Pagi Di Sisi Jeneberang Bersama Daeng Ngemba

DSC_0196Sabtu tanggal terakhir di bulan Oktober. Pukul tujuh pagi di sempadan sungai Jeneberang, saya bergegas menyusuri jalan setapak berkelok, sesekali menginjak semak yang meranggas di sela pepohonan pisang di selatan kompleks perumahan kami, di Kecamatan Somba Opu.

Dari satu titik di ketinggian saya menikmati indahnya hamparan lahan kebun sayuran kangkung, kacang, bibit jagung yang muncul dari hamparan kebun di tepi sungai Jeneberang. Sayapun lalu menuruni tebing yang tidak terlalu tinggi itu.

Dua orang sedang mengobrol. Satu orang berdiri memegang cangkul , yang satunya jongkok sesekali mengisap rokok kreteknya seraya melepas pandangan ke seberang sungai di bagian selatan. Mereka terlihat menikmati pagi. Yang berdiri bernama Daeng Ngemba, yang satunya Daeng Maro. Mereka warga Tamarunang yang sedang memulai pagi di kebun.

Tidak lama setelah saya datang, Daeng Maro kemudian pamit lalu menuju ke arah timur, ke lokasi kebunnya. Hanya saya berdua dengan Daeng Ngemba, dia menyiangi dan menggemburkan tanah di sekitar tanaman jagungnya. “Umurnya masih dua minggu” katanya tentang tanaman itu.

Inilah kali pertama, saya sebagai warga di Perumahan Tamarunang mulai mengamati langsung kegiatan para warga setempat. Sebelumnya, saya hanya mengetahui bahwa ada kegiatan perkebunan di sepanjang sisi sungai Jeneberang yang dikelola oleh warga setempat. Warga setempat yang dimaksudkan di sini adalah warga yang tanahnya telah dijual kepada developer dan memilih berkebun sebagai kegiatan utama mereka.

“Saya sudah puluhan tahun memanfaatkan lahan di sisi sungai ini” Kata Daeng Ngemba. Menurutnya, dahulu memang ada tanah saya di atas (seraya menunjuk ke lokasi perumahan – dimana rumah saya juga ada di sana) namun telah dijual kepada developer. Perpindahan tanah itu sejak awal tahun 90-an.

“Saya tinggal di perumahan sejak tahun 2000, dan baru kali ini benar-benar tahu dan lihat apa yang warga setempat lakukan”. Kataku pada Daeng Ngemba.

Tentang perumahan kami yang jaraknya sangat dekat dari sisi Jeneberang, bagi saya ada yang menggelitik (sesuatu yang kemudian, belakangan baru saya sadari) yaitu status bangunan di sekitar sungai. Menurut undang-undang lingkungan, tidak diperbolehkan membangunan sesuatu atau bangunan pada jarak 200 meter dari sisi sungai. Namun perumahan kami, jaraknya begitu dekat dengan sungai. Entahlah, bagaimana proses pengurusannya dulu! Atau undang-undangnya keluar belakangan?

Jumlah perumahanpun dari waktu ke waktu semakin bertambah. Jika kita menyusuri sisi sungai dari Jembatan Sungguminasa ke timur maka kita akan melihat semakin padatnya bangunan di sekitarnya. Memang ada tanggul yang dibangun lengkap dengan papan peringatan untuk tidak membangun di sekitar sungai namun dalam beberapa hal, berbagai aktivitas di sekitarnya rupanya tetap menggeliat.

Cerita Kebun Daeng Ngemba

Daeng Ngemba sebagai warga Tamarunang, yang lahir dan besar di sekitar sungai tahu persis bahwa sebagai warga “asli” berkebun dan memanfaatkan kesuburan di sekitar sungai Jeneberang adalah pilihan terbaik setelah tanahnya dijual ke developer.

“Selain menanam jagung, saya juga menanam sayur-sayuran” Katanya sambil menunjukkan tanaman kangkung yang masih muda, tanaman kacang dan ubi kayu. Dari bertanam sayur seperti ini dia bisa menghidupi keluarganya, berdua bersama istrinya.

