Baba Guru Hartono, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong

IMG01933“Hadirilah…, banjirilah pemutaran film terbaik tahun ini, dengan bintang utama ….Aaaaa. Raaaaafiq…!!!”.

Mobil bak terbuka digeber, asap panjang meliuk dari knalpot. Suara Nawir meraung dari loudspeaker. Lengkingan cempreng itu menyebar ke segenap penjuru kampung. Mobil bergerak dari Pasar Takari di Galesong Kota hingga kampung-kampung di sekitarnya. Riuh sekali.

Fragmen di atas adalah suasana promosi menjaring penonton dari berbagai pelosok dusun. Nawir si pengantar film, mengumumkan film yang akan diputar di malam hari. Walau sudah mendengar apa yang diteriakkan, para warga, mulai dari anak-anak hingga kakek-nenek tetap berhamburan keluar untuk menyaksikan seperti apa gambar film yang akan diputar itu. Suasana sangat ramai menyambut bioskop yang pertama kali hadir di Galesong pada awal tahun 80-an ini. <!–more read more–>

Usai magrib, para penonton sudah berkerumun di halaman depan bioskop. Dari desa lain, seperti Bontoloe, Bontorita, dan desa-desa di utara berbondong-bondong seperti Tamasaju, Bontolebang, Batu-Batu. Penonton tumpah ruah setiap malam pada satu ruangan besar berukuran 35 kali 20 meter. Suasana begitu hidup karena selain pemutaran film, di di sekitar lokasi menjamur penjual makanan dadakan. Kacang rebus dan kacang sangrai, telur asin, buah-buahan, utamanya mangga.

Kaum muda bergaya 70an, dengan celana panjang kaki lebar, rambut gondrong penuh wewangian bunga lavender, rambut mengkilap seusai disergap minyak rambut Tancho. Suasana menjadi ceria ketika sesekali muncul para kawe-kawe khas Galesong yang menghangatkan pemutaran film.

Siapakah orang dibalik “bioskop desa” itu? Lelaki berkulit putih berbadan gempal dengan kacamata tebal adalah pemilik bisnis layar lebar itu. Namanya Baba Guru. Tahun 70an hingga 80an Bioskop Galesong adalah bioskop ternama. Jaman di mana film-film silat, music, cerita peperangan atau ekysen hingga silat dengan bintang seperti Bruce Lee, Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, A Rafiq, Benyamin, Bing Slamet, Ateng CS sangat terkenal pada saat itu. Warga mabuk kepayang dengan Satria Bergitar. Film-film yang bertema heroisme seperti perang kemerdekaan juga terbilang sukses, film yang dibintangi Kaharuddin Syah laku keras.

Siapa Baba Guru?
Baba Guru adalah bungsu dari sembilan bersaudara pasangan Ho Kim Tjui dan Tung Soak Tin. Saat ini hanya dia yang masih hidup, kedelapan saudaranya sudah meninggal dunia. Lahir dan besar di Galesong, bergaul dengan banyak keluarga raja Galesong memberinya posisi dan kekuatan untuk giat berusaha.

Antara tahun 1970-1973, bersama bapaknya, Baba Guru yang bernama asli Ho Ho Ping, telah mulai ikut dalam bisnis keluarga dengan berdagang hasil laut termasuk telur ikan terbang. Sebelum terjun di bisnis telur ikan, orang tua Baba Guru, Ho Kim Tjui, adalah pedagang besar antarpulau. Saat itu banyak peminat ikan terbang. Permintaan datang dari Panarukan, Situbondo di Jawa Timur hingga Bululeleng Bali.

Mereka Berjaya di antara tahun 1960 hingga 1973. Ekspedisi barang menggunakan kapal besar dan berangkat dari Pelabuhan Makassar dengan menggunakan kapal lambo atau nama lain dari Pinisi. Lambo merupakan nama yang kerap disebut oleh para pelaut Makassar. Selain membawa ikan terbang, mereka juga mengirim berkarung-karung kacang hijau. Hasil bumi dari antero Galesong dipasarkan jauh hingga tanah Jawa.

Menurut Baba Guru, sejarah munculnya gagasan berusaha telur ikan terbang berawal dari seorang yang bernama Ali. Ali berasal dari Pulau Jawa yang saat itu mencari tahu, potensi telur ikan terbang. Baba guru menduga si Ali mewakili kepentingan pemerintah saat itu. “Semacam orang dinaslah” Katanya. Dialah yang mulai mengajak orang setempat untuk mencari telur ikan terbang. “Kira-kira pada awal tahun 70an,” kenangnya. Setelah itu, warga mulai menggeluti usaha ikan terbang.

