Selarik Kenangan, Saat Pejam Mencari Kata

n792452766_1377033_3001444Dalam rentang kenangan dan bebayang waktu bersamamu, sejak itu. Engkau akan tahu, saat iringan doa dan asa datang meminangmu, dulu. Eh, suasana sedang genting. Suasana sedang terik di lelorong jendela rumahmu. Di luar, di jalan raya, suasana terasa chaos, gelap.

Amarah sedang berhadap-hadapan dengan penguasa. Saat itu pertengahan Mei 1998, untuk cinta yang tak sabar di sepanjang jalan daerah selatan. Di Alauddin, saat aku lewat tuk jumpaimu. Saat doa yang kita duga bersambut. Kita telah memilih riang di garis kala. Saat bahtera telah kita hela. Tiang layar telah dikunci. “Engkau ‘kulamar saja!”

“malam ini pasti engkau sedang pulas” Ah, biarlah aku yang memintal kata. Namanya juga suami siaga.

“Saat itu, saat janji menjadi anak panah, prahara mendera negeri. Hingga sang tiran bertekuk lutut pada kebencian”. Hari itu dan seterusnya, kita adalah pengantin, sepasang selamanya. “Ah sempat juga ada yang menikah di jaman krisis” Kata pendemo di sepanjang Alauddin di tahun itu. Tidak lama kemudian “kerusuhan Mei meluas”. Tapi kita, setidaknya rusuh diam-diam.

“malam ini engkau pasti sedang bermimpi” Aku pejam mencari anak kata.

Engkau pasti tidak tahu, saat beberapa hari menjelang janji ikrar kita. Aku sedang mengapung di Laut Flores, nun jauh di sana. Sungguhkah kau tak khawatir? Hingga engkau kemudian tahu saat semua orang bertanya, “Dimana gerangan calon pengantin prianya?”..

Engkau pernah berkata (yang mungkin tak engkau sadari) “setidaknya, kita bulat dalam kekaguman”. Engkau meneruskan, “kita beruntung berjanji setia dalam masa paceklik, setidaknya kita telah tahu gejala dan cara melewatinya”

“Sungguhkah itu?”

Engkau ingat ketika kita duduk bersitatap. Kita membakar malam, salah satu dari kita meniup lilin
Satu dari kita mengedip perlahan, yang lain menyingkap tirai. Tapi malu mengakuinya.

Engkau pasti akan selalu mengenang ini. Tentang ejekan. Duh! Lelaki inikah yang akan menikahiku? Yang selalu mengajakmu kencan, dengan dompet kerempeng. Saat itu, bahkan juga sekarang.

Di usia perkawinan siang dan malam. Entah sudah ada berapa kali episode. Saat kita menutup pintu tanpa basa basi. Saat aku tinggalkan gerbang waktu. Menatap kosong pada almanak. Memejam mata menunggu pagi segera datang. Bahwa kita adalah sepasang. Seperti baru menyadarinya. Aku ingat, kau pasti tidak akan bisa lelap. Karena kau selalu menagih sentuhanku. Pada keningmu, pada alismu, di tidurmu. Pada mimpimu.

O ya, nun di tepi Sungai Jeneberang, di beranda kita. Musim terpatri dua. Kita lewati, kemarau air mata dan pengharapan. Juga di ujung musim penghujan doa-doa dan kenyataan. Saat kita lepaskan sauh. Menunggu bertemunya kerinduan di muara. Saat jauh dari sisi dan kehangatanmu.

“ah malam ini engkau pasti sedang bermimpi”

Engkau akan percaya, bahwa bersamamaku engkau tahu kemana mencari muara. Kemana menawar gelisah dan kerinduan. Seperti laut, engkau tahu kemana mencari senja. Juga pada sungai, tempat berasalnya doa dan pijakan. Saat dimana engkau menanti episode di lembaran kisah. Yang akan terus kita gurat.

Kini, saat senja semakin menua, bersamaku. Dalam derap senyap yang kita pinta, akankah kenangan dan tepi cakrawala menjadi latar cerita kita. Menjadi kanvas untuk kita tuang selaksa warna. Melukis abstrak dan sesekali melukis panorama doa. Kaki bukit atau laut lepas.

Selamat ulang tahun untuk Daeng Ke’nang…

Sungguminasa, 04 Agustus 2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s