Jembatan Kokoh Menuju Dusun Jempang

Laksana mengisahkan pelayaran dari hilir yang hendak mencapai bentangan cakrawala laut lepas di muara, perkenankan saya mengisahkan Galesong, sebuah titik kecil di pesisir pantai selatan Sulsel.

****

Di setiap perjalanan menyusuri ratusan desa di tanah air, selalu saja kenangan Galesong memanggil-manggil. Bagi saya, lanskap pedesaan selalu menarik untuk disingkap. Selain menawarkan kemungkinan ragam situasi historis dan faktual, dia juga bercerita tentang seberapa kukuh atau elastisnya identitas desa bertahan dari modernisasi.

Di satu sisi, dia liat pada kurun waktu tertentu, sesuai dengan daya tahannya. Tapi kerap ia takluk, tradisi bertahan dengan napas tersengal, banyak hal tinggal kenangan.

Di sini, kupasan tentang faktor dalam dan luar masyarakat menjadi sangat penting, yang tentu dalam penyajiannya harus diperkuat dengan informasi, data, cakupan nilai-nilai sosial dan pola penguasaan atas sumberdaya yang tersedia. Sebagai bagian dari lanskap itu, saya memberanikan diri untuk mengumpulkan remah pengalaman dan membingkainya dalam perspektif orang biasa yang tentu saja jauh dari metode saintifik.

Pelayaran kenangan, harapan dan juga kecemasan saya ini seperti mewakili upaya desa yang mencoba bertahan, melepaskan diri dari sesaknya pembangunan dan balutan akar tunggang pepohonan. Desa yang bersikeras setia pada lekuk dan aliran sungai yang menghidupinya selama ratusan tahun dan tak hendak takluk begitu saja pada kanal-kanal ciptaan manusia.

****

Di dalam catatan kenangan, aliran waktu bergerak mundur disertai semacam konfirmasi tentang dampak pembangunan dan modernisasi di tanah kelahiran saya. Sementara di dalam analisa –yang meski serba terbatas– namun dipenuhi rasa was-was, saya menyaksikan waktu seperti melesat jauh ke depan meninggalkan saya yang berpijak di kekinian sembari bertanya: apakah kelak Galesong akan berubah menjadi kota yang riuh, beberapa puluh tahun mendatang?

Sederhana sekali catatan ini. Semacam selayang pandang. Gagasan tulisan ini bersumber dari dinamika kampung kecil bernama Jempang, yang empat puluh tahun terakhir mengajarkan banyak hal pada saya. Kampung kelahiran yang dibelah dan disisipi satu sungai kecil yang dilintasi jembatan yang kecil tapi kokoh.

Sungai yang menjadi saksi sejarahnya sendiri dan jembatan yang senantiasa tampak gagah perkasa, yang menjadi tempat perlintasan saya saat pergi dan pulang ke kampung, pergi dan pulang menjenguk kenangan dan meraba-raba rasa cemas akan perubahan besar yang mungkin menghadang.

Sungai itu kami sebut kaloro. Ia memendam cerita, dari dasarnya yang mengering hingga ruapnya yang kerap menguapkan asa para petani dan peladang pada setiap musim tanam.

****

Kampung Jempang adalah pusat perlintasan catatan ini. Jempang berarti menutup.

Disebut demikian karena menurut para tetua, jalur di sekitar kampung merupakan tempat para pejuang menahan laju pergerakan pasukan Belanda yang merangsek dari arah pantai. Kampung Jempang berjarak tiga ratusan meter dari kompleks raja-raja Galesong atau balla lompoa, rumah kediaman keturunan Raja Galesong yang terkenal itu.

Ia dikelilingi liukan pepohonan rindang. Saya ingat persis, di belakang rumah kami, rumpun bambu begitu lebat. Di beberapa sisi kampung masih dijumpai bambu apung. Bambu yang digunakan nelayan untuk membuat sayap perahu, perahu bercadik, balolang. Juga, pohon kapuk raksasa, batang pinang yang menjulang, pohon siwalan (tala), alur sungai yang dalam dan berlekuk menuju Selat Makassar. Sungai itu membelah beberapa daerah di Galesong, bermula dari induk sungai yang berasal dari daerah Bajeng di timur.