Saat panen lalu dia mengaku memperoleh kurang lebih Satu Juta rupiah sebagai hasil tanaman jagungnya. Masa panennya relatif cepat karena dia hanya butuh waktu satu bulan 20 hari untuk panen jagung. “Pada hamparan seluas 8 meter kali 15 meter ini, saya bisa peroleh bersih sekitar satu juta” Katanya. Pembeli banyang datang dari pasar Sungguminasa namun ada pula yang memesan langsung dari Malino. Rupanya jagung Daeng Ngemba diminati pula para penjual jagung rebus di daerah Malino.

“Di sana harganya bisa 3 kali lipat” Katanya. Jagung ukuran Daeng Ngemba tergolong kecil namun diminati di Malino. “Biasanya pelanggan tidak mau yang besar, mereka senang jika bisa makan jagung rebus hingga 3 biji” Katanya menirukan pembeli jagungnya yang datang dari Malino.

Boleh dibilang Daeng Ngemba dapat Rp. 1 juta setiap bulan. “Itu setelah dipotong biaya pupuk yang dilakukan hingga tiga kali, seperti KCL, Urea dan Za. Biasanya saat awal tanam”, katanya tentang ihwal penggunaan pupuk. Selain biaya pupuk, dia juga mengeluarkan biaya untuk pembelian bahan bakar bensin demi mengairi lahannya dari air sungai Jeneberang.

“Untuk masa tanam jagung sayur seperti ini, paling hanya dua kali mengairi lahan jadi tidak seberapa biayanya” Katanya. Ini juga karena saya sudah punya mesin pompa air.

Biaya pembelian bibit jagung, untuk ukuran lahannya juga tidak begitu mahal yaitu Rp. 25ribu persatu bungkus bibit. “Tapi sepertinya semakin naikmi harganya, dulu masih belasan ribu” Katanya tentang harga bibit jagung sayur itu. Daeng Ngemba bisa membeli bibit sayur di dalam kota Sungguminasa jadi tidak terlalu membutuhkan biaya besar. Untuk lahan seperti miliknya dia hanya butuh dua bungkus bibit jagung sayur.

Selama ini, waktu tanamnya adalah selama musim kemarau atau antara bulan Desember hingga Mei. “Jika musim hujan, saya tidak berkebun karena luapan sungai Jeneberang menutupi lahan” Katanya. “Paling-paling di rumah saja” Katanya. Selain Daeng Ngemba dan Maro di sepanjang sempadan itu terdapat pula lahan Daeng Sikki dan Daeng Tinggi.

Kehidupan mereka di setiap musim tentu akan berbeda jika saja lahan yang mereka punyai dahulu tidak berpindah tangan kepada developer perumahan.

Membaca denyut kehidupan di sempadan sungai Jeneberang itu, saya lalu ingat kecenderungan serupa di beberapa desa di sekitar Galesong Utara hingga Selatan di Kabupaten Takalar. Para pekebun (pakoko, Mks) yang saban pagi menyambut pagi dengan bekerja di lahan sendiri.

Dalam perkembangannya ada beberapa lahan yang telah “terampas” oleh kebutuhan pemukiman warga, seperti perkembangan wilayah bagian selatan Makassar di sepanjang wilayah Barombong, beberapa lahan pertanian dan perkebunan telah berubah bentuk jadi real estate.

Bagi warga Barombong dan sekitarnya, tentu tidak mungkin menanam sayur mayur di tepi pantai, seperti warga Tamarunang yang mengungsi ke sempadan sungai Jeneberang. Jika tidak punya lagi lahan, mungkin akan ke kota menjadi buruh bangunan.

Sungguminasa 31 Oktober 2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Desa-Desa. Bookmark the permalink.

One Response to Pagi Di Sisi Jeneberang Bersama Daeng Ngemba

  1. Memang orang lebih memilih hidup dikota meski jadi buruh bangunan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s