Mencicipi Aroma Labbakkang di Kendari

DSC02396Pada satu kesempatan, saya bertemu dengan salah seorang kepala biro di lingkup pemprov Sulsel yang kebetulan sedang berada di Kendari. Ia bercerita tentang berburu makanan khas di Kota Kendari. “Kalau ke luar kota jangan cari makanan yang banyak dijumpai di Makassar, cobalah cari makanan khas Sulawesi Tenggara,” katanya. Saat itu pilihan saya sudah jatuh, yaitu mencicipi ikan bakar Aroma Labbakkang di Kota Kendari, lantaran sebelumnya seorang tukang ojek menceritakan betapa terkenalnya warung ikan bakar ini.

Adalah Aco, tukang ojek asal Pomalaa yang berdarah Bugis Bone yang memperkenalkannya. Ia mengatakan bahwa warung makan itu kerapkali dikunjungi artis dan tokoh politik nasional. Warung makan bermenu ikan bakar itu, posisinya tepat di jalan poros dari Kota Kendari ke kawasan kota lama, Kendari Beach. Tepatnya di Jl. H. Edi Sabara (bypass no. 38) yang di depannya terdapat rimbunan pohon bakau.

Sebelum sampai di warung tersebut, di dalam Kota Kendari sendiri saya lihat terdapat banyak rumah makan yang menyajikan ikan bakar sebagai menu utama. Usaha ini terkait dengan posisi Sulawesi Tenggara yang memiliki banyak pulau-pulau dengan kekayaan hasil laut yang sangat melimpah, seperti ikan karang.

Bersih
Setelah memutar mengitari jalan utama Kota Kendari dengan menumpang ojek, saya pun sampai di warung itu. Tidak sulit, karena di depan warung terdapat dua papan nama yang besar bertuliskan “Aroma Labbakkang”. Labbakkang adalah satu daerah di pesisir Pangkajene Kepulauan (Pangkep) di Sulawesi Selatan.

Kesan bersih, itulah yang pertama terekam dari warung ikan bakar khas asal Pangkep ini. Warung yang diperbincangkan banyak warga Kendari. Di atas meja tertata tomat segar, jeruk nipis, cabe, bawang, daun kemangi, timun plus sambal kacang, ditambah tatakan jeruk manis untuk makanan penutup. Semua terlihat begitu enak dan tertata apik. Luas warungnya tidak lebih dari 7 x 8 meter menghadap selatan, ke kawasan Teluk Kendari. Di seberang jalan, masih terdapat hamparan pohon bakau yang sangat rimbun.

Benar omongan Aco, bahwa warung ini memang kerap dikunjungi orang ternama. Berbagai pajangan foto dan piagam terpampang di dinding. Ada penyanyi dangdut, Iis Dahlia, Muchsin Alatas dan Titik Sandora, dan artis Nia Zulkarnaen Sihasale.

“Ada beberap foto lain yang tidak saya pajang,” kata Hamsinah, sang pemilik warung, ketika saya menunjukkan kekaguman.

Siang menjelang sore itu, hanya saya dan dua orang pengunjung lain yang menjadi tamu. Sebagian tenaga kerja warung sedang membersihkan lantai, mengepel dan sesekali melap dan menata ulang meja.

Di cold box atau tempat penyimpanan ikan, berbagai jenis ikan seperti kakap, beronang, kerapu, bandeng ukuran diatas rata-rata tertata dengan baik dengan kepala menghadap ke atas dan disisip bongkahan es halus. Ikan-ikan tersebut terlihat segar dengan bola mata yang masih bening.

Khas Pangkep
“Orangtua kami yang asal Pangkep telah lama tinggal di Kendari,” kata Hamsinah, yang kala itu baru saja selesai makan dengan menu racca taipa atau irisan mangga muda dan ikan pallu ce’la atau ikan masak asin. Saya menemuinya di salah satu bagian rumahnya. Rupanya ia baru saja bangun dari tidur siang.

