Pallette, Antara Periuk Nasi Rakyat dan Tempat Tetirah Kaum Elit

1november2008cSyahdan di tahun 1908 bertempat di puncak kawasan Pallette, sekitar 10 kilometer dari pusat kerajaan Bone Watampone, yang kala itu sedang bergejolak, beberapa warga dan pemimpin lokal telah berkumpul dan mengikrarkan pembangkangan atas hegemoni raja. Raja dilawan karena dianggap pro Belanda. Mereka bersepakat menurunkan raja dari tahtanya. Konflik horizontal pun menyebar.

Saat itu di Bone terjadi kekacauan, yang disebut ‘sianre bale’, kenang Junaid Umar, salah seorang tokoh masyarakat di Bone. Menurutnya kekuataan akar rumput begitu dominan dan menggelinding dalam bentuk gerakan kolektif. Gerakan yang didasari oleh semangat yang sama, menurunkan Raja Bone yang dianggap mengingkari jati diri masyarakat Bone yang independen.

Cerita tentang rumpa’ Bone itu, menjalin pembicaraan kami tentang situasi dan tantangan kawasan pesisir Pallette saat ini. Kawasan ini menjadi ajang pemanfaatan yang melibatkan berbagai pihak termasuk kebijakan pemerintah setempat. Seperti disinggung oleh Junaid, pada beberapa waktu silam, warga berunjuk rasa ke kantor DPRD, memrotes pengaturan dan tataguna kawasan yang dianggap tidak pro-warga. Ini menjadi gambaran betapa rentannya kawasan ini. Lokasinya yang strategis dengan berbagai pilihan pemanfaatan nampaknya menjadi pemicu beragamnya stakeholders untuk memanfaatkan kawasan ini.

Lokasi Wisata

Di suatu pagi pertengahan Oktober, bersama Junaid, kami menuju Pallette. Walau masih terlihat deretan pohon tala’ (lontar) berdiri kokoh di pematang sawah dan jejeran rumah panggung namun pada beberapa titik, bangunan-bangunan mewah tampak menonjol. Juga, di sepanjang jalan terlihat poster para calon anggota legislatif. Tidak jauh dari kawasan pertambakan tersebut berdiri satu poster besar poster Bupati Bone bersama istri, menyapa dan terpampang di dekat pintu gerbang masuk kelurahan Pallette. “Selamat Datang di Kelurahan Wisata Pallette”.

Beberapa menit perjalanan dari pintu gerbang, kami melewati jalan yang sudah mulai lempang dan menyaksikan rumah-rumah yang tertata rapi serta warga yang sedang menjemur rumput laut di bahu jalan. Lalu, kami semakin mendekat ke salah satu kompleks wisata, atau tepatnya kompleks villa yang di dalamnya terdapat kolam renang mini, taman bermain,serta penginapan bertarif Rp150.000 – Rp400.000. Beberapa bungalow yang nampaknya masih baru, berdiri tegak pada beberapa bongkahan besar batu karang.

Pallette memang sangat strategis. Hamparannya berada di atas bukit kapur, dikelilingi oleh tebing yang digerus ombak Teluk Bone serta dinaungi oleh pohon-pohon tinggi dan rindang. Akar tunggang terlihat muncul dari tebing-tebing di sepanjang pesisir,menandakan umur pohon-pohon tersebut.

Dari titik ini, pelabuhan Bajoe dan kota Watampone terlihat dengan jelas. Banyak warga menganggap pemandangan laut ini menarik dinikmati, namun ada juga yang menganggap kawasan ini tidak layak untuk dijadikan wisata pemandian laut.

“Saya pernah ke tempat itu, namun tidak cocok untuk wisata mandi di laut, terlalu banyak batu dan airnya terlihat keruh” komentar Nurisdah, seorang warga Makassar yang pernah berkunjung ke Pallette.
Namun demikian kegiatan pengembangan kawasan wisata ini tetap berjalan, buktinya tahun ini telah dianggarkan dana lebih dari Rp200juta untuk penyempurnaan bagnunan wisata. Beberapa tukang kayu sedang bekerja di dalam air, tepat di sisi tebing. Sebagian lainnya sedang memasang balok dan rangka bangunan yang nampaknya menyerupai dermaga atau jembatan yang menghubungkan satu bagian ke bagian lainnya.

