Masyarakat Towani dan Pemimpin Yang Menjaga Amanah

ambiMalam merambat di atas kota Pangkajene ketika kami berbelok mengarah ke kawasan Amparita. Sekilas, terlihat rumah-rumah panggung padat berdempet dengan dinding kecokelatan cenderung hitam. Tidak banyak lampu di teras rumah warga, tanpa suara musik atau bahkan televisi. Jalan atau tepatnya lorong di depan rumah sang Ambi, pemimpin komunitas Towani di kabupaten penghasil beras di Sulsel ini dibalut keheningan.

Malam itu kami dijamu oleh pemimpin komunitas Towani, salah satu penganut aliran kepercayaan yang masih bertahan di kabupaten Sidrap. Komunitas ini terkonsentrasi di ibukota kecamatan, atau di sekitar jalan poros menuju kabupaten Soppeng di bagian timur. Dari ibukota kabupaten, Amparita hanya berjarak sekira 8 kilometer. Ibu kota kabupaten Sidrap sendiri berjarak sekitar 220 kilometer dari Makassar.

Syamsu Rizal, seorang penyuluh pertanian setempat yang mengantar memperkenalkan kepada beberapa orang yang mengenakan kopiah hitam dengan balutan sarung bermotif beragam. Mereka berkumpul di depan rumah. Setelah bersalaman, kami lalu beriringan, melewati anak tangga yang kokoh. Rumah ini terdiri dari tiga bagian, bagian tengah memanjang ke depan dan sangat luas sekali. Jika hitung lebarnya dapat mencapai tidak kurang 20 meter.

Di ruangan tengah telah menunggu A. Mappejanci. Dialah pemimpin komunitas Towani saat ini. Towani adalah sebutan bagi satu rumpun komunitas dengan aliran yang berbeda dengan etnis lainnya di Sulawesi Selatan yang dominan Islam. Oleh beberapa warga mereka juga kerap disebut pengikut Towani Tolotang.

Ada berbagai versi terkait keberadaan mereka di kawasan Amprita. Ada yang menyebut mereka sebelumnya adalah satu komunitas yang berdiam di kabupaten Wajo. Sejak kehadiran pengaruh islam, mereka terdesak dan berpindah ke Pangkajene atau Amparita. Sebutan Tolotang, merujuk pada sebutan oleh beberapa komunitas pemangku adat muslim di Pangkajene, yang mengangganya sebagai orang selatan dengan budaya yang sangat berbeda.

Sosok Panutan
Saat ini, komunitas Towani mempunyai pengikut tidak kurang dari 80.000 jiwa, seperti yang dituturkan oleh A. Mappejanci. Dia adalah mantan jaksa bergelar magister hukum yang mengundang kami malam itu. Suatu undangan silaturahmi dan melihat kegiatan komunitas ini lebih dekat.

Dari Amparitalah dia memberi komando bagi komunitasnya yang diyakini tersebar mulai dari Sulawesi hingga Semenanjung tanah Melayu, Malaysia. Darinya pula, jadwal upacara tahunan Parinyameng itu diputuskan hingga warga kemudian berduyun duyun datang meramaikan ritual keagamaan tersebut pada setiap bulan Januari saban tahun.

Mereka menyekolahkan anak-anaknya. Mereka bergaul dengan komunitas sekitarnya. Mereka kini membaur dengan perkembangan zaman namun tetap mempertahankan ajaran dan hal-hal positif dari leluhurnya.

A. Mappejanci sendiri adalah, sosok pemimpin panutan di lingkungan komunitas Towani. Dia menyelesaikan sekolah menengah atas di salah satu SMA favorit di Makassar, SMA Negeri 2 pada tahun 1980. Dia terpilih setelah melalui mufakat diantara tokoh-tokoh penting komunitas ini. Pengalamannya sebagai mantan jaksa dan memegang gelar sarjana hukum dari Universitas Hasanuddin serta magister hukum menjadi modal kuat memimpin komunitas ini.