Dari wilayah itu, sungai melewati Dusun Mario, Desa Parammata, kecamatan Galesong Selatan kemudian mengalir ke Dusun Tama’la’lang menuju Kampung Jempang, Galesong Kota hingga Kampung Bayowa. Nama yang terakhir ini adalah kampung tepi pantai di mana para kesatria dahulu kala menimba air di sumur tua (bungung barania), bekal pelayaran sebelum mengarungi samudra.

Dari tanah yang penuh berkah itu, warga menjaga ritme hidupnya dengan menanam kacang tanah, kacang hijau, kedelai, wijen (orang Makassar menyebutnya langnga), menghampar di kebun belakang kampung. Di pekarangan rumah panggung, jejeran tanaman sayuran, seperti sawi, kangkung, terong menunggu waktu panen. Juga di halaman belakang, beberapa kandang ternak masih lazim dijumpai. Bau kotoran dan lalat-lalat raksasa berdansa di sana. Warga akrab dengan lumpur kandang. Ternak dijaga, dirawat dan digembalakan.

Sungai adalah tempat yang paling disenangi para gembala dan ternaknya.

Inilah tempat kami bermain, berenang sekaligus mencari kepiting dengan jebakan bernama rakkang-rakkang, menangkap ikan sungai dari mujair hingga jenis ikan muara seperti belanak. Mencari buah pohon bakau yang asam rasanya, licin bentuknya, polos dengan kelopak menyerupai buah naga, yang runcing.

Inilah tempat kami, para kanak-kanak yang bersedih ketika pancing dan jebakan harus dikalahkan para pencari ikan yang menggunakan strom aki yang perkasa dan rakus.

Sungai tempat di mana Daeng-Daeng pekerja perahu menata papan, mengukur kayu balok untuk ruas badan perahu, mengetam dan menyatukan rangka dan lunas. Sungai dari Tambakola yang juga membelah jantung Kota Galesong ini, mulai disesaki oleh aktivitas pelayaran dan perikanan. Ia meliuk, melewati punggung bekas bioskop yang memanfaatkan bangunan koperasi KUD Batara di Barat pasar Galesong hingga ke muara yang dijejali perahu-perahu nelayan yang tergolek, mengeringkan badannya.

****

Ternak-ternak harus menyingkir ketika jalan raya mulai dikeraskan dengan kerakal. Kaki mereka tak terbiasa memijak jalan baru yang lebih rata. Program INPRES tahun 1976-1977 yang membangun jembatan seperti di Tambakola dan Mario mulai membuka jalur tranportasi menjadi lebih lancar.

Jalan yang keras berbatu itu memang bukan untuk ternak kampung. Jika biasanya hewan itu dihalau di sepanjang jalan raya, maka setelah deru pembangunan bertalu, mereka harus menyingkir ke lorong kampung, melewati jalur sungai ke perkampungan warga.

Tapi warga menyebut lorong itu sebagai agang lompoa atau jalan besar. Tempat di mana warga menghabiskan waktunya berlama-lama sebelum adanya jamban leher bebek. Jalan dari sisi sungai menuju permukiman itu juga adalah jalur ternak-ternak sebelum masuk ke kubangannya yang oleh warga disebut bara. Ya, bara tedong atau kandang kerbau.

Saban pagi ternak dihela dari bara dan digembalakan setelah sebelumnya harus dimandikan di sungai.

Saya pikir, bara tedong Daeng Lalli adalah bara terakhir di kampung kami.

Kebiasaan sekaligus kekayaan masa lalu yang berangsur-angsur tak lagi terendus.

Warga kehilangan ternak,
anak-anak kehilangan status gembala
untuk kebutuhan kebutuhan daging,
pusing tujuh keliling

“Kira-kira tahun 1983, karena saat itu saya menikah dengan Daeng Buang. Sudah 26 tahun mi,” Kata Rohani, menantu Daeng Lalli. Menikah di saat umurnya 15 tahun, kelas dua SMP. Rohani warga Tambakola yang menikah dengan Daeng Buang, petani sawah yang kemudian jadi nelayan ikan terbang.

Kampung kami, dicerminkan oleh dua komunitas, yaitu warga Jempang dan Tambakola. Keduanya dipisahkan oleh Sungai Tambakola. Kekerabatan dan kehidupan sosial begitu apik. Mereka kompak dalam kerja-kerja sosial, seperti membangun atau membongkar rumah, pesta atau acara kekeluargaan, hingga membangun fasilitas umum. Kedua kampung kecil itu dibingkai dalam satu tatanan administrasi bernama dusun. Dusun Jempang yang di lidah warga menjadi “Dusung Jempang.”