Menurutnya, inisiatif pertama membuka usaha ikan bakar datang dari dirinya sendiri, Hamsiah muda yang oleh orang tuanya disiapkan tenda kecil di kawasan Kendari Beach pada tahun 1992. Kala itu, menunya adalah nasi dan ikan bakar laut. Setelah melihat bahwa usaha ini mulai berkembang pesat, ia pun mulai berpikir untuk investasi dengan membeli tanah di jalan bypass kota Kendari. Ia memutuskan pindah setelah ada penataan dari pemerintah kota tentang kawasan Kendari Beach.

Pekerja di warung dulu itu sekitar enam orang, berasal dari Bugis, Tolaki dan Muna. Dulu hanya enam meja kecil dengan enam bangku memanjang. Usaha awalnya tersebut berlangsung selama empat tahun sebelum pindah ke tempat yang sekarang.

“Kami memulai usaha ini di sini, sejak tahun 1995,” katanya tentang warung Aroma Labbakkang sekarang. Itu setelah membeli lahan dan memperluas warung.

“Sebenarnya tidak adaji yang beda dengan dulu. Tetapji dengan jenis ikan kakap atau katamba, titang, kerapu, bandeng. Namun beberapa jenis hasil laut lainnya juga mulai diminati pelanggan seperti udang, cumi, kepiting,” kata Hamsinah. Itu sebabnya ia memperbanyak jenis pilihan di restorannya.

Tentang menu dan racikan ikan, Ibu Hajjah ini menyebut beberapa jenis, “Ada yang dibakar, asam manis, saos tiram, semuanya tergantung pesanan pelanggan.”

Tentang hal khusus pemikat pelanggan hingga banyak yang menyukai warungnya, Hamsinah mengatakan, “Satu hal yang menarik dari warung ini, kata orang yang pernah beberapa kali berkunjung, adalah aroma ikannya setelah dibakar.Itu karena kami menggunakan bumbu bakar,” katanya yang dibenarkan oleh Amiruddin asal Buton, sang juru bakar. “Saya mendapatkannya dari suami, Pak Haji Saenong. Memang orang tuanya jago membuat bumbu ikan di Pangkep.”

Ditanya tentang jam buka warung, Amiruddin mengatakan sejak jam sepuluh pagi hingga larut malam. Tergantung pengunjungnya. “Kadang-kadang hingga jam satu malam, kadang jam dua,″ imbuh Amir. Warung ini juga menyiapkan menu otak-otak, menu khusus yang dibungkus daun pisangdan dibakar. Otak-otak ini sendiri dibuat khusus oleh satu keluarga tetangga Hamsinah.

Hamsinah adalah wanita keturunan Pangkep yang lahir di Kendari. Bersuamikan Haji Saenong yang juga asal Pangkep. Keberhasilan mereka ini juga sangat ditentukan oleh adanya penyuplai ikan yang berkualitas. Mereka mempunyai hubungan dengan beberapa pedagang ikan sebagai penyuplai ikan di warungnya. Ikan-ikan didatangkan dari daerah Raha, Kassi Pute, pulau Wowoni, Wanci yang dikirim khusus dengan perahu.

Hamsinah biasanya membayar cash kepada pengantar ikan dengan terlebih dahulu menyeleksi ikan-ikan bagus. Ikan-ikan itu kemudian dibersihkan ulang oleh para pekerja, yang jumlahnya sepuluh orang. Dari situ saya menyimpulkan juga bahwa selain karena aroma bumbu ikannya, Aroma Labbakkang memang menyajikan ikan segar dan berkualitas. Selain itu, kesuksesan warung ini juga didukung oleh penataan meja yang hanya tiga jalur terlihat rapi. Warna plastik coklat muda menutup masing-masing meja, berpadu dengan lantai krem terlihat bersih. Terdapat sembilan meja panjang, dan 18 bangku panjang berbaris pada tiga jalur. Di langit-langit tertata lampu dan plafon sederhana namun terlihat indah.

Mengapa disebut warung Aroma Labbakkang? “Itu nama kampung Haji laki-laki,” kata Hamsinah, yang dimaksudnya adalah suaminya.

“Eh anu juga daeng, pernah pula datang penyanyi dangdut seperti Fetty Vera, Vina Panduwinata dan pejabat dari Jakarta, Yusril Ihza dan Andi Mallarangeng,” imbuh Hamsinah sebelum saya mencegat ojek hendak pamit.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Kuliner-Kuliner. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s