Ikan Bakar Kalasey, Drama di Empat Meja Makan

6171_106087537766_792452766_2053643_6365647_nTanggal 22 di bulan Juli tahun ini. Senja mulai membalut kota Manado saat rombongan kami menyisir pusat kota hingga tembus ke Jalan Sam Ratulangi. Sejak lepas dari penginapan di daerah Teling, ruko sudah mulai terlihat banyak, hingga hotel kelas atas dan pusat-pusat perbelanjaan wah di sepanjang jalur utara-selatan. Kawasan ini merupakan pusat restoran-restoran terkenal di Manado. Kami berdecak kagum pada raut indah wajah kota Manado.

Saya yang pernah berkunjung pada tahun 1994 dan 1999, juga merasakan suasana yang sangat berbeda. Kota telah menjadi semakin bersolek, tertata, bersih, dengan pemandangan yang sangat rapi, utamanya di sepanjang Boulevard yang kesohor itu. Sudut jalan terlihat bersih, tidak ada tumpukan sampah atau sesuatu yang mengganggu pemandangan. Yang berbeda dibanding kota Makassar misalnya, sulit sekali mencari pedagang kaki lima.

“Mencari pedagang kaki lima penjaja obat sakit kepala di seputaran Boulevard susahnya minta ampun”

Sore itu kami mengarah ke kawasan Pantai Kalasey, salah satu kawasan yang terkenal dengan ikan bakarnya, khas Kalasey. Kami melewati jalan yang tidak terlalu lebar, dua arah. Beberapa kendaraan lalu lalang sementara di bahu kiri jalan berjejer warung makan dengan asap yang tak henti meliuk-liuk bagai sedang berdansa.

Setelah melewati beberapa warung, akhirnya kami berhenti di salah satunya yang dikelola oleh warga keturunan Gorontalo. Pajangan ayat suci Alquran dan poster islami terlihat menempel di dinding . Dinding papan warung warna kuning kombinasi coklat, warung ini cukup menarik.

Di depan warung, Ibu Masni sang pemilik sedang menyiapkan ikan-ikan yang sudah masak dengan bumbu khas Manado yang sudah dipesan orang. Suaminya sedang mengipas jejeran ikan, sebagian masih segar dan sebagian lainnya sudah masak. Beberapa teman, seperti Nakajima, Haji Ashar dan Nakayama memeriksa ikan dalam cold box dan memilih ikan kesukaannya, kamipun ikut memilih.

Dua orang gadis menghampiri dan dengan sigap menanyakan sayur atau jenis menu kesukaan. “dibakar atau digoreng?” katanya. Dia juga menanyakan jenis “woku” yang diinginkan.

Terdapat empat meja. Bersama Nakajima san dan Noriko Seto, kami memilih bangku dekat dinding di bawah terjangan kipas angin. Ibu Noni, Seri, Helena dan Nur memilih tempat di dekat jendela dan pintu masuk. Di luar, asap masih beterbangan.

Bang Fary Francis dan Azis memilih bergabung dengan kami. Di meja lain yang lebih panjang, duduk Haji Ashar, om Rio, Angga san, Ahmad dan Pak Nakayama. Saya tahu mereka memilih tempat ini karena lebih lapang untuk merokok dengan bebas. Di belakang saya di meja yang satu dua orang kawan dari Gorontalo dan Manado. Kami ada 16 orang di empat meja.

Saat menunggu menu terhidang, saya bersama Ahmad dan Noriko menyeberang ke bangunan sebelah, satu restoran besar dengan fasilitas yang sangat lengkap. Saya tidak ingat namanya namun dari ramainya poster yang terpampang terlihat bahwa restoran ini merupakan restoran terkenal dan ramai dikunjungi. Tidak jauh dari tempat ruangan makan mereka, terdapat satu unit speedboat terparkir. Di kejauhan terlihat gunung Manado Tua dan pulau-pulau sekitar Taman Nasional Bunaken yang kesohor itu.

Di luar, suasana semakin gelap. Kami kembali ke warung. Asap ditungku bakar semakin membesar. Di Kalasey, denyut warung makan khas Manado ini semakin berdenyut.

Sebagai informasi, Kota Manado saat itu baru saja menyelenggarakan World Ocean Conference pada 11-15 Mei, dan dari beberapa informasi pada bulan Agustus juga akan dilaksanakan acara berlevel Internasional yaitu, “Sail Bunaken”. Acara seperti ini telah menjadi wujud strategi pemerintah setempat untuk menjaring turis dan melanggengkan kegiatan pariwisata di ujung utara pulau Sulawesi ini.