Pada pagi hari, yang masih terasa sangat dingin kala itu, warga yang berkerabat dekat akan berhimpun dan menghangatkan badan dengan membakar api unggun. Mereka menyebutnya a’rimbu. Sekitar pukul enam seusai pulang salat subuh. Berbagai cerita dibahas, tentang persiapan para nelayan, cocok tanam, judul film bioskop hingga cerita maling ayam.

Bertahun-tahun kebiasaan itu bertahan, hingga tiada lagi kayu yang bisa dibakar. Pohon mangga, pohon asam, pohon kapuk, pohon bakau, satu per satu hilang ditebas untuk membuka permukiman. Membakar api unggun untuk menghangatkan badan yang dapat merekatkan mereka tak lagi dilakukan. Bara api unggun yang dirubung warga itu, mengingatkan saya pada kebiasaan orang-orang Eropa yang berhimpun di dekat perapian ketika musim dingin.

Setiap memasuki bulan Maret hingga April, para nelayan patorani berbenah dan sibuk menyiapkan kebutuhan pelayaran. Mereka menggelar layar, menjahit dan menjalinnya dengan temali dan mengecat tiang perahu. Sebagian lainnya mengukur panjang tali jangkar dengan membentangnya sepanjang jalan kampung. Suasana begitu riang, mereka bekerja dengan diringi lagu-lagu a la A.Rafiq atau Meggy Z dari tape recorder. Pada suasana menjelang keberangkatan melaut, malam hari biasanya wangi kemenyan dan asap dupa menyeruak dari paladang atau teras rumah panggung.

Tidak bisa ditampik bahwa kebiasaan atau tradisi seperti itu adalah ciri kampung kami, hingga beberapa tahun lalu.

Saya hendak mengabadikan kedekatan dan kerjasama sosial di Jempang. Misalnya, ketika puluhan warga mulai dari kanak-kanak hingga kakek-nenek silih berganti mondar mandir dari lokasi masjid ke batang sungai Tambakola untuk menambang pasir dan mengangkatnya ke bagian dalam bangunan masjid. Jarak sungai-masjid hanya dua ratusan meter. Perkampungan tanpa listrik. Yang tampak hanya pelita, kilatan dan cahaya petromaks, suluh bambu, hingga lampu minyak dari kaleng susu bekas yang dipasang warga di sepanjang jalur sungai-masjid.

Pada akhir tahun 70-an, listrik belum terpasang di dusun kami. Namun, warga dengan suka cita bahu membahu bekerja malam hari. Ibu-ibu menyiapkan penganan, minuman a la kadarnya untuk menyemangati para pekerja. Satu minggu lebih, lantai masjid sudah rata dan siap untuk diratakan dengan pasir dan semen. Lantai masjid rampung, pengurus hanya perlu menyiapkan dana untuk pembelian semen. Warga yang mengerjakannya. Bahkan mereka pun patungan untuk membeli beberapa sak semen tambahan.

Lekatnya kerjasama warga saat itu tidak lepas dari peran tokoh lokal. Adalah Husain Daeng Lewa, veteran perang yang juga kepala dusun Jempang, Desa Pa’rasangan Beru, Kecamatan Galesong Utara yang sangat berperan penting. Adanya tokoh panutan sekaligus penganjur kegiatan keagamaan menjadi warna tersendiri bagi warga Kampung Jempang.

Setiap menjelang magrib, anak-anak bersama warga dewasa menyesaki masjid kecil itu. Sore harinya, pengajian rutin dan bimbingan bagi anak-anak untuk terampil berbicara di podium juga diajarkan. Kampung menjadi istimewa kegiatan sosial begitu rupa dan mengesankan. Setiap Ramadan, anak-anak kampunglah yang mengaji dengan penuh percaya diri melalui loudspeaker masjid.

Hingga beberapa masa kemudian, kebiasaan ini memudar. Kaset-kaset pengajian mulai dibagikan oleh pihak luar. Pengajian dan ceramah yang kerap dibawakan oleh anak-anak muda mulai tergantikan oleh lengkingan suara ustas dari tape recorder. Tinggal tekan tombol play, pita kaset berputar, dan simbsalabim… ceramah agama menyebar. Semua serba otomatis, ustad di pita kaset bisa berceramah berulang-ulang, tanpa lelah.

