Kanuna, Ketika Kota dan Desa Berselingkuh

DSC04095Saat kami duduk di dueker, dua murid sekolah dasar mendekat dengan wajah kucel penuh coretan pulpen. Masing-masing menggambari wajahnya dengan garis kumis dan cambang. Tertawa lepas, riang. “Om, foto dulu!” katanya sambil memasang gaya. Anak-anak yang lain ikut tertawa meledek temannya, riuh dan sesekali berteriak dalam bahasa Kaili. “Da’a om, da’a… Jangan om, jangan…,” katanya. Lebih dari sepuluh orang anak usia sekolah dasar berkumpul kala itu, dengan pakaian warna-warni yang kusut tidak jauh dari gedung sekolah yang baru saja direnovasi.

Sementara di salah sudut jalan beraspal, beberapa anak muda tanggung dengan rambut acak-acakan dan telinga berhias anting, mondar-mandir di depan kami menggeber laju motornya. Ada juga yang memarkir motornya. “Mereka tukang ojek dari desa sini. Profesi yang semakin diminati belakangan ini,” kata Zen, tokoh pemuda setempat.

Awalnya Peladang

Kami melepas pandangan hingga jauh, dari ketinggian sekitar 350 meter di atas permukaan laut. Di sela pepohonan dan tiang-tiang listrik yang menjulang, kota Palu terlihat sedang dinaungi awan gelap. Awan pekat menggantung namun masih terselip cahaya matahari, membentuk garis-garis miring di atas kota berpenduduk hampir 300 ribu jiwa ini.

Kami menyaksikan ‘Jembatan 2’, satu jembatan dengan konstruksi menawan di pesisir kota. Lalu, ada pula Taman Ria, tempat kumpul anak muda saat menghabiskan senja dan malam minggu, yang membentang hingga pesisir pantai Talise di utara. Di utara kota, tersaji perbukitan yang nyaris gundul dengan lekuk yang tak beraturan. Di tengah kota, tidak banyak terlihat gedung tinggi. Jika malam, warga seperti dihibur kerlip lampu-lampu kota. Seperti kunang-kunang raksasa yang datang dari gunung.

Desa Kanuna termasuk wilayah Kecamatan Marawola, Kabupaten Donggala dan berjarak sekitar lima kilometer dari kota Palu. Kanuna adalah penyangga antara suasana kaki pegunungan Gawalise di jalur khatulistiwa yang terkenal itu dengan ibukota provinsi Sulawesi Tengah ini. Menurut warga, dari desa Kanuna ini, lokasi kasus sekte Mahdi yang kontraversial itu hanya berjarak sekitar sepuluh kilometer ke arah barat.

“Di sini seratus persen muslim,” kata Pak Nasrun memulai pembicaraan, setelah sebelumnya diam, karena menduga saya anggota intel. Menurutnya, desa ini mulai berkembang sejak awal tahun 70-an. Saat itu beberapa kelompok suku Kaili yang bermukim di hutan pegunungan, diajak bermukim di Kanuna. Mereka datang dan membangun rumah. Warga asli Desa Kanuna adalah komunitas suku Da’a Kaili yang sebelum tahun 60-an mendiami wilayah perbukitan sebelah barat desa. Mereka adalah para peladang berpindah. Perkampungan pertama disebut sebagai ‘Vunja Tondo’ yang juga merupakan tempat ritual adat Suku Da’a Kaili. Waktu itu penduduk masih berjumlah 30-an KK. Jarak masing-masing rumah sangat berjauhan.

Menurut Pak Jamrudin, salah seorang mantan kepala desa, pada 1 Januari 1970 dibuat kesepakatan antara masyarakat Kaili di perbukitan dengan masyarakat Kabonena tentang lahan yang kelak jadi wilayah pemukiman komunitas Kaili. Pemerintah tentu bersukacita, karena mereka sudah lama ingin mengatur wilayah pemukiman masyarakat Kaili untuk terkonsentrasi di satu titik, dekat dengan kota. Pemukiman baru itu disebut sebagai Desa Kanuna, mengutip nama pohon yang tumbuh di wilayah itu.

