Makna Merdeka, Elite dan Momentum Bulan Suci

nat3Nyayian sumbang dan teriakan serombongan anak muda yang meyisir jalan kompleks perumahan membangunkan kami. Dengan suara yang dikeraskan dan sesekali memukul tiang listrik, mereka berupaya menutup lembaran mimpi malam pada lelap tidur warga. Mereka riang sekali. Saya terbangun namun hanya ke kamar kecil lalu tidur lagi. “Sahur masih lama”. Istri bergegas ke dapur, anak-anak masih lelap. Keluarga kecil kami menunggu sahur pertama Ramadhan di bulan Agustus. Beberapa hari setelah peringatan ulang tahun kemerdekaan bangsa ini.

Kita, seperti warga kebanyakan di negeri ini masih bisa lelap – damai, anak muda menyusun agenda sahuran di malam hari. Para warga bersuka cita di bulan suci. Alhamdulillah! kita menunggu menu sahur tanpa harus was-was. Di pasar akan berjejeran berbagai penganan, kue-kue tradisional, “pallu butung, pisang ijo, roko-roko unti, jalang kotek, panada, bikang doang dan banyak lagi”. Warna-warni jajanan akan mengisi nuansa ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Namun, mungkin banyak di antara kita yang tidak tahu bahwa di kanal televisi berbagai cerita memprihatinkan dari belahan negara dominan muslim mewarnai awal ramadhan. Di Nigeria ratusan orang meninggal karena ricuh pemerintah dan segolongan islam garis keras “Bako Haram” yang menuntut aturan syariah Islam ditegakkan. Mayat bergelimpangan di jalan utama kota, serpihan kendaraan, sepatu dan sandal berserakan, mayat dijejali di kabin kendaraan, lalat beterbangan dan ceceran darah amis menggenangi jalanan.

Di Pakistan bom mobil melantakkan dan menewaskan banyak warga sipil. Di Afghanistan, di Sudan, di Mogadishu – Somalia, jeritan dan rentetan senjata bersahut-sahutan. Belum lagi di Irak yang masih bergolak tanpa jeda, di wilayah Ramadi, Fallujah hingga Baghdag yang dirundung tangis tak berkesudahan. Bencana alamjuga silih berganti seperti tipun di Taiwan serta gempa di Japan.

“Mereka dalam kecemasan, kita dalam gelimang keceriaan. Warga di sana bergulat dengan penderitaan, konflik kronis di bulan suci Ramadhan sementara kita berdesak-desakan di entry-exit mal dan pusat pertokoan.

Bulan ramadhan di negeri ini sepertinya akan berjalan biasa saja. Biasa dalam tanda “petik”. Aman tenteram, tidak ada yang istimewa. Shalat jamaah yang terlihat ramai pada awal ramadhan, suara orang mengaji di corong mesjid, ceramah para ustadz, warga yang menyemut di mesjid pada awal bulan dan tentu saja antrian yang superhebat di mal mal.

“Inilah pertanda umum di bulan baru, bulan suci ramadhan”. “Tidak seperti di negara lain yang ricuh. Mestinya warga bisa lebih fokus ibadah. Tidak perlu menenteng senjata, tidak perlu panik menghadapi keadaan seperti yang diberitakan oleh banyak media”. Bangsa ini layak bersyukur pada skenario ini. Saat ini, paling tidak di lingkungan sekitar kita di Sulawesi Selatan.

Minggu lalu, bangsa ini memperingati perayaan hari kemerdekaan nasional. Juga sebagai tradisi tahunan namun seperti yang sering terbaca, banyak warga menganggapnya sudah hal biasa. Malah, keluhan dan gugatan pada pengelola bangsa yang semakin menguat. Kita merdeka, tapi banyak pula yang tak merdeka, begitu kira-kira pesan yang banyak disampaikan warga. “Coba tengok dan baca ulang status FB kawan-kawan saat menjelang hari kemerdekaan itu”.

“Tapi bukankah hidup adalah perjuangan?” Kata Bang Rhoma Irama. “Bukankah kemerdekaan nasional adalah tantangan untuk melakukan sesuatu, berkarya dan memuaskan batin dan ragawi” Kata Pak Ustadz.

