Lima Jam Yang Mengasikkan di Perairan Jammeng

Tanggal 2 Desember 2009 di Cottage Matalalang, hari ke-4 kami di Selayar. Para peserta pelatihan fasilitator “membangun kemitraan” baru saja merampungkan diskusi tentang bentuk kegiatan yang dapat mengarah pada upaya membangun kemitraan dengan masyarakat.

Setelah itu, saya bersama Haji Ashar Karateng yang kerap kami panggil “kepala sekolah”, Ruslan Situju kawan dari Kendari dan Nurlinda dari Takalar mulai berkemas. Sore itu kami sepakat akan menjajal perairan Jammeng. Tujuannya satu: memancing !

Jammeng, satu kampung kecil di timur pulau Selayar yang hanya terdapat 30 unit rumah adalah juga kawasan eksotik unggulan Selayar karena memiliki potensi wisata air terjun. Bukan hanya itu, tidak jauh dari itu terdapat hamparan vegetasi pantai dan perairan yang menawan alamiah seperti terumbu karang, dan biota asosiasinya.

Kami berangkat dari cottage, pada pukul 17.15. Bersama sopir, kami bertujuh. Saya, Mastan dan Herman di belakang. Evi, Linda dan Ruslan di tengah sedangkan “kepala sekolah” duduk di depan. Siang sebelumnya, saya telah mempersiapkan dua rol tali dan 10 mata pancing setelah membelinya di Jalan Haiyyung, Kota Benteng.

Kami melewati beberapa kampung khas Selayar yang dicirikan oleh rimbunan bambu, pohon jati putih, kelapa, pohon mente dan banyak lagi. Sungai masih terlihat kering. Nama kampung itu (seperti yang saya amati dari berbagai plang desa) seperti Tana Bau, Patilereng hingga menyisir kampung Lembang Jaya, Reaiya, Melemang.

Kami tiba di ujung pantai timur pada pukul 17.44. Kami juga berpapasan dengan sepasang suami istri dan anak bayi yang digendongnya dengan muka raut wajah berpeluh. Rupanya rantai motor mereka putus dan terpaksa meletakkan begitu saja motornya di jalan dan memilih berjalan kaki. Si istri kemudian ikut dengan kami menuju Jammeng.

Kami terus menyusuri pesisir dan sampai di Jammeng pada pukul 18.13. Beragam pepohonan membatasi pantai dengan laut. Juga terlihat beberapa pohon bakau dan kayu lokal yang masih bertahan walau pada beberapa titik telah terjadi penebangan dan hasil pembakaran lahan.

Jammeng jadi mudah dikunjungi setelah Akib Patta, mantan bupati Selayar yang bersahaja itu menggagas jalan lingkar di pulau Selayar. Kami telah menikmatinya selama perjalanan. Jarak dari Benteng ke Jammeng berkisar 40 kilometer.

Suasana pukul 20.00 di Kampung Jammeng, yang masuk wilayah Desa Laiyolo, Kecamatan Bontosikuyu, Selayar, sepi. Setelah mengatur perahu tumpangan dan memastikan kru yang ikut kami mulai bersiap. Pancing dan segala kebutuhan di laut mulai di naikkan ke perahu satu persatu dengan mengggunakan sampan.

Kami akan menggunakan kapal bermesin milik kepala desa Laiyolo. Dan akan ditemani empat warga lokal. Setelah berdialog dengan warga lokal kami disarankan untuk memancing di tanjung kecil di selatan kampung. Akhirnya kami start pukul 20.00.

Misi Dimulai

Dari atas perahu, perbukitan Selayar terlihat bagai bayangan kelinci raksasa yang sedang istirahat. Saat itu, kami baru saja lepas dari pantai. Di atas bukit, awan putih menggantung tebal. Jolor (perahu bermotor) berbobot sekitar 2 ton yang kami tumpangi bergerak bagai lokomotif di atas permukaan laut. Asap dan bunyi mesin dalam memekakkan telinga. Kami sedang bergerak menuju tanjung di selatan kampung.

