Pergulatan Warga Di Kaki Bukit Teppoe

Kabupaten Sidrap, adalah daerah penghasil utama beras dan telur ayam ternak di Sulawesi Selatan. Berton-ton beras dan telur telah dikirim ke luar daerah dari Sabang hingga Merauke. Predikat ini layak disandangnya karena secara geografi kabupaten Sidrap merupakan daerah dataran rendah yang dilalui alur sungai besar bernama Sungai Walanae.

Sungai yang kemudian beranak-pinak hingga ke pelosok dusun dan menghijaukan lahan pertanian warga. Terdapat cerita bahwa dahulu beberapa perbukitan di wilayah ini pada mulanya adalah daerah berhutan lebat. Ada informasi bahwa warga pada beberapa kaki bukit telah mencoba bertahan dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia nun jauh dahulu. Mereka mengambil kayu dari hutan setempat, memanfaatkan persediaan air kali untuk kehidupan dan bercocok tanam untuk mempertahankan hidupnya.

Mereka lalu membentuk satu komunitas yang didasarkan pada satu wilayah bersama hingga datangnya penjajah Belanda. Salah satu kampung itu bernama Teppoe letaknya di timur Kota Pangkajene, ibukota Kabupaten Sidrap. Dia berjarak sekitar 7 kilometer dari kota kabupaten.

****

Pada tanggal 24 Januari 2010, saya mengunjungi kawasan Teppoe setelah mendengar cerita dari Pak Syamsurizal, salah seorang tenaga penyuluh pertanian di Pangkajene yang telah mulai melakukan pendekatan pada warga setempat. Sebelumnya, kami berkenalan dengan Muhammid Amiz, lelaki berjenggot yang menerima kami di mesjid Al Irsyad dalam salat kompleks pesantren. Amiz, adalah salah satu anggota kelompok tani yang mempunyai lahan di sekitar perbukitan.

Dia bercerita bahwa di dalam area kebunnya, yang letaknya persis di daerah cekungan terdapat sumber mata air yang sedari dulu merupakan tempat mengambil air. Bukan hanya mengairi sawah ladang namun juga dimanfaatkan oleh ternak yang kerap keluar masuk bukit.

Setelah berkenalan dan menyampaikan rencana, kami lalu mengunjungi lokasi itu sekitar pukul 16.00. Di mobil, kami ada berlima, ada sopir, saya, pak Syamsurizal, Fachrul (anak pak Rizal) dan pak Amiz. Jalan ke Teppoe, melewati jalan yang masih “pengerasan”, yakni jalan yang dilapisi batu gunung tanpa aspal. Di kiri kanan terdapat hamparan tanah kosong dan ladang terkesan gersang. Batang pohon jawa (tammate:Mks) membatasi petak ladang. Beberapa ternak sedang melahap rumput di tepi batu cadas.

Kami melewati jalan sejauh 2 kilometer dan melihat beberapa warga yang sedang menyiangi tanaman jagung yang masih kecil. Hingga kami sampai di satu hamparan perbukitan tandus sekaligus tempat memproses batu “cipping” yaitu batu kecil yang kerap digunakan sebagai bahan campuran semen beton. Terdapat pula gundukan pasir halus yang telah diproses. Di dekatnya terdapat bukit yang telah dikeruk sebagian sisinya. Terdapat bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal para pekerja.

Mobil kami hentikan dan mencoba mengambil gambar situasi. Pak Rizal menyambangi bangunan itu dan bertegursapa dengan tuan rumah. Ada tiga mobil truk di kompleks itu. Beberapa anjing penjaga bermain di sekitarnya. Fachrul dan saya mengambil beberapa foto situasi.

Karena jalan menuju kebun Pak Amiz terjal dan rusak karena endapan lumpur kami putuskan untuk kembali dan mampir di salah satu ladang warga yang kami jumpai sebelumnya. Kami menjumpai seorang lelaki tinggi besar mengenakan topi dengan parang menggantung di paha kirinya. Pak Amiz memperkenalkan kami.

Lelaki yang sedari tadi mencangkul di dekat pohon asam segera berhenti. Namanya pak Suyuti. Di bagian dalam ladang, seorang wanita dengan kepala terbungkus kain sedang menyiangi tanaman jagung di antara pepohonan jati yang telah dipangkas. Pak Suyuti bercerita bahwa sebagaimana warga yang lain, dia juga mengolah lahan untuk menanam jagung. Inilah yang bisa dilakukan di atas tanah yang sebenarnya cukup gersang.

***

Tanah kebun pak Suyuti terlihat hitam bercampur kerikil. Di beberapa bagian terdapat sisa semak atau pohon kecil yang telah ditebang. Tanah ini letaknya agak jauh dari mata air yang diceritakan pak Amiz tadi. “Kalau di lahan saya masih terdapat beberapa titik mata air” Kata Pak Amiz. “Perlu kerja keras untuk memperoleh aliran air ke tempat ini. Saat ini ya, menunggu curah hujan saja” Timpal Pak Suyuti.

