Dua Jam Bersama Maria Hartiningsih, Menyelidik A La Jurnalisme Warga

Bersama Maria Hartiningsih (Makassar, 2009)

Walau terlambat, hari ini saya membaca satu catatan Maria Hartiningsih di Harian Kompas tentang film Perancis berjudul “Lourdes” satu cerita perjalanan menziarahi diri. Film oleh sutradara Jessica Hausner tentang pergulatan batin manusia yang paradoks yang memotret ketakutan seseorang akan kesepian, penderitaan, kemarahan dalam persenyawaan dengan harapan (Kompas, 3 Januari 2010).

Maria mengingatkan kita tentang sifat ilahi, penerimaan atas takdir dan pentingnya untuk berpijak pada dua aras, antara fisik dan non fisik. Tapi, apapun yang mendahuluinya merupakan hal pokok yang harus diterima oleh setiap individu. Dia mencontohkan tentang cacat fisik dan kesempurnaan (normal) sebagai dua hal yang mesti dipahami sebagai ‘pesan’ yang harus diterima.

Membaca catatan Maria itu saya lalu tergerak untuk menceritakan kembali apa yang diceritakannya saat kami berjumpa dalam satu sesi dialog akhir tahun 2009 tentang bagaimana seharusnya spirit jurnalisme diperjuangkan.

****

Tanggal 13 Desember 2009

merupakan momen tak biasa bagi saya karena dapat berkenalan dan terlibat dalam bincang akhir pekan bersama Maria Hartiningsih, salah seorang jurnalis kawakan dan selalu bernas dalam menorehkan gagasan dan analisisnya melalui beragam pisau bedahnya di Harian Kompas. Saya ikut setelah disms oleh Lily Y. Farid, tentang rencana diskusi di ruang meeting kantor Bakti, jalan Dr. Soetomo Makassar.

Namanya juga dialog akhir tahun, tentu banyak hal dibincangkan dan sedapat mungkin saya catat dari topik atau pokoh bahasan yang diberondongkan oleh

Maria saat itu. Tidak semua dapat saya catat, tapi intinya Maria ingin kita paham fakta-fakta di tengah masyarakat dengan melakukan pengecekan, berkunjung ke warga dan menuliskan fakta yang dirasakan, dipikirkan, diterima dan dihadapi oleh warga. Seorang jurnalis harus peka sekitar dan mesti mahir menggunakan pisau bedahnya. Begitulah kira-kira pesannya.

Pukul 15.30, saat saya sampai di ruang pertemuan, Lily Farid telah menemani Maria di depan. Maria mengenakan baju t-shirt hitam sederhana dengan celana panjang biru denim. Di barisan peserta terlihat Ida Gozal, Kiko

Ngantung, Suzanna Gozal, Luna Vidya, Anzhu Rahim, dan beberapa kawan jurnallis Makassar. Tidak kurang 15 peserta dalam ruangan itu. Saya terlambat. Pemaparan Maria telah sebegitu jauh saat saya datang.

Topik pertama yang saya catat adalah pandangan Maria tentang posisi media

mainstream yang telah merampok begitu banyak ruang informasi bagi publik, seliweran berita dan pesan pada audiens yang sedemikian rakusnya merampas berita-berita warga, tentang kemiskian, penyakit dan belitan hidup.

Menurut Maria, prinsip yang juga telah diterabas oleh kebanyakan media mainstream seperti televisi yang selalu menyebut dirinya sebagai televise atau kran demokrasi – politik, saluran pemilu dan seterusnya adalah “prinsip

cover both sides” yang kebablasan. Terhadap satu hal, kerap kali mereka mempertemukan dua pihak yang bertentangan di layar televisi (katakanlah seperti ihwal pemilu yang dicurigai tidak jujur) yang dihadirkan malah justeru partai politik tertuduh dengan seorang pengamat politik yang tidak jelas pemihakannya. Mereka bertengkar demi memperebutkan rating belaka.

