“Resort Jochen”, Potensi Lokal Di Tangan Ekspatriat

Tanggal 5 Desember 2009, tepat pukul 12.00 siang, pelatihan fasilitator “membangun kemitraan” yang digelar Pemkab Kabupaten Kepulauan Selayar di Cottage Matalalang “ditutup sementara” oleh Pak Musytari mewakili Kepala Bappeda. Bagaimanapun Ruslan, Linda dan saya sangat senang setelah membaca perkembangan peserta. Upaya kami memberikan pemahaman baru tentang, pentingnya membedakan fakta dan persepsi serta teknik membangun perkawanan dengan komunitas “tanpa proyek tanpa uang” telah dipraktekkan oleh 20 calon fasilitator masyarakat.

“Saatnya mengatur rencana baru”. Kataku pada Mastan. Jika beberapa hari sebelumnya, kami telah mengunjungi Pantai Jammeng di belahan timur, Gantarang Lalang Batang, suatu kampung yang dipercaya sebagai tempat pertama kalinya, Dato Ri Bandang bermukim saat mendakwahkan ajaran islam di bumi Sulawesi maka kali ini kami terima tawaran Ibu Ratna untuk berkunjung ke Resort Jochen.Lokasinya tepat di pantai timur pulau Selayar.

“Ke Resort Jochen saja. Nanti kami aturkan” ucapnya. Kami tentu senang saat ditawari ini, berkunjung ke resort yang dikelola seorang expat di daerah Appatanah. Appatanah adalah wilayah paling ujung di daratan utama pulau Selayar. Appatanahlah yang menyangga posisi Kota Benteng Selayar dengan Taman Nasional Laut Taka Bonerate yang kesohor itu.

Alasan kami memilih resort itu karena dialah yang paling lama bertahan dan konon merupakan resort yang paling ekslusif dan tidak semua orang bisa berkunjung karena ketatnya aturan di sana. Tapi, kali ini kami dapat “wild card” setelah kordinasi dengan kepala desa Appatanah melalui kawan di Bappeda Selayar.

Tepat pukul tiga siang kami sudah mengarah Appatanah. Setelah membeli beberapa makanan dan minuman ringan, rombongan kembali menyusuri jalan ke selatan, seperti saat menuju Jammeng beberapa hari lalu. Menyisir pantai barat Selayar kami melewati beberapa kampung pesisir yang eksotik. Kami melewati Tana Bau, Baloiya, Tile-Tile, Galung, Pariangan, Lebo’, Paggarangan, Tongke-Tongke. Di beberapa titik terdapat pantai pasir putih, pulau kapur yang menyerupai Tanah Lot di Bali. Kami juga melewati jejeran pohon kering, seperti hutan jati dan pohon jawa (tammate) yang terlihak eksotik.

“Mari kita berfoto dulu, pepohonan ini mengingatkan saya pada Denmark” kata Ruslan tentang pohon yang terlihat indah dan apik walau kerontang. Saya tentu senang dengan ajakan ini. Kamipun menikmati sesi pemotretan layaknya bintang dan fotografernya. Keren!

Hingga pukul 16.00 kami sampai di Appatanah dan dijemput oleh kepala dusun dan kepala desa. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit akhirnya, perahu tumpangan datang jua. Pukul 16.25 kami sudah di atas perahu kayu dan bersiap meninggalkan dermaga Appatanah. Bersama Mastan, Andre, Evi, Pak Ruslan, Linda ditemani pak kepala desa, kepada dusun dan dua kru kapal akhirnya kami bergerak ke resort itu.

Kami menyusuri tepi pantai yang dibatasi oleh tebing. Beberapa bagian nampak terjal dan hanya ditumbuhi vegetasi liar. Kami juga menyaksikan kapal kecil lalu lalang di antara Pulau Selayar dan Tambolongan di selatan.

Saat masih di kapal kami melihat empat orang di pantai sedang menyapu bibir pantai. Mereka adalah karyawan resort. Juga, speedboat putih yang sedang buang jangkar. Area di resort ini terlihat seperti cekungan atau teluk yang dibagi oleh dermaga beton beralas kayu.

Di ujung dermaga yang tenggelam di lengkapi tali yang terikat pada satu pelampung drum berwarna biru. “Sepertinya tempat untuk mulai melakukan penyelaman atau latihan fins swimming”.

Setelah menambatkan perahu dan berjalan menuju lokasi utama resort, kami disambut Faisal, seorang lelaki muda yang sudah enam tahun ikut menemai Jochen mengelola resort itu. Kami tidak bertemu Jochen, menurut Faisal dia sedang mengaso.

Kami sudah sampai di resort yang saat pertama dibuka mengundang banyak polemik dan sempat ditolak oleh warga. Namun hingga saat ini, setelah kurang lebih 10 tahun resort ini tetap bertahan.

Setelah melewati dermaga yang kokoh dan bersih, kami menuju satu bangunan yang sepertinya menjadi base camp, di sana terdapat 8 tabung scuba, selang regulator dan beberapa asesoris penyelamanan. Terdapat pula bak cuci alat di sebelah kiri bangunan. Beberapa pekerja sedang giat di satu bangunan baru, nampaknya seperti tempat mandi dengan tiga pintu.

Di sekeliling bangunan itu terdapat pepohonan pandan dengan akar yang bersih dan bersilangan. Pasir putih terlihat bersih. Beberapa pekerja sedang membersihkannya dengan sapu panjang.

