Setelah LSI Merilis Angka Bombastis

4638_88615587766_792452766_1787652_5336383_nPemilu 5 tahun lalu, berjalan ringan tanpa masalah berarti. Seperti yang sudah dibayangkan oleh hampir semua kalangan, SBY dan JK melenggang. SBY mewakili figur pejabat negara berpengalaman yang tenang, santun dilengkapi JK dengan style yang blak-blakan, dari timur, dan berpengalaman dalam mengelola cerita sosial-ekonomi negara.

Lempangnya jalan mereka ke kursi puncak melengkapi cerita perjuangan politik partai besar (walau banyak kalangan masih meragukan peran partai) yang berhasil memengaruhi populasi Indonesia yang padat dan sedang dirundung banyak masalah.

Seorang kawan mantan anggota KPU, pernah menyampaikan kepada saya ketika itu tahun 1999, “SBY itu gagah, sabar dan cekatan dalam mengambil keputusan. Saat ini dia benar, dia memang harus sabar hingga beberapa tahun, untuk jadi orang nomor satu di Indonesa, kelak!” Saat itu, SBY memang terangkat pamornya ketika harus mengambil sikap atas ‘rivalitas’nya dengan Mega ketika jadi Menteri. SBY menikmati kesabarannya selama kurun waktu 2004-2009, setelah itu?

Belum ada jawaban sebelum mereka menuntaskan gelanggang pilpresbulan Juli nanti. Ya, kini, keduanya telah berbeda dalam strategi, beda dalam paket. Paling tidak dalam menyiapkan logistik dan pengusungnya dalam menuju tampuk kursi nomor 1 mereka menyembunyikan strategi pamungkasnya. Melalui mesin partai dan koalisinya, mereka menabuh genderang kompetisi. Siapa yang unggul? Siapa yang diminati voter?

Membaca status incumbent, beberapa kalangan menjagokan SBY, bahkan oleh Sarwono Kusumaatmadja, menyebut JK bukan lawan sepadan bagi SBY. (Kompas hal 4, sabtu 6 Juni 2009) Alasannya SBY sebagai incumbent punya banyak keunggulan. Sayangnya tidak dirinci keunggulan apa, tapi bisa dibaca dari kemampuan konsolidasi atas sumberdaya, baik sumberdaya kampanye maupun keunggulan hirarki kekuasaannya saat ini.

Lalu, entah mengapa pula, seperti mengindikasikan skenario teramat besar, LSI merilis hasil survey yang mengunggulkan SBY lebih 70 persen (elektabilitasnya) atas JK. Sebegitu tidak layaknyakah dua rival SBY itu? Bukankah Golkar dan Luar Jawa sangat menjagokan JK saat itu? Apakah sebegitu cepatnya ‘militansi voter’ terkikis saat ini? JK dipaketkan dengan Endriartono, (hal yang janggal untuk trend pemimpin parpol saat ini).

Tidak Percaya

Saat ini entah mengapa saya tidak percaya dengan rilis LSI itu. Apapun metode dan argumentasinya, saya tidak mendapat titik terang untuk benar-benar mampu menerimanya dengan akal sehat. (jangan beri saya cap tikus hahahah).

Mengapa? Survey yang hanya mengambil sampel 400 responden itu, nampaknya tidak merepresentasi hampir seluruh Indonesia. Bayangan saya, berbekal asal dan karakter Kalla yang sangat pas dengan kultur Sumatera yang tegas dan straight to the point, perolehan suara Kalla bakal meraja di Sumatera, betapapun Sumatera adalah Tanah Jawa Kedua.

Tidak ada jaminan bahwa capres nomor 2, bakal berjaya di JawaTimur. Untuk beberapa hal Kalla punya senjata ampuh untuk menarik perhatian para santri dan ulama khas Jawa Timuran. Dengan slogal independensi, kemandirian ekonomi dan hasrat menjauh dari jeratan ekonomi-politik internasional, saya membaca kemungkinan besar untuk JK mendapat simpati dari bumi timur Jawa.

“Pertanyaan lanjutan saya, apakah Gus Dur berani mendukung JK?“ Jawa Barat nampaknya akan bersaing kuat Golkar dengan Demokrat, akan ketat perolehan suara antara nomor urut 02 dan 03.

Sulawesi akan bulat mendukung JK, betatapun Demokrat berjaya di Pemilu lalu, nampaknya sentiment timur masih layak dipertahankan. Tim sukses JK perlu mewaspadai wilayah abu-abu Sulawesi Utara dan Gorontalo. Sangat besar peluang Maluku dan Papua, akan berpaling ke JK.

Untuk tanah Jawa, mari kita menunggu pecahan suara (yang nampaknya) akan rata pada peroleh ketiga kontestan. Mega di Jateng, SBY di Jatim, Kalla di Jawa Barat. Jakarta dan Yogyakarta adalah wilayah abu-abu dan hanya tim sukses yang cerdas, berani merayu warga dengan empati, penuh simpati dan berterus terang yang bakal memenangkan perolehan suara disini. Faktor PKS nampaknya tidak begitu dominan lagi.

Jika membaca penjelasan diatas, saya berani bertaruh, survey-survei yang merilis data mencolok itu sangat meragukan, paling tidak bagi kita yang masih merasa punya akal pas-pasan hahahah!

Dikutip dari situs resmi partai Demokrat, menurut Direktur LSI, Saiful Mujani, survei melibatkan 400 responden yang tersebar di 33 ibukota provinsi. “Responden berasal dari kelas menengah. Survei dilakukan dengan melakukan wawancara via telepon, dan dipilih secara random,” tukas Saiful di kantor LSI, Kamis 14 Mei 2009.

Hanya 400 responden, untuk satu desa saja populasinya masih tidak cukup hahaha…Tapi begitulah, mestinya tidak perlu ditanggapi tapi dengan mengutip responden yang 400 orang seakan-akan merepresentasi puluhan juta voters alangkah naifnya.

“Tidak perlu ditanggapi, mari kita berusaha sekuat tenaga” kata JK

Saya mengagumi JK dan SBY saat keduanya bahu membahu di Pilpres tahun 2004. Saat ini? Saat ini saya menunggu siapa calon presiden kita dari keduanya itu yang benar-benar cerdas mengantar opini, meyakinkan, membanggakan dan layak memimpin negeri ini, lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Yang pasti saya akan memilih salah satu dari keduanya, tapi tidak untuk LSI.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s