Pak Suyuti bercerita bahwa dulu, kawasan perbukitan Teppo merupakan perkampungan tua dan subur. Namun, sejak penjajahan Belanda, warga dipaksa pindah ke kampung dekat kota, di sepanjang poros Pangkajene – Soppeng. Belanda saat itu, kerap menjadikan Teppo sebagai daerah pembuangan mayat. Hingga beberapa tahun setelah Belanda lengser dari bumi Sulawesi, sebagian warga kembali lagi ke perbukitan Teppo.

“Warga Teppoe juga terkenal kuat dan teguh pada pendirian” Kata Suyuti. Di atas bukti terdapat makam yang dipercaya sebagai makam Arung Letta. Makam mantan pemimpin ini kerap diziarahi warga yang datang dari sekitar Kota Pangkajene, Sidrap.

Daerah Konservasi?

“Kini, walau telah muncul aktivitas penggalian tanah (atau tepatnya bukit), Kawasana Teppoe sebenarnya merupakan salah satu area yang diklaim sebagai daerah konservasi hutan pemerintah. Saya tidak begitu persis mengetahuinya tapi itu dahulu, ada program reboisasi ada pula aturan yang telah disosialisasikan. Bahkan, beberapa kegiatan Dinas Kehutanan telah terlaksana dalam area Bukit Teppo” Kata Suyuti. Konon, kawasan di atas itu merupakan hutan yang rapat dan banyak dimanfaatkan warga setempat untuk kebutuhan papan.

Saat ini, yang terlihat adalah kaki bukit Teppo yang tandus. Pohon-pohon yang dijumpai merupakan ciri tanaman “keras” seperti asam, pohon jati, pohon Jawa dan beberapa belukar yang meranggas kering. Walau lahan tidak terlalu bagus, warga masih bergelut untuk memanfaatkannya dengan menanam palawija. Sumber air bagi lahan mereka sangat terbatas. Mereka berharap curah hujan saja.

Menurut pak Amiz, jika mata air di dekat lahan perkebunannya dihijaukan dengan pohon-pohon mungkin akan semakin banyak menyerap air. Dia juga berangan-angan, suatu ketika wilayah resapan air itu dapat dilindungi, bukan hanya oleh undang-undang pemerintah tetap karena warga yang mempertahankan dan merawatnya. Hal ini akan menjadi kerja yang cukup panjang dan butuh kerja keras sebab, sejauh ini warga sudah mulai tidak peduli dengan kenyataan di kawasan itu.

“Warga memang sejauh ini masih belum melakukan sesuatu yang berarti, karena mereka menganggap kawasan itu telah menjadi wilayah pemerintah. Apalagi menurut cerita, kawasan itu telah menjadi lahan mati sejak kayu-kayunya dibabat oleh penjajah Belanda.

Mungkin akan berbeda saat ada upaya lanjutan untuk menumbuhkembangkan kesadaran baru tentang pengelolaan wilayah resapan air” Kata Pak Amiz. “Kalaupun ada inisiatif warga saat ini misalnya dengan menanami pepohonan di ladang atau sawahnya, itu karena kesadaran pribadi demi keamanan sawah ladangnya” Katanya.

Pelajaran dari Teppoe

Jelas sekali bahwa inisiatif warga untuk memperoleh pendapatan dari lahan relatif kering ini masih terus berdenyut. Dalam keterbatasan sumberdaya air mereka masih mengais kebaikan alam melalui tanahnya. Warga juga masih percaya, bahwa dahulu lahan di sekitar mereka sangat subur dan masih menyimpan kemungkinan untuk dikelola dengan baik.

Ada kesadaran yang muncul bahwa mereka sebenarnya sedang bergulat dengan kebutuhan yang sama yaitu air, pada sumber yang sama. Jika ingin menanam di kebun secara terus menerus mereka tidak mesti tergantung pada air hujan tetapi dengan menampung air. Air yang mungkin akan memberi mereka manfaat jangka panjang jika dapat disiapkan penampung atau perangkap. Sesuatu yang dapat saja mereka upayakan jika semakin banyak warga yang berpikir demikian.

Pak Rizal, fasilitator masyarakat yang menyertai saya dalam kunjungan itu berbisik, “saya telah diterima oleh mereka dan dengan jelas melihat fakta keseharian mereka, mereka hanya perlu didorong untuk merumuskan kesepakatan bersama, yang lebih luas, tentang apa sebenarnya yang sedang mereka hadapi”. “Saya akan mulai perbanyak berbincangan dengan warga Teppoe, semakin sering semakin bagus” Katanya.

Kami pulang saat matahari mulai benam di atas Kota Pangkajene, perjalanan kami keluar dari ladang Pak Suyuti terhambat oleh gerombongan Sapi Benggala yang baru turun dari bukit. Mereka seperti enggan didahului oleh laju mobil kami.

Sungguminasa, 08-02-2010

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Desa-Desa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s