Mengikat Jodoh di Perbukitan Lejja

DSC08482Amparita, 25 Juni 2009. Seusai bersantap siang dengan pemimpin komunitas Towani Tolotang dan komandan distrik militer kabupaten Sidrap di kediaman sang pemimpin, kami memutuskan untuk mengunjungi Permandian Lejja. Satu rencana yang tiba-tiba setelah sebelumnya mendengar cerita dari sang pemimpin penganut aliran kepercayaan di Amparita, Kabupaten Sidrap ini.

“Kawasan Lejja adalah lokasi wisata andalan Kabupaten Soppeng, dan hanya berjarak sekitar 30 kilometer dari Amparita. Lokasinya berbatasan dengan kabupaten Sidrap” Katanya saat saya menanyakan lokasi permandian yang konon sangat terkenal itu. Karena jaraknya itu pula kami putuskan untuk berkunjung kesana.

Tepat pukul 13.00 kami pun mengarah ke Lejja. Sebelumnya, kami mampir di pintu gerbang kompleks bangunan rumah adat Bugis dengan arsitektur yang tak lazim.

“Itu rumah wisata Sao Raja” Kata Syamsul Rizal rekan perjalanan kami. Letaknya diantara wilayah Amparita dan Marioriawa tepatnya di Desa Batu Batu. Sekilas, kompleks ini adalah salah satu lokasi wisata yang tak lagi ramai pengunjung walau arsitektur bangunannya sangat megah namun mulai terlihat buram.

Suasana terasa hening, pohon palem di sisi kanan dan beberapa tanaman lainnya sebenarnya memberi kesan indah hanya saja karena tanpa aktivitas semua terasa kosong. Hanya kendaraan yang lalu lalang di jalan raya depan bangunan itu. Setelah mengamati dan mengambil gambar bangunan itu, kami pun melanjutkan perjalanan.

Setelah melalui perjalanan beberapa kilometer ke arah Soppeng, melewati para penjaja tuak manis dan berbagai penganan khas Bugis, kami berbelok ke kanan. Di pertigaan jalan terlihat plang menunjukkan angka 14 kilometer. Itu adalah jarak ke lokasi permandian Lejja. Suasana di daerah belokan ini terasa berbeda. Adem dengan tata letak rumah warga yang rapi diselingi beberapa pohon asam. Mesin pendingin mobil kami matikan saat berbelok kanan memasuki kawasan hutan suaka desa Bulue, Marioriawa, Kabupaten Soppeng. Suasana terasa berbeda, sangat mengasikkan.

Pepohonan asam merindang di sebelah kiri jalan yang terasa sempit namun asri, di bahu kanan mengalir air dari saluran irigasi yang nampaknya tak pernah surut. Kawasan Lejja yang kami tuju berada pada wilayah perbukitan. Pohon jati, jambu mente, pohon asam berdiri kokoh di sepanjang jalur jalan yang kami lalui.

Suasana perbukitan, jalan sempit dan naik turun adalah gambaran suasan perbukitan. Kabupaten Soppeng memang merupakan kawasan dan berada pada ketinggian rata-rata 200 m di atas permukaan laut.

Menuju Lejja, kita akan melewati jalan menanjak dan sesekali menukik. Ada resort di sebelah kanan jalan, dapat diduga kawasan ini memang sudah sangat diminati banyak orang. Akhirnya, setelah melewati lekukan jalanan yang sempit, kami pun sampai ke lokasi.

Sangat Ramai

Lejja melalui peraturan daerah Sulawesi Selatan bernomor 44 tahun 2001, ditetapkan sebagai taman wisata alam dan masuk dalam rencana tata ruang rilayah Propinsi Sulawesi Selatan. Kawasan yang berada di perbukitan Soppeng ini memiliki keunggulan keanekaragaman hayati dimana hutan alamnya masih utuh dan menyimpan potensi besar untuk pengembangan wisata. Modalnya adalah sumber mata air panas yang tak henti mengalir itu.

Akhir bulan Juni tahun ini, Lejja sangat ramai dikunjungi pelancong. Saat kami datang, di pintu gerbang sudah berjejer beberapa bis mini yang mengangkut banyak pengunjung. Ada yang datang dari Kota Watansoppeng adapula yang datang dari Watampone, Masamba, hingga Makassar.

