Suara Dari Tribun, Untuk PSM Yang Lebih Baik

Pertandingan pada tanggal 11 Oktober 2009, antara PSM dan Sriwijaya FC belum dimulai. Saya bersama si tengah Khalid “Donnie” Adam, yang getol sepakbola bahkan hapal nama-nama pemain top dunia bergegas menuju sisi barat stadion Andi Mattalatta. Kami terhenti saat iringan puluhan motor dengan mesin meraung menutup jalan. Konon, mereka penggemar fanatik PSM yang melengkapi dirinya dengan syal merah, baju merah khas PSM dan yel-yel khas penikmat bola tanpa helm dan pengaman berkendara.

Donnie, kelas II SD yang terbiasa duduk manis menikmati Torres bintang pujaannya di Liga Premiere, hanya melongo saat melihat beberapa dari mereka berdiri di atas motor yang sedang melaju. Teriakan dan raungan motor campur baur. Bagi saya mereka seperti pasukan berani mati yang terlihat brutal.

“Itumi pendukungnya PSM, nak. Tapi jangan dicontoh yah?” Kataku. Bahkan polisi tidak berani melarang mereka. Buktinya, mereka berkeliaran dengan bebas sebelum masuk stadion. Saat para penjaja sibuk menawarkan tiket pada para pejalan kaki di sekitar Jalan Kakatua, saya sempatkan membaca koran dulu, ingin tahu siapa yang akan menjadi line up PSM malam ini.

Di tengah berbagai berita ketidakpastian, baik status pelatih maupun keberlanjutan pendanaan PSM, hanya Carrasco yang menyita perhatian saya. mantan Persebaya ini bagi saya menarik untuk ditonton selain gayanya yang flamboyan, juga karena bumbu berita yang ditawarkan media di Makassar jauh sebelum laga malam ini.

Donnie tentu juga punya agenda tersendiri. “Saya suka Syah Rahan” Katanya tentang laga malam itu. Syah Rahan si kecil lincah itu adalah pemain Sriwijaya FC yang dilihatnya persis gayanya dengan Shaun Wright Phillips di Manchester City.

Pukul 18.30 kami sudah mengantri di gate tertutup bagian selatan, Donnie tenang di depanku. Malam itu tidak terlalu padat jadi kami lempang hingga di tribun. Yang menyita perhatian saat melewati pintu antrian adalah saat seorang berjaket loreng, ditahan oleh penjaga lalu dia menunjukkan sesuatu ke penjaga. Diapun lolos.

Saya memilih duduk di bangku ke enam dari bawah tribun. Beberapa bulan lalu saya lebih senang di baris kedua dari bawah, lebih dekat ke lapangan. Tapi kali ini, karena saya datang bersama si kecil saya mencoba sigap untuk duduk dekat exit gate. Saya menghindari berdesak-desakan saat pertandingan usai. Selain masalah keamaan juga karena waktu pulang tentu akan semakin lama jika saya ada di bawah.

Alasan lainnya, saya bisa mencapai pintu jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan saat pertandingan. Saya dan Donnie (mungkin dia tidak berpikir seperti saya) tentang segala resiko saat pertandingan. Tentang kebiasaan melempar gelas aqua, orang-orang yang kalap, saling cemoh dan aksi brutal para fans. Demikianlah suasana kebatinan saat kami menonton PSM malam ini. Antara kemeriahaan sepakbola dan rasa takut yang berlebihan.

Donnie tentu memandang pertandingan malam ini sebagai pertandingan bintang, seperti yang dia baca dan dengar. Pertandingan antara Syamsul dan Syah Rahan. Pertandingan antara dua tim unggulan. Emosi penonton tersulut saat PSM ternyata tampil di bawah form terbaiknya.

Walau menjadi tuan rumah penampilan PSM malam ini di luar harapan. Striker anyarnya, yang bernama Yudi Keci sangat mengecewakan. Pada menit-menit awal, dalam solo runnya, one to one dengan kiper tapi dia menendang bola jauh dari mistar gawang. Penonton berteriak marah. Suasana mulai gaduh. Yudi diganti tapi denyut permainan PSM tidak menjadi lebih baik.

Kemarahan penonton semakin menjadi saat penampilan Carrasco yang ternyata jauh dari harapan, gerakannya lamban dan sering terperangkap offside. Saya menggumam dalam hati, “nih orang sebaiknya bawa bantal dan tidur saja di daerah lawan”. Gumaman itu akhirnya jadi teriakan saat untuk ke lima kalinya dia terjebak offside. Damn!

“Biarmi tawwa, begitu memang kalau pemain murah” teriak salah seorang penonton dari bangku belakang seperti mengejek.