Sekitar pukul 7, ikan yang kami pesan sudah terhidang di meja masing-masing ditemani dabu-dabu, woku dan sayur kangkung cah. Beberapa ekor ikan bakar dan sup kepala ikan kerapu masih panas kini siap disantap. Tidak lupa piring kecil yang telah berisi irisan tomat dan cabe kecil, plus kecap. Saatnya bersantap!

Bang Fary, dengan perlahan menikmati ikan kakap bakar. Namun tidak lama perhatiannya tersita pada sup kepala ikan yang dicicipi oleh Azis. Dua menu inipun berpindah ke piringnya yang minim nasi. Beberapa teman nampaknya bingung memilih antara ikan bakar atau sup ikan. Semua sama menariknya dan sama banyaknya.

Tapi di bangku Haji Ashar Cs, ikan bakar menjadi primadona. Ditemani sepiring sayur kangkung mereka menikmati dengan lahap. Di meja lain, Helena, Noni, Nur dan Seri mulai larut dalam nikmat ikan bakar Kalasey. Tidak ada suara riuh karena mereka telah merasakan nikmatnya ikan bakar.

Sebenarnya ada beberapa ikan yang disediakan untuk dibakar antara lain cakalang, ikan tuna,
Ikan kakap merah, putih, bubara ikan kuweh, tuna, cakalang, merah. Mereka dapat menawarkan kepada pengunjung, ikan pilihan mereka mau dimasak apa, di bakar atau panggang, atau kuah asam, ataupun goreng. Ikan-ikan ini dapat dibumbui, sesuai dengan selera. Nampkanya, rasa pedas dan aroma khas Kalasey memang sangat berbeda apalagi ikan rica-rica (cabe).

Tapi kami lebih memilih ikan kakap dan kerapu. Pak Fary yang menikmati menu malam itu, meringis karena kepedasan dan berujar, “de pe woku mantap!” Drama buliran keringat dan mata yang berair dimulai.

Saya dan Nakajima seperti mandi keringat, menu ikan bakar telah memaksa pori-pori kulit membuka dan mengucurkan keringat seperti baru saja mandi. Bersama kawan-kawan malam itu, kami menghabiskan tidak kurang 8 porsi ikan bakar kakap dan kerapu serta dua porsi besar sup ikan, sup ekor hingga kepala plus teh botol.

Kami, seperti tergelak dari apa yang dinikmati. Selain suasana kekeluargaan dan keasikan menikmati menu itu, mulut yang kepedasan, keringat yang bercucuran, dan asap yang sesekali menyembul dari ruang bakar rupanya telah menyebabkan mata berair. “Seperti sedang menangis saja”. Tapi kami menikmati dengan suka cita.

Begitulah, pantai Kalasey sepertinya menjadi tempat wisata kuliner favorit di Manado. Di sana tersedia berbagai makanan laut, khususnya ikan bakar, dengan aroma dan rasa khasnya yang mengundang selera dan decak kagum.

Ibu Masni yang keturunan Gorontalo menyebutkan bahwa bersama keluarganya Ia telah menggeluti usaha ini sejak duapuluh tahun lalu. Dari usaha inilah, katanya, anaknya mampu menyelesaikan sekolah SMA.

“Saya dulu bekerja di warung sebelah” Katanya sambil menunjuk restoran besar di seberang jalan. Namun karena minat orang yang semakin tinggi pada menu khas Kalasey ini akhirnya bersama keluarga menyewa lahan untuk membuka warung sendiri.

“Kami hanya perlu bayar uang sewa lahan pada tuan tanah” Katanya melanjutkan. Lahan yang ditempati berusaha sebenarnya tidak terlalu luas pada satu kemiringan sisi jalan yang telah diratakan, namun cukup untuk dua puluh orang. Usahanya telah menjadi harapan bagi anggota keluarganya.

Usaha ikan bakar khas Kalasey telah menjadi usaha favorit, mereka bisa bertahan karena menu dan racikannya betul-betul berciri lokal. Jika anda berkunjung ke Manado jangan lupa menikmati racikan woku dan ikan bakar Ibu Masni di Warung Sederhana di daerah Kalasey.

Pukul 08. 00 kami menyudahi drama empat meja makan bersama delapan ekor ikan bakar Kalasey yang besar-besar tentu saja dengan dabu-dabunya dan keringat yang bercucuran. Di luar mendung dan akan segera turun hujan.

Saat menaiki kendaraan menuju hotel, kami hanya saling meringis kepedasan dan berdecak kagum. Di luar, ribuan paku air menghunjam Kota Manado. Hujan yang kemudian membuat saya demam selama seminggu setelahnya. hmmmmm…

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Kuliner-Kuliner. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s