Pembawaannya yang tenang, supel nampaknya telah menggugah beberapa tokoh kunci Towani untuk memilihnya menjadi pemimpin Towani dengan sebutan Ambi. Kariernya di bidang kejaksaan ditinggalkannya demi menjalankan amanat yang diberikanoleh warga dan tokoh masyarakat Towani.

Kami bercengkerama dengan santai yang juga diikuti oleh sekitar dua puluhan pengikutnya yang setia menemani kami malam itu. Rumah panggung dengan tiang rumah yang kokoh yang didiami oleh Ambi merupakan pusat kegiatan komunitas ini. Tiang rumahnya, terbuat dari batang pohon yang masih menyerupai batang pohon aslinya. Bukan tiang balok seperti lazimnya rumah panggung.

Lantainya bukan papan tapi dari bilah bambu yang diatasnya terpasang tikar pandan. Udara berhembus dari lantai di sela-sela jalinan bilah bambu ketika kami menikmati santap malam kala itu.

“Sebagai pemimpin, kita mesti menjaga kepercayaan. Kita harus teguh dalam prinsip dan bisa dipercaya” Sebab jika pengikut tidak lagi percaya pemimpinnya, maka apapun yang kita katakan tidak akan diikuti lagi oleh masyarakat”. Inilah yang mesti dijaga, katanya.

Segala sesuatu yang terkait dengan arah atau tindakan yang dapat berpengaruh bagi komunitas Towani nampaknya, mesti mendapat tinjauan dari kalangan elite mereka. Pada posisi ini, peran Ambi sangat penting. Selain memberikan pertimbangan dan arahan bagi pengikutnya, berbagai ide dan rencana-rencana pembangunan komunitas mereka sedang digagas.

“Kami memiliki mekanisme untuk pengambilan keputusan” Ini penting supaya, pemimpin dapat memberikan pertimbangan bagi harkat dan masa depan komunitas ini. Salah satunya, adalah dengan mendorong warga untuk produktif dalam memandang diri dan lingkungannya. Caranya dengan bekerja keras, berupaya supaya kebutuhan dasar bisa terpenuhi.

Ke depan, kami mendorong warga untuk aktif di usaha perkebunan, pertanian bahkan peternakan. Masih banyak lahan kosong, yang dapat dimanfaatkan untuk kemajuan ekonomi warga.

“Kami sangat bersuka cita, karena Ambi mempunyai ketertarikan pada bidang pertanian dan perkebunan” ujar salah seorang warga yang kami temui pada salah satu acara pembukaan lahan perkebunan di desa Buae, salah satu desa yang banyak dihuni pengikut Towani Tolotang.

Saat itu hadir lebih dari lima puluh orang, mengikuti pembukaan lahan perkebunan yang dimotori oleh sang Ambi. Mereka datang dari desa sekitar hingga dari kabupaten Pinrang. Tujuannya satu, bersama Ambi memulai persiapan pembukaan lahan uji coba perkebunan. Mereka berharap mendapat pembelajaran dari teknik berkebun iniuntuk diterapkan di daerahnya masing-masing

Saat ini, A. Mappejanci bertanggung jawab mengarahkan dan memberikan bimbingan bagi kemajuan komunitas ini. Salah satunya adalah dengan mendorong bekerja keras sebagai salah satu ciri untuk maju.

Versi Sejarah
Terlepas dari dinamika komunitas ini yang selalu didera sinisme dan dianggap kolot, mereka tetap bertahan dengan pemahaman mereka. Mereka masih menjaga kepercayaannya sebagai tanda setianya pada ajaran leluhurnya. Mereka tetap bertahan, tidak tunggal, bukan satu-satunya yang masih bertahan karena di beberapa wilayah lain kepercayaan seperti ini masih bertahan.

Menurut beberapa cerita dari mulut ke mulut dan media, sebelum masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan, penduduk setempat telah memercayai satu ajaran terkait penciptaan dan pengatur alam semesta. Mereka menyebutnya dengan “Puang Matoa”.