Performa PSM itu benar-benar jauh dari harapan fans termasuk saya. Konon, ini terkait dengan beli murah pemain oleh para manajer di skuad PSM. Tidak nampak “keseriusan” untuk membeli pemain mahal dan berkualitas demi memuaskan dahaga penonton.

Namun demikian, saya lebih tertarik memikirkan hal-hal di luar pertandingan. Hal-hal yang mungkin sangat mendasar. Yaitu input penyelenggaraan pertandingan seperti, urusan tiket, tata laksana dalam stadion, daya dukung tribun, peran aparat pengamaman hingga pengendalian penonton di tribun terbuka. Hal tersebut di atas adalah faktor penting sebelum benar-benar bicara kualitas sepakbola. Ya, sesuatu yang berkaitan dengan manajemen pertandingan!

Apa yang Anda bayangkan dalam suatu pertandingan professional jika masih sangat (sangat, sangat, sangat) banyak penonton yang masuk tanpa tiket? Jika melihat ke tembok pembatas tribun terbuka, setiap PSM bertanding, masih banyak sekali penonton yang memanjat tembok. Tentu tanpa tiket. Saya pernah mencoba menonton di tribun terbuka tapi debu dan kegaduhan di sana buat saya sesak napas lalu memilih keluar lapangan.

Yang ironi, adalah tribun tertutup. Walau kapasitasnya terbatas namun masih koridor menuju pintu keluar telah padat dan disesaki penonton yang berdiri. Saya tidak yakin jika mereka membayar tiket. Lalu siapa yang member izin masuk?

Banyak penonton yang telah merogoh koceknya hingga Rp. 35ribu mesti berjibaku dengan mereka jika hendak keluar tribun. Inilah fakta sepakbola kita di Makassar, menonton pertandingan professional tapi tersiksa lahir batin. Soal penjaja makanan dalam stadion, karena saking banyaknya, mereka kerap mengganggu pandangan ke stadion. Mereka banyak dan menyesaki ruang di bangku penonton. Siapakah yang mengaturnya?

Saat PSM ketinggalan satu kosong oleh Sriwijaya, suasana menjadi panas. Saya was was. Donnie masih dengan santainya menonton, walau dia sesekali bilang, “Kenapa begini mainnya PSM?”.

Teriakan dan cemohan penonton mulai meledak. Berbagai umpatan dan kata yang tak pantas bagi seorang anak kecil mulai berseliweran dari bangku ke bangku. Saya mulai berpikir, saatnya segera pulang.

Pertandingan masih 30 menit sebelum usai saat PSM ketinggalan 1-0. Namun, saya segera menggamit Donnie untuk pulang. Dia bingung dan bertanya, “Kenapa cepat sekaliki pulang, pak?”. “Nanti saya jelaskan, nak” Kataku.

Kami menerobos penonton yang berdiri mematung di koridor menuju exit gate. Tebal sekali. Kami akhirnya lolos dengan susah payah. Saat mulai lepas dari penonton itu, tiba-tiba PSM mendapat hadiah penalti. Saya sempatkan melongok ke celah pundak penonton saat Handy Hamzah mengecoh Hendro Kartiko. Skor imbang 1-1-. Tapi, Donnie kehilangan momen itu.

Penonton rupanya sangat ingin PSM memang, tapi banyak dari mereka tidak sadar bahwa input yang buruk (yang juga ditunjukkan oleh mereka) tidak akan menghasilkan out put yang berkualitas. Apa itu? Yah, apa yang kita bisa harap dari tim kebanggaan kita, PSM jika menjadi fans gila dengan menggeber motor dengan suara berisik mengganggu jalur umum seperti orang kesetanan? Apa yang kita bisa harap jika masuk stadion dengan memanjat pagar? Terasa sekali bahwa manajemen pertandingan masih buruk dengan masih adanya hal-hal menjengkelkan seperti ini.

Donnie, anak saya itu, kini tahu, beginilah wajah sepakbola Indonesia secara umum. Pertandingan antara PSM dan PSPS beberapa hari lalu, memang tidak saya tonton, saat itu PSM keok pada pasukan Pekanbaru. Saya dengar terjadi keributan saat itu, untung kami tidak datang.

Apa yang kita harap dari PSM tercinta, jika aparat pengamaman tidak melakukan kontrol pada para pengacau di sekitar lapangan? Bagi manajemen, jangan harap PSM maju jika tidak mampu mengurus hal-hal sepele seperti di atas. Bukti masih maraknya penonton tanpa tiket adalah wujud manajemen setengah hati.

Demikian pula bagi penonton yang (selalu bikin onar jika PSM kalah) berharap kepada PSM untuk mampu berprestasi di liga tahun ini, sebaiknya kubur dulu keinginan itu sebelum (maaf) memperbaiki tingkah laku saat hendak menonton.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Olahraga. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s