Kami naik ke satu bangunan yang terlihat seperti lobby atau bar. Kursi antik dari jalinan rotan serta meja panjang ada di dalamnya. Ada juga beberapa meja kecil yang di atasnya menggantung lampu, semacam lampion. Tiang bangunannya dipernis coklat kehitaman dan terlihat antik. Di dalamnya ada peta lokasi penyelamanan (dive spot) dan papan pengumuman berbahasa Jerman. Tidak jauh dari ruang “bartender” terdapat lemari buku yang penuh dengan novel, buku ilmu pengetahuan dan berbagai bacaan ringan lainnya. Ada yang berbahasa Jerman adapula Inggris.

Di bagian atas area bangunan cottage, terdapat pepohonan yang rapat namun kering. Pepohonan alami telah menjadi latar bagi 8 cottage yang tersebar di sepanjang pantai yang di depannya terdapat pohon pandan dan pantai putih bersih. Fantastik!

Setelah hanya mengobrol dengan Faisal karena tidak sempat bertemu Jochen, saya ke kapal dan segera mengambil fins, mask dan snorkle. Saatnya fins swimming. Linda sedang diajari Evi bagaimana menggunakan mask, sedangkan saya dan Mastan menyusuri arah dermaga hingga tubir.

“Here we go…!” Sejak mulai dari bibir pantai saya sudah melihat pari kecil. Supprised! Lalu ke arah timur dan beberapa ikan kepe-kepe bergerak mendekati saya. Jumlahnya delapan ekor. Mengasikkan. Lalu ikan kakap, beronang, ikan pisau (naso), dan jenis pomacanthus. Walau dasarnya terdapat rubble (karang patah) namun daerah ini sudah padat ikan. Saya juga melihat ikan kerapu dan beberapa teripang teronggok begitu saja di dasar laut (walau berukuran kecil) di sisi batu karang jenis acropora (karang cabang) dan karang batu (stony coral).

Di ujung dermaga atau jarak 10 meter ke arah tubir, arus mulai menguat. Saya tidak mau berlama-lama lalu saya mengikuti tali yang terentang antara dermaga dan satu pelampung (semacam floating sign) untuk para penyelam. Suhu air sangat dingin dan tidak terasa matahari semakin mendekati puncak kelapa di Appatanah. Pertanda sebentar lagi senja.

Setelah adegan foto-foto indah di pantai, di dermaga dan saat snorkling, kami putuskan untuk melepas tali ikatan kapal. Saat itu satu speed boat dari arah utara melaju kencang. Saya melihat 3 orang expat sedang memerhatikan kami.

“Mereka datang dari Bira”. Kata Kepala Desa. Rupanya, Resort Jochen ini menerima wisatawan langsung dari Bira, Bulukumba. Dengan speedboat mereka dapat sampai ke Appatanah tidak sampai 3 jam.

Sampai jam 17.20 kami tinggalkan Resort Jochen. Tentu saja berdecak kagum. Ini hal paling indah yang saya nikmati, melihat cottage dengan vegetasi alami di sekitarnya. Pantai bersih dan sarana prasarana yang memudahkan kami untuk menikmati biota bawah laut.

Inilah kali pertama saya melihat lokasi wisata pantai yang sangat ekslusif, alami, indah dan tenang. Lokasi ini hanya beberapa jam perjalanan ke Taka Bonerate. Sayangnya, pamor Taka Bonerate kalah bersaing dengan tuah si Jochen. Sungguh menyenangkan menikmati penghujung musim timur di timur pulau Selayar.

Saya telah menjajal resort ekslusif di ujung selatan Selayar, satu kabupaten yang mestinya bisa bangun dengan memanfaatkan potensi pesisir dan lautnya. Dengan hanya merogoh kocek seratus ribu sebagai pengganti uang solar bagi kendaraan yang kami tumpangi. Menikmati pantai indah, berfoto riang, snorkling, dan menikmati ikan karang dengan bebas di tempat jauh hanya dengan bermodalkan seratus ribu rupiah. Indah bukan?

Namun demikian di mata pak Ruslan, kawan saya asal Kendari yang beberapa kali menikmati “surga dunia di Wakatobi” seperti di Pulau Hoga, memaknai Resort Jochen yang konon memperoleh konsesi dari salah satu lembaga pemerintah di Jakarta dengan sudut pandang lain.

“Mestinya keindahan seperti ini dapat menjadi awal bagi warga sekitar untuk memanfaatkannya juga. Bukan semata-mata sebagai penonton”. Jika warga sudah lama tinggal dan mengenal karakter pesisir dan laut dengan baik tentu mereka bisa menjadi tuan di rumah sendiri”. Jikapun telah ada izin khusus buat Jochen itu tidak berarti bahwa kegiatan serupa tidak bisa dilakukan oleh warga biasa”. Katanya.

“Di Pulau Hoga Wakatobi, warga setempat memperoleh manfaat karena mereka menjadi pekerja wisata, pemandu dan bahkan dapat menyewakan kamar penginapan untuk turis. Tentu saja dengan harga berbeda dengan resort Jochen” Katanya.

Kami akhirnya meninggalkan Pantai Appatanah yang sedang dibalut langit biru gelap dan merah marun. Potensi terumbu karang dan keindahan pantai di tangan ekspatriat itu terlihat menawan dan apik. Indah untuk dikunjungi. Senja telah menua dan kami kembali Ke Kota Benteng. Kami menyusuri jalan sempit yang cenderung menanjak dan beberapa kali dihadang burung hantu yang sedang mengibaskan sayapnya di tengah jalan.

Bira, 6 Desember 2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Desa-Desa. Bookmark the permalink.

One Response to “Resort Jochen”, Potensi Lokal Di Tangan Ekspatriat

  1. MUL says:

    Selalu menemukan pembelajaran baru, makna hidup dan ketekunan setiap menelusuri dan mencoba masuk dalam ‘pencarian’mu kawan.. ..Salam buat “Ustaz Gurutta”.. Kapan2 diskusi lagi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s