Perahu melaju dengan kencang. Dua mesin dalam sedang bekerja. Walau angin terasa kencang di kampung namun suasana perjalanan kami terasa mengasikkan. Pantai timur terasa tenang. 11 orang sedang menunggu saatnya buang jangkar.

Saat perahu bergerak, saya memilih duduk di palka jolor bersama Herman dan dua orang kru. Linda dan Evi duduk di atas dek ditemani Mastan. Pak Haji Ashar dan Ruslan sedang bersandar pada palang antara di atas kamar mesin.

“Saya akan memancing dari sini saja” Batinku sebelum jolor buang jangkar. Sebelumnya, saya dan Ruslan sempat berpikir untuk tidak ikut rombongan ini ke laut, kami akan menunggu saja di darat bersama sopir kami. Tapi, setelah melihat cuaca yang berangsur membaik kami putuskan untuk ikut. Saya pun naik ke sampan untuk di antar hingga ke jolor.

Penuh Persiapan

Rombongan kami terlihat lengkap. Saya membawa dua rol tali dan 10 mata pancing, Herman juga demikian. Haji Ashar siap dengan pancingnya yang terlihat modern penuh asesoris. Ruslan dan Evi juga demikian. Mastan seperti janjinya hanya akan mengurusi logistik demikian juga Linda. Mereka telah mempersiapkan nasi bungkus, kecap, sambal, berbagai cemilan dan minuman instan. Tidak lupa juga es batu dan umpan dari ikan tongkol kecil. Rombongan kami mempersiapkan misi ini nyaris sempurna.

Saat perahu mulai buang jangkar pada kedalaman sekitar 20 meter, saya memilih tempat di haluan kiri perahu ditemani Herman, salah seorang peserta pelatihan fasilitator yang kami fasilitasi di Cottage Matalalang. Herman pulalah yang menyiapkan gulungan pancing saya yang kemudian dikerjakan oleh salah seorang dari warga setempat tersebut. Mata pancing yang dipasang hanya dua dengan ukuran mata 12. Kami sampai di lokasi setelah menghabiskan waktu hampir sejam. Arus sepertinya mengarah ke timur laut.

Ruslan memilih duduk di bagian belakang tepat di atas mesin. Di sampingnya, Pak Ashar duduk santai di atas palang antara di kedua sisi jolor. Dia terlihat rileks.Tangan kiri memegang pancing dan tangan kanan sesekai mengisap rokoknya. Ruslan juga demikian walau dia lebih memilih duduk bersandar pada tiang tengah.

Kami mulai membuang satu persatu mata pancing, formasi kami di atas jolor adalah sebagai berikut: Ruslan dan Haji Ashar di belakang, berdua berseberangan di atas kamar mesin. Haji Ashar sesekali duduk di atas balok penyangga dan memainkan pancingnya dengan tangan kiri, tangan kanan mengisap sigaret. Terlihat sangat menikmat momen ini. Evi di atas geladak mengarahkan pancingnya ke utara, sedangkan Herman dan saya berjejer di buritan menghadap selatan.

Linda dan Mastan, sedang menyiapkan banyak hal, mulai dari cemilan, nasi bungkus dan minuman ringan dan tentu saja mengumpulkan ikan. Yang pasti, kamera digital selalu di genggaman. Inilah benda paling berharga untuk mengabadikan siapa pemancing yang sukses meraup ikan malam itu.

Sempat Penasaran

Setelah kru jolor memeriksa dan memasang dua mata pancing serta pemberat timah saya pun melepas pancing yang telah dijejali irisan daging ikan tongkol sebagai umpan. Langit semakin terang. Cuaca semakin bersahabat. Pemandangan sangat indah malam itu. Saya termangu memandang bulan penuh yang mulai bergerak perlahan mendekati ke garis vertikal sementara tangan kanan tetap menarik tali pancing.

Tidak sampai sepuluh menit setelah Haji Ashar melepas pancingnya, dua ekor ikan kakap seukuran telapak tangan telah hinggap di geladak. Dia berteriak kegirangan. Berhasil. Pancing mulai berpesta. Saya melepas senyum yang lain ikut tertawa. Tidak lama setelah itu Herman di samping saya, menunjukkan gelagat sedang di dekati ikan. Hingga beberapa saat, di mata pancingnya kini tergantung ikan yang sangat besar kira-kira seukuran 30 centimeter. Saya terkagum-kagum. Perairan di sini rupanya dikaruniai ikan yang doyan mata pancing.

