Daeng Ngewa, Kini Bisa Mengayuh Lagi

Beberapa minggu lalu, saya menceritakan di FB tentang Daeng yang setiap pagi mengantar anak saya ke sekolah. Namanya Daeng Ngewa, umur 42 tahun. Saat itu saya membesuknya karena menurut cerita tetangga dia sedang merana oleh hasil diagnosa dokter. Dokter menyebut ada penyumpatan di “vesica urinarianya”, atau bahasa sederhananya ada penyumbatan oleh benda asing di saluran kencingnya.

Kesimpulan itu juga saya baca setelah melihat surat rujukan dan hasil “scan” pada area di sekitar organ intimnya. Saya membaca catatan dokter dan memeriksa gambarnya. Kesimpulannya, Daeng Ngewa harus dirujuk ke rumah sakit umum Wahidin Sudirohusodo di Tamalanrea,Makassar, rumah sakit yang konon, merupakan terlengkap di Sulawesi.

Mba Sri, istri Daeng Ngewa terlihat murung saat saya menemuinya pada suatu sore. Wanita beranak satu kelas III SD ini, menceritakan penyakit suaminya.“Mesti beng dioperasi” Katanya. Saya bahkan disodori satu batu kecil, seperti biji garam persegi warna putih buram. “ini batu yang sudah keluar, batu yang dulu saya simpan” Kata Sri.

Jadi sebelum didiagnosa tersumbat batu, Daeng Ngewa telah “menetaskan” batu saluran kencing lainnya. “Saat mengeluarkan batu itu, perihnya setengah mati” Katanya menirukan derita suaminya.

“Inimi yang kedua dan menurut dokter berukuran besar” Kata Sri.“Menurut cerita dari orang rumah sakit tempat suami memeriksakan diri, Daeng Ngewa mesti dioperasi dan mahal, puluhan juga”.

Saya terkesima, seorang tukang becak seperti Daeng Ngewa tentu tidak mudah memperoleh uang sebesar itu.Yang saya lakukan saat itu adalah, berusaha mencari tahu siapa teman dokter yang bisa merekomendasikan tempat atau pihak-pihak yang bisa membantu jika kelak jadi dioperasi.

Saat itu Daeng Ngewa hanya pasrah dan istirahat di rumahnya. Sebagai pengayuh kecak, rupanya potensi terserang batu saluran kencing sangat besar. Mungkin karena jarang membawa persediaan minuman. Kini, becaknyapun menganggur. Intan, anak sayapun berpindah ke tukang ojek.

Hingga pada suatu malam, dua minggu kemudian, saya mendapati Daeng Ngewa duduk di depan rumah tetangga kami yang sedang berduka dan menggelar acara tahlilan. Daeng Ngewa terlihat segar.

Sayapun bertanya, “gassingmaki?”. Sudah sehat, kataku. “Alhamdulillah, assulu’mi” Alhamdulillah, sudah
keluar. Maksudnya, batu itu sudah keluar. Rupanya dia telah memperoleh resep pengobatan sederhana dan murah meriah.

Apa obatnya? “Semua karena tanaman kumis kucing dan daun gedi”. Katanya. “Daunnya dicampur dan dimasak, hasil rebusannya ini yang saya minum tiap pagi, siang, malam” Katanya. Setiap habis makan, saya minum air rebusan itu. Daeng Ngewa yakin, batu yang dimaksud dokter itu telah hancur, luruh bersama air seninya setelah minum ramuan itu.

Pilihan bedah saluran kecingnya yang menakutkan Mba Sri dan Daeng Ngewa itu kini hilang hanya dengan memanfaatkan daun peluruh batu kapur di saluran kencing. Tanaman yang dijumpai di beberapa pekarangan tetangga itu terbukti manjur mengembalikan Daeng Ngewa mengayuh becaknya lagi.

Daeng Ngewa beruntung karena rupanya, daun kumis kucing juga ada di pekarangan rumah yang disewa tahunan itu. Dia hanya perlu meminta tolong kepada tetangganya untuk diberi daun gedi. Lingkungan alam sekitar ternyata telah membuktikan murah hatinya dengan menyiapkan obat kepada Daeng Ngewa.Kita hanya perlu mencari dan memformulasinya.

Setelah melacak dari berbagai sumber seperti wikipedia diperoleh gambaran bahwa, daun Gedi (Sayor Yondok) memiliki nama latin Hibiscus Manihot L. di negara lain juga daun gedi disebut (Philipina: Lagikuway, Thailand: Po fai, Inggris: Edible hibiscus). Sedangkan tanaman kumis kucing atau Orthosiphon spicatus SBB, memiliki sejumlah khasiat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Daunnya mengandung kadar kalium (boorsma) yang cukup tinggi. Ia juga mengandung glikosida orthosiphonin yang berkhasiat untuk melarutkan asam urat, fosfat dan oksalat dari tubuh. Terutama dari kandung kemih, empedu dan ginjal.

Pagi ini saya menyaksikan Daeng Ngewa mulai bersiul-siul ringan, mengantar anak-anak sekolah. Di belakangnya, Mba Sri melepas sang suami dengan senyum mengembang.

Belajar dari cerita Daeng Ngewa, nampaknya mulai saat ini, demi kemudahan pengobatan, mari kita mulai menanam tanaman obat. Setuju?

Sungguminasa 17/11/2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Sahabat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s