Saat itu juga, dari jauh nampak feri dari Kolaka, Sulawesi Tenggara sedang bergerak perlahan dari arah timur laut menuju dermaga Bajoe, di Watampone. Pelayaran fery berlangsung siang malam di kawasan ini menandakan sibuknya moda transportasi antara dua propinsi.

Tidak jauh,, tampak hamparan patok patok kayu dan bambu di sebelah selatan. Berjejer lokasi budidaya rumput laut antara kawasan wisata dan jalur transportasi laut. Beberapa warga sedang memacu sampan bermesin tempel dan baru saja pulang dari lokasi penanaman rumput lautnya. Mereka baru saja usai panen.
Di sini terdapat sekitar hampir 1 kilometer persegi luas kawasan budidaya. Kegiatan ini sejak duat tahun terakhir menjadi marak dan terbukti berdampak bagi ekonomi warga.

Di bagian lain, tidak jauh dari kegiatan tersebut pembangunan sarana prasarana wisata sedang gencarnya di lakukanan. Kegiatan pariwisata yang digagas dan difasilitasi oleh pemerintah kabupaten yang tahun ini telah menganggarkan ratusan juta untuk pengembangan wisata namun masih terlihat sepi pengunjung.

Menurut Junaid, awalnya unjuk rasa ke kantor DPRD beberapa saat lalu itu untuk mengekspresikan ketidaksetujuannya pada kegiatan pariwisata yang nampaknya meminggirkan kepentingan warga. Namun belakangan hal tersebut berhasil dimediasi setelah mulai memetakan kepentingan dan pengaturan ruang ekonomi bagi warga setempat. Salah satu yang disepakati adalah adanya lokasi khusus untuk pariwisata dan lokasi tertentu untuk budidaya rumput laut dan penambatan perahu atau bagang.

Selain persoalan pemanfaatan kawasan budidaya ini, masih ada beberapa persoalan yang menghadang, salah satunya adalah semakin tergerusnya ekosistem bakau (mangroves) karena pembukaan areal tambak dan belum adanya dermaga khusus untuk perahu-perahu nelayan. Beberapa warga masih menambat perahunya dengan bebas. Sehingga terlihat kur ang penataan.

Strategisnya kawasan ini mendorong pemerintah setempat untuk memfasilitasi kegiatan wisata. Tentang kegiatan pariwisata di Pallette, menurut Junaid pembangunan kompleks wisata ini diganjar dengan dana APBD lebih dari satu milyar selama tiga tahun anggaran. Model yang dikembangkan adalah dengan melibatkan konsultan teknis dan tenaga pengelola dari Bali untuk lebih memperkenalkan dan mengadopsi pengelolaan yang lebih baik.

Magnet Ekonomi Warga

Saat ini beberapa kegiatan produktif yang teridentifikasi di pesisir Pallette adalah kegiatan perikanan tangkap seperti bagang tancap, bagang lampu atau bagang monang, mencari bibit udang (benur) alami, kepiting bakau di bagian selatan bangunan villa wisata. Pada musim bulan terang seperti saat ini bagang bagang tersebut sedang buang jangkar dan berlabuh di dekat taman wisata Pallette.

Udding salah seorang warga menjelaskan tentang kegiatan warga saat ini adalah budidaya rumput laut. Sekitar dua ratus jiwa warga bergantung pada kegiatan produktif ini. Kaum wanita dan anak-anak ikut dalam kegiatan ini, mengikat bibit dan mengeringkan rumput laut seusai panen.

Saat ini harga rumput laut di Pallette jatuh ke harga Rp10.000 hingga Rp12.000 tergantung kualitasnya. Sementara menurut Pandu, salah seorang warga pembudidaya, beberapa bulan lalu harga mencapai Rp18.000. Namun demikian warga menganggap kisaran harga ini tidak begitu berpengaruh karena secara ekonomi volume produksi rumput laut setempat tetap tinggi. Selisih antara biaya investasi dan nilai produksi (penjualan) yang sangat besar membuat warga berbondong-bondong menggiatkan kegiatan ini. Kegiatan rumput laut telah menjadi magnet ekonomi.

