Klakson!

Ini kejadian tadi pagi saat saya menuju tempat kerja. Pada satu ruas jalan utama kota Makassar, Jalan Pettarani.

“Wanita itu, memiringkan badannya. Rambutnya yang panjang tergerai, kemudian terangkat. Ujung roknya yang warna hijau lumut terangkat sedikit (sedikit saja!). Kepalanya ikut miring empat puluh lima derajat. Kedua tangannya seperti hendak mencakar mulutnya yang separuh berteriak. Wanita berbajulengan panjang putih agak keabu-abuan ini seperti terdorong energi kuat dari kanal jalan raya Pettarani”

“Piiiiiufffffttttttt!!!!. Sekali saja tetapi telak…keras! Wanita ini terlihat panik. Panik karena bunyi klakson keras dari satu mobil warna cokelat tua padahal jarak masih sangat relatif jauh.

Bunyi klakson, telah menerbangkan separuh badan dan ketakutannya. Saya yang menggeber motor di sisi kiri jalan Pettarani mengarah utara, tersenyum kecut (walau sebenarnya agak terhibur dengan tontonan ini he he he, maaf). Wanita ini hendak menyeberang ke bahu barat jalan, ke arah jalur saya. “Pete-pete” yang dia tumpangi nampaknya sedang mogok dan dia harus menepi untuk mencari tumpangan lain.

Jalan raya ternyata tidak begitu bersahabat bagi pejalan kaki. Juga bagi pengendara motor seperti saya.

Kemarin sore dari arah utara Jalan Jenderal Sudirman, Makassar saat mendekati perempatan Jalan Monginsidi, ketika lampu jalan sedang merah, saya hentikan motor tepat di bahu kiri. Di depan motor juga berhenti. Ini perilaku yang sebenarnya salah, karena kendaraan mestinya tidak berhenti di tikungan ke kiri alias melempangkan jalan bagi pendendara yang hendak berbelok kiri. Kendaraan bertumpuk di situ.

Persoalannya bukan di sana, ketika jelas kami tidak bisa melaju lagi tiba-tiba klakson besar menyambar di pendengaran saya. Keras sekali, padahal yang klakson hanya pengendara motor. Motor besar dengan klakson besar dan logo organisasi tertentu.

Dengan helm bungkus gelap, saya menatap ke arahnya dan hanya bisa memelas dalam hati (tidak ada ada amarah di sana, ingat puasa!. Tapi duh, keras sekali bunyi klakson Bapak! Batinku. “Sabar…sabar…”

Rupanya saat ini, klakson telah menjadi alat ekspresi di jalanan. Padahal dia dicipta para mekanik kendaraan sebagai “alat bantu bunyi darurat saja” ketika ada tindakan di luar kelaziman di jalan raya. Sesuatu yang darurat saja. Ya…

Saat ini banyak orang lalai dan menggunakannya untuk menunjukkan ekspresi, hey, lihat kami. Tapi karena bunyi klakson pula, semua jenis kendaraan mulai bersaing. Yang aneh, lebih banyak kendaraan beroda dua yang berklakson bunyi besar dan mengganggu pendengaran dibanding roda empat.

Gejala apa ini?

Pun kendaraan roda dua, yang sedianya diberikan knalpot ringan dengan suara halus diganti dengan knalpot superribut, seakan-akan semua orang harus tertuju padanya. Lihat saya, “cinikia”…kata orang Makassar. Bagi sebagian kalangan ini adalah ekses dari tidak berlakunya aturan lalu lintas secara efektif. Mestinya ada ambang batas suara yang diperbolehkan. Termasuk memberi peringatan bagi kendaraan “moge”motor gede yang cenderung ugal-ugalan untuk mematuhi aturan.

Di Jerman, jangan sesekali bermain-main dengan klakson atau horn, kata teman yang baru saja studi banding ke sana. Di sana anda akan dimaki-maki oleh penghuni jalan raya jika menggunakan klakson tidak semestinya. “Bagi warga Jerman penggunaan klakson berlebih adalah wujud arogansi” Kata kawan kami itu.

Di Shanghai Cina, penggunaan klakson berlebihan juga dilarang. Konon menurut satu sumber, warga yang melanggar aturan akan didenda hingga 200 yuan (Rp 238 ribu). Polisi pun tak luput dari aturan ini. Mereka dilarang membunyikan sirene kecuali keadaan darurat, demikian bunyi peraturan tersebut.

Di beberapa wilayah Indonesia mulai dari Aceh hingga Ambon, nampaknya gejala penggunaan klakson berlebihan menjadi semakin jelas. Gejala yang tentu saja terkait dengan tingkat kesabaran dan saling menghargai. Faktor etika mestinya menjadi pertimbangan dalam menggunakan klakson walau memang belum ada aturan yang tertulis. Tentu saja agar suasana di jalan raya menjadi lebih nyaman dan saling menghargai.

Setujukah jika aturan penggunaan klakson seperti di China diterapkan di Indonesia? Kalau saya, setuju!

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s