Selama ini hal-hal seperti itu kelihatannya sangat partisipatif dan demokratis tetapi sesungguhnya, yang muncul adalah dua pihak yang telah dimanjakan oleh media mainstream. Yang perlu diapresiasi menurut Maria sebenarnya,

apa yang dilakukan oleh pihak yang mendorong berkembangnya jurnalisme warga. Yaitu suatu mediasi bagi munculnya sikap kritis dan corong bagi rakyat bawah atau grass root untuk menunjukkan keadaannya, ketaksukaannya, kebenciannya pada apa yang terkait dengan kehidupan mereka, bahkan terhadap rezim.

Menjamurnya blog, komunitas, perkumpulan jurnalisme warga merupakan

hal positif bagi Maria. Sekarang, provider internet untuk kita bisa manfaatkan dalam menyampaikan pesan telah tersedia dengan luas, mau yang gratis maupun yang berbayar. Tinggal pilih. Semuanya menawarkan kemudahan dan relatif minim hambatan teknis. Mau tidak, kita menggunakannya sebagai penyampai pesan sosial?

“Namun demikian, tetap penting untuk memperjelas ke luar bahwa posisi kita jelas. Dimana sesungguhnya kita berdiri, itu yang penting” Katanya. Kita dapat mendengar berbagai berita kemajuan pembangunan namun kita juga

harus selalu menyelidik fakta-fakta di komunitas. Benarkah sudah seperti itu? Jurnalisme warga, sesungguhnya dapat berdiri pada bagaimana menggerakkan hak-hak warga. Tentang aspek kesetaraan gender, kesehatan, pendidikan dan segala yang terkait dengan pembelaan pada hak-hak dasar.

Banyak contoh bahwa selama ini, “gender based violence” itu merebak dan harus ditentang. Bagaimana ranah politik dikuasai oleh kaum lelaki dan nyaris tidak menghargai eksistensi perempuan untuk muncul. Menurut Maria, selalu saja ada yang menyebabkan kekerasan pada perempuan menjadi lebih sering terjadi. Ini terkait dengan beberapa istilah, “sub altern, post colonialization hingga dehumanisasi” semacam pembungkaman suara oleh pihak yang berkuasa secara politik hingga mengabaikan sisi kemanusiaan.

“Kelas” tidak pernah dipertimbangkan dalam upaya mencapai keseimbangan politik, maksudnya, kerap kali ada subordinasi sosial dan jenis kelamin, saat kita membahas kepentingan bersama. Lily Y. Farid saat mendengar Maria

menjelaskan bagaimana tentang fakta dan situasi yang membelit kepentingan wanita, berujar, “jika demikain bagi dong, share dong bagi kita semua”.

Maria bercerita tentang pentingnya memahami “parachute style” yaitu bagaimana ihwal membuka tali parasut saat dalam pendaratan. Seorang

jurnalis harus betul-betul membuka pikirannya, prinsip dan pemihakannya supaya dapat mendarat dengan baik di tengah-tengah warga. JIka kita tidak menerapkan prinsip itu tentu kita akan kesulitan, atau bahkan mati konyol.

Berbagai kasus terkait Mei 1998 dan 1965 merupakan hal pokok yang dapat mengarahkan kita pada fakta-fakta yang dapat digali sebagai “bahan cerita”.

Banyak hal yang bersinggungan dengan korban, seperti tragedi Lampung, Tanjung Priok merupakan kawah tersendiri untuk melihat berbagai fenomena dan bahkan penderitaan warga menjadi menarik untuk diceritakan supaya orang tahu dan paham situasi sesungguhnya.

Bagaimana dengan orang-orang yang kehilangan anak? Bagaimana dengan wanita yang diperkosa, bagaimana dengan peran aparat Negara yang

membunuh atau melukai rakyatnya? Apakah pelakunya atau bahkan organisasi pemerintah yang berperan dalam pembunuhan dapat dimaafkan?

Adalah penting untuk memaafkan tapi jangan melupakan. Untuk mengingatkan orang, berbagai aspek terkait dengan peristiwa penting itu dapat digali dan dielaborasi.

Bukan hanya itu, kita juga dapat menulis hal-hal “sepele” seperti ihwal “cacingan”. Kaitannya dengan anemia dan sebagainya. Namun itu tidak sesederhana yang kita pikirkan karena tantangannya begitu beragam. Apa yang mesti ditempuh adalah menumbuhkan kepekaan, dengan menelisik, mengobservasi, atau mengasah pisau analisis kita akan suatu hal.

