Membantai Cacca’, Satu Cerita Kanak Kanak

Ini cerita berdimensi purba pada setting cowboy a la pemburu mahluk. Tentang upaya pembersihan spesies salah kaprah terbesar abad ini. Settingnya adalah Kampung Jempang, satu kampung di jarak 25 kilometer selatan Makassar.

Pada musim kemarau saat angin kering, saat dimana cuaca panas kerap mendidihkan emosi dan jati diri kanak-kanak. Saya berada pada barisan yang belum cukup umur sepuluh tahunan bersenjata lengkap. Bermodalkan panah yang terbuat dari lidi rangka daun kelapa yang ujungnya terikat paku dua centimeter serta karet gelang di tangan. Rombongan ini dengan paksa (walau lebih sering sembunyi-sembunyi – kini operasi ini kerap disebut operasi senyap) mempreteli tiang-tiang rumah warga.

Kami datang bergerombol dengan senyum sesadis-sadisnya. Saking sadisnya sampai bibit kumis yang masih halus kerap berdiri tegak dan menyeringai dengan buas seperti hendak meroboh-lantakkan rumah-rumah warga tersebut. Mereka adalah gerombolan pemburu cicak (cacca’ Mks).

Sebenarnya tidak ada ultimatum atau selebaran yang beredar kala itu dari kepala kampung atau kepala desa tiba-tiba saja terjadi pergerakan massa dari berbagai penjuru kampung. Saya ada di antara mereka. Kami yang sedang murka pada cicak. Walau ingus tak jua berhenti mengalir dari wajah berrambut ala “Ronaldo” itu.

Tekan kami sudah bulat , “membasmi cicak-cicak sialan yang bersembunyi di sela-sela tiang rumah, bersembunyi di sambungan kayu”.

Kala itu di pelosok kampung terdapat dua tipe rumah, rumah yang bertiang tinggi, kira-kira dua meter dan rumah bertiang sedang kira-kira semeter. Bagi tiang tinggi, kami menyasar ruang dapurnya yang biasanya lebih rendah dan mudah dijangkau.

Kami mulai operasi senyap itu, saat sore hari namun tidak jarang beberapa teman kami keluar dari jadwal pakem. Kami tidak jarang menjarah kediaman cicak saat siang hari. Puluhan cicak lunglai di ujung panah, ada yang warnanya hitam (biasanya pada tiang rumah yang jarang terkena cahaya) seperti di dekat tiang dapur yang basah dan lantai atau tiang rendah, ada pula cicak putih di bagian depan rumah atau teras gantung (paladang, Mks).

Tidak jarang pula kami peroleh telur-telur mereka. Membunuh induknya dan mengambil telurnya, sempurna bukan?. Telur yang kemudian jadi sasaran ujung panah. Betapa mengerikan operasi para pemburu cicak saat itu.

Beberapa dari kami, kerap pula lari terbirit-birit saat tuan rumah sedang mengaso atau tidur siang, sementara kami ribut melepaskan anak panah ke celah tiang huruf T sambungan rangka rumah mereka. “Larikoooo…bangungi patanna balla” (Lari…yang punya rumah bangun!). Teriak teman saat melihat tuan rumah mulai ambil air dan hendak menyiram kami dari lantai bambu (dasere’ Mks) mereka.

Saya heran mengapa ada warga yang terganggu dengan operasi “pembersihan” mahluk yang layak dibenci ini?

Tentang cicak sebagai sasaran pembasmian kala itu selain dilatari oleh karakter belia yang memang kerap mencari musuh, beberapa dari kami memang dilatari emosi yang meluap terkait keberadaan, cicak ini. Jika disuruh memilih melumpuhkan cicak atau laba-laba (saat itu tidak ada kabar bahwa buaya ada di sungai kampung), kami saat itu lebih memilih cicak.

Ini karena informasi yang kami dengar dari tetua (yang kemudian kebenarannya dimentahkan oleh generasi berikutnya yang rajin membaca buku sejarah yang benar) bahwa membunuh cicak itu sangat beralasan karena konon merupakan binatang yang “berbunyi” saat Rasulullah bersembunyi dalam gua semasa pengejaran oleh kaum Quraisy. Saat itu, karena bunyi cicak itu, seseorang dari pengejar ini kemudian melempar batu dan mengenai Beliau.

Kita harus membasmi cicak. Titik !

Begitulah pesan berantai yang beredar saat itu. Entah siapa yang salah menafsirkan sejarah atau salah kutip dari pesan yang tidak jelas sumbernya itu. Kami yang masih sekolah dasar mengunyah “ajaran ini” dengan serta merta, bablas dan amblas. Maka cicakpun jadi target perburuan. Perburuan spesies terburuk yang kemudian dicatat dengan manis oleh para penulis sejarah kampung kami.

Padahal waktu itu, walau belajar pendidikan agama di SD Inpres Galesong namun kami tidak memandang perlu agar guru agama secepatnya memberi pendapat hukum , apalagi meminta kepada pihak KUA alias kantor urusan agama atau KPKJ, Kantor Percicakan Kampung Jempang, divisi reaksi cepat, unit perburuan binatang sesat.

Faktanya, saat itu, banyak warga kampung yang mulai terganggu oleh serbuan itu saat beraksi di kolong rumah mereka. Misi yang nyaris sempurna dengan beragam cerita berdarah-darah yang sebenarnya tergolong sukses itupun menuai protes dari penjuru kampung.

Karena protes itu pula, kami kemudian sadar dan mengalihkan perburuan dengan mencari biji-biji asam hitam yang kerap dibuang oleh ibu rumah tangga yang usai memasak ikan pallu kacci (pallumara). Biji asam merupakan pelarian kami untuk kemudian kami mulai bermain “camba-camba”, bermain “datte-datte” hingga main “kaya-kayaan”.

Mencari asam, lebih menarik dan sarat godaan walau sebenarnya terasa menjijikkan, karena harus mengais pada kubangan limbah dapur rumah warga. Tapi jika dapat, kita akan sumringah saat mengeluarkan biji asam dari kulitnya yang sudah diperas, hitam licin! Target operasi yang sangat menggiurkan, bukan? Semakin banyak mengumpulkan biji asam hitam semakin kayalah kami. Begitulah kira-kira status sosialnya.

Perburuan spesies sepanjang sejarah kampung ini akan terus berlangsung jika saja, tidak ada protes dari beberapa kaum tua, yang merasa tidurnya terganggu dan ajaran baru yang lebih rasional.

Ihwal perburuan itu, mestinya sebelum mengambil tindakan kami perlu meminta pendapat hukum dari tetua kampung lainnya, termasuk ahli konstruksi rumah panggung khas warga Galesong, paling tidak menanyakan, “apakah ada bentuk sambungan tiang rumah yang baik, yang tidak menyisakan ruang bagi cicak untuk berlindung”.

Sungguminasa, 03 Nopember 2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Budaya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s