Setelah Herman, lalu Pak Ruslan walau ukurannya masih terlihat persis hasil tangkapan ikan Pak Haji. Setelah itu Herman lagi, lalu pak Haji, lalu pak Ruslan. Saya mulai gelisah. “Ah saya kan memang tidak terlalu berniat untuk memancing” Ada yang membela dari dalam.

Hingga hampir sejam di titik itu, yang lain telah mengumpulkan 50an ikan besar dan kecil, namun saya masih nihil. “Saya harus dapat, malu jika pulang tanpa hasil”. Hingga tiba-tiba tali di genggaman saya terasa berat seperti hendak mengiris telunjuk. “Wah ikankah?” Batinku.

Saya lalu menyentakkan tali pancing dan terasa semakin berat. Perlahan saya tarik lalu meletakkan gulungan tali di kaki dan mulai menarik perlahan namun tetap mengatus tali di genggaman. Setelah dibantu oleh salah seorang kru kapal akhirnya, seekor ikan kakap merah sepanjang 25 centimeter juga menggantung di mata pancing saya.

“Yippieeee…” Saya dapat! Teriakku pada yang lain, pada pak Ruslan, Haji dan semua yang ada di atas jolor. Ikan kakap merah lumayan besar (paling tidak membandingkannya dengan yang lain), ikan merah bermulut lebar. Suasana semakin pikuk ketika satu persatu kawan di atas perahu bergantian menarik pancing dengan ikan yang berontak.

Saya yang awalnya tidak berniat memancing lalu setelah mendapat seekor ikan kakap besar mulai menebar senyum. “Foto dong” kataku pada Linda dan Evi. Tidak afdol rasanya memancing ikan mendekati 3 kilo tanpa difoto. Puas rasanya, saat ada yang mematuk dan menarik tali pancing lalu berhasil kita eksekusi. Pada kedalaman sekitar 20 meter itu, tangan kami mesti lincah untuk menggulung atau mengulur tali pancing sebab jika tidak, pasti akan kusut.

Kelabakan

Perairan Jammeng, teduh dan datar sementara kami seperti sekumpulan penarik tali timba sumur. Tangan tak henti menarik pancing. Ruslan yang saat jeda selalu mengisap rokok pun kelabakan saat lagi mengisap kemudian ikan telah menggelantung di pancingnya. Sontak dia harus enyahkan rokok dan berjibaku dengan tali pancing.

Haji Ashar juga demikian, posisinya yang duduk santai di penyangga jolor seperti tak pernah usai menarik pancing modernnya. Mereka kelimpulangan. Rokok, isapan, pancing dan tarikannya telah menyatu, ikan telah menyatu di bak penampungan yang telah disiapkan di kapal.

Malam yang mendebarkan sekaligus mengasikkan. Saya yang sebenarnya tidak terlalu tertarik memancing mulai merasakan sensasinya. Sungguh nikmat saat ikan bermain dan mematuk umpan di ujung pancing.

Ikan telah terkumpul. Kawan-kawan telah menikmati sesi ini. Sebelumnya, salah seorang kru jolor telah ke darat untuk mengambil sabut kelapa sebagai bahan bakar. Di pantai terlihat lampu kedap kedip dan di sanalah dia mencari sabut. Tidak lama dia datang dengan sampan penuh sabut kelapa.

Saatnya membakar ikan pancingan. Kami akan makan malam di atas kapal. Ikan hasil pancingan!

Sekitar 20 menit kemudian, Linda mulai memanggil-manggil untuk segera bergegas ke dek jolor. “Sini maki, ikannya sudah dibakar”. Sambal dan kecap tersedia. Juga, nasi. Di atas jolor yang disinari rembulan, tanpa lampu mereka mulai mendekat untuk menikmati sajian malam itu. Saya masih berkutat di tempat saya. Tidak ada lagi ikan setelah ikan 2 kilo itu. “Tidak apa” kataku.

