Mengantar Kima di Musim Je’bo Kebo

Bulan April 1995. Makassar mulai kering, berdua dengan Syafyudin Yusuf, teman satu angkatan di Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, Universitas Hasanuddin kami meninggalkan pemondokan di selatan area kampus Tamalanrea menuju Dermaga Kayu Bangkoa. Kami akan menuju Pulau Barrang Lompo, satu kelurahan pulau dalam Kota Makassar.

Di dermaga telah menunggu Andi Nurjaya, Kun Praseno, Rafain Mochtar PSP, Syafruddin Tara, Muchsin. Kami bergabung mewakili tiga angkatan. Syafyuddin alias Ipul dan Muchsin di rombongan kami adalah supervisor sekaligus asisten ahli untuk kegiatan translokasi kima tersebut.

Kami sedang mempersiapkan misi “Giant Clam Translocation Project yang disponsori oleh WWF-IP bekerjasama dengan Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas. Dosen yang membimbing kami adalah Ir Arsyuddin Salam dosen yang berpengalaman dalam budidaya kerang-kerangan, Drs Willem Mokka ahli biologi laut dan Ir. Aspari Rachman, dosen sekaligus praktisi budidaya laut. Dari pihak WWF, Ramli Malik dan Stella Pasaribu sangat koperatif dalam misi ini.

Kegiatan kami dapat disebut sebagai riset terapan dari hasil program budidaya kima yang didukung oleh Marine Station Kelautan yang diasistensi oleh Dr. Rick Braley salah seorang ahli kima dari Australia dan mempunyai pengalaman luas di Pasifik.

Hasil pemijahan (spawning) dari stasiun Barrang Lompo inilah yang akan kami bawa ke lokasi target dalam Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate. Kawasan yang secara turun temurun telah menjadi wilayah pelayaran dan lokasi perikanan nelayan di kampung kami, Galesong, Kabupaten Takalar.
Bekerja Keras

Marine Station, Kelautan Unhas di Pulau Barrang Lompo, masih relatif baru dengan fasilitas yang sangat lengkap. Di sana terdapat beberapa bak pemeliharaan dengan aerasi yang terjaga dan didukung oleh tenaga laboratorium yang berpengalaman. Beberapa dari mereka adalah warga Barrang Lompo. Di bawah panduan Dr Rick, kami mulai melakukan berbagai langkah persiapan untuk dapat menyiapkan bibit kima atau juvenil melekat di substrat. Bersama kawan-kawan, kami mempersiapkan tegel 20×20 centimeter sebagai substrat bagi kima muda. Tegel polos dari semen.

Kegiatan di Barrang Lompo, terbagai atas tiga bagian, kami menyebutnya kegiatan persiapan dan aklimatisasi bibit. Pertama, persiapan pemindahan juveni ke substrat tegel kemudian ditempatkan di bak pemeliharaan dengan aerasi terkontrol. Ini kami lakukan sejak empat minggu sebelumnya. Sebelum keberangkatan ke Taka Bonerate.

Kedua, Pemindahaan tegel yang telah ditempeli oleh juvenile ke laut. Lokasinya di sebelah barat pulau sekitar 100 meter dari lokasi marine station. Ini membutuhkan waktu beberapa hari sekaligus aklimatisasi bagi kima untuk mampu hidup di peraiaran sesungguhnya. Kondisi peraiaran dekat marine stasiun sangat sesuai dengan ekologi kima.

Saat itu, lokasi aklimatisasi merupakan padang lamun dengan kombinasi beberapa karang yang masih hidup. Ketiga, Pemindahan tegel juvenile ke kapal yang akan kami gunakan melayari selat Spermonde menuju Kawasan Taka Bonerate.

Masa persiapan ini terbilang cukup berat karena kami harus menunggu dengan cermat saat junevil muda harus menempel ke tegel. Selain itu, kami, anggota tim harus berjibaku menempatkan tegel ke laut. Kami harus mengatur letak tegel agar tidak terhimpit dan tertutup oleh sedimen pulau yang sangat tebal. Kami khawatir sedimen akan menutupi permukaan tegel. Saat itu, kami hanya menempatkan beberapa juvenil yang masih mengapung ke permukaan tegel. Selama beberapa hari berikutnya, kami mendapat juvenile sudah menempel ke tegel.