Kami mendekati lokasi permandian dengan mengendarai mobil. Beberapa pengunjung memilih berjalan kaki sejauh 100 meter dari pintu masuk, kendaraan di parkir di dekat gerbang.Di area wisata, halaman parkirnya yang tidak terlalu luas, terdapat delapan mobil sedang parkir. Beberapa kendaraan dengan kode wilayah bukan dari Sulsel tapi berkode KT. Beberapa mobil mewah sedang parkir di halaman yang semakin menyempit. Di sebelah kanan lahan parkir terdapat jejeran warung makan sederhana dan penjaja makanan, kacang, mie bakso dan beberapa makan khas setempat.

Kami memandang dari atas halaman parkir. Ada tiga kolam permandian dengan tepi berwarna biru laut, berjejer ke arah sumber mata air di atas bukit. Di sebelah kanan terdapat kolam yang sedang dikeringkan. Kami menuruni tangga dan mengamati suasana. Terdapat beberapa bangunan, semacam aula pertemuan dan pondok penginapan. Selain itu terdapat pula lapangan tenis dan balai pertemuan dengan daya tampung lebih dari 200 orang. Tersedia juga toilet, ruang bilas dan tempat ganti pakaian.

Terdapat beberapa kolam sesuai umur pengunjung. Ada kolam khusus untuk anak-anak kecil dengan air suam kuku. Untuk orang dewasa terdapat kolam air hangat sedalam 1,5 meter. Ada pula kolam lain untuk dewasa dengan airnya tidak terlalu panas dan juga tidak dingin.

Bagi yang ingin menikmati suasana Lejja lebih lama dan ekslusif, disana tersedia penginapan dengan ruang tamu lapang dan kamar mandi. Dibanding beberapa tempat wisata di Sulawesi Selatan, Lejja nampaknya mempunyai keunggulan dari sisi daya dukung fasilitas, jarak yang relatif jauh dari Makassar perlu diimbangi dengan promosi dan berbagai gagasan paket wisata yang menarik.

Khasiat Lejja

Walau terlihat sejuk dengan jejeran pohon tinggi dan rindang namun jangan dikira bahwa suasana terasa dingin. Saya merasakan suasana yang panas, gerah dan tak lazim.

“Sepertinya ada aliran hawa panas dari dalam perut bumi” Kata pak Rizal.

Kami menyaksikan uap air tak henti dari puncak air di atas bukit. Kami pun menuju ke sana melewati barisan bangunan aula, kolam besar dan kolam kecil tempat anak-anak dan para pelancong dewasa berbaur. Kolam permandian dan cuaca yang hangat.

Setelah menuruni tangga ke arah kolam dan menaiki tangga buatan, kami sampai di pusat mata air panas. Di atas, beberapa warga, wanita dewasa dan seorang lelaki tua sedang komat kamit di depan air deras yang berasal dari kanal di bawah bebatuan. Mereka meletakkan pisang, kelapa, kue penganan dan beberapa bungkusan di atas bebatuan di sisi aliran air hangat.

Ini semacam doa ritual, doa melepas penyakit atau sial serta beberapa doa lainnya. Di atas bidang datar keluarnya air terdapat kotak celengan bagi pengunjung.

Menurut beberapa pengunjung yang sempat ditanyai, mereka percaya bahwa mata air panas Lejja ini sangat berkhasiat, salah satunya adalah sebagai penangkal dan penyembuh penyakit kulit.

Bukan hanya itu, terungkap pula bahwa di tempat ini beberapa pengunjung percaya bahwa ikrar dan rencana-rencana dapat dimulai, tentang jodoh, misalnya. Untuk membuktikan ikrarnya itu mereka pun mengikat janji dengan mengikat botol plastik atau gelas plastik yang bisa diikat di ranting atau di batang pohon.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika di sekitar sumber air panas Lejja tergantung benda-benda ringan pada batang dan akar pohon. Benda-benda ini bergelantungan, terlihat seperti sisa sampah usai banjir melanda.

“Mereka akan datang ke tempat ini selain menikmati keindahan alam juga untuk berobat” Kata La Hamma seorang kakek yang datang dari Samarinda, Kalimantan Timur.

