Cerita Dari Pulau Simeulue, Derita Para Penyelam

DSC07056Pulau Simeulue sedang terik. Laut tampak tenang. Di ujung timur, tepatnya di desa Labuan Bajau, Sofyan Samde mantan kepala desa berkisah di tepi pantai timur pulau. Desa ini pertama kali dibuka oleh pendatang dari Sulawesi. Dia tidak menyebut Bugis atau Makassar tapi dari tanah Sulawesi. Desa ini dinamai Labuan Bajau, karena pertama dihuni oleh pendatang dari Sulawesi. Dibuka oleh seorang pemimpin pelayaran dan setelah tinggal dan beranak pinak, sang pemimpin kemudian meninggalkan desa tanpa alas an yang jelas. Hingga hanya bajunya yang tertinggal. Dinamailah kampung itu, Labuan Bajau hingga sekarang. Awalnya bernama Labuhan Baju, tapi berangsur menjadi Labuan Bajau, seperti nama kampung di belahan Nusa Tenggara, tepatnya pulau Komodo.

Cerita diatas terkesan sederhana dan dangkal. Namun, tidak adanya catatan-catanan atau dokumen sejarah maka cerita dari mulut ke mulut ini kemudian diakui sebagai asal-usul nama desa itu. Sofyan Samde, bangga sebagai keturunan dari Sulawesi. Dan menyebut bahwa raut wajahnya adalah wajah Sulawesi, bukan wajah Aceh bukan pula Nias. Dia merupakan generasi ke 5 atau jika dirunut kampung ini mulai berdenyut sekitar 3 abad lampau. Obrolan kami terputus ketika melintas dua warga setempat dengan tongkat di tangan. Jalannya terhuyung dan nyaris hanya menarik kakinya diatas pasir ditemani sebilah tongkat.

“Perkenalkan, ini pak Halir dan pak Anharuddin” Mereka lahir dan besar disini dan sudah lumpuh sejak 20 tahun lalu. Mereka lumpuh setelah menyelam di malam hari yang dingin. Kata pak Sofyan. Di desa ini, jumlah warga lumpuh akibat menyelam banyak sekali bahkan ada pula yang sudah meninggal karena keracunan selama menyelam.

Menggunakan Kompresor

Awal tahun 80an, di Labuan Bajau, pulau Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam hewan dasar teripang dapat ditemukan bagai hamparan batu karang berserakan di dasar laut. Banyak sekali. Nelayan memungut dan memasarkannya dengan hati riang tanpa perlu bersusah payah. Datangnya nelayan dari Sulawesi dan Madura yang menawarkan teknik baru, mendorong nelayan lokal untuk beralih dengan menggunakan kompresor sebagai alat bantu pernafasan. Ya, kompresor yang sering digunakan untuk mengisi ban kendaraan bermotor.

Mereka menggunakan alat ini untuk mencari tripang. Tabung gas bermesin 5 PK itu mulai masuk di desa Labuan Bajau. Mereka dapat menggunakannya setelah dilengkapi dengan selang udara yang disambungkan ke mesin pemompa udara. Bernapas dalam air tanpa perlu naik ke permukaan pada waktu tertentu untuk memburu hasil laut. Selain lobster, teripang atau timun laut (sea cucumber) adalah target yang lazim diburu. Harganya cukup menggiurkan. Karena hidup pada kedalaman perairan hingga 30 meter, nelayan pun rela menantang maut hingga ke dasar tubir.

“Dulu kami, dalam sehari dapat menangkap teripang hingga ratusan ekor perhari” Kami mengambilnya dengan mudah walau hanya pada kedalaman 10 meter. Demikian pak Sofyan bertutur dan diiyakan dua orang warga setempat.

Perburuan teripang oleh nelayan Madura dan Bugis Makassar ternyata juga sampai di pulau Sumatera termasuk pulau Simeulue. Dan inilah yang memicu terjadinya alih alat tangkap oleh nelayan lokal, yang belum tentu dikuasainya. Melihat semakin tergiur setelah melihat hasil penyelaman nelayan dari luar. Hasil tangkapan melimpah karena mampu menyelam hingga 30 meter dan lebih lama. Rupiah bisa mengalir, karena harga teripang yang sangat menggiurkan. Sekilas cara ini sangat praktis, apalagi ditunjang oleh kemampuan selam nelayan tradisional namun siapa nyana ternyata ini sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa nelayan.

“Waktu itu, saya terlalu lama di laut karena banyakanya teripang yang teronggok didasar laut”. Kami mengambil semuanya hingga kantong hampir penuh. Selama hampir 2 jam di bawah laut rupanya dia tidak sadar telah melewati ambang batas penyelaman. Rupanya, penyelaman yang terlalu lama, pada kedalaman 30-35 meter dapat menekan jantung dan pernafasan penyelam.

Berlaku Umum

Pak Halir dan dan Anharuddin adalah dua orang contoh korban penyelaman. Pak Halir lumpuh anggota badannya, Dia merasakan lumpuh pada pinggang hingga ke persendian bawah dan kedua belah kakinya. Hal yang sama dialami pulau Anharuddin, 50 tahun. Dia terkena lumpuh sejak belasan tahun lalu. Kala itu, dia terlalu cepat naik kepermukaan ketika melakukan penyelaman. Akibatnya kepalanya pusing dan mual hingga tak sadar anggota badannya sukar digerakkan. Kini mereka berdua, hanya mondar mandir dari pantai ke rumah. Roda ekonomi ditanggung anak-anaknya yang sudah mulai beranjak remaja, bahkan ada yang sudah berkeluarga.

Kompresor, menurut pak Sofyan Samde, memang membuat pekerjaan penyelaman menjadi lebih mudah dan mendatangkan hasil banyak. Hanya saja banyak yang tidak sadar untuk ke permukaan demi beradaptasi setelah tergiur teripang yang banyak.

Apa yang dialami oleh kedua nelayan Labuan Bajau di Simeule tersebut juga dialami oleh nelayan pada wilayah lain di Indonesia seperti penyelam di pulau-pulau Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Spermonde di Sulawesi Selatan maupun nelayan di Maluku dan Nusa Tenggara. Nelayan-nelayan tersebut mesti dibekali pengetahuan penyelaman dan kesadaran untuk tidak berlebihan dalam mengekspolitasi hasil laut.
Banyak penyelam yang mengalami dekompresi (gangguan kesehatan fisik akibat penyelaman).

Seperti cerita pak Halir dan Anharuddin tersebut karenanya dibutuhkan tindakan pencegahan untuk mengurangi resiko kelumpuhan. Langkah-langkah pencegahan dan sosialisasi teknik penyelaman yang lebih baik perlu diupayakan, baik dari institusi pemerintah maupun lembaga non pemerintah. Termasuk memberikan pelayanan kesehatan jika ada penyelam yang terkena serangan dekompressi, utamanya pada pulau-pulau yang jauh.

Seperti cerita diatas, semakin banyak saja korban penyelaman dari ujung timur hingga barat perairan Indonesia. Mungkin saja mereka sudah tahu resikonya namun seolah tak menghiraukan bahaya yang mengancam. Tuntutan ekonomi dan kompetisi hidup yang semakin ketat menjadi pemicu pertaruhan nasib mereka di laut.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Desa-Desa. Bookmark the permalink.

One Response to Cerita Dari Pulau Simeulue, Derita Para Penyelam

  1. octa says:

    cerita tgk di ujung ada ga ia????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s