Di tahun-tahun itu, berdenyutnya kampung kami, terbaca dari geliat kegiatan pertanian, perkebunan, dan perikanan. Itulah sumber penghidupan kami. Warga mempunyai lahan persawahan yang luas di timur kampung. Mereka menanam sayur mayur untuk konsumsi rumah tangga dan sesekali dijual ke Pasar Takari di selatan Balla Lompoa. Setiap bulan Ramadan, kami kerap ke Tambakola menjemput timun dan terong untuk dibuat sayur.

Sungguh kampung yang kaya, dan karenanya tak ada yang perlu risau.

Walau agak jauh dari tepi pantai, tapi sebagian besar warganya juga tergantung dari kegiatan perikanan dengan menjadi pemodal atau nelayan tangkap atau nelayan musiman. Mereka adalah nelayan patorani (pencari telur ikan terbang) yang andal. Mereka juga pemasang bubu tindis serta pemancing. Pekerjaan sebagai nelayan ini dicirikan oleh suprastruktur dan infrastruktur yang melekat di dalamnya. Sarana dan prasarana kapal, tempat pendaratan, serta keterampilan melaut warisan turun temurun, menjadi modal bagi kawasan ini untuk terus berdenyut.

Merujuk catatan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Selatan dalam buku statistik Sulawesi Selatan pada tahun 2001, dibanding 23 kabupaten lainnya, Kabupaten Takalar adalah kabupaten dengan jumlah armada sampan/perahu tanpa mesin sebanyak 3,383 unit. Jumlah yang cukup fantastis. Dan, jika membaca kegiatan perikanan Kabupaten Takalar, pesisir Galesong dengan ritme sosio-ekonominya mulai dari selatan hingga perbatasan dengan Kota Makassar, yang menjadi pusatnya.

Jempang, adalah salah satu bagian dari alur cerita kehidupan pesisir Galesong yang termasyhur itu.

Di sebelah rumah kami, tinggal seorang nelayan tua bernama Tassang. Sepulang memancing, dia kerap memberi kami ikan. Terkadang kakap dan papakkulu, ikan batu yang keras kulitnya. Tetangga yang baik itu kemudian pindah setelah tanahnya dijual, lalu meninggal tidak lama kemudian. Seorang tetangga lainnya adalah nelayan pemancing aktif, namanya Daeng Tobo. Dia banyak melakukan pelayaran ke perairan Selayar hingga Laut Flores di selatan dengan hanya bermodalkan perahu sampan berbantuan layar. Daeng Tobo, salah seorang spesialis nelayan ikan merah. Dia pun juga pindah.

Nama lainnya yang layak disebut di sini adalah Massiri Daeng Tika. Dia punya keturunan yang sangat gesit berusaha di bidang perikanan. Mereka keluarga pelaut dan juga nelayan.

Saat itu banyak sekali nelayan yang melakukan perjalanan hingga jauh. Selain ke perairan Selayar mereka juga ke barat selat Makassar hingga pulau Kalu-Kalukuang, Pulau Sanani dan Sapuka di dekat perairan Madura. Pelayaran oleh para nelayan tradisional itu, pastilah perjalanan yang sangat mengagumkan. Coba bandingkan saat ini, untuk menempuh perairan Laut Flores di selatan, nelayan mesti menghabiskan waktu satu hari satu malam. Itupun dengan bantuan mesin.

Cerita tentang Kampung Jempang serasa tidak lengkap tanpa menceritakan Tambakola.

Tambakola. Ah sayang, tak dapat kususuri arti nama ini. Dia masuk wilayah administrasi Dusun Jempang, bersama Dusun Panrannuangta, Bontojai, Salewatang, dan Kalukuang, pada desa yang bernama Kalukuang, Kecamatan Galesong. Di sini istilah “kampung” telah bergeser menjadi kata “dusun” titipan pemerintah Orde Baru. Warga menyebutnya dusung.