“Saya datang dari Samarinda, dan sudah 30 tahun menetap di sana sebagai petani lada sejak tahun 1974” Katanya. Saya sudah dua kali berkunjung ke sini. Pertama, dua tahun lalu dan sekarang. La Hamma saat itu datang bersama anaknya yang bekerja sebagai guru di Kalimantan.

“Nenek moyang kami dulu sering ke sini. Jika ada yang sakit gatal-gatal mereka biasanya menuju Lejja, menyeberangi bukit dengan jalan kaki” Kata La Hamma yang saat ini mengenakan baju batik.

La Hamma saat datang sedang bersama keluarga besarnya sebenarnya berasal dari kampung Bebbae, Tajjuncu, Kecamatan Donri Donri. Kampung yang sangat jauh dari kawasan Lejja tapi kali ini datang dengan kendaraan umum yang disewanya. Selain datang menikmati keindahan Lejja, rupanya mereka juga datang berdoa dan berobat.

“Menurut cerita, kandungan belerang dari air yang mengalir di Lejja ini merupakan unsur penyembuh sakit kulit yang mujarab” Kata Pak Rizal lagi.

Di tempat terpisah, khasiat kawasan ini juga terasa bagi Ibu Hajjah Sitti. Dia bercerita bahwa dia sudah 20 tahun menjual makanan di kawasan ini. “Anak saya sudah ada yang jadi perawat dan bekerja di Puskesmas Watansoppeng” Katanya.

Hajjah Sitti, 41 tahun, lahir dan besar di Lejja, menurutnya sejak puluhan tahun silam kawasan ini sudah ramai dikunjungi warga dan semakin hari semakin banyak warga yang datang. Saat saya menjumpainya dia sedang ditemani dua orang cucunya yang sedang libur sekolah.

“Di mana Bapak dan kerja apa Bu?” Kataku. “Angka di Bolae, sawah sudahmi diberikan ke orang lain untuk dikerjai. Engka moga” Katanya. Menurutnya, walau mempunyai 20 ekor sapi namun itu bukan jaminan. Kami tetap berusaha di Lejja. Ibu Hajjah menyebut angka Rp. 20 ribu hingga Rp. 30 ribu sebagai rejeki hariannya.

Seperti Hajjah Sitti, hal yang sama juga dilakukan oleh Nabang, wanita beranak tiga ini juga menikmati manfaat wisata Lejja dengan berjualan. Jika Hajjah Sitti membangun kios, Nabang hanya menjajakan dagangannya di dalam lokasi di jalan menuju pusat mata air.

Lejja telah menjadi wadah sekaligus cerminan sosial, ekonomi dan budaya warga, adalah juga salah satu lokasi wisata yang secara turun temurun telah menjadi harapan bagi warga setempat, baik untuk pengobatan maupun kemajuan ekonomi warga sekitar. Adalah merupakan tanggung jawab bersama untuk menjaga keasrian dan menjamin daya dukung lingkungan setempat. Sebab dengan hanya menjaganya, roda sosial ekonomi warga juga terus berdenyut.

Saat kami pulang, kawasan Lejja sedang diguyur hujan. Walau diguyur hujan kami tidak melihat para pengunjung kedinginan, mereka sedang menikmati kehangatan air dari perut bumi Lejja. Bagi kami, kehangatan dan daya tarik Lejja layak dikenang. Kami meninggalkan kawasan itu dengan perut terisi dan perasaan puas. Pak Rizal menikmati hujan dengan segelas kopi susu, saya menikmati suguhan mie bakso plus lontong dari kios Hajjah Sitti. Pas untuk bekal pulang ke Makassar.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Budaya. Bookmark the permalink.

2 Responses to Mengikat Jodoh di Perbukitan Lejja

  1. amril says:

    Sebuah reportase perjalanan yang memikat daeng. Jadi pengen deh ke Lejja kalo mottere’ ri Mangkasara lebaran nanti..

  2. Pingin ke Lejja lagi setelah sy datang tahun 1998, terakhir sy pulang ke Wajo karena kebetulan sy merantau di ujung timur indonesia yaitu Merauke, tapi sy ngga sempat ke lejja karena ada satu dan lain hal, moga2 kalau ada rejki sy mau ke lejja. Selain rindu akan air hangatnya, sy tertarik dengan pemandangan sekitar Lejja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s