Gotcha! Selama beberapa kali penundaan karena alasan teknis akhirnya misi penempelan dan uji coba juvenil berhasil. Kamipun menghitung dengan seksama jumlah tegel dan jumlah juvenil yang telah menempel.

Target kami, setidaknya 1000 juvenile akan siap diantar ke Taka Bonerate dengan menempuh waktu satu hari satu malam pelayaran. Kami sesuaikan dengan kapasitas yang tersedia di bak dan mempertimbangkan keselamatan bibit kima selama pelayaran.

Kami melewati tahapan persiapan ini dengan sukses. Saat itu kami sangat terbantu oleh kawan-kawan yang bekerja di marine stasiun serta warga setempat yang kerap membantu proses pemindahaan substrat. Sebagai mahasiswa aktif tentu kami beruntung, karena telah melewati fase praktis dan sarat dengan pengetahuan empiric. Dari membaca teori biologi laut, teknik budidaya kerang hingga memraktekkannya. Tentu saja pula oleh asistensi Dr. Rick Braley. Ahli kima flamboyan dengan kumis panjang menjuntai. Kami melewati masa-masa di Pulau Barrang Lompo dengan suka cita, berkawan akrab dengan banyak orang.

Kima yang kami pindahkan, menempel dengan manis pada 40 tegel yang kami siapkan. Bak yang disiapkan berukuran 1,5 m x 3 meter, sangat pas dengan ukuran badan kapal kayu yang kami sewa. Kami siap melaksanakan ekspedisi dan penelitian yang tak lazim. Penelitian yang tak lazim karena kami memilih Taman Nasional Taka Bonerate, wilayah perairan yang kaya biota laut namun tidak banyak yang tertarik untuk menengoknya, apalagi berkunjung ke sana.

“Kita akan gunakan aerator untuk menjami kelangsungan hidup kima-kima itu, saat di kapal” Kata Muchsin.

Berlayar di Musim Je’ne Kebo

Muchsin dan Syafyudin telah mengatur jadwal pelayaran kami. Mereka telah mengontak juragan kapal dari Taka Bonerate, bernama Pak Muhlis yang ditemuinya di Pelabuhan Paotere. Setelah pemindahan tegel yang menyita banyak energi ke bak yang telah disiapkan, bersama Juragan Muhlis, kami putuskan berangkat malam hari seusai shalat magrib.

Kapal yang kami tumpangi aadalah kapal barang berukuran 25 grosston berasal dari pulau Rajuni Kecil, Taka Bonerate.

Dalam skema perjalanan kami, pulau tujuan adalah Pulau Rajuni Kecil, salah satu pulau tertua dalam gugus Taka Bonerate. Taka Bonerate sendiri adalah gugusan beberapa pulau di selatan tenggara Pulau Selayar. Dalam sejarah kepelautan dikenal Kepulauan Macan karena kerap memakan korban kapal-kapal barang. Tapi kali ini kami tak khawatir karena yang membawa kami adalah juragan setempat. Tentu dia punya pengetahuan dan keterampilan menakhodai kapalnya.

Di atas kapal, di palka depan dekat tiang layar telah terikat melintang bak penampunagn sepanjang tiga meter kali satu meter. Di dasar bak terdapat puluhan tegel dengan bibit kima yang telah melekat tenang. Terdapat seribuan kima muda teronggok di kedalaman baik air setebal tiga puluh centimeter.

Kapalnya relatif kecil, tiada ada sekat kamar kecuali palka, kamar mesin. Setelah kami menempatkan barang bawaan di bagian dalam kapal. Kami memilih duduk di atas palka, di sini juga adalah tempat juragan mengarahkan dan mengontrol kapal. Kemudi ada di sini. Sebagian dari teman-teman mengawasi kima dalam bak dengan sesekali memeriksa aliran udara dari selang aerasi. Saat meninggalkan Pulau Barrang Lompo, suasana sedang teduh.

Didukung oleh Muchsin dan Ipul, kami berlima diarahkan untuk meriset laju kehidupan dan mortalitas juvenil kima yang kami bawa pada tiga perlakuan. Di lokasi rataan terumbu karang, padang lamun dan slope. Saya sendiri meriset laju mortalitas juvenil pada tiga lokasi yang berbeda.

Pada awalnya, kami pernah berpikir bahwa perjalanan ke Taka Bonerate pasti akan lancar sebab di Makassar, cuaca sangat bersahabat dan teduh.

