Catatan Pengantar Buku: SEMESTA GALESONG, Senarai Catatan dari Kampung Jempang (Moch Hasymi Ibrahim*)

6171_105200897766_792452766_2043335_107985_n(Ini adalah yang segera terbit, Semesta Galesong, Senarai Catatan dari Kampung Jempang karya Kamaruddin Azis. Buku ini adalah salah satu buku terbitan Panyingkul (www.panyingkul.com) tahun ini, dalam rangka memeriahkan ulang tahun ke-3 media tersebut.)

****
Sastra dan jurnalistik, kata orang-orang, adalah dua hal yang berbeda. Kalau pada sastra sandaran utamanya adalah imajinasi dan karena itu wujudnya adalah fiksi, maka pada jurnalistik, faktalah yang menjadi landasan pokoknya dan karena itu dia berwujud “nyata”, yaitu apa yang diungkapkannya dapat dikonfirmasi di kenyataan. Kata orang-orang lagi, sastra dan jurnalistik sesungguhnya memiliki sumber yang sama yaitu fakta. Meskipun pada yang pertama fakta disebutnya sebagai fakta imajinatif, sementara pada yang kedua fakta yang menjadi sumbernya adalah fakta informatif, karena merupakan sesuatu yang dapat nyata, akurat.

Sastra dan jurnalistik, kata orang-orang, sesungguhnya memiliki jalan yang paralel karena berasal dari sumber yang senada yaitu fakta dan keduanya memiliki alat kerja yang sama, yaitu bahasa. Kalau pada sastra kadar bahasa menjadi titik tekan yang penting, maka, pada jurnalistik kadar bahasa bisa sekadarnya saja, karena yang terpenting adalah “apa” yang disampaikannya itu, dan bukan “bagaimana” cara menyampaikannya. Dengan demikian, masih kata orang-orang, wujud jurnalistik adalah berita, maka wujud sastra adalah cerita.

Tetapi, ketika perkembangan literasi sudah semakin disesaki teknologi, proses produksi dan reproduksi sudah semakin pesat dan makin tidak dapat ditolak dan ketika orang-orang tidak lagi menulis dengan pena-bulu dan celupan tinta, maka antara sastra dan jurnalistik sudah semakin saling menyusupi – katakan saja demikian, saling melengkapi dan berbaur. Bahkan kenyataan ini telah memunculkan berbagai genre baru dalam sastra dan dalam jurnalistik, yang semakin menyulitkan orang-orang memilah antara yang fakta dan yang fiksi, antara yang cerita dan yang berita dan antara yang obyektif dan yang subyektif.

Tetapi tidakkah jurnalistik, meski sudah diserbu oleh berbagai analisir pengubah yang tak dapat ditolaknya, masih tetap bertahan dengan nilai utama obyektivitasnya, sementara sastra tetap bertahan untuk dipandang sebagai buah karya yang subyektif?

Namun demikian, ternyata, berkah yang datang kemudian adalah lahirnya apa yang disebut sebagai jurnalisme-sastrawi. Yaitu sebuah model jurnalistik yang bentuk ungkapnya memiliki desain dramatik khas cerita fiksi, dengan titik tekan pada keindahan bahasa ala sastra untuk menyampaikan fakta-fakta obyektif dan dapat dikonfirmasi.

Disebut sebagai berkah, karena dengan demikian kekayaan literasi menjadi semakin beragam dan kita tidak lagi hanya disuguhi berita sebagai sebuah berita, tetapi juga cerita. Bahkan, ketika setiap orang sudah memiliki alat-alat publikasi yang murah melalui teknologi internet, kekayaan literasi itu pun semakin bertambah-tambah. Blog, yang ditulis dengan sangat personal pun, kemudian menyelusup masuk ke ranah sastra dan jurnalistik dan memberi tambahan baru – untuk tidak mengatakan menciptakan definisi baru – bagi kesempurnaan sastra dan jurnalistik.

Artinya, ditilik dari sisi pelaku atau kreator, saat ini, kata orang-orang, sastra dan jurnalistik tidak lagi menjadi wilayah eksklusif para sastrawan dan wartawan. Keagungan para empu berita dan cerita telah diturunkan, hak-hak istimewa yang mereka miliki sebagai “pencipta sejarah” dan selama ini berada pada lapis atas stratifikasi sosial telah ditanggalkan dan telah menjadi hak siapa saja, kapan saja, di mana saja. Jurnalisme kewargaan yang berkembang amat pesat belakangan, misalnya, telah memberi semacam tikaman langsung pada keagungan itu, membuatnya luka-luka untuk kemudian ketika sembuh membuat kita bisa tersenyum karena kita pun ternyata berhak untuk mendapat tempat dalam sejarah. Caranya cuma satu: menulis. Demikian kata orang-orang.

