Fungsi Media, Ironi Rating dan Berkaca Pada Tivi A la Jepang

televisionPada satu bulan terakhir akumulasi waktu kita seperti tersedot untuk duduk berlama-lama di depan televisi. Ada acara “sinetron baru” dengan aktor blasteran “Duo Anggo”, Anggoro dan Anggodo. Mereka dua aktor berlogat Jawa timuran yang kental.

Penampilan mereka seperti mengalahkan rating sinetron (atau sederajat) dengan berita-berita artis yang sedang kawin cerai. Nama Anggodo cs menjadi popular walau penonton semakin terbuai cerita tak kunjung usai. Buka-bukaan a la politisi, pengusaha dan aparat penegak hukum menjadi bumbu menarik dan menawan selera. Media bernama televisi menyajikan sinetron telenovela tak kunjung jelas endingnya.

Media telah diuntungkan secara tidak langsung dengan perolehan slot iklan dari produser maupun penyedia jasa. Rating acara news, wawancara tokoh dan praktisi hukum menyorot kasus “Duo Anggodo” seperti tak pernah usai ditayangkan. Bukan hanya televisi, tetapi juga koran dan media berbasis internet.

Fakta di atas memang tidak salah, alias bisa dibenarkan hanya saja terdapat indikasi bahwa media tidak sepenuhnya mau menguliti aktor dan kecenderungan berita pada yang semestinya. Apakah karena mereka mudah didikte?

Pada saat bersamaan, Bagaimana dengan waktu dan perhatian kita yang tersita oleh media tersebut? Beberapa dari kita mungkin akan sangat menikmati dan was-was dengan kemungkinan hasil akhir berita tersebut namun ada juga yang pesismis dan kemudian mulai berpikir, “ah sejauh ini berita itu hanya menguntungkan media”.

Toh hasil akhirnya bisa ditebak. Atau, jangan-jangan ada kolaborasi peran antara aktor utama itu dengan media untuk tarik ulur pemberitaan?

Media betapapun telah banyak dikritik karena obyektifitas berita dan latar belakang pemiliknya tetap memegang peranan penting. Media yang dimaksukan dalam tulisan ini adalah media seperti televisi. Karena sifatnya yang real time dan fungsi strategisnya sebagai penyedia informasi secara luas, berita dan fakta kehidupan sehari-hari maupun tren yang berlaku di sosialita kita tetap merupakan alat yang dibutuhkan.

Pada ranah politik media, kutipan “You own the media you’ll own the world” sepertinya menjadi ampuh saat beberapa politisi mencoba menguasai media televisi. Atau beberapa praktisi pasar ekonomi mencoba memegang kendali untuk secara efektif menguasai media dan membentuk opini publik dan kecenderungan pilihan atau sikap politik.

Banyak contoh, Silvio Berlusconi adalah perdana menteri Italia yang juga seorang pengusaha yang sukses di manajemen olahraga, juga sukses dalam mengembangkan media komunikasi. Baru-baru ini kontributor stasiun tivi seperti Abu Rizal Bakrie berhasil duduk ditampuk Ketua Partai Golkar mengalahkan salah seorang pemilik televisi lainnya yaitu Surya Paloh.

Media dan medan politik semakin dekat dan bahkan nyaris satu mata koin. Lalu apalagi yang bisa diperoleh dari media atau televisi? Fenomena politik sebenarnya dapat dikonfrontasikan dengan fakta grass root jika media juga menyorot fakta mereka dengan berimbang. Bukan hanya, menyorot hal-hal permukaan atau lips service belaka.

Ada fakta berbeda jika kita mencoba membandingkan seberapa dinamis sistem pertelevisian kita di Indonesia dengan, katakanlah Jepang misalnya yang sukses mengangkat khasanah lokal mereka dengan bernas dan cerdas.

Beberapa saat lalu, kita sebagai penonton dicekoki sinteron, acara musik membentuk bintang dalam waktu supercepat seperti KDI, bIntang idola, atau acara yang tak lagi “malu menutupi ruang privat”seperti “take him out”, dan masih banyak lagi. Konon, banyak pemirsa yang terhibur dan rela berlama-lama di depan tipi dengan acara seperti ini.

Adakah manfaat bagi acara tersebut di atas? Secara pasti tentu ini tergantung penontonnya tapi jika ditarik benang merah antara motif pelajaran dan manfaat jangka panjang bagi penonton, nyaris tidak ada manfaatnya.

Tapi mari kita tengok acara-acara televisi dari Jepang yang dibelisiarkan oleh tivi lokal. Bagi sebagian kita, acara Ninja Warrior yang disiarkan oleh salah satu televisi nasional merupakan tontonan menarik dan dapat memaju adrenalin walau kita tidak ikut bermain. Bukan hanya acara itu, ada pula acara Benteng Takeshi, dan acara yang ditayangkan oleh salah satu stasiun tentang berbagai inovasi dan kreativitas yang dipadukan antara anak-anak ataupun dengan orang tua. Seingat saya acara yang ketiga ini, disiarkan siang hari.

Secara logika, ketiga acara itu adalah suatu acara yang menghibur tetapi sarat dengan filosofi. Ninja Warrior adalah acara yang membutuhkan persiapan, disiplin, kebugaran dan mental yang kuat. Dia tidak semata-mata menjadi hiburan tetap memberi sugesti pada pemirsa tentang perjuangan hidup, olahraga dan konsistensi. Saya kira ada unsure nasionalisme di situ.

Filosofi Benteng Takeshi, tentu lebih kuat karena ini terkait dengan minat yang demikian besar dari para warga untuk berprestasi, mau tahu dan terampil bersikap atas segala macam tantangan. Bagi warga Jepang tentu mereka akan paham, tidakan yang akan ditempuh jika semisal, negaranya diserang oleh pihak lain. Jika logika ini digunakan bagi Indonesia, tentu muncul pertanyaan, apakah kita akan mengandalkan kemampuan “menyanyi dan sinetron” saat diserang musuh?.

Saya kira warga Jepang, sangat tangguh jika ada duel satu lawan satu dengan bangsa manapun di dunia. Sekali lagi, fisik dan cara mereka merespon setiap dinamika begitu tanggap. Ini bisa terbaca dari cara mereka mempersiapkan diri pada acara-acara televisi. Acara televisi produk mereka telah menunjukkan antusiasme dan daya tahan mereka.

Televisi kita mestinya lebih kreatif dalam menawarkan hal-hal positif dan berguna bagi warga baik dalam konteks kekinian maupun pada masa datang. Kesan mandul kreasi warga Indoensia saat ini bisa jadi bersumber dari asupan informasi dan media yang memang tidak berpihak pada masa depan yang lebih baik. Acara olahraga tradisional, olah fisik tradisional dan kerjasama atau kegotongroyongan antara warga sepertinya tidak menarik dikupas media kita bernama televisi.

Dibutuhkan pemimpin media yang peduli pada pentingnya keagungan budaya dan tulus menyiapkan masa depan yang lebih baik. Bukan hanya menggerus nilai-nilai dalam masyarakat dengan menawarkan hal-hal baru yang bisa jadi mengingkari jati diri bangsa demi alasan ekonomi dan politik praktis belaka.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Refleksi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s