In Memoriam Baba Guru Hartono, Perginya Seorang Kawan

DSC08788Saat menelpon Ibu di Galesong, saya tertegun ketika Ibu menyebutkan, “ammoterangi Baba Guru”, Baba Guru meninggal. Saya seperti menahan napas panjang, panjang sekali. Kematian yang sangat mengagetkan. Bagiku ini menggetarkan, mengharukan. Kami punya kedekatan luar biasa saat hendak menyelesaikan proyek buku kami.

Beberapa waktu lalu, sekitar empat hari sebelum kematiannya. Saya bersama istri, berniat membawakan dua eksemplar buku “Semesta Galesong, Senarai Catatan Seorang Warga”. Saya memang tidak menelpon sebelumnya karena saat itu kami sedang berpesta di Galesong. Sekitar 300 meter dari kediaman Baba.

Saat sampai di rumahnya, kira-kira pukul 20.00. Pintu rumah telah terkunci. Sayapun meraih telpon genggam. “Baba, dimanaki. Saya ada di rumahta mau bawakan bukuta”. “Saya ada di bandara, la kalauka ri Jakarta, nia acara keluarga” katanya. Dia ada di bandara dan akan ke barat, Jakarta. Ada acara keluarga”. Itu yang diucapkannya di seberang percakapan kami. Dia mengucapkan terima kasih atas buku itu.

“Sareangmi I Herry”. Berikan ke Herry, anak bungsunya, yang saat itu membuka pintu saat saya menelpon Baba.

Saya merasakan senyumnya, keramahan dan rasa senangnya saat saya sebutkan bahwa ada buku untuknya. Buku yang menceritakan pengalaman dan profil keluarganya.

Saat itu, saya sangat senang. Buku itu akhirnya sampai juga ke keluarga Baba Guru. Matanya pasti berbinar, bangga dan terharu dengan isi buku itu. Buku tentang pengalaman hidupnya, usahanya, keluarga. Ada pula tulisan tentang Klenteng Pan Ko Ong, Dewa Bumi Tiongkok, seperti yang dipercayainya. Tentang klenteng yang dikelolanya di Galesong, Klenteng yang membuatnya tetap gesit dan berkarya di usian 64 tahun. Bahkan telah melanglang ke beberapa wilayah dengan Barongsai dan posisinya sebagai pengelola Klenteng Buddha di Galesong.

Berita dari Ho’ alias Gunalan anaknya yang mengatakan bahwa Baba Guru meninggal karena serangan stroke di Tuban, Jawa Timur saat mengikuti acara keagamaan membuat saya lesu, Baba Guru telah tiada. Proyek bersama kami, dalam menuliskan cerita sejarah dan kedekataan kultural di antara warga Galesong telah melahirkan satu buku. Buku warga biasa dengan cerita yang mungkin tak lazim, tentang sosialita warga Galesong.

“Baba Guru Hartono, tidak sempat melihat buku yang menempatkan dirinya berdiri gagah di depan Klentengnya – Baba Guru jadi cover buku itu”

Hari senin tanggal 17 Agustus, dua hari lalu, Baba Guru dikebumikan di Pekuburan Bollangi, Gowa. Dia meninggalkan cerita, suka duka di benak keluarga dekatnya dan sahabat-sahabatnya. Lelaki berkacamata tebal ini, layak disebut sebagai perekat kekerabatan warga, harmoni dan pesan masa depan tentang kedamaian, paling tidak bagi warga Galesong.

Baba Guru, kini sedang meniti masa depannya. Seperti yang diyakininya, dia kini akan bersua dengan rencana dan doa-doanya. Kita, kami kehilangan Baba Guru, sahabat dekat, pelaku sejarah dan cermin melihat diri dan perilaku kita pada sekitar.

Selamat Jalan, Baba Guru Hartono, maafkan jika lembaran buku kita belum sempat engkau buka satu persatu.

Selamat jalan, kawan.

DeNun
Pangkajene, 19 Agustus 2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Sahabat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s