Bertemu Suryana, Peneliti Kepiting Asal Pinrang

Siang yang sangat terik di pantai Kassi Lompo, Desa Bontoloe, Galesong Selatan. Seusai shalat jumat saya bergegas ke lokasi pelatihan fasilitator di aula pertemuan Balai Budidaya Air Payau Galesong. Karena masih beberapa menit acara berlangsung maka saya menuju ke salah satu bagian kompleks budidaya air payau terbesar di Sulawesi ini.

Dari jarak 50 meter, saya menyaksikan seseorang sedang berdiri di sela bak pemeliharaan yang memanjang ke selatan. Dia mengenakan topi warna putih buram dan berbaju kaos lengan pendek warna oranye. Badannya terlihat gempal. Saat mendekat saya seperti tak percaya dia adalah seorang wanita. Rambutnya dipoting pendek, dia berkulit sawo gelap.

Tangannya terlihat lincah sedang membuka wadah plastik merah yang sedang digantung dalam bak yang berisi air laut. Dia sedang memindahkan kepiting bakau berukuran punggung enam centimeter yang telah diujicobakan di balai itu. Badannya yang terlihat “kekar” dan tangguh itu menjadi bukti bahwa dia memang pekerja keras.

Setelah saya memperkenalkan diri, wanita ini kemudian menyebutkan namanya, “Saya Suryana” Katanya dengan logat Bugis. Suryana adalah staf pada balai budidaya dan merupakan alumni perikanan pada Universitas Muslim Indonesia, Makassar. Dia menggondol sarjana perikanan pada tahun 1994.
“Saya lahir di Pinrang dan menyelesaikan pendidikan SD hingga SMA di Pinrang” Katanya.

Ayahnya adalah petambak yang punya beberapa petak tambak. Suryana saat selesai kuliah pernah bekerja pada proyek tambak di Palopo, Luwu namun tidak bertahan lama. Dia kemudian mendaftar sebagai pegawai pada DKP dan ditempatkan di BBAP Takalar sejak tahun 1999.

“Saya sudah sepuluh tahun bekerja di sini” Katanya. Suaminya berasal dari tanah Jawa dan lulusan IPB Bogor namun saat ini lebih memilih menjadi tenaga swasta. “Suami saya sekarang sedang mengurus satu proyek di Gowa namun selama ini sejak saya meniliti di sini, beliaulah yang banyak mengurus dan mengantar anak saya ke sekolah”

Suryana dan suaminya mempunyai dua orang anak dan yang sulung bersekolah di Limbung, Gowa. “Suami saya yang kerap mengantar jemput anak saya. Banyak orang di Galesong bilang mengapa harus jauh sekolah. Bukankah di Galesong, ada SMP?” Katanya menirukan warga. Alasan kualitas rupanya menjadi pendorong keluarganya menyekolahkan anaknya di Limbung.

Melaksanakan Penelitian

Saat saya menemuinya siang itu, Suryana, selain memasukkan kepiting-kepiting hasil ujicobanya, dia juga sedang membersihkan bak-bak yang telah selesai digunakan. Mengapa kepiting menjadi obyek penelitiannya karena komoditi ini tergolong jenis mahal dan diminati banyak orang.

“Sebenarnya saya ketua tim penelitian namun saat ini, ada tiga orang anggota namun saat ini saya seperti tidak bisa diam di rumah. Saya merasa bertanggungjawab untuk menuntaskan semuanya dengan baik, saya harus membersihkan bak dan sedang berpikir untuk bagaimana caranya supaya sampel kepiting ini bisa tetap dipelihara setelah penelitian selesai”. Katanya.

Tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui dampak pemberian pakan buatan kombinasi sisa kulit kepiting rajungan yang banyak dijumpai terbuang percuma pada tingkat pertumbuhan kepiting bakau”. Menurutnya, kombinasi kulit rajungan 25 persen yang dicampur dengan ikan rucah dan kulit udang sangat berdampak dalam meningkatkan bobot kepiting. Penelitian yang berdurasi lebih sebulan ini merupakan penelitian yang dibiayai oleh DIKTI Jakarta.

“Saya menyukai kegiatan seperti ini. Golongan saya sudah III c. Menjadi pegawai dan melakukan penelitian seperti ini sangat menyenangkan. Diharapkan setelah penelitian ini warga yang berdiam di sekitar balai ini bisa menerapkan hasil penelitian, paling tidak mau mengolah limbah buangan kepiting rajungan sebagai pakan bagi kepiting bakau” Katanya seraya mengikat wadah plastik ke tali biru yang membentang di atas dinding bak.

“Saat ini banyak usaha pembesaran kepiting bakau yang tidak bisa bertahan karena mahalnya biaya pembelian pakan. Semoga inisiatif ini bisa berguna bagi masyarakat dengan menggunakan bahan tersedia di sekitar meraka. Kami membuat pakan kepiting bakau berbentuk bulat berdiameter satu hingga dua centimeter” Katanya.

“Saya bersyukur sekali bisa bekerja. Saya tentu akan bosan jika menganggur dan hanya diam di rumah. Mungkin karena dulu sering membantu orang tua di tambak, merawat udang di tambak butuh ketelatenan” Katanya lagi.

“Sejak bekerja di sini saya, telah paham teknik supaya kepiting kepiting tidak menjepit tangan saya, dengan menutup mata sang kepiting. Teknik ini saya peroleh dari masyarakat setempat” Katanya tentang pekerjaannya.

Suryana kini tinggal di dalam kompleks balai, bersama puluhan staf lainnya. Kompleks ini sebenarnya tergolong sepi, jalanan sempit dan agak jauh dari poros jalan raya Galesong-Brombong-Makassar memberi kesan sunyi.

Pada beberapa titik di di sekitar kompleks terdapat beberapa hatchery atau pembibitan udang yang sudah tidak berfungsi lagi. Selain ini juga terdapat beberapa backyard atau hatchery skala rumah tangga yang juga mulai mati.

Tahun 90an, kawasan Kassi Lompo merupakan pemasok benur ke beberapa wilayah Sulawesi Selatan bahkan Sulawesi Tenggara namun sejak krisis penyakut udang, praktis banyak pengusaha hatchery yang gulung tikar.

Dari berbagai bincang dengan staf balai nampaknya, berbagai inisiatif budidaya sedang digalakkan, mereka sedang mengembangkan budidaya kerapu, rumput laut dan kepiting ini.

Apa yang dilakukan Suryana merupakan contoh yang baik, tentang pentingnya kreatifitas bagi peneliti perikanan atau kelautan untuk mencari alternatifpengembangan budidaya atau mata pencaharian alternatif saat komoditi utama seperti udang sedang dirundung masalah.

Melihat minat dan perhatiannya yang berdedikasi akan penelitiannya ini, Suryana adalah figur staf peneliti yang layak dicontoh, saat dimana para peneliti kelautan dan perikanan sedang paceklik ide.

Galesong 20/11/2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Pemberdayaan Masyarakat. Bookmark the permalink.

One Response to Bertemu Suryana, Peneliti Kepiting Asal Pinrang

  1. AM Zulkarnain says:

    Denun, mantap ini. Bisakah kami dapat info sejelasnya mengenai hatchery kepiting bakau????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s