Fakta Yang Tak Menyadarkan Para Perencana

Udara pagi yang segar pada Jumat, 4 Desember 2009 di salah satu desa di utara kota Benteng, Selayar. Saya bersama Haji Ashar, Ruslan, Mastan dan Andhry menyusuri jalan utama salah satu dusun. Pagi itu satu persatu kendaraan melintas di jalan yang tidak terlalu luas.

Kami singgah di rumah kepala dusun, rumah yang asri dengan tanaman mangga yang berbuah lebat. Di samping rumah terdapat kamar mandi dengan dua bilik serta toilet berdiri, sepertinya masih baru. Konon, ini adalah bantuan salah satu proyek pembangunan penataan perkotaan.

Air mengalir dengan lancar karena ada pipanisasi mata air dengan sistem gravitasi. Pipa dan kran, juga tepat di depan rumah sang kepala dusun. Pipa seperti urat yang membentang di sisi jalan. Toilet dengan suplai air yang lancar sepertinya menjadi tontonan sekaligus kenikmatan bagi si penghuni rumah, juga kami yang sedang berkunjung. Toilet atau bangunan MCK sepertinya satu paket bantuan tahun 2008.

Setelah dari rumah pak dusun, kami menyisir ke arah timur. Di kiri terdapat sekolah dan pemukiman warga yang tertata rapi. Sekolah sedang ramai. Para guru sedang sedang berkumpul di bangunan dekat pagar. Kami melintas memandang ke kiri dan kanan. Terlihat lorong kecil yang di kiri kanannya rimbun oleh pohon bambu.

Kami mengamati satu persatu titik di sekitar sungai di selatan kampung. Walau terlihat lebar dengan vegetasi yang beragam, sungai ini terlihat dangkal bahkan mendekati kering.

Di sebelah kanan, agak di ketinggian terdapat dua kamar bangunan MCK, mandi cuci kakus bertanggal selesai dibangun 31 Agustus 2005, dengan biaya Rp. 9,276,000,- . yang di sisi timurnya terdapat sumur yang diatapi seng yang mengeropos. Bangunan ini terlihat kosong, tanpa aktifitas.

Yang membuat kami kemudian saling berbisik, adalah tidak jauh dari bangunan ini, terdapat dua tempat semacam bilik dari daun rumbia yang setengah terbuka, dan salah satunya sedang diisi oleh seorang lelaki yang mandi nyaris telanjang. Kami melihat dari jarak 50 meter, sementara tempat yang satunya tidak terisi.

Mengapa mereka tidak mandi di bangunan bernilai 9 juta lebih sebelumnya?

Sebenarnya, sungai yang kini terlihat mengering ini sangat hijau. Rerimbunan pohon bambu menutupi sempadan, batu kerakal dan batu gunung besar bermunculan dari dasar sungai. Air mengalir kecil di tengah sungai. Dari sinilah warga memanfaakannya untuk MCK, dan mereka tak perlu memanfaatkan bangunan MCK yang telah dibangunan atas swadaya masyarakat dan bantuan pemerintah.

Seraya menyimpan pertanyaan itu di kepala, kami kemudian menyusuri wilayah ini ke timur dan tidak jauh dari tempat sebelumnya, kami menyaksikan dua fakta penting lagi. Dua orang wanita,yang satu berbaju kotak-kotak mengenakan handuk sedang mengucek kain, dan yang satunya berbaju pink sedang mencuci ikan di satu titik belokan batang sungai yang masih di aliri air.

Tidak jauh dari itu kami juga mendapati satu bangunan seperti di tempat pertama yaitu sumur dan kamar mandi yang sudah tidak berfungsi lagi. Sepertinya sudah berumur lebih sepuluh tahun. Tidak ada kalau ini berfungsi.

Mengapa warga masih menggunakan sungai sebagai tempat cuci kain dan membersihkan ikan? Sementara pipa air telah ada, sementara bangunan bantuan donor telah tersedia. Mengapa bangunan MCK tidak ada yang merawat? Mengapa mesti buat bangunan baru? Apakah air telah semakin sulit? Apakah mereka tidak butuh bangunan MCK sehingga harus membuat bilik mandi baru yang terbuka? Walau daerah aurat kelihatan saat buang air dan mandi?

Pertanyaan ini yang mengemuka saat kami meninggalkan kawasan ini. Pembangunan yang oleh sebagian orang menyebutnya suatu tindakan memenuhi kebutuhan kesehatan dan sanitasi warga melalui para perencana padahal warga tidak mempergunakannya sebagai mana mestinya. Padahal, alokasi dana dan tenaga telah disiapkan sedemikian rupa atas nama pembangunan itu.

Lalu mengapa pula warga masih tidak mau mandi di dalam bangunan seperti tempat MCK ini?
Yang kita tahu bahwa, warga telah ada dan bertahan di kawasan ini. Mungkin dahulu mereka hanya memanfaatkan alur sungia untuk buang hajat atau bahkan mengambil air minum. Mereka tak perlu diiming-imingi bantuan atau ajakan untuk “dilokalisasi” untuk membuang hajat. Mereka terbiasa mandi dengan mengguyur dirinya air sungai.

Kelak, mungkin fenomena seperti di atas akan menjadi dilema, saat banyak warga yang datang dan kampung itu semakin bertambah penduduknya, kebutuhan akan air semakin meningkat dan mungkin mereka akan terusik saat ada orang datang dan memergoki mereka sedang buang air di sungai. Tapi siapa peduli?

Toh ini sungai mereka. Sungai yang telah ada sebelum mereka lahir dan dari sinilah mereka bertahan dari tahun ke tahun. Debit air yang semakin berkurang, sepertinya menjadi hal menarik untuk dibincangkan oleh para perencana dengan warga.

Ironi Kakus

Bagi kami, tentu, fakta MCK atau mandi, cuci, kakus yang terlihat di atas adalah ironi, ironi pembangunan, saat dimana alokasi anggaran atas nama pembangunan, dana dan tenaga dimobilisasi, namun warga tidak mempergunakannya sebagaimana mestinya. Lalu siapa yang butuh pembangunan fasilitasi MCK itu?

Kenapa pula gagasan membangun fasilitas publik tanpa henti bermunculan sementara mereka telah menunjukkan bahwa mereka tidak butuh? Perencana itu mestinya paham bahwa jauh sebelum membangun fasilitas MCK itu, warga telah menikmati manfaat sungai, salah satunya tempat buat hajat.

Pastinya, berbagai input bagi pembangunan bangunan MCK merupakan buah kerja pada perencana. Jika mereka perhatikan fakta-fakta yang mendahului pembangunan itu mestinya, mereka tidak meneruskan bangunan itu.

Atau, paling tidak mereka harus melihat fakta-fakta tersebut sebagai bagian dari membangun dugaan atau issu yang sedang dihadapi oleh warga setempat. Jikapun mereka membaca fakta mestinya mereka harus paham, siapa sesungguhnya yang punya ketergantungan pada bantaran sungai.

Apakah penting untuk membangun dulu kesepahaman dengan warga sebelum menawarkan sesuatu? Supaya proyek tidak mubazir? Atau semacam kemitraan sebelum menawarkan rumusan issu yang menjadi pilihan mereka bersama? Atau jangan-jangan MCK bukan jawaban atas fakta dan issu yang sedang mereka hadapi?

Makassar, 23/12/2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Desa-Desa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s