Kami kerap bermain di sana menyaksikan para pekebun dan pada setiap bulan Ramadan kami selalu menikmati sore dengan mengamati sayur-mayur yang ditanam. Tambakola, perkampungan yang sederhana. Semua orang begitu dekat. Nyaris tidak ada pagar antar-rumah dan halamannya. Semua menyatu. Gambaran ini mengingatkan pada kota-kota di Eropa yang rumah warganya tidak berpagar. Begitu lempang. Yang membedakannya, di Tambaloka warga tidak menanam kembang atau pohon, karena lahan ini adalah tempat bermain bagi anak-anak mereka.

Tidakkah mengesankan melihat dusun kecil tak berpagar di antara desa-desa yang justru mulai dihiasi bangunan batu bata, yang tampil semakin mirip rumah di kota?

Rumah panggung berjejer tanpa pagar, jalan tanah di depannya tak memiliki pembatas, semak belukar masih merimbun. Tidak ada kekhawatiran di antara warga untuk dirampok, misalnya. Mungkin karena warga yang berlimpah harta adalah barang langka di sini.

Di musim hujan, anak-anak kecil, ingusan, tanpa baju, bermain lincah di atas tanah yang liat dan becek. Di musim kemarau, debu-debu menyeruak ke kamar rumah panggung yang jendelanya begitu banyak. Kehidupan yang mengalir, tak sia-sia, seperti sungai yang mengalir di utara dan barat kampung. Rumah tampaknya tidak bertambah secara signifikan. Ada sekitar 20 rumah di tahun 1980-an dan tiga puluh tahun kemudian, saya melihat hanya ada 30-an rumah di sini. Warga tentu beranak pinak, walau kemudian banyak juga yang pindah ke perkampungan lain.

Di kampung kecil ini, berdiam warga biasa yang istimewa di mata saya. Daeng Ngalle namanya. Ia penjual buroncong (penganan dari bahan terigu plus gula pasir dan parutan kelapa) yang saban pagi keluar masuk kampung. Ada juga Daeng Nai yang jualan es poteng (es tape ubi kayu), mangkal tiap hari di depan SD Inpres Galesong dan sekali-kali membawa semangka asli yang warna kulit buahnya hijau gelap, bukan semangka Bangkok yang jamak ditemui sekarang. Lalu Daeng Nyorong penjual kacang goreng dan kacang rebus, yang juga menjajakan telur asin. Ia gesit keliling kampung, bahkan berjualan hingga ke kota Makassar (dulu mereka menyebutnya Jumpandang).

Ada belasan warga yang mencari hidup seperti Daeng Nyorong. Ada beberapa yang memiliki jual-beli beras atau gabah. Ada juga pemilik modal skala menengah. Jangan heran, bila para pedagang keliling ini punya lahan sawah tadah musim hujan dan juga berkebun. Kerap kali mereka menanam kacang tanah, kacang panjang, kedelai. Mereka tidak mengandalkan mesin pompa air kala itu, tapi mengambil langsung dari sungai.

Sungai yang mengairi sawah datang dari arah Dusun Mario di timur, hingga Tama’la’lang mengalir membelah Kampung Jempang sampai jauh ke pantai. Sungai yang dalam dan bersih. Di sana jembatan beton Jempang berbiaya Rp8.075.000, jadi saksi. Jembatan buah proyek INPRES No. 6 tahun 1976/77 yang dibangun oleh CV Malewaya dikerjakan antara 24 Mei 1976 hingga selesai pada 30 November 1976. Tiga puluh tiga tahun lalu.

Jembatan yang tetap bertahan dan menjadi saksi betapa semakin dangkalnya batang sungai di bawahnya.

****

Di persawahan yang tidak jauh dari Tugu Pahlawan, semasa SMP, saya dan kawan-kawan kerap menyaksikan aksi perang-perangan dengan anak dari Kampung Pattinoang. Dalam “perang” itu senjata yang digunakan adalah tanah keras (bukan batu) yang kami lontar dengan sarambo (untaian tali dari kulit pisang yang mengering dan diujungnya dipasangi sarung tempat tanah keras batu diletakkan). Sarambo itu siap diputar dan dilempar. Tidak ada korban luka atau cacat fisik, karena kami tidak pernah man to man atau face to face. Perang jarak jauh. Lahan sawah yang mengering jadi medan perang.