Dengan semangat “kata orang-orang” itulah buku ini hadir di hadapan pembaca. Sebuah buku yang memiliki nuansa yang paralel, atau dapat dibanding-bandingkan dalam kenangan, dengan Tortilla Flat dari John Steinbeck, terbit pertama kali pada tahun 1935, sebuah karya fiksi yang amat bagus yang menceritakan kehidupan masyarakat Monterey, California, ketika krisis tahun 30-an melanda perekonomian Amerika dan dunia. Dapat dibanding-bandingkan dalam kenangan karena buku ini bercerita tentang orang-orang Galesong, Sulawesi Selatan, dengan segenap nuansa keseharian yang melingkupinya dan sangat jauh dari pretensi idealisasi tokoh-tokohnya, lanskap berubah yang melingkupinya berikut kesan-kesan penyebabnya, serta nuansa agenda yang ingin didesakkannya kepada pembaca. Kalau Tortilla Flat bercerita tentang Danny dan kawan-kawan penganggurnya dengan percakapan amat sehari-hari, maka buku ini bercerita tentang Daeng Rannu, Daeng Liwang, Baba Guru Hartono dll., dalam kehidupan sehari-harinya juga. Bedanya ialah bahwa Tortilla Flat adalah fiksi dan tentu saja karya sastra yang membuahkan Hadiah Nobel bagi Steinbeck, sementara buku ini merupakan kumpulan karya jurnalistik yang pernah dipublikasikan melalui Panyingkul dotcom, media yang amat serius mengembangkan jurnalisme-kewargaan (citizen journalism). Panyingkul! sendiri merupakan media yang bersungguh-sungguh mendorong dan mengembangkan kemampuan warga, siapa saja, untuk menjadi menyampai kabar, untuk menjadi penulis.

Sebagai sebuah karya jurnalistik, ketigabelas tulisan dalam buku ini, memiliki nuansa cerita yang kuat sekaligus berita yang akurat karena hampir seluruhnya memiliki nuansa apa adanya. Kalau pun ada pretensi di dalamnya, hal itu lebih merupakan semangat untuk menyampaikan kabar, semangat untuk bercerita. Sesuatu yang merupakan wujud rasuk-merasuki antara sastra dan jurnalistik.

Penulisnya, Kamaruddin Azis Daeng Nuntung, sendiri tentu memiliki identitas yang istimewa pula karena ia adalah seorang warga biasa dan di Panyingkul! disebut sebagai citizen-reporter (atau sebut saja “warga yang mengabarkan”). Sebagai warga Galesong dia tentu adalah seorang yang terlibat, subyek yang menjadi bagian, dan tentu amat paham sekaligus menjadi saksi dari tokoh-tokoh yang ditulis dan dilaporkannya. Apalagi pada saat yang sama, sang penulis, adalah seorang aktivis LSM yang dapat dipastikan memiliki “frame” berbeda dan tampak “lebih matang” dalam membuat jarak pandang atas nama dan peristiwa di kampungnya itu. Lebih matang dalam arti bahwa dengan bercerita apa-adanya, sebagaimana ciri jurnalisme kewargaan, Daeng Nuntung sesungguhnya sedang menulis sejarah Galesong yang lain.

Mungkin bukan sebuah sejarah sosial, tetapi tulisan-tulisan ini dapat melengkapi pengetahuan sekaligus pengalaman kita tentang Galesong dan lebih luas lagi pengetahuan dan pengalaman kita tentang kampung-kampung pesisir yang lain dan dinamika masyarakatnya. Kata orang-orang, tulisan-tulisan ini juga merupakan cermin untuk melihat wajah kita yang sesungguhnya.

Dan dengan kerendahan hati kami mempersembahkan Semesta Galesong, Senarai Catatan dari Kampung Jempang, yang menjadi bagian dari Serial Jurnalisme Warga, yang terbit untuk menyemarakkan ulangtahun ketiga Panyingkul!

Pondok Kelapa, Jakarta, 30 Juni 2009
* penulis adalah salah seorang pendiri Panyingkul!

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Pemberdayaan Masyarakat. Bookmark the permalink.

2 Responses to Catatan Pengantar Buku: SEMESTA GALESONG, Senarai Catatan dari Kampung Jempang (Moch Hasymi Ibrahim*)

  1. cheng says:

    Saya tertarik dengan buku ini, apalagi buku ini tentu akan membantu saya mengenali Galesong … saat ini adalah kampung saya ..

    gimana cara mendapatkannya, tolong penjual buku nya sms saya !!!

    081342464458

    by cheng prudjung Dg nguseng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s