Sebenarnya, warga memulai kegiatan ini sejak tahun 90an saat itu harga masih di kisaran seribu hingga dua ribuan. Kegiatan ini sempat vakum karena serangan penyakit dan anjloknya harga. Namun, sejak tahun 2004, kegiatan ini menjadi primadona dan booming produksi. Warga membudidayakan jenis rumput laut jenis Euchema yang bentuknya kasar dan kuning kecoklatan. Jenis ini sangat ekonomis dan mudah tumbuh di pesisir Pallette.

Telah banyak nelayan yang beralih ke usaha budidaya rumput laut karena dianggap praktis dan tidak terlalu membutuhkan perawatan. Lokasinya, selain dapat di jangkau dengan mudah karena hanya berjarak sekitar 200 meter dari tepi pantai, juga karena tidak terlalu dalam dan dalam waktu tidak sampai dua bulan panen sudah dapat dilakukan. Lokasi-lokasi budidaya ini pada kedalaman 6-8 meter dan dijangkau dengan jalan sampan kecil. Saat ini sekitar dua ratus jiwa bergantung pada kegiatan produktif ini. Di pantai, tidak jauh dari villa wisata berjejer tempat penjemuran rumput laut dan rumah jaga bagi para pembudidaya.

Pandu adalah seorang pembudidaya rumput laut yang intensif, telah menghabiskan dana 20 juta dan mulai usahanya sejak bulan puasa lalu. Saat ini dia mempunyai luasan panjang 70 depa atau sekitar 75 meter dan lebar 20 depa/25 meter.

Kegiatan ini menyita perhatiannya karena salah seorang anggota keluarganya telah panen dan berhasil. Panen dapat dilakukan setiap 40 hari atau paling lama dua bulan tergantung jenis rumput lautnya. Jenis rumput laut di Pallette oleh Pandu disebutnya jenis Kalkun, Bangkok hingga Philipina seperti yang dibudidayakan di wilayah kota Palopo, Luwu.

Menurutnya seorang anggota keluarganya telah panen sebanyak 300 bentang atau sebanding 3 ton kering rumput laut, jika dikalikan dengan harga sekarang yang Rp18.000 maka keluarganya itu telah meraup harga pejualan lebih dari Rp50 juta. Secara teknis, mereka telah mengetahui cara menanam rumput laut, cara mengikat, merawat dan memanen. Tentang penyakit, mereka memenghindari bulan-bulan Agustus dan September untuk menanam terlalu banyak, karena menurut pengalaman pada bulan-bulan itu penyakit rumput laut sering menyerang.

Pesisir dan Laut Pallette telah memberikan tuahnya bagi warga setempat melalui produksi rumput laut bagi warga setempat serta minat pengembangan wisata bagi pemerintah daerah dan dunia usaha. Kawasan ini sedang tumbuh sebagai wilayah ekonomi masyarakat, namun semakin beragamnya kepentingan berbagai pihak dari tahun ke tahun di kawasan ini bukan tidak mungkin akan muncul konflik kepentingan.

Ketika warga biasa mulai intensif melakukan budidaya untuk kebutuhan ekonominya, beberapa pendatang elit , orang kaya dari luar Pallette semakin menggiatkan pembangunan bangunan mewah di sepanjang pesisir. Memang, kegiatan produktif warga seperti budidaya rumput laut ini nampaknya juga perlu ditata oleh pemerintah. Misalnya, menganjurkan untuk tidak terlalu meninggikan patok budidayanya jauh di atas permukaan laut karena menurut beberapa pihak dianggap sangat mengganggu aspek estetika di sepanjang pesisir Pallette. Tapi semangat orang luar memanfaatkan keindahan Pallette juga perlu diawasi.

Denyut kehidupan rakyat menyambung hidup serta semangat investor mengembangkan Pallette sebagai primadona wisata, semoga tidak berujung pada eksploitasi yang sewenang-wenang.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Pallette, Antara Periuk Nasi Rakyat dan Tempat Tetirah Kaum Elit

  1. solvapotter says:

    saya jual CD cara budidaya rumput laut yg benar, hanya dgn harga 50 ribu/CD. jika berminat silahkan hub.saya di 081-911857815 atau email rozi679@gmail.com.

    terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s