Warung Donald H. Dabbo, Menu Bebek Khas Pangkajene

Seperti biasa, untuk kesekian kalinya pada setiap kunjungan ke Pangkajene, malam gulita menyergap ibukota Kabupaten Sidrap. Setelah tidak sempat berjumpa Sekda Sidrap Andi Hasanuddin yang sedang di Makassar, Rezki rupanya telah mengatur rencana dengan teman seangkatannya di STPDN bernama Ilham yang sedang tugas pada satu kelurahan di Pangkejene. Makan malam di warung favorit.

Setelah melewati stadion Ganggawa, saya, Andi Ambaru dan Pak Harsani diarahkan ke satu warung yang walau di luarnya gelap namun di dalam lampu dari genset menerangi segenap penjuru ruangan. Ada billboard, “Warung Donald, H.Dabbo” dengan latar coca cola. Ukuran ruangan sekitar delapan kali sepuluh meter persegi.Sebelah kanan dari arah Stadion Ganggawa. Kami memilih meja sebelah utara selurus area pemanggangan bebek di depan.

Di meja, tersaji empat potong bebek goreng pada satu wadah dan empat bebek panggang di wadah yang lain. Bersama mereka ada sambal tumis dan irisan jeruk nipis. Inilah sekondan khas pada menu bebek khas Pangkajene. Sebanyak 54 kursi yang tersedia dalam ruangan dengan tujuh meja besar dan kecil sedang penuh. Walau asap menyeruak keluar masuk warung, namun malam itu pengunjung memadat. Semua kursi terisi.

Banyak pengunjung yang sepertinya datang dari jauh atau terlihat baru pulang dari kantor atau kegiatan bisnis. Berpakaian rapi. Di dalam ruangan terdapat dua poster Rusdi Masse di dinding utara dan selatan. Poster Rusdi, Bupati Sidrap yang lebih layak disebut “poster perkenalan” menghiasi dinding warung. “Rusdi Masse adalah pengusaha muda asal PT Tawakkal International yang peduli dengan kesejahteraan masyarakat Sidrap” Begitulah salah satu pesan dari poster itu.

Sekitar 10 menit kami menunggu, sup dan nasi akhirnya datang. Saya bersama pak Harsani memilih bebek panggang. Kami pindahkan ke satu wadah kecil yang telah ditaburi sambal pengiring. Disebut panggang karena tidak bersentuhan langsung dengan bara api. Ibu Ambaru memilih bebek goreng yang telah dibumbu. Rizki dan Ilham memilih bebek goreng. Melihat bumbu yang membungkus bebek gorengnya, terasa kenikmatan dan gurihnya.

“Dagingnya lembut, tak anyir” Ini yang saya rasakan. Tidak sebagaimana bebek yang jika dipanggang kerap berbau anyir dan beraroma aneh, kali ini terasa legit namun ringan. Dagingnya berwarna putih keabu-abuan. Irisan daging bebek lalu dicolekkan dengan bumbu semakin terasa nikmat. Aromanya khas. Empat bebek goreng dan panggang mendekati tandas. Saya hanya habiskan satu potong. Cukuplah. Ilham, juga memesan “pallekko”, yaitu semacam potongan daging bebek kecil-kecil dan ampela serta potongan leher bebek yang dibumbui cair.

Saya mencoba dua potong tapi terasa asin. Sepertinya “pallekko” agak asin karena dari beberapa kali mencobanya, kesan asin selalu membekas. Pada sebagian orang, pallekko merupakan menu khas Sidrap. Kami menikmati dengan suka cita menu bebek malam itu. Ditutup dengan teh botol dan mencuci tangan dengan air rendaman jeruk nipis, pagelaran malam itu ditutup senyum. Tentu saja karena dapat traktiran dari Ilham.

Saat keluar dari warung, saya sempatkan mewawancarai sang pemilik. Dialah Hajjah Dabbo. Wanita paruh baya berumur 43 tahun. “Setiap hari kami buka, pukul 04.00 dan tutup pukul 10,00. Malam jumat termasuk waktu yang ramai dan padat pengunjung. Saat itu jumlah bebek yang habis mendekati 200 ekor.” Katanya.

Biasanya banyak permintaan pada acara-acara pesta keluarga atau pengajian pada malam seperti itu. Hari ini berapa bebek yang dipotong? Kataku melanjutkan. “Hari disiapkan 110 ekor bebek dan mendekati habis”.Katanya. “Kemarin ada 120 ekor” sambungnya. “Bebek bebek yang kami sajikan hanya berusia empat-lima bulan saja. Bebek muda, itulah mengapa tidak kenyal atau keras” Katanya.

“Kami juga punya kandang bebek tidak jauh di samping warung ini” Katanya. Ada hampir tujuh ribuan bebek muda di sana” Katanya”. “Mauki pergi lihat?” Dia menawarkan kepada saya untuk melihat kandangnya malam itu. Dalam menjalankan usaha yang telah 12 tahun dikelolanya, Dabbo, dibantu oleh 12 karyawannya. Dabbo adalah juru panggang.

Ada beberapa karyawannya yang menyiapkan sup, menyiapkan bebek goreng dan melayani pelanggan. Sudah tidak terhitung lagi jumlah pengunjung, tokoh masyarakat atau artis yang datang ke warungnya sejak di buka pada tahun 1997. Para sahabat, satu lagi tempat yang layak dikunjungi jika ingin menikmati menu khas Kabupaten Sidrap adalah “Warung Donald H. Dabbo”. Walau sedang dirundung mati lampu malam itu, namun usaha kuliner bebek khas H. Dabbo tetap menggeliat.

Suatu usaha yang memanfaatkan keunggulan setempat, bebek!. Anda mau juga kan, menjajalnya?

Pangkajene, 17/12/2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Kuliner-Kuliner. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s