Letih berperang kami menikmati waktu bermain dan merasakan betapa kreatifnya teman sepermainan itu. Diambilnya kotoran kerbau yang kering, lalu ditimbun semak-semak yang daunnya menyerupai daun tembakau. Seseorang mengencingi dan mereka memilih satu orang yang gagal undi untuk berjongkok dan menciumnya. Tahu akibatnya? Yang mencium akan mabuk dan jalan terhuyung-huyung. Kami terpingkal dibuatnya.

Di bawah rindang pohon mangga macan di depan rumah, kanak-kanak bermain cangke’. Ini permainan menggunakan ranting kayu yang dibagi dua, satu berukuran 5 sentimeter dan pemukulnya sepanjang 15 meter bagi yang kalah akan memanggul lawan lainnya. Kami menyaksikan para pateke atau penunggang kuda yang pulang dari pesisir. Mereka adalah pedagang dari pedalaman kaki bukit di timur jauh.

Datang dari pedalaman kaki gunung Bawakaraeng, dari Lassang, Bontonompo, hingga Jeneponto membawa hasil ladang dan kebun. Mereka, membawa cobe` yang terbuat dari batu gunung. Tidak kurang dari 20-an pateke beriringan, pulang membawa hasil laut, garam dan ikan kering.

Interaksi sosial dan budaya pada dekade itu sungguh dinamis. Dari interaksi ini pula, kemudian beberapa anak buah kapal dari Jeneponto direkrut untuk menutupi kekurangan tenaga melaut pada musim patorani.

Ada satu masakan aneh, yang diduga berhubungan dengan interaksi itu, yaitu baluta. Semacam makanan dari darah hewan sembelihan (ditampung dari darah yang mengalir dari leher ternak). Darah sembelihan yang mengental kemudian dimasak dengan bumbu secukupnya. Para penjaja baluta berkeliling, meneriakkan balutaaaa…. Makanan ini, sangat pas disandingkan dengan sebotol tuak dari pohon tala. Menu jualan ini tidak bertahan lama, setelah penganjur dari Organisasi Muhammadiyah, mulai intensif menggaungkan syariah Islami di tahun 80-an.

Terhadap fenomena di atas, saya ingin mengutip bahwa selama mengecap pendidikan di dasar di Galesong, saya merasakan gesekan dan semangat pencerahan terhadap cara pandang warga atas tradisi atau kebiasaan mereka. Sekolah pada saat itu, adalah media terbaik mengajarkan hal-hal positif dengan menstimulasi pemikian kami tentang hidup dan dinamikanya.

Membaca masih maraknya minuman keras dan cara pandang yang masih kolot, berdampak pada perilaku warga setempat. Walau hal ini tidak bisa digeneralisasi. Siapa yang menyangkal bahwa pada dekade 1970-1980 tingkat kejahatan, terutama pencurian ternak masih sangat marak di kawasan ini?

Di kampung ini, ketika kami menyebut bahwa Tuhan itu Esa dan juga ada di mana-mana, siapa yang sangka bahwa salah seorang dari warga masih bertanya, “Jadi kalau begitu Tuhan banyak, ya?”

Warga memiliki pertanyaan bertubi-tubi. Mengapa dupa mesti dilarang? Mengapa berkunjung ke Tuanta Salamaka tidak diperbolehkan?, mengapa berhaji ke puncak Bawakaraeng melanggar syariat? Mengapa appassili dan melempar telur sesaji ke laut dianggap musyrik?

Dalam perkembangannya, secara kolektif, dapat dipaparkan bahwa telah ada upaya sistematis untuk mengikis paham ini. Pada awal 1980-an, sempat tercatat ketegangan yang berpotensi meletupkan benturan, atas upaya-upaya klarifikasi paham agama. Saya menelusuri beberapa cerita dari Bontorita dan Bontokassi tentang ini. Upaya yang juga berimbas ke kampung kami. Tidak mudah mengekang tradisi yang sudah berjalan lama itu. Butuh waktu.

Praktik-praktik yang keliru dalam pandangan agama Islam itu, tidak tampak lagi memasuki tahun 1980-an. Tapi siapa nyana bahwa setelah itu berbagai tantangan baru muncul. Kurun waktu itu, desa kami diinvasi kotak hiburan canggih bernama televisi. Dapat disebut bahwa sejak munculnya televisi umum pada akhir tahun 1970-an di depan Kantor Camat Galesong Selatan, puncak proses modernisasi yang menerobos ruang-ruang privat warga pun mulai terjadi. Gelombang modernisasi menerobos tanpa jeda, masuk lewat radio, televisi, telepon seluler, dan segenap gaya hidup yang menyertainya.

