Ketika Petani Kakao Meradang

800px-Cacao-pod-k4636-14Seperti biasa, setiap pagi, Pak Natsir, mengamati tanaman kakao dekat rumahnya di desa Pattedong, Ponrang, kabupaten Luwu. Kali ini, airmuka petani kakao ini lesu melihat makin banyak buah kakao yang berbintik hitam dan hampir membusuk. Tak ada pilihan lain, ia terpaksa memetik satu demi satu kakao yang bergantung di dahan, meski belum benar-benar siap panen. Soalnya, jika tidak, kemungkinan besar biji-biji kakao itu tidak akan bisa dijual. (sumber foto: http://en.wikipedia.org/wiki/Cocoa)

Natsir sudah melakukan berbagai upaya, namun serangan penyakit PBK (penggerek buah kakao) serta serangan virus pada batang dan daun, semakin ganas menggerogoti batang dan buah kakao. “Kami mesti memanen dengan cepat, sebelum busuk. Dengan begitu, kami berharap masih bisa dapat beberapa kilo..,” tutur Natsir dalam percakapan telepon.

Lelaki paruh baya alumni salah satu perguruan tinggi di Makassar ini adalah salah satu dari ratusan ribu petani kakao di Sulawesi Selayan yang telah memilih kakao sebagai mata pencaharian utama. Di Sulsel, komoditas kakao termasuk kedalam tiga besar hasil bumi penghasil devisa sejak dua dasawarsa terakhir, bersama nikel dan hasil perikanan, utamanya udang. Jika harga melonjak dan produksi stabil seperti 20 tahun lalu, bisa dibayangkan betapa berbahagianya para petani kakao di desa-desa subur tersebut sekarang ini.

Pemerintahpun bisa menangguk rupiah dari devisa dan pajak. Sektor swasta dan jasa informal pun akan mereguk untung. Sayangnya, produksi kakao di Pattedong, di desa tempat tinggal Natsir menurun drastis sejak beberapa tahun belakangan ini. Beragam kendala teknis dan perilaku petani serta rentannya pohon terserang penyakit sangat mengkhawatirkan berbagai kalangan. Apakah sebenarnya yang terjadi dengan kakao tersebut? Bagaimana PBK menurut pak Nastir, hingga bisa menjadi begitu mewabah?

Digerogoti Ulat Buah

Jauh sebelumnya, aliran kakao sehat dan berbobot dari jazirah Luwu deras sekali pada sekitar tahun 1980an seperti yang diceritakannya. Menurutnya, dulu lahan masih sangat subur dan belum ada penyakit yang berarti dan ganas seperti sekarang. Ia menduga bagusnya produksi sangat terkait dengan kebiasaan petani kakao yang masih kerap gotong royong membersihkan lahan secara teratur.
Kakao bukanlah tanaman asli Sulawesi, melainkan berasal dari Amerika Latin namun telah mencuri perhatian para petani di desa. Pada mulanya, masyarakat sangat merawat tanaman ini, ditunjang oleh tingkat kesuburan tanah yang masih bagus dan tiadanya banjir atau kekeringan yang mendera.

Menurutnya, kala itu kerjasama antara petani sangat akrab. Pasca krisis ekonomi tahun 1997-1998 harga kakao melonjak drastis karena mengikuti harga pasar internasional. Rupiah anjlok, petani kakao dan orang-orang yang bergerak dalam ekspor sumber daya alam lainnya, berpesta pora. Dampak krisis tersebut memang dinikmati dengan pendapatan yang berlipat-lipat. Banyak petani kakao yang berhasil menunaikan ibadah haji dan status sosialnya meningkat. Namun itu, tidak berlangsung lama karena berdampak pada semakin berkurangnya kerjasama antara petani. Terlalu banyak orang kaya baru sehingga membuat mereka terlena untuk mengelola kakaonya dengan baik dan berkelanjutan.

Permasalahan kakao terkait beberapa faktor, salah satunya seperti yang dialami oleh Natsir. Serangan hama penggerek buah menyebabkan buah kakao menjadi hitam membusuk, kehitam-kehitaman, terdapat bintik hitam di kulit menyebabkan biji menjadi tipis tak berisi, berdempet atau bahkan kosong. Penyakit ini mengakibatkan buah kakao yang banyak di pohon belum tentu menghasilkan biji kakao yang sehat dan padat. Dampaknya, kuantitas dan kualitas kakao menjadi menurun.

Ulat ini berpesta ketika kakao mulai berisi. Tingkah hama PBK juga juga sangat menjengkelkan karena hama serangga ini bertelur di permukaan buah kakao muda dan susah terlihat. Telur inilah yang menetas dan selanjutnya menerobos ke dalam pori buah. Ulat inilah yang berdiam dalam buah sambil menggerogoti isinya termasuk biji. Para petani hanya bisa mengamati buah yang berlobang hitam kecil tanpa bisa mencegah pembiakannya.