Modal awal usaha perikanan dari kawasan ini memang lebih dari cukup; jumlah perahu, pengetahuan jalur-jalur pelayaran dan hubungan sosial ekonomi dengan pulau-pulau disekitar Galesong yang sudah berlangsung lama. Mulai dari pulau Kodingareng di Makassar hingga pulau Dewakang di perbatasan Madura. Di tahun 60an, keluarga Baba Guru telah mempunyai mobil truk. Satu-satunya mobil yang ada di Galesong. Mobil inilah yang mengangkut barang dagangannya.

Tahun-tahun awal usaha telur ikan terbang di Galesong kemudian menjadi usaha inti keluarga Ho. Dari sinilah orang mengenal pengusaha telur ikan bernama Ance Ponga, salah satu pengusaha top dari Galesong. Tapi tidak lama bergiat di usaha perikanan, usahanya kalah bersaing oleh beberapa perusahaan dari Makassar, seperti PT Sentosa, Malangke, Serjaya dan Padaidi.

Bisnis Bioskop
Setelah mengalami kemunduran dalam bisnis telur ikan terbang pada awal tahun 1973, Baba Guru berinisiatif menyewa bangunan milik Koperasi Unit Desa Batara, yang saat itu dipimpin oleh Haji Mangung. Letaknya di bagian barat pasar Kota Galesong. Lokasi yang nampaknya strategis untuk menggaet penonton.

Kombinasi yang apik, pasar dan bioskop. Selain mengiklankan filmnya melalui mobil keliling, warga dapat menikmati judul dan gambar film dari billboard yang terpasang di depan bioskop. Praktis bukan?

Baba Guru paham betul bahwa warga Galesong haus hiburan, setelah fenomena televisi umum di pertengahan tahun 70an di halaman Kantor Camat Galesong Selatan yang selalu dirubung penonton saban malam. Pada tahun 1981 bioskop pun beroperasi dengan sistem sewa bangunan setiap tahun.

Usaha ini muncul bukan seketika. Melainkan berkat dukungan teman Baba Guru asal Makassar yang bernama Robert. Robertlah yang memperkenalkannnya dengan pengelola bioskop-bioskop seperti Ampera, Dewi dan Makassar untuk memperoleh dan menyewa film-film yang hendak diputar.

“Saat itu, kita sewa film dengan harga bervariasi, tapi rata-rata sekitar Rp200,000,- untuk film bagus dan diputar hanya beberapa hari,” kenang Baba Guru.

Saat-saat awal pemutaran film, harga tiket dipatok pada harga Rp. 1000,-. Penonton yang datang pada saat itu, adalah orang-orang dewasa. Sangat beresiko untuk membawa anak kecil. Penonton dari kalangan perempuan masih sangat kurang. Kalaupun ada itupun bersama dengan pasangannya.

Film-film musikal dengan bumbu eksyen kala itu sangat digemari seperti film Rhoma Irama dan A.Rafiq. Selain ini, penonton juga menyukai film silat Mandarin dan film-film drama Indonesia yang dibintangi seperti August Melaz dan Roy Marten.

Dibutuhkan 3 orang staf untuk mengoperasikan usaha bioskop ini. Operator, pemeriksa tiket dan pengamanan. Pengamanan tambahan kerap diminta pada aparat kepolisian sektor dan komandan rayon militer saat itu, utamanya saat penonton membludak. Menurut catatan saya, selama beroperasinya bioskop ini, tercatat beberapa kali ada perkelahian. Berkelahi karena penonton yang mabuk. Pernah pula salah seorang penonton terluka karena terkena tikaman badik.

Akhir tahun 80an, bioskop ini kemudian tutup layar untuk selamanya, ketika film dari pita kaset video mulai merebak. Saat itu, pemutaran video telah marak di kampung-kampung sehingga mengurangi aliran penonton ke bioskop. Selain kaset video, televisi swasta juga mulai menyita perhatian warga.

Tapi api bisnis Baba Guru tidak padam. Setelah usaha bioskop tutup. Dia kemudian disibukkan dengan proposal untuk ikut serta proyek-proyek pemerintah.