****

Dinamika sosial-ekonomi-budaya seperti di atas, dapat disandingkan dengan cerita berikut tentang kondisi ekologi yang mengancam. Warga memang dijejali slogan pembangunan. Saya selalu menggunakan parameter daya tahan infrastruktur untuk menguji daya tahan atau latar belakang motif pembangunan. Semakin lama bertahan suatu infrastruktur semakin kuat kesan motif dan niat baik di belakangnya.

Jembatan Jempang dapat jadi pembanding, betapa selama 36 tahun dia tak pernah dijamah atau direkonstruksi kembali. Awet. Jembatan yang kuat. Coba bandingkan, jalan raya yang entah sudah berapa kali diperbaiki. Ditambal sulam, pengerasan dengan kerakal, diaspal Buton hingga aspal yang benar-benar asli alias butas.

“Selama 30 tahun lebih barangkali ada mi 10 kali diperbaiki” Kata Daeng Bau’, warga Tambakola mengomentari jalan di kampungnya.

Di jembatan Tambakola ini, setiap musim barat atau musim hujan di bulan November hingga Januari, anak-anak belia pemberani menikmati limpahan air yang meluap deras. Mereka terjun bebas dari atas jembatan, warga lain menonton dengan riang. Anak-anak melakukan salto dengan gembira. Mereka tentu harus lincah berenang sebab jika tidak akan terbawa arus sungai hingga jauh. Tapi tentu kita juga risau. Kini jarak jembatan dan dasar sungai hanya tersisa 5 meter. Pengaruh endapan dan limbah bawaan membuat sungai menjadi dangkal.

Perubahan struktur pepohonan dan menurunnya kerapatan pepohonan sebagai salah satu ciri ekologis dapat ditinjau dari beberapa cerita.

Di Tambakola berdiri pohon jamblang, kami menyebutnya rappo-rappo Jawa artinya buah dari Tanah Jawa. Hanya di sini, hanya di kampung ini, dijumpai pohon jamblang, tiga pohon dengan buah jamblang yang berbeda. Buah yang konon menurut beberapa sumber dapat mengobati penyakit dan berkhasiat melumaskan paru-paru, menghentikan batuk, peluruh kencing (diuretik) dan memperbaiki gangguan pencernaan. Sedangkan kulit kayunya berkhasiat sebagai peluruh haid.

Kami kerap meminta atau menunggu buahnya jatuh. Yang enak, rappo-rappo yang panjang dan besar, rappo-rappo compeng namanya. Tiga jenis rappo-rappo yang tumbuh di sana. Kami menikmatinya seusai bermain bola di lapangan atau tepatnya sela-sela tanah lapang di Tugu Pahlawan Galesong di Tambakola.

Sekarang buah itu hilang. Tiada lagi.

Pohon jamblang, mengikuti jejak pendahulunya, pinang, kapuk, asam, jambu putih, pohon sattulu` hingga bambu apung. Lenyap satu satu. Bekas lahannya jadi permukiman dan ladang kebun jagung. Lenyapnya si pohon jamblang rupanya diikuti pula oleh pohon lainnya. Padahal dulu jejeran pohon itu adalah tempat bernaung yang teduh sembari menikmati tuak manis.

Tugu pahlawan, jembatan penghubung dan kampung kecil itu, saksi ketika pulang bersawah bersama bapak.

Kerapkali bapak meminta saya memboncengnya, ketika kami pulang di bawah langit senja. Kami mengayuh sepeda ontel (sapeda bura’ne orang Makassar menyebutnya). Kekuatan kayuh harus dilipatgandakan ketika harus melewati ketinggian jembatan Jempang.

Alur cerita tentang sungai sepanjang masa yang meliuk dan membelah lanskap pedesaan tidaklah berhenti di tepi kampung. Memang tak ada lagi warga dengan kebiasaan mengelilingi bara api unggun, tak ada lagi gembala, namun dia akan terus mengalir dan berdenyut hingga muara zaman.

Sungai yang mengalirkan pesan pada laut. Melalui berbagai doa, sesaji passili dan harapan di lautan lepas.

Ya, sungai yang sedang membawa pesan ke muara.

Sungguminasa, 1 Januari 2009

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Refleksi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s