanku!

Dia menyadari bahwa, tak bisa dipungkiri adanya pencitraan yang cenderung negatif di tengah masyarakat setempat terkait dengan kawe-kawe ini. Mereka digossipkan, ditertawai, mereka kerap jadi bahan ejekan tapi masih tetap dibutuhkan. Sepertinya, banyak yang lupa bahwa mereka juga termasuk faktor penentu yang turut terkait dalam sukses-tidaknya pelaksanaan pesta sakral pernikahan warga.

Sebelumnya saya menjumpai beberapa kawe-kawe lainnya. Kawe-Kawe yang mewakili peran tersebut adalah Lana. Usianya kira-kira 30 tahun. Dia sudah bekerja sebagai asisten Haji Gajang salah seorang pengusaha pelayanan pesta perkawinan dan penyedia kebutuhan upacara-upacara adat.

“Menurut Haji Gajang, untuk kalangan seperti Lana dan lainnya, panggil saja kawe-kawe, itu lebih pas, karena kita orang Makassar” Katanya pada suatu ketika.

Tugas Lana, adalah memasang lamming atau pakaian pesta perkawinan bagi keluarga pemilik pesta, atau dipakai juga dalam pesta khitanan. Lana memiliki rekan seprofesi, namanya Wati. Saat bertemu, mereka sedang berkemas untuk berangkat ke Desa Mario, sebuah kampung yang terletak di Galesong Selatan. Rupanya, mereka dipesan acara yang akan digelar pada hari Minggu, 20 Juli 2008.

Meski nama Wati terkesan lebih feminin, namun kalau dilihat dari penampilannya, Wati lebih maskulin lantaran ia mempertahankan bulu-bulu di dadanya. Ladang pekerjaan utama Haji Gajang adalah merias pengantin. Dia telah mempekerjakan Lana dan Wati sejak beberapa tahun yang lalu. Secara khusus, tugas kedua kawe-kawe ini selain mempersiapkan dan memasang lamming di dalam rumah, membawa pakaian khas Makassar, seperti baju bodo, songkok guru, lengkap dengan aksesorisnya.

Haji Gajang bersama para kawe-kawe itu, merintis usahanya sejak 20 tahun terakhir. Ia melengkapi keahliannya dengan mengikuti berbagai kursus keterampilan sejak 15 tahun terakhir. Profesi Haji Gajang sebagai penata rias sepertinya memang sudah cukup dikenal masyarakat. Ini dilihat dari beberapa foto yang terpampang di dinding ruang dalam rumahnya, di mana beberapa di antaranya adalah foto bersama bupati Takalar dan Gubernur Sulsel sekarang, yang mana pada waktu foto diambil, masih menjabat sebagai Bupati Gowa.

Lana dan Waty merasa beruntung diterima bekerja di tempat Haji Gajang. Mereka menikmati masa-masa produktif dengan predikat waria yang tetap mereka sandang. Mereka menyadari bahwa banyak orang tergoda untuk mengganggu karena predikat tersebut, namun mereka memilih untuk tetap sabar karena profesi ini dirasakan mereka lebih terhormat dibanding pekerjaan lainnya.

”Adama’ sepuluh tahun kerja sama Haji Gajang. Saya senang karena dapat uang halal,” kata Lana lincah, pada sebuh pertemuan di tengah pesta di daerah Bayowa, Desa Galesong Baru.

Ketika, saya tanyakan soal kabar teman-teman warianya yang lain. Lana menunjukkan raut wajah yang muram lalu terdiam beberapa jenak.

”Eee…, kamma memang minjo kapang punna jai dudu erotta,” ungkapnya dengan gemulai. Artinya, begitulah memang kalau terlalu banyak mau. Maksudnya, begitulah resikonya jika manusia terlalu banyak maunya. Beberapa tahun lalu, tepatnya sekitar tahun 2000an, beberapa waria meninggal dalam waktu yang berdekatan. Masih sedikit informasi soal kejadian ini, namun setidaknya diketahui bahwa mereka rata-rata bekerja di bidang yang rentan tertular penyakit ganas.

Membuka ladang pekerjaan baru yang lebih ”sehat” bagi kaum waria seperti yang dilakukan Haji Gajang bisa jadi akan menyelamatkan mereka dari resiko terjangkiti penyakit seksual yang ganas. Dunia mereka tetap menyatu dengan dunia apa adanya, tidak bisa disembunyikan ataupun bersembunyi dan hanya berkutat dengan masalah-masalah kaumnya sendiri.

Seperti yang diungkapkan oleh Akbar Halim dari Gaya Celebes, sosialisasi dan interaksi yang saling menguntungkan berbagai pihak sepatutnya mulai dipikirkan dan konkritkan. Di samping itu, perlu juga diupayakan agar informasi soal resiko-resiko penyakit infeksi menular seksual juga sudah harus sampai pada kaum waria dan warga di sekitarnya, yang tinggal di daerah terpencil seperti pedesaan.

”Lana, mau tongko pigi Jakarta?” tanya saya, ingin mengetahui apakah Lana punya cita-cita mengadu nasib di ibukota sebagaimana beberapa rekannya terdahulu.

”Teaja!” jawabnya dengan genit, yang artinya tidak mau, sambil berlalu dengan gemulai.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Menelisik Ruang Privat Para Kawe-Kawe

  1. jabal nur says:

    salut Buat daeng nuntung…..

  2. Stunning, I did not heard about that until now. Cheers!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s