Seusai menikmati ikan kakap merah itu. Saya lepaskan pancing dengan umpan ikan tongkol kecil. Zwingggg…tiba-tiba saya merasakan tali pancing jadi ringan. Timah yang jadi pemberat tidak terasa lagi. “Aih ada ikan yang sambarki itu, pak” Kata Herman. Buktinya tali pancing putus sebelum sampai ke dasar.

Arus dan ombak yang sangat bersahabat membuat kami betah. Saat itu pula hasil pancingan kami telah dibakar oleh kru kapal, hingga satu persatu dari kami menuju dek dan menyantap ikan dengan lahap. Giliran pertama adalah “kepala sekolah”, lalu Linda, Ruslan dan Saya. Walau kelimpungan menarik tali pancing namun ikan yang lumayan banyak di bak penampungan membuat kami puas.

Linda seusai menikmati ikan bakar yang disodorkan kru kapal mulai mencari posisi nyaman. Kepalanya rebah di kardus gelas mineral dan mulai meluruskan badannya. Saatnya tidur. Evi masih betah dengan pancingnya.

Hampir dua jam kami menghabiskan waktu mancing di titik pertama. Pada sekitar 11.30 kami berpindah ke lokasi pemancingan kedua di utara lokasi sebelumnya. Formasi para pemancing masih sama sebelumnya hanya saja, kedalaman yang dipilih oleh pembawa jolor pada kedalaman hampir 30 meter. Saya mengukurnya dari tali pancing yang saya tera dari rentangan tangan.

Bismillah! Pak Haji mulai membentangkan pancingnya. Lima menit kemudian, seekor ikan kakap seukuran telapak tangan menggantung di ujung pancingnya. Saya juga melihat Evi berteriak girang saat seekor ikan menggantung di pancingnya.

Saat itu, saya masih bisa berteriak, dapatttt!!! Saat seekor ikan kakap mata besar meronta di ujung pancing. Hentakan pancing tidak begitu keras hingga saya menduga ikannya kecil. Benar saja, seekor ikan kakap mata besar menggeliat di ujung tali pancing.

Ikan segar di atas kapal, diayun arus dan ombak lemah membuat kami begitu terkesan. Saat waktu menunjukkan pukul 12.30 kami sepakat kembali ke darat dan sampai pukul 01.00am. Kami telah mencatat cerita petualangan di Jammeng, menembus pantai timur dan menjajal perairannya. Hampir lima jam kami menghabiskan waktu di atas jolor.

Hingga dinihari itu, kami putuskan kembali ke Benteng saat itu juga. Ya, kami putuskan melewati kembali jalur Jammeng yang berliku dan sempit. Kami juga sempat khawatir karena situasi jalan yang sempit dan licin. Hingga pukul 03.00 kami sampai di Benteng. Kami sungguh menikmati perjalanan ke Jammeng ini.

Ibarat ekspedisi kami telah mengalami dan melewati hal-hal menantang di Jammeng jauh. Besoknya, walau terasa mengantuk kami tetap bersemangat berbagi cerita dengan peserta pelatihan, tentang Jammeng dan sumberdaya yang tersedia di sana.

Saat kembali dari Jammeng, Saya menanyakan ke Haji, “berapa hasil pancinganta?”. “Bersama pak Ruslan kami peroleh 50 ekor”. “Ada beberapa yang kita berikan ke kru kapal, yang kita bawa pulang ke Benteng, sekitar 80 ekor”. Kata Mastan.

Bulan nampak condong ke barat. Laut terlihat tenang walau semakin meninggi. Perahu yang kami tumpangi langsung merapat ke bibir pantai. Pak Agustinus yang membawa kami rupanya sudah tertidur pulas. “Kita berangkat segera ke Benteng” Kataku saat membangunkannya. Kami melewati jarak 40 kilometer sebelum sampai di penginapan.

Besok malam kami sepakat menggelar jamuan nasi santan dan ikan bakar. Perjalanan menembus Jammeng di pantai timur Selayar lalu menjajal dengan memancing di perairannya adalah nikmat tak terkira. Kenikmatan dan kenangan yang mungkin tidak semua orang bisa merasakannya.

Benteng, 03/12/2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Lingkungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s