Cold Peace dan Sikap Bengal Israel

Dua hari lalu, di pagi pertama puasa Ramadhan, saya menonton acara televisi bertajuk “Cold Peace, Going It Alone” di kanal Aljazeera. Tontonan yang sangat menarik. Cerita tentang konflik Timur Tengah dan peran beberapa orang penting. Ulasannya berkisar pada peran Anwar Sadat, politisi Amerika dan respon Israel atas dinamika dunia internasional menyikapi invasi mereka yang “kurang ajar”.

Aljazeera menyorot kiprah presiden Mesir Anwar Sadat, PM Israel Menachem Begin dan Presiden Amerika Jimmy Carter. Mereka mencoba menggalang inisiatif perdamaian antar Mesir dan Israel terkait invasi Israel ke Dataran Tinggi Golan (Golan Highs) dan Sinai. Walau sekilas tidak menunjukkan perkembangan berarti dalam proses negosiasi dan dinginnya sambutan Liga Arab pada inisiatif Sadat dan Amerika namun ada beberapa kesan yang dapat dibagi berdasarkan riak konflik di jantung Timur tengah ini.

Salah satu yang berkesan adalah upaya dan keteguhan Anwar Sadat untuk mempengaruhi dan meyakinkan parlemen Israel tentang perdamaian timur tengah. Dan dengan halus meminta Israel untuk keluar dari Sinai dan beberapa wilayah lainnya. Sadat memberi respon aktif dengan membuka lebar-lebar ruang diskusi dan pertemuan menyelesaikan konflik kronis ini.

Kemudian terbukti bahwa di sisi lain, Amerika Serikat yang selalu berbicara sebagai penganjur perdamaaian dan inisiator malah tidak memberi sanksi dan selalu memberi angin segar bagi Israel (Amerika bisu dan tuli di forum dewan keamanan PBB).

Padahal Israel secara sepihak menyatakan mengklaim Yerussalem yang didudukinya itu resmi sebagai ibukota, sesuatu yang tidak bisa diterima oleh bangsa Arab dan juga dunia internasional.
Kemarin, kembali Aljazeera kembali mengulas tentang semakin intensifnya pembangunan pemukiman warga Yahudi di Yerusalem. Tidak kurang dari 4.000 warga telah mulai menghuni beberapa rumah yang dibangun itu.

****

Berdasarkan beberapa catatan, memang telah jelas bahwa Pemerintah Israel adalah pemerintah bengal. Telah sangat banyak korban kekerasan Israel pada rakyat sipil Palestina. Israel juga telah puluhan tahun menyerang Mesir, Yordania dan Syria bahkan merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania).

Dari berbagai sumber pula dikutip bahwa, sejarah konflik ini sebenarnya berawal dari beberapa tahun jauh sebelum Masehi yaitu ketika Istri Nabi Ibrahim A.s., Siti Hajar mempunyai anak Nabi Ismail A.s. (bapaknya bangsa Arab) dan Siti Sarah mempunyai anak Nabi Ishak A.s. yang kemudian mempunyai anak Nabi Ya’qub A.s. alias Israel (Israil, Qur’an). Dari garis keturunan mereka kemudian terjadi “batas” antara agama, garis keturunan antara Mesir dan Yehuda atau Yahudi atau Jewish itu. Disebut bahwa Bani Israel sebanyak 7 (tujuh) orang. Salah satunya bernama Nabi Yusuf AS. yang ketika kecil dibuang oleh saudara-saudaranya yang dengki kepadanya.

Demikian pula ketika disebutkan bahwa banyak dari bangsa Israel yang lebih pintar dari orang asli Mesir dan menguasai perekonomian. Oleh pemerintah Firaun bangsa Israel diturunkan statusnya menjadi budak.

Hingga memasuki abad pertengahan, abad ke 19, sejarah panjang bangsa Israel ini sampai pulau di Eropa dimana salah satu negara yang selama ini banyak membantu entitas mereka adalah Inggris.
Pada tahun 1897, Theodore Herzl yang berjenggot panjang lebat itu, menggelar kongres Zionis sedunia di Basel Swiss.

Peserta Kongres I Zionis mengeluarkan resolusi, bahwa umat Yahudi tidaklah sekedar umat beragama, namun adalah bangsa dengan tekad bulat untuk hidup secara berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi itu, kaum zionis menuntut tanah air bagi umat Yahudi – walaupun secara rahasia – pada “tanah yang bersejarah bagi mereka”.

Herzl menyebut, Zionisme adalah jawaban bagi “diskriminasi dan penindasan” atas umat Yahudi yang telah berlangsung ratusan tahun. Pergerakan ini mengenang kembali bahwa nasib umat Yahudi hanya bisa diselesaikan di tangan umat Yahudi sendiri. Di depan kongres, Herzl berkata, “Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi !” Apa yang direncanakan Herzl menjadi kenyataan pada tahun 1948.

PD I berakhir dengan kemenangan sekutu, Inggris mendapat kontrol atas Palestina. Di PD I ini, Yahudi Jerman berkomplot dengan Sekutu untuk tujuan mereka sendiri (memiliki pengaruh atau kekuasaan yang lebih besar).

Pada tahun 1917 Menteri Luar negeri Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, dalam deklarasi Balfour memberitahu pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh pemukiman Yahudi di Palestina dalam membantu pembentukan tanah air Yahudi.

