Kepada Seorang Ibu Bersepeda dan Anaknya Yang Tirus

Kinetic-Bicycle-wSalam Hormat,

“Hari ini, (eh tidak, kemarin pagi!) di satu ruas Jalan Veteran persis di pertigaan Rappocini Raya, Makassar yang selalu tidak ramah kepada yang bersepeda atau orangorang kecil, Aku melihatmu dan anakmu. Lalu Aku ingin menceritakan epos dan juga kelakuan manusia biasa, Engkau dan Mereka. Tentang ibu-anak dalam episode perjuangan yang kerap dikhianati dan disangsikan oleh penguasa kota dan keadaan”

“Sekali lagi tentangmu dan anak kecilmu itu. Yang saban pagi memunggungi mentari dan melawan deras pengendara yang menyerbu kota baru di timur kotamu”

Engkau yang meliuk lincah, bagai kibasan ekor mas koi tak gentar di kelokan ganas, bagai segerombol lebah yang mengejar pucuk bunga. Dan juga mereka orangorang kaya dengan kendaraan roda empat yang klaksonnya seperti hendak memecahkan batu karang. Orangorang yang tak punya telinga, tidak jelas, itu mobilnya atau hanya titipan”

“Pagi itu di akhir September 2009, saat ‘ku lewati lagi lelorongmu, tidak jauh dari rumahmu. Kupelankan gas motor dan menguntitmu laksana pencoleng kaca spion mobil mewah, yang mengendap. Engkau mengayuh pedal pada poros segitiga batang berwarna hijau lumut, begitu gesit begitu perkasa. Bulir keringat di ubunmu memancarkan cahaya pagi yang gairah, Aku melihatnya dengan jelas”

“Dalam refleks pandangan, bulirbulir itu pecah hilang di aspal yang mulai memanas. Seorang bocah berwajah tirus berbaju putih merah bata memelukmu erat, tangannya kokoh memeluk pinggang rampingmu, matanya lurus diam. Kakinya dibungkus sepatu tak berkaos. Pupur di wajahnya memola garis undakan yang mengucur dari ujung rambutnya yang cepak, juga seperti kelokan hingga di dagu lalu jatuh tak berbekas”

“Pagi itu, seperti hariharimu yang liat Engkau sungguh petarung. Jauh meninggalkan para pengendara yang kesetanan dan tak mau mengalah pada kesempatan. Orangorang yang Aku sebut bodoh karena mau mati demi sesuatu yang tidak jelas. Tapi, raungan suaranya telah dikalahkan oleh lenguhan dan lincah gerak kakimu yang ritmis lembut. Engkau yang kuat tegar, bertarung dengan pagi yang tak ramah. Mengantar si kecil, buah hatimu, masa depanmu”.

Siapa peduli?

“Tiba-tiba aku ingat kucing hitam yang masih berdarah-darah yang dibiarkan melewati jalan Alauddin yang padat dan para tukang becak di dekatnya hanya mengongkang kaki berteriak bagai sedang mabuk tuak siwalan yang diperam tiga malam”

“Ah, tragedi jalan raya. Tragedi ketakpedulian pada yang kecil” “Lalu, entah apa yang dipikirkan si Bocah, anakmu. Yang sedang termangu menuju bangku ajarnya, dalam alunan pagi yang semakin tak bersahabat itu. Atau dia sedang mengeja kata demi kata sebagai tanda terima kasih yang tak terucap. Seperti yang hendak ‘kusematkan padamu.

“Terima kasih untuk cerita yang kau paparkan hari ini (eh kemarin!) tentang gairah hidup yang tak pupus kau hembuskan pada jejak kotamu yang mulai tak ramah, pada sekitar untuk semestinya mereka belajar dari derap perjuangan dan kemanusiaan, tentang penghormatan dan budi baik. Wahai Ibu yang bersepeda di persimpangan, akan ‘ku beri kau jalan!”

Makassar, 01-10-2009

(Foto inzet dikutip dari http://www.riverartsfestival.com/images/Kinetic-Bicycle-w.gif)

CC:
1. Para pemilik kendaraan berplat merah dan hanya dua angka tetapi dimodel seperti mobil pribadi
2. Para pengendara roda dua yang knalpotnya merobek gendang telinga
3. Para polisi tidur di sepanjang lelorong Ciallang Raya.
4. Para Tukang Becak, “belajar saiki sopan santun*
4. Para yang bersepeda, *sabar ya!*

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Budaya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s