“Kira-kira awal tahun 90-an,” kata Baba Guru. Dia rupanya mempunyai unit usaha bernama CV Sindora Jaya. Dia menjadi kontraktor atau paborong dalam bahasa Makassar dan sukses meraup rupiah dari proyek-proyek pemerintah.

Perusahaannya menangani beberapa proyek pembangunan sekolah di Kabupaten Takalar seperti, pembangunan SD di Saro, dan Bentang kecamatan Galesong Selatan. Bukan hanya di Takalar, tetapi juga berhasil menyita perhatian pemerintah Kota Makassar dengan memberikan proyek fisik.

“Di Makassar, perusahaan kami sempat memperoleh proyek pembangunan sekolah dasar di daerah pesisir, seperti Pulau Kodingareng dan Sumanna.”

Namun demikian kiprahnya sebagai kontraktor menjadi pupus. Dari tahun ke tahun rupanya memborong proyek dari pemerintah semakin sulit. Dia sempat beralih ke usaha jual sepeda dan mengurusi Toko Sinar Galesong di Sungguminasa, Gowa. Pada saat bersamaan dia juga memberikan kesempatan untuk anaknya di Galesong untuk membuka bengkel di Galesong.

Demi memberinya ketenangan dan fokus pada masa tuanya di Galesong, tokonya di Kota Sungguminasa dilego dan dia kembali ke Galesong. Bersama anak-anaknya yang masih muda seperti Hery si bungsu dan Susanto, mereka membuka bengkel sendiri.

Kini, di umurnya yang sudah 65 tahun Baba Guru sibuk mengurusi Klenteng Pan Ko Ong, Klenteng yang dirintis oleh orang tuanya, Ho Kim Tjui. Lelaki berkacamata tebal ini beristrikan Teng Nio alias Nona Lompo. Mengurus Klenteng dan organisasi Barongsai telah menyita hari-hari tuanya.

“Saat ini kami sedang memikirkan suatu organisasi yang lebih bagus dalam mengurus klenteng dan barongsai,” Imbuhnya.

Kemampuan dalam strategi bisnis Baba Guru, nampaknya menurun ke Gunawan yang kini mengelola usaha ikan bakar di sekitar jalan Wahid Hasyim, Jakarta. Gunalan berbisnis bengkel dan Sung alias Suyono, teman satu sekolah saya sedang berada di Jayapura ikut proyek. Dia menikmati titisan ilmu bisnis dari sang ayah dan Arca Pan Ko Ong. Ayah dari Gunawan, Juni, Gunalan, Sujono, Lily, Rudy, Susanto dan Hery, kini sedang menikmati masa tuanya, menunggu kiriman uang dari anak-anaknya dan terus merawat klentengnya di kampung Lanna.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Budaya. Bookmark the permalink.

4 Responses to Baba Guru Hartono, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong

  1. Saya menikmati kalau Dg.Nuntung bertutur. Ia memang piawai menghadirkan adegan demi adegan yang terjadi. Begitu hidup, seolah saya ada di Galesong menyaksikan lewatnya mobil halo-halo itu beriklan tentang filem yang akan diputar di bioskop. Keberhasilan kedua Dg.Nuntung dalam bernarasi adalah penokohan Baba Guru dan kerabatnya. Yang saya tangkap di sini adalah masyarakat Galesong sendiri yang demikian berterima. Tak perduli soal etnis. Cina, Bugis, Toraja, Mandar, dan Makassar sendiri tak disekati oleh kuatnya kebersamaan. Saya percaya bahwa kondisi seperti itu tak dimonopoli oleh Galesong sendiri, di bagian lain di Sulawesi, Butta Passolongan Cerak kita, masyarakatnya memang berterima. Lantas isu pribumi dan nonpribumi semakin tidak relevan lagi. Ada dorongan kuat untukku sendiri untuk mencoba bertutur pula tentang eksistensi Cina di Maros. Semoga bisa.

  2. Pingback: » Baba Guru Hartono, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong ~ Blog Archive ~ Makassar (Asia Blogging Network)

  3. dJabaL says:

    terHaruK deNgaRQ BAba’……

  4. Sapriadi Pallawalino says:

    Sebelumnya, saya mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Baba’ Guru Hartono, pertengahan Agustus lalu.
    Dan melalui blog ini, saya memohon izin kepada Daeng Nuntung karena sebagian dari isi tulisannya saya kutip untuk penulisan rubrik saya ‘Mengenang Baba’ Guru Hartono’ di Pecinan Terkini.
    Terima kasih. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s