Malam, saat meninggalkan Pulau Barrang Lompo, kawan-kawan memilih dek kapal sebagai tempat istirahat, berbaring sembari menikmati gemerlap bintang dan lampu-lampu Kota Makassar. Sebagian teman tetap mengawasi kima yang kami tempatkan di dekat buritan kapal.

Kawan-kawan sangat menikmati perjalanan ini. Kami berkenalan Saibung dan Ajis awak kapal yang juga warga Pulau Rajuni Kecil. Sebagian kawan telah menggelar “sleeping bag” untuk tidur. Stella sepertinya telah mengambil posisi yang pas untuk tidur. Sebagian lainnya masih bercengkerama dengan nakhoda sebagian lainnya terutama Muchsin dan Ipul tetap sigap mengawasi kima bawaan kami.

Memasuki perairan Pulau Tanakeke, perahu mulai bergoyang hebat. Kami dihempas gelombang dari arah tenggara. Saya, dan Jaya segera memasuki kamar mesin. Walau berjendela kiri kanan namun terasa sangat panas. Maklum, di bawah kami, ada dua mesin sedang bekerja. Saya mengambil posisi kanan dekat jendela sedang Jaya di sisi kanan. Kami merebahkan badan dengan muka menghadap jendela.

Saat saya merasakan mual, kawan-kawan di dek mulai terdengar riuh dan sesekali berteriak keras. Mereka segera memeriksa isi bak. Aerator tidak berfungsi sehingga mereka secara bergantian memasukkan air dari laut ke dalam bak. Saat itu yang paling sibuk adalah Muchsin dan Ipul, mereka memang bertanggung jawab penuh dalam misi ini.

Malam itu kami lewati perairan Tanakene hingga bagian barat pulau Selayar dengan gaduh. Sayapun sukses melewatinya dengan beberapa kali muntah. Entah kawan-kawan lain. Tapi saya tetap berbaring saja. “Semoga tidak ada masalah berarti bagi kima-kima itu” Batinku.

Menurut perkiraan biasanya perjalanan ditempuh selama satu hari satu satu malam, atau kurang lebih 24 jam. Namun, kali ini kami membutuhkan waktu lebih 30 jam. Cuaca yang tidak bersahabat karena sedang permulaan musim timur atau Je’ne Kebo rupanya menghambat rencana kami. Kami sampai di pulau Rajuni saat menjelang subuh hari.

Kami akhirnya sampai di Pulau Rajuni salah satu pulau yang dimaksdukan dalam catatan Molengraff (1929) dalam “Sebaran dan Perkembangan Terumbu Karang di Indonesia Timur” menyebut Taka Bonerate sebagai Tiger Island atau atol macan.

Saya sebenarnya telah mendengar cerita tentang Selayar khususnya Taka Bonerate dari mulut para nelayan pencari ikan terbang di kampung halaman. Beberapa nelayan pemancing dalam ingatan saya, kerap membawa daging kima kering untuk dikonsumsi. Belakangan,berdasarkan Undang-Undang Konservasi tahun 1990, fauna laut ini kemudian dilindungi oleh negara dengan sanksi yang sangat berat.

Untuk misi konservasi kima ini pula kami harus melewati perairan Tanakeke, Perairan Selayar hingga Laut Flores untuk menunjukkan bahwa upaya konservasi bagi hewan langka (endangered species) seperti kima (Tridacna derasa RODING, Latin) ini harus selalu diupayakn.

Dalam buku kelautan yang kami baca di kampus, seperti yang ditulis Dr. Anugerah Nontji dijelaskan bahwa Taka Bonerate memiliki karang atol terbesar ketiga di dunia yaitu setelah Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Moldiva. Luas atol tersebut sekitar 220.000 hektar, dengan terumbu karang yang tersebar datar seluas 500 km². Kawasan yang sangat unik dan menarik dari sisi ekologi maupun kekayaan biota walau sedang dalam ancaman kepunahan karena eksploitasi yang berlebihan. Salah satunya adalah kima.

Saat sampai di Pulau, kami tinggal di rumah Pak Coang, rumah yang selalu dihuni oleh para tamu dan staf LSM LP3M yang telah lebih dahulu berkiprah di sana. Selama di Pulau Rajuni ada banyak cerita yang berkesan. Tentu saja termasuk cerita suka duka selama masa pemeliharaan kima-kima itu.

(Bersambung)

Makassar, 26 Agustus 2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s