Sajak Sajak Laut Yang Tak Pernah Mati

DSC01541:: Kepada para sahabat yang jejak usianya terpaut di Taka Bonerate

1/ Pada Laut Yang Tak Mati

nun jauh di sana di pesisir selatan tepi pulau negeri
seperti jamaknya harap yang bersahutan dari bumi
kita coba menebak kapan kemarau akan berhenti
kala menanti segerombolan camar melintasi pantai

di pusat negeri, mereka bilang orde telah berganti
namun di sini masih saja deru angin tak jua sepoi
hanya hujan badai dan gerutu yang enggan menepi
“kita hanya mimpi rupa bumi bagai permadani”

di balik itu kita coba buat amsal, berandaiandai
memindai kenangan kita dari masingmasing hati
yang basah setiap malam seusai menangisi diri
hendak melarungnya, tapi laut telah mati suri

gelora kini bukanlah kesaksian cinta para bidadari
juga bukan ikrar persembahan mandat dan upeti
hanya petaka dan kematian anak negeri sendiri
“kita telah lama kehilangan hak asuh dan empati”

2/ Giru-Anemon

diriku menjelma ikan giru
menari lincah di sulur biru
dirimu anemon perih saru
melupa debur kisah haru

3/ Tentang Khayalan

pada gosong pasir permadani putih kerakal karang
dari kisi jendela jati yang rapuh berlumur garam
pada beranda ubin berbatubatu terumbu
kita nanar dalam musim sepi harapan
memendam rindu yang tak bersambut
: musim telah memaksa kita karam

semakin deras air salin mengiris pilu tepi pulau idaman kita
menjelma kelokan raksasa laksana reranting acropora
tumbuh bagai cendawan yang tak jua ke puncak

4/ Manifesto Padang Lamun dan Batu Karang
:: kepada seorang kawan

Pada helai lamun yang disapu gelombang
Karam di bibir pantai lalu membusuk hilang
Pada liku jalan yang tak selalu lempang
kita adalah cerita pelayaran pulang

Sepanjang kenangan di tubir dan tarian kaki telanjang
Kita membiakkan lamunan pada lampu remang
Ditemani kima, penyu sisik dan dugongdugong
Juga ikanikan yang menyambut pancing

Manifesto ini tentang lamun dan terumbu karang
Juga rindu ikan paus dari selatan dan musim tenang
Saat kita bersama memanggul sampan dan jaring
Hendak melukisnya dalam akuarium untuk dikenang

Lalu ada cerita nelayan tua yang limbung
Yang napasnya menderu-kering di terik siang
Karena demi sesuap nasi dan janji manis para cukong
Tulus melumuri diri dengan rapalan doa melaut, lalu berpulang!

5/ Kepada Ibu Yang Menunggu Suaminya

Saat engkau mencari kutu menyiangi rambut satusatu
Saat dimana senja terlalu lama untuk ditunggu pulang
Angin datang membawa kabar
Seseorang telah tertusuk pari (dan menyembunyikan kabar sebenarnya)
tentang gelegar di pantai yang menyayat dan mencabik rongga dalam

Kini, bagimu, angin laut ibarat kepak burung camar yang lemah
Menunggunya muncul dari sekawanan lumbalumba sungguh melelahkan
Saat engkau yakin sekaranglah saatnya menuju tepian

“yang engkau tunggu telah sekarat”

6/ Siasat

entah sudah berapa kali dermaga ini Kau jejak
pernah pula Kau pinta seorang menjemput-menggendongmu menuju pantai
karena tak bisa berenang, takut celanamu basah,
Kau menolak berjalan karena ada banyak karang dan ikan berduri
: seperti yang dibisikkan oleh ajudanmu yang bersepatu bot

ah! Kau ternyata penakut
lalu apa yang kami harap dari pidato-pidatomu?

malam ini seseorang mengajakku ikut bersiasat
membocorkan perahu dan melumat logistikmu
karena jikapun kembali entah kekonyolan apalagi yang Kau akan perbuat di ibukota
Tempat bisikbisik dan sinis beranak-pinak

Sungguminasa, 11-09-2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Puisi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s