Setidaknya, pada momentum suci bulan Ramadhan ini, kedua sumbu itu harus dipuaskan supaya tidak kering dan gerah. Ini berarti bahwa dalam situasi apapun jiwa harus merdeka. Dalam situasi perang ataupun damai, ibadah memang harus tetap terlaksana. Puasa batin dan ragawi adalah perjuangan.

“Perang yang paling dahsyat adalah perang melawan hawa nafsu”Sambung pak Kyai. Ya, perang melawan segala keinginan yang berlebihan dan tak mau kompromi dengan keadaan sekitar.

Walau belakangan ini, di tanah air berbagai fakta di sekitar menunjukkan adanya kecenderungan cerita ketimpangan sosial, konflik antar warga, friksi antar elite politik, eskalasi pertentangan antar berbagai kepentingan ekonomi semakin mewarnai rupa bangsa ini dari tahun ke tahun. Nampaknya hal demikian ini adalah tantangan bagi individu, bagi warga untuk mampu meredam dan bersikap bijaksana dalam menyikapinya.

“Teror bom Kuningan, – sindrom Noordin M Top – konflik lokal dan internasional dalam pengelolaan sumberdaya alam seperti Free Port, Lapindo dan kabar penggusuran di kota-kota serta banyak lagi” Adalah juga fakta yang mesti dicermati walau secara umum masih bisa ditolerir. Tapi benar bahwa kegelisahan dan kecemasan warga bisa jadi adalah anak sah ketakadilan. Buah dari para pengelola sumberdaya negara.

“Kuat dugaan, kecenderungan instabilitas bangsa, sangat berkaitan dengan komitmen dan kemampuan para elite dalam mengelola negara serta tentu saja, partisipasi aktif warga mengontrol sistem politik”
Konflik bisa muncul karena ketidakadilan, keserakahan dalam memanfaatkan sumberdaya yang dikelola dan didikte oleh para pejabat dan otoritas pengelola negara. Konflik bermula dari ketakmampuan menahan hawa nafsu.

Tergambar fakta bahwa, bibit-bibit keserakahan ini bisa muncul saat para penguasa dan elite itu, menggampangkan cara, melanggengkan kecurangan dan KKN. Hanya garis keturunan atau klan mereka yang layak berkuasa, menguasai semuanya.

“Saatnya para elite itu meredam diri supaya perlawanan sosial tidak tersulut” Kata seorang kawan,seorang aktivis LSM menanggapi praktek kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) yang semakin merebak di elite politik.

“Ini juga akan semakin rumit dan menyesakkan jika dikaitkan dengan hubungan antar negara, katakanlah ada intervensi dan kecurangan dalam berinteraksi maka konflik akan meluas. Negara-negara lain yang sedang konflik itu besar kemungkinannya karena konflik antar pengelola dan didikte pihak luar” Kata teman saya yang sangat anti korporasi trans nasional (TNC).

Tapi negara, tetap ditopang dan dibentuk oleh karakter individu. Kapasitas individu yang mengelolanya. Ini berarti jika individu pengelola tangguh lahir batin tentu akan sangat berdampak bagi kelanggengan kedamaian itu sendiri.

Bagi elite negara (yang muslim), puasa Ramadhan nampaknya harus menjadi ujian bagi kualitas individu mereka. Para pengelola negara (tentu saja, warga pula) dapat memanfaatkan momentum bulan suci Ramadhan ini. “Sebagai warga/elite tentu kita akan merasakan manfaat yang nyata jika semangat menahan nafsu dapat diaktualisasikan dalam mengelola negara”

Bangsa yang merdeka ini setidaknya bisa bersyukur bahwa eskalasi konflik yang tidak separah di belahan dunia lain itu. Kita akan sangat gampang melaksanakan kegiatan keagamaan, tanpa paksaan dan tekanan.

Oleh karena ini, mari manfaatkan momentum bulan Ramadhan untuk menanam jerih payah kebaikan, introspeksi dan membangun diri demi memperbaiki tatanan berbangsa. Demi kelanggengan harapan, kedamaian. Setidaknya, membuat Ramadhan menjadi bernilai sebagai proses ujian dan bukan sekedar meloloskan kewajiban. Memuasakan diri, memuasakan nafsu, menakar keinginan yang berlebihan.

Sungguminasa, 22 Agustus 2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Refleksi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s