Miskin adalah gambaran atau penilaian yang terkait dengan ketersediaan uang dan bisa jadi kurangnya pengetahuan. Hal-hal seperti ini menjadi menarik untuk dianalisis dan dibedah dan merupakan hal pokok untuk dijadikan focus. Sayangnya, selama ini banyak jurnalis memiliki pisau bedah tetapi jarang digunakan, alias tumpul.

Maria adalah jurnalis yang banyak mencari, dia bisa ditemui di berbagi

pelosok dan mempunyai strategi untuk melukiskan dan mengurai setiap issu atau fenomena yang menjadi ketertarikannya. Suatu ketika dia mendapati warga yang terkena penyakit di rumah sakit, yang dilakukannya adalah mengecek ke kampung sang korban untuk melihat fakta sesungguhnya.

Hal lain yang juga menarik dibahas adalah tentang sifat pembangunan, “the nature of development” Sebagai jurnalis kita mesti mengisi gap-gap yang tidak terekspos supaya orang tahu apa sesungguhnya yang terjadi. Tentu

dengan pendekatan yang baik, efisien dan praktis. Cobalah menulis sesuatu yang padat dan tepat sasaran.

Pada World Social Forum, 2004 di Mumbai, India, Maria pernah terpukau pada satu lembaran berita tentang satu kegiatan, semacam featuring news, yang diramu dengan singkat, padat dan komunikatif. Pesannya tersampaikan. Apa yang ingin disampaikan Maria adalah pentingnya menulis dengan bobot dan penekanan yang ringkas dan tepat sasaran.

Banyak hal yang dibahas dalam dialog ini mulai dari ihwal observasinya pada wabah penyakit pada satu daerah di Mataram, kehidupan di Pulau Seribu, ihwal Tom Beanal di Papua, ihwal gas emisi, hutan di Kalimantan Timur, hingga Pertemuan Copenhagen dan Protocol Kyoto.

Banyak hal yang telah disampaikannya tentang hal yang dapat dilakukan oleh seorang jurnalis. Tapi, intinya, “standing point” harus jelas, sebagai seorang wartawan atau jurnalis kita mesti punya titik pijak, tentang pembelaaan atas hak-hak dasar warga, dan selalu menjaga kedekatan kita dengan warga untuk bisa berbagi. Sebagai jurnalis kita mesti mencari fakta dan menyelidik.

Pukul 17.30 saya, tinggalkan kantor Bakti, dan kawan-kawan yang sedang menunggu pementasan Luna Vidya dua jam berikutnya tapi tentu, saya tak lupa berfoto bareng dengan Maria Hartiningih, supaya afdol.

Makassar, 10 Januari 2010

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Refleksi. Bookmark the permalink.

2 Responses to Dua Jam Bersama Maria Hartiningsih, Menyelidik A La Jurnalisme Warga

  1. M.Ridwan T says:

    Saya tidak begitu mengenal Maria H atau konsep-konsep dari jurnalisme yang di paparkan di atas. Tapi menurut hemat saya media alternatif adalah jalan terbaik untuk menerabas segala hal yang mengahalangi kita menuju kehidupan yang lebih baik. Ambillah contoh media internet, sudah banyak peran dan andilnya tapi hanya untuk orang terpelajar, kantoran atau bahkan menengah ke atas. Sudah saatnya untuk menjalankan “Internet illiterate” agar supaya orang-orang miskin/grass root dapat mengakses internet. Jadi penyampaian berita tidak melulu oleh media mainstream, bahkan issue yang paling sensitif-pun bisa diketahui oleh para kaum grass root.
    Terakhir, thanks a lot for you Dg. Nuntung. I like reading your article tough not in the mainstream media but I can find it in The Net. Once again thanks any way. Keep on writing.
    Iwan

  2. reefberry says:

    Pak Iwan, thanks a bunch! sy kira Maria adalah salah satu jurnalis Indonesia yang konsisten, sederahana dan layak ditiru oleh kita semua, tentang betapa pentingnya membaca fakta, sosialita sekitar…

    thanks again, bro!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s