Safitri Yang Tak Lagi Menggendong

3330_73473212766_792452766_1586835_1430961_n“Dengan menjual jamu berarti membuat keluarga saya senang, karena dapat uang,” ujar si Mba dari balik sepeda mininya yang dijejali botol-botol besar. Dia menjawab sambil terkekeh ketika saya bertanya tentang pilihannya menjual jamu.

Seperti biasa pada setiap pagi, demi alasan kebugaran saya selalu memesan satu gelas kecil pada Dwi Safitri. Jamu Safitri adalah jamu pahit dari berbagai campuran tanaman seperti umbi jahe, kencur, gula merah, garam, gula putih, kunyit, ketumbar, adas, daun sirih, buah pinang, asam dan daun sambiroto yang diraciknya sendiri. Ada delapan botol bekas minuman buah markisa yang ditempatkan diboncengan sepedanya. Botol-botol yang sudah hampir setengah isinya habis ini, adalah wadah jamu hasil racikannya. Botol plastik yang satu berisi larutan gula merah sebagai penawar pahit jamu.

Pagi ini, tepat pukul 08.30 seperti biasa dia melintas di depan rumah kami di Perumahan Tamarunang, Somba Opu Sungguminasa. Safitri, wanita muda beranak satu ini, adalah penjual jamu yang sudah lama menjadi langganan para ibu-ibu dan warga kompleks lainnya termasuk anak-anak.

Tidak seperti penjual jamu yang lazimnya menjajakan dagangan dengan menggendong bakul jamu, Safitri menggunakan sepeda. Ia mulai mengayuh kendaraan roda duanya mulai pukul enam pagi dari rumahnya di Borong Untia, Pallangga hingga perumahan di daerah jalan Malino. Dari terminal lama Sungguminasa hingga kompleks perumahan kami. Dia akan menyudahi kayuhannya pada pukul sepuluh ketika matahari mulai menyengat.

Selain menjual jamu ramuannya, dia juga menjual jamu sasetan. Modal sekali jalan menurutnya sebesar 30 ribu rupiah. Dia mematok harga 1500 rupiah pergelas, dan jika dirata-ratakan dia bisa meraih untung hingga 30 ribu rupiah perhari. “Tapi ini tergantung rezeki,”katanya buru-buru menambahkan.

“Saat ini saya masih bersyukur karena dengan berjualan jamu begini, dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan anak satu yang masih kecil. Entah jika nanti semakin besar, mungkin biaya pendidikan akan lebih banyak menyita tenaga. Dulu ketika belum menikah, saya bisa mendapat uang lebih banyak karena menjual jamu lebih lama dan masih kuat mengayuh sepeda,”cerita perempuan yang berusia 23 tahun ini.

Nama lengkapnya Dwi Safitri. Tapi warga, baik anak-anak sampai kakek-nenek terbiasa memanggilnya ‘Mba’saja.

Safitri, mungkin bukanlah wanita luar biasa jika membaca fakta bahwa ada banyak wanita-wanita yang lebih tangguh, bergelut dengan rumitnya kehidupan di kota-kota yang sangat keras . Tapi, paling tidak dia adalah pelengkap setara bagi keluarganya. Bersama suaminya yang berpendidikan sekolah menengah atas dan bekerja sebagai montir elektornika, dia menutup celah ekonomi keluarganya dengan berjualan jamu. Dia sendiri sempat mengecap pendidikan sekolah tingkatan pertama.

Lahir dan besar di desa Cawas, Kecamatan Cawas kabupaten Klaten Jawa Tengah berbatasan daerah Gunung Kidul. Tepatnya di dukuh Nggabus. Safitri yang ulet bekerja ini bersaudarakan lima orang, dia sendiri anak kedua. Hanya satu orang dari saudaranya yang masih tinggal di Jawa bersama orang tuanya. Keempat yang lainnya telah beberapa tahun tinggal di Kota Sungguminasa. Dia menikah dengan Bayu Suwarno (35) pada tahun 2005. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang masih balita, Yusuf Setiawan.

Mereka tinggal di daerah Bonto-Bontoa. Sejak tahun 2000, dia menjejakkan kakinya di tanah Sulawesi. Dua orang suadaranya telah berkeluarga, salah satunya juga berjualan jamu. Saudaranya yang lelaki berjualan es krim di bilangan Sungguminasa. Keluarga mereka nampaknya adalah pekerja ulet, meninggalkan ayah dan ibunya di Cawas yang bekerja sebagai buruh tani.

“Bersama saudara yang lain, saya ke Makassar pada tahun 2000. Waktu itu naik kapal laut,”katanya. Sejak tahun 2000, dia sudah beberapa kali kembali menjenguk keluarganya di Jawa. “Tidak terhitung sudah berapa kali, tapi kerinduan itu selalu saja ada. Selalu rindu sama ayah dan ibu,”katanya.

Kenal Kartini?

Hari ini, warga dan media membicarakan hari Kartini. Peringatan yang masih saja mengandung polemik tentang perlu tidaknya menobatkan RA Kartini sebagai pahlawan nasional.

Safitri mungkin tidak mengenal isi buku Kartini yang berjudul Door Duistermis tox Licht, atau Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku kumpulan surat-surat Kartini yang terkenal dan menggugat ketidakadilan pendidikan bagi kaumnya. Surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu adalah bukti keinginannya untuk melepaskan kaumnya dari ketidakadilan perlakuan pada saat itu.

Safitri mungkin tidak begitu mengetahui cerita sejarah wanita yang dipuja itu, tidak hapal bahwa Kartini lahir di Jepara, satu provinsi dengannya di Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Dia di selatan sementara Kartini di utara, tepatnya Jepara. Klaten, kabupaten di selatan dan Jepara tempat kelahiran Kartini diutara sangat berjauhan. Tapi apa yang dilakoni Dwi Safitri tentulah sangat dekat dengan kehendak awal Kartini, yaitu wanita-wanita harus kuat dalam cita-cita dan bekerja keras.

Sebelum saya berpisah dengan ‘wanita karir’ berjilbab biru dan bertopi caping ini, saya iseng bertanya lagi padanya.

“Mba, kenal Kartini gak?”

“Kartini mana?”

“Raden Ajeng Kartini.”

“Iyyalah Daeng…”

“Menurut Mba, Kartini itu siapa?”

“Kartini itu kan wanita maju, wanita karir,”katanya agak ragu, “…benar gak sih, Daeng?”dia bertanya lagi, sebelum akhirnya berlalu tak menunggu jawaban.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s