Setelah ada kesepakatan yang juga disetujui oleh pemerintah setempat, maka masyarakat Kaili perbukitan mulai pindah secara bergilir sampai 1 Januari 1973. Perpindahan dilakukan masyarakat dengan gotong-royong. Jumlah penduduk pertama yang pindah saat itu adalah 40-an KK.

Kanuna Kini

Tiga malam di desa itu, telah memberi kesan betapa tipisnya batasan ciri desa dan kota. Antara desa yang awalnya dihuni peladang berpindah dan kecenderungannya kini. Desa Kanuna adalah tempat bertemunya kebiasaan dan warisan masa lalu dan dampak daya pikat kota yang semakin kuat. Sampai pukul dua dini hari, kami masih mendengar riuh anak-anak muda bercengkerama, bunyi motor yang digeber kencang hingga suara anak perempuan yang masih bersenda gurau.

Di siang hari, di kebun, tidak banyak kaum pria yang dijumpai. Saat kami melintasi salah satu titik perkebunan desa terlihat beberapa ibu-ibu baru saja pulang dari kebun. Sebagian lainnya pulang membawa air di jerigen dan yang lainnya sibuk mencabuti bibit padi. Hanya terlihat seorang lelaki yang bolak balik dengan handtractor yang dihelanya.

“Sebagian besar pria dewasa lebih memilih bekerja sebagai tukang ojek atau buruh kasar bangunan di kota. Baik sebagai pekerjaan harian maupun sambilan,” kata Zen. Pekerjaan itu nampaknya telah menarik perhatian mereka karena lebih praktis dan cepat mendapatkan uang.

Kontak-kontak sosial karena jarak yang relatif dekat telah bermuara pada hubungan bisnis dan kepentingan fungsional. Sebagai contohnya, saat ini sudah banyak warga kota yang membeli lahan di Kanuna. Ada yang membangun villa, atau tempat mencari suasana pemandangan khas pedesaan. Ataupun tempat yang enak untuk melihat pemandangan kota Palu yang indah jika malam hari. Di sisi lain, warga semakin jauh ke atas membuka lahan, mereka berkebun sayur-mayur dan beberapa tanaman keras seperti kakao dan mete.

Kanuna kini, adalah desa dengan beragam program pembangunan, bahkan sejak tahun 70an, salah satu LSM internasional telah bercokol di sana dengan program sanitasi dan pengelolaan air. Bantuan pemerintah melalui program pembangunan juga sangat terasa. Contohnya, walau lokasinya berada di ketinggian dengan elevasi tajam, jalanan sudah diaspal dengan baik. Saat kami mengunjungi desa itu, pembangunan tanggul dan saluran air yang disemen sedang giat dilaksanakan. Nampaknya semua pihak akan selalu berupaya untuk tetap memperhatikan daerah penting ini.

Kawasan ini mempunyai satu hamparan kolam air di perbukitan yang turun-temurun telah menjadi sumber mata air penduduk. Jika dulu hanya dimanfaatkan oleh komunitas etnis Kaili, kemudian beberapa desa bertetangga, kini warga kota utamanya Palu bagian Barat sangat tergantung dengan persediaan air tersebut. Pipa-pipa terbentang dari ketinggian menuju pemukiman di bawah.

Saat ini ada keinginan dari beberapa pihak dari kota hendak memanfaatkan kolam air tersebut menjadi sumber air dengan memanfaatkan pipa dan pengelolaan yang lebih berskala besar, namun warga nampaknya belum memberi restu. Mereka menampiknya dengan alasan keberlanjutan dan keterbatasan daya dukung kolam.

“Banyak warga yang khawatir, utamanya dari tiga desa pihak yang mengambil manfaat saat ini, tentang jaminan ketersediaan air,” kata Idris, salah seorang aktivis LSM setempat. Mereka khawatir kebutuhan air untuk pertanian dan perkebunan maupun persediaan air minum jadi terganggu. “Sudah ada beberapa upaya negosiasi dengan warga untuk pemanfaatan mata air itu dengan skala yang lebih besar, namun warga masih bertahan.”