Sisa-sisa kepercayaan yang mirip dengan kepercayaan tersebut masih terdapat diberbagai tempat di daerah Sulawesi Selatan. Hal itu dapat tampak dengan jelas di Tana Toa Kajang, kabupaten Bulukumba Aluk To Dolo di Tana Toraja dan di Onto, di Camba dan Barru. Bersama beberapa ajaran tersebut diatas, ajaran Towani Tolotang yang dipimpin oleh A. Mappejanci eksis.

Yang membawa ajaran ini masuk ke Sidenreng Rappang adalah Ipabbere, seorang perempuan. Ia meninggal ratusan tahun lalu dan dimakamkan di Perinyameng, sebuah daerah di sebelah barat Amparita.

Komunitas ini sebenarnya termasuk penganut aliran kepercayaan. Namun karena ada kebijakan pemerintah yang tidak mengakui hal itu, maka pada beberapa tahun lalu, pemerintah memberi tiga pilihan ke warga Towani Tolotang. Oleh pemerintah, mereka ditawari untuk memilih salah satu dari tiga agama; Islam, Kristen, dan Hindu. Komunitas itu akhirnya memilih Hindu. Komunitas Towani bernaung di bawah agama Hindu.

Salah satu yang membedakan adalah tradisi Parinyameng, suatu upacara adat atau tradisi ala leluhur mereka, pada saat itu puluhan ribu pengikut ajaran ini berbondong-bondong menghadiri ritual saban tahun ini. Ritual ini biasanya digelar pada bulan Januari saban tahun. Upacara yang dilangsungkan di kompleks makam leluhur mereka, jelas sangat kontras dengan ajaran Islam yang dominan di Sulawesi Selatan.

Siang harinya, seusai santap siang dengan Ambi dan dihadiri oleh pengikutnya, menjelang kepulangan kami ke Makassar, saya sempatkan bertanya “Tanggal berapa kira-kira acara itu berlangsung pada Januari tahun depan, pak?”. Ambi tidak merinci hanya menyebut, biasanya beberapa hari sebelum hari pelaksanaan baru bisa dikabarkan ke para pengikutnya.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Budaya. Bookmark the permalink.

3 Responses to Masyarakat Towani dan Pemimpin Yang Menjaga Amanah

  1. Andi Syaifullah says:

    Pemimpin komunitas To Lotang To Wani, adalah Wa’ Ambi yang bernama lengkap Ambi Mappajanci. Adapun gelar “Andi” yang berada didepan namanya adalah suatu kesalahan yang mungkin berasal dari penulis blog. Jadi saya sarankan untuk dikonfirmasi ulang supaya tidak mengundang kontroversi. Gelar “Andi” adalah gelar untuk keturunan Datu/Karaeng/Arung/Petta, yang bisa dilihat dan dipertanggung jawabkan berdasarkan nasab atau silsilah. Kalau Andi yang dimaksud adalah “andi” yang bukan gelaran bangsawan, yah… nggak apa2. tak perlu dikonfirmasi. Tapi memang harus jelas supaya orang lain juga paham, toh…

  2. reefberry says:

    Terima kasih pak Andi Syaifullah. Saya memperolehnya dari berbagai sumber. Saat beliau menjabat jaksa di Wajo? sepertinya menggunakan A. Mappejanci. Apapun itu thank komennya ya pak… 🙂 saya akan menulisnya A. Mappejanci saja…Thanks…

  3. Andi Syaifullah says:

    Terima kasih atas bijak-nya. Saya menawarkan anda untuk membagi/memperkaya referensi anda/saya tentang sejarah. Disini masih banyak bahan untuk penulisan blog anda berikutnya. Datanglah dirumah keluarga kami di “Rumah Adat Bola Lampe’E”, di Amparita. Kami jemput anda dengan ‘karpet merah’.

    Salam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s