Bulan Januari ini, ketika produksi menurun harga melambung selangit di pasar internasional membuat meradang para petani yang mempunyai hektara lahan kakao. Produksi yang hanya satu-dua karung pupuk menutup peluang income yang selangit.

Harga kakao kering sudah melewati angka Rp. 20.000 atau bahkan Rp. 25.000 per kilogram di pasar Makassar, sementara produksi kakao anjlok. Saat ini dan seperti bulan-bulan sebelumnya karena penggerek buah kakao yang tak bisa diredam maka income besar tinggal kenangan. Harga sebenarnya sangat bagus seperti yang didengarnya dari kawasan pabrik dan eksportir di kawasan KIMA, karena produsen nomor satu dunia, yaitu Pantai Gading di Afrika sedang bermasalah dengan kuantitas produksi dan keamanan wilayah.

Jalan Keluar

Natsir menduga bahwa kurangnya perawatan kebun menjadi awal bencana ini. Banyak petani yang hanya melakukan tiga kegiatan utamanya, menanam, memupuk dan memanen. Petani lebih banyak menunggu hasil, kalaupun ke kebun itupun hanya sejenak. Kelihatan sangat simpel sekali namun ternyata berdampak pada kualitas lingkungan ekologis kakao yang menjadi semakin tidak sehat karena tidak dirawat.

Selain itu, ditengarai beberapa tindakan petani kakao selama ini juga berpengaruh pada semakin maraknya hama penggerek ini; seperti cara pemupukan yang tidak teratur, kurangnya kerjasama dalam melakukan pemangkasan dahan dan daun, panen yang tidak teratur, sanitasi atau perawatan dan pengairan yang kurang baik. Maksudnya adalah, sebaran hama ini terkait dengan tingkat kesehatan lahan.

Jika lahan jarang dibersihkan maka peluang munculnya hama juga besar. Sampah atau sisa panen seperti buah luar mestinya ditangani dengan baik. Caranya dengan menanam ke dalam lobang. Pemangkasan berguna untuk membuat cahaya matahari dapat menembus jauh ke dalam batang dan membuat serangga pengganggu tidak bisa bertahan lama dan bertelur.

Hama PBK sangat terkait dengan pola tanam dan sikap petani kakao sendiri dalam memandang dan merawat kebunnya. Perilaku ini rupanya tercermin dari berbagai tingkah pola yang tidak disadari dampaknya seperti penggunaan pestisida yang berlebihan, pupuk tak terkontrol, teknik panen dan penanganan pasca panen yang ala kadarnya. Adalah ironi, seperti yang diurai oleh pak Natsir, “kami sudah melakukan berbagai upaya namun penyakit PBK masih saja mengganas. Serangan virus dan jamur juga mulai menyebar sementara banyak juga kalangan petani masih apatis dan susah diajak kerjasama termasuk para penyedia pupuk dan pestisida. Mereka menyerbu petani dengan produk kimia yang justeru mengganggu keseimbangan lahan.

Di tempat terpisah, Suharman, seorang pekerja LSM yang pernah bekerja pada salah satu program kakao di Makassar selama 5 tahun, mengatakan serangan PBK telah menurunkan produktivitas lahan kakao. Dari perkiraan produksi 800-1500 kilogram kering pe hektar menjadi hanya antara 400-600 per hektar. Fenomena ini terjadi di hampir semua desa kakao di sepanjang jazirah Luwu, mulai dari daerah Larompong hingga Malili Timur atau Malangke di pesisir Luwu Utara. Bahkan di sepanjang Sulawesi Tenggara dan Tengah.

Untuk menghindari semakin merebaknya masalah ini, maka upaya yang dapat dilakukan adalah memperkuat kerjasama antara petani itu sendiri. Dengan pengorganisasian yang baik maka pertukaran kemampuan dan bagi-bagi informasi dan tenaga sesama petani mungkin bisa bermanfaat mengurangi serangan hama PBK ini.

Natsir menutup perbincangan kami seraya menyebut minimnya pengetahuan petani tentang teknik berkebun adalah salah satu kelemahan. Kelompoknya juga membutuhkan mediator usaha yang bisa menghubungkan dengan pemilik modal. “Kami siap bekerjasama sama dengan model bapak angkat sekalipun!” tandasnya.

Membantu petani menemukenali masalah dan mengambil tindakan bersama adalah langkah strategis dan berkelanjutan. Sebab jika tidak, seperti kekhawatiran Natsir dan petani lainnya di Pattedong, pemerintah dan pelaku industri kakao lainnya tidak mustahil akan bernasib apes, seperti yang terjadi pada komoditas unggulan lainnya, yang salah urus dan membuat banyak petani gigit jari.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Ketika Petani Kakao Meradang

  1. syamsoe says:

    selera dan kombinasi warna yg mantapzz daengg…
    ditunggu tulisan2 nya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s