Menurut cerita, pengelolaan lahan dan air oleh warga Kaili memercayakan pada ‘punggawa’ yang bertugas sebagai pembagi air. Mereka menggunakan air dari sumber mata air pegunungan yang dialiri dengan bambu atau bak-bak penampungan. Selama itu tidak pernah terjadi kekurangan air walaupun sedang kemarau.

Walau warga percaya bahwa mereka dulunya mempunyai sistem sosial dalam memandang sumber daya alam terutama air, namun saat ini dianggap tidak efektif lagi. Desa Kanuna mempunyai adat istiadat seperti musyawarah dalam pengaturan pembagian sumber daya alam yang dikenal dengan “Masiromu”, ritual tanda kesyukuran sumber daya alam “Vunja Nangisa”, gotong royong dan system pembagian air “Punggawa”. Ada ungkapan adat seperti “Tanah Indoku dan Umaku Langit”, yang artinya tanah ibuku dan langit bapakku. Semua seperti tergeser oleh aturan-aturan baru, aturan berbau kota dan pemerintah.

Saat ini, mulai ada tanda-tanda kekurangan air di lahan pertanian warga akibat musim kemarau. Selain itu, juga disebabkan semakin tingginya kebutuhan air, bukan hanya warga di desa Kanuna tapi juga untuk dua desa tetangga (Donggala Kodi/Kota Palu dan Desa Daenggule) yang penduduknya semakin bertambah.

Maraknya pembangunan, seperti pembangunan tanggul dan saluran air beton di desa nampaknya juga telah memberi pengaruhi yang sangat kuat. Sekilas, bagi orang awam dan sebagian warga setempat hal ini tentu dianggap sangat bagus namun tersembunyi ancaman. Salah satunyanya adalah semakin menipisnya persediaan air minum dan air bagi kebutuhan pertanian. Menipisnya lahan resapan air hujan.

Pembangunan saluran air dengan beton itu bisa berdampak pada persediaan air di bukit. Tanah desa tidak lagi optimal menyerap curah hujan, apalagi jika pepohonan semakin banyak ditebang. Karena air telah dialirkan langsung ke bawah. Akibatnya, untuk jangka panjang, persediaan air dalam bentuk wilayah resapan air akan semakin berkurang. Jika ini terus berlangsung maka suplai air minum dan kebutuhan pertanian akan semakin menipis.

“Wilayah rembesan air atau watershed itu mestinya harus dijaga. Ini penting supaya fungsi wilayah perbukitan Kanuna dan desa lainnya sebagai penyuplai air bagi kota Palu bagian barat tetap terjaga,” kata Azis Gapnal, aktivis Yayasan Santigi, Palu.

Memang, saat ini warga masih menikmati keramahan alam kaki Pegunungan Gawalise. Warga memanfaatkan kemurahan alam, menanam padi, berkebun bahkan beternak di tanah lapang yang masih subur. Namun, sebagian warga telah mencium gelagat yang kurang baik. Lahan-lahan warga telah banyak yang berpindah ke pendatang dengan alasan ekonomi. Mereka menjual lahan untuk pemukiman dan rumah peristirahatan. Kanuna kini, desa yang awalnya dihuni para peladang berpindah itu, sepertinya sedang berselingkuh dengan kepentingan kota.

“Mereka menjual tanah, dan yang dibeli tanahnya semakin bergeser ke perbukitan,” kata Pak Nasrun. ”Kami khawatir rencana awal pemerintah untuk membangun desa dan mengajak warga turun gunung tidak akan berhasil. Warga asli akan kembali naik gunung, dan desa Kanuna kehilangan ciri khasnya. Juga, desa yang sangat strategis ini lambat laun akan kehilangan fungsi ekologisnya sebagai wilayah resapan air karena maraknya pembangunan yang tidak ramah lingkungan. ”

Desa yang diidam-idamkan itu, kini menjadi ajang pertaruhan kepentingan, ada yang berselingkuh dengan kota ada yang tetap berperilaku layaknya desa-yang bekerja-berladang. Siapa yang bakal takluk?(p!)

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Desa-Desa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s