Namun sebaliknya Israel pernah menjadi duri bagi Jerman (Aria) saat itu pada tahun 1938 Nazi Jerman menganggap bahwa pengkhianatan Yahudi adalah biang keladi kekalahan mereka pada PD I yang telah menghancurkan ekonomi Jerman. Maka mereka perlu “penyelesaian terakhir” (endivsung). Hingga ratusan ribu keturunan Yahudi dikirim ke kamp konsentrasi atau lari ke luar negeri (terutama ke AS). Sebenarnya ada etnis lain serta kaum intelektual yang berbeda politik dengan Nazi yang bernasib sama, namun setelah PD II Yahudi lebih berhasil menjual ceritanya karena menguasai banyak surat kabar atau kantor-kantor berita di dunia.

Banyak bukti bahwa ada pembiaran dan persekongkolan atas masuknya bangsa Yahudi ke Palestina. Dan, Liga Arab pernah memprotes tindakan AS dan sekutunya berupa dorongan dan fasilitas yang mereka berikan bagi imigrasi zionis ke Palestina. Pada waktu itu, Ikhwanul Muslimin (IM) di bawah Hasan Al-Banna mengirim 10.000 mujahidin untuk berjihad melawan Israel.

Usaha ini kandas bukan karena mereka dikalahkan Israel, namun karena Raja Farouk yang korup dari Mesir takut bahwa di dalam negeri IM bisa melakukan kudeta, akibatnya tokoh-tokoh IM dipenjara atau dihukum mati.

Pada tahun 1982, Israel menyerang Libanon dan membantai ratusan pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila. Pelanggaran terhadap batas-batas internasional ini tidak berhasil dibawa ke forum PBB karena – lagi-lagi – veto dari AS. Belakangan Israel juga dengan enaknya melakukan serangkaian pemboman atas instalasi militer dan sipil di Iraq, Libya dan Tunis.

Catatan diatas dimaksudkan untuk memberi penekanan bahwa sesungguhnya jika hanya Israel yang dilawan tentulah Liga Arab lebih kuat. Tapi, spora Yahudi yang melenggang hingga ke tampuk pemerintahan di Eropa dan Amerika telah mempengaruhi cara pandang mereka pada eksistensi Yahudi dan posisinya terhadap negara-negara di sekitarnya.

Di sana, terjadi upaya sistematis untuk memperkuat Yahudi, memperkuat pondasi perlawanan mereka baik secara halus maupun terang-terangan. Sayangnya, negara-negara Arab yang diharapkan menjadi tulang punggung perlawanan, kini telah menjadi tempat transit bagi para pendukung Yahudi. Coba tengok apa yang terjadi di Arab Saudi, Kuwait dan negara-negara Arab lainnya yang ‘selingkuh’ dengan supporters Zionis itu.

****

Lalu di akhir liputan acara Aljazeera itu, Anwar Sadat digambarkan terjengkang di ujung senapan mesin yang diberondong pengawalnya sendiri, seseorang yang disebut militan, yang menentang upaya perdamaaian. Sadat dianggap telah “jual murah bangsa Arab” dengan melawat ke Israel, untuk berpidato di depan Dewan Knesset atau DPR-nya Israel.

Sadat telah mengambil resiko teramat hebat atas apa yang disebut responding to conflict, yaitu suatu pemahaman bahwa konflik hanya bisa diselesaikan dengan menghadapinya. Sadat tahu bahwa sebenarnya, lahirnya perjanjian Camp David antara Mesir dan Israel yang diprakarsai AS akan penuh ranjau.

Perjanjian itu menjanjikan otonomi terbatas kepada rakyat Palestina di wilayah-wilayah pendudukan Israel. Yang masalah kemudian bahwa Israel ternyata tetap menolak perundingan dengan PLO. Israel menolak PLO yang dimotori Yasser Arafat.

Begitulah, beberapa orang memang telah berupaya pada semangat perdamaaian, tetapi ini ternyata tidak akan menjadi kenyataan karena berbagai kepentingan telah mewarnai konflik jangka panjang ini. Kepentingan negara, kepentingan ekonomi, kepentingan militer dan tentu saja sikap sombong dan rakus dari segelintir orang. Mereka menggunakan negara sebagai tameng. Orang-orang yang melihat pembantaian tetapi tidak mau bersikap atas kenyataan itu.

Aljazeera menyebut konflik dan upaya-upaya menuju perdamaian itu, sebagai “Cold Peace, Going It Alone”. Sesuatu yang berat di tengah dinamika dunia internasional yang semakin kompleks baik terhadap kepentingan agama, ekonomi, krisis lingkungan.

Saat ini, posisi Israel sangat kuat, mereka sedang di atas angin. Mereka dengan gencar mengebiri semangat perlawanan bangsa Palestina karena bertameng di balik Eropa dan Amerika.

Upaya Sadat memantik perdamaian telah lewat selama 27 tahun dan apa yang dilakukannya bisa jadi hal yang brillian di saat banyak negara yang tidak berani melawan hegemoni Amerika dan Eropa yang tak juga menekan Israel.

Sejak meninggalnya Yasser Arafat, praktis hanya Hamas yang gigih melakukan perlawanan kepada sikap bengal Israel, kepentingan barat dan Amerika. Perlawanan ini tentu sangat tidak kuat jika tidak ada negara atau pihak yang dengan terbuka mendukung mereka. Untuk urusan ini, Iran adalah pengecualian.

*Diperkaya oleh bahan dari berbagai sumber, blog, dan medianews*

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Refleksi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s