Cerita Syawal dan Nasi Santan Khas Selayar

Matahari mulai menepi di barat daratan utama Selayar. Satu persatu penumpang bergegas mengatur barang bawaannya. Para pengemudi mulai bersiap di belakang setir. Tidak sampai lima belas menit lagi fery akan merapat ke pelabuhan Pamatata. Saat mendekati pintu fery, saya bertemu kawan lama, namanya Syawal.

Saya mengenalnya pada 10 tahun lalu di Kota Benteng Selayar kala masih bekerja di satu program rehabilitasi terumbu karang di Taka Bonerate. Syawal adalah lelaki di balik usaha ikan bakar dan nasi santan favorit di Kota Benteng.

Bicara tentang ciri khas Selayar, menu ini selalu jadi pilihan utama. Tidak pas rasanya, jika berkunjung ke Kota Benteng tanpa sempat mencicipinya.

Senja itu, Syawal yang mengenakan jaket coklat bercerita kalau usaha itu digelutinya sejak awal tahun 90an saat baru saja tamat SMA. Tapi ini bukan yang pertama dia menggelutinya secara tunggal. Usaha ini adalah rintisan kakeknya.

“Orang tua saya, bahkan kakek adalah pengelola usaha ikan bakar nasi santan di dalam kompleks pasar Benteng sedari dulu”. Kata Syawal.

Dari enam bersaudara, hanya dia yang gigih meneruskan usaha keluarganya. Kini tidak terasa dia telah mengelolanya dan mendekati 20 tahun. Usahanya itu sendiri berlokasi di timur pasar lama Kota Benteng atau sebelah barat Jalan Haiyyung yang dijejali pengusaha dan pertokoan a la Pecinan.

Menikmati Nasi Santan

Hari Kamis, tanggal 3 Desember 2009, saya berkunjung ke warungnya. Tempatnya terlihat baru. Seperti dahulu, bangku dan meja panjang masih menunggu di dalam ruangan. Di ruang tengah terdapat tungku bakar ikan. Terlihat, sabut kelapa membara dan besi panggangan yang terlihat rapat dengan bara api.

Di pintu terdapat berlapis-lapis karung beras berlogo bunga melati. “Ini persediaan beras asal Bantaeng” Katanya. Nasi santan Syawal adalah nasi santan yang dibuat dari beras khas asal Bantaeng atau Bulukumba. Beras yang jika dimasak dengan perasan kelapa tidak terlalu lembek. Darinya, godaan nasi hangat berminyak yang masih mengepul, ikan laut yang masih panas dan sambal berlumur kecap begitu menggoda.

“Banyak pelanggan yang menyukai nasi santan yang agak keras. Makanya kami harus memilih beras terbaik” tandasnya.

Sukardi Gosal, warga Benteng yang saat temui sedang makan menyebutkan bahwa kesukaannya pada warung Syawal adalah karena “nasi santannya”. Sudah hampir 20 tahun Sukardi menjadi langganan Syawal.

Selain itu, ciri khas dari warung nasi santan a la Selayar adalah cabe kecil asal lokal yang diramu dengan tomat sayur dan buah belimbing sebagai pelengkap ikan bakar seperti ikan kakap, layang, beronang atau bandeng. Ikan-ikan ini diperolehnya dari pasar yang dibawa oleh nelayan dari pulau Pasi di seberang Kota Benteng maupun dari desa-desa pesisir utama Selayar baik yang ditangkap dengan “sero” atau semacam perangkap laut dangkal, pukat maupun “bagang” atau lift net.

“Saat ini, pelanggan lebih banyak yang menyukai ikan layang sebagai menu unggulan” Kata Syawal. Namun demikian menurutnya, ikan bandeng, ikan beronang dan kakap kerap juga dipesan oleh pelanggan utamanya yang datang dari luar Selayar.

Warung ini buka pada pukul 08.00 hingga pukul 11.00 walau tidak jarang tutup pada pukul 10.00 saat ikan telah tandas di coldbox dan panggangan. Pagi itu saya hanya jumpai ikan bandeng dan belanak. Saya memilih ikan belanak.

Sebelum kedatangan ini, terakhir saya makan pada tahun 2002. Saat itu warungnya masih berlantai tanah dengan empat meja panjang yang dilengkapi oleh bangku panjang juga. Warung seluas 6 x 9 meter termasuk dapur dan tungku bakar merupakan tempat favorit pada orang-orang pasar dan pegawai pemerintahan.

Kesan pertama saat saya pertama kali masuk di warung Syawal (kira-kira tahun 1996) adalah suasana makan dengan “gaya bebas”, beberapa pengunjung terlihat “menaikkan satu kakinya” di bangku, pertanda kenikmatan. Kita juga akan di sodori gelas minum besar yang terbuat dari besi bermotif hijau tua.

Banyak pelanggan yang juga berinisiatif untuk membakar ikannya sendiri lalu mengambil sambal dan kecap secukupnya. Jika tidak puas dengan sambalnya, kita bisa menambahkan cabe kecil yang disiapkan di meja.

Yang khas dari menu ikan bakar ini adalah teknik dan bahan pembakarnya. Jika selama ini, banyak pengelola warung membakar ikan dengan batok atau tempurung kelapa maka Syawal lebih memilih membakar dengan sabut kelapa.

“Ada aroma yang berbeda dari bahan bakar seperti itu. Membakar dengan batok kelapa membuat ikan menjadi keras dan tidak nikmat” Kuncinya saat kami berpisah saat menuju Kota Benteng.

Selayar, 01/12/2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Kuliner-Kuliner. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s