Pernikahan Bugis, “Menipu” dan Kehilangan Makna?

Tanggal 10 Pebruari 2010 saya mengikuti diskusi “Bedah Buku Pernikahan Bugis Karya Susan B.Millar”, seorang peneliti kebudayaan asal Amerika Serikat” yang ditanggapi oleh tiga orang akademisi atau tepatnya pemerhati kebudayaan Bugis di Makassar. Mereka adalah Drs.M. Yahya, MA yang juga kerap kami panggil “Yahya Pojiale” dosen pada jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas. Kedua, Wahyuddin Halim, MA dosen pada Fakultas Teologi dan Filsafat Islam “Universitas Islam Alauddin, Makassar” alumni International Development Studies Dalhousie University dan Temple University, Philadelphia, USA. Ketiga, Aslan Abidin, sastrawan yang lahir di Soppeng, 31 Mei 1972. Aslan adalah penulis buku puisi Bahaya Laten Malam Pengantin (Ininnawa, Agustus 2008).

Mereka hadir meramaikan peringatan10 tahun Komunitas Ininnawa, satu komunitas yang mencoba mengambil peran dalam penguatan kapasitas masyarakat dengan beragam fasilitasi dari mendorong minat baca hingga fasilitasi pengembangan keswadayaan di tingkat akar-rumput.

Buku “Pernikahan Bugis” sendiri, menurut penyuntingnya (Ininnawa, 2009) satu-satunya penelitian serius, mendalam, dan menyeluruh tentang pesta pernikahan Bugis. Dia juga menggeledah beragam makna di balik pesta megah, ritus-ritus yang mengiringi ritual panjang pernikahan, serta segala perilaku dan bentuk negosiasi antar-aktor dalam prosesi tersebut. Tak lupa, menelisik aspek-aspek sosial-politik yang tersurat di baliknya.

Dalam buku itu, tidak hanya mendapatkan abstraksi yang berlangsung di dalam pernikahan Bugis. Tapi juga dibentangkan lukisan rinci tentang ruang, adegan hingga percakapan. Buku ini mendedah tata ruang aula pesta, ritual, hingga teks undangan pernikahan Bugis yang penuh dengan simbol-simbol politis yang berjalin di alam pikiran orang Bugis.

Poin Diskusi

Rencana diskusi yang akan dimulai pukul 10.00 wita bergeser ke pukul 11.30 di lantai dua pusat kegiatanIninnawa Makassar depan show room Mercedez Benz Tamalanrea. Peserta yang hadir sekitar 20 orang termasuk ketiga pembicara. Saat saya sampai telah hadir Wahyuddin Halim yang sedang berbincang dengan Mattewakkan “Matte” Monga (yang saat itu didaulat sebagai moderator).

Wahyuddin Halim sebagai pembicara pertama, dengan gamblang menyebut perkawinan dengan adat Bugis seolah telah menjadi lembaga judi dan lelang. Menurutnya, pihak terkait dalam pesta perkawinan telah menjadikan “memperoleh derajat sosial” sebagai tujuan perkawinanya, karenanya tidak jarang mereka harus mengkerek nilai uang naik (uang lamaran).

Bagi Wahyuddin yang memang telah banyak menyorot ihwal kebudayaan kaitannya dengan implementasi budaya dan ritual keagamaan di Sulawesi Selatan ini, pernikahan Bugis telah menjadi ajang untuk mencari pihak (pasangan) yang bersedia meyiapkan mahar dan uang belanja paling tinggi.

Wahyuddin yang beristrikan wanita dari Tanah Jawa ini, bahkan mengambil contoh tentang dirinya yang lahir dan besar di Wajo, praktek semacam ini telah menjadi gejala yang disadari atau tidak jika tidak mampu mempunyai argumentasi tentu akan menyeret dirinya pada “praktek” yang sedemikian itu.

Disadari bahwa inilah kecenderungan perilaku masyarakat yang setidaknya tidak bisa dilepaskan dari interpretasi mereka atas “tiga ujung”, atau (Makassar, tallu cappaq), yaitu ujung kelamin, lidah dan badik. Orang Bugis Makassar kerap mengacu pada ketiga pandangan ini, untuk melanggengkan jati diri sosialnya, seorang melanggengkannya melalui negosiasi (lidah), perkawinan (kelamin) dan jika tidak akan menempuh tekanan (badik).

“Tapi saat ini, saya kira kita perlu menambahkannya dengan ujung yang keempat yaitu ujung pena” Katanya dengan senyum. Tujuannya jelas,bahwa jika kompetisi diarahkan pada produktifitas, kreatifitas (yang diidentikkan dengan kecerdasan dan kerja keras) tentu akan menjadi entry point yang baik.

Kaitannya dengan isi buku Susan yang menyorot pandangan dan fakta status sosial yang mengambil setting Kabupaten Soppeng pada tahun 80an, M. Yahya menggaris bawahi bahwa masyarakat Bugis rupanya telah semakin jauh terseret ke dalam arus pencitraan diri yang berlebihan baik melalui perkawinan maupun kehidupan sehari-hari.

Demi pencitraan di masyarakat itulah, pesta perkawinan bisa diselenggarakan dengan uang pinjaman sekalipun.Secara gamblang bahwa keinginan yang berlebihan dengan status sosial ini setidaknya berkaitan dengan motif sosial, yaitu ekonomi, keamanan, dan aktualisasi diri .

“Manusia dibedakan dengan binatang karena dia mampu berpikir” Katanya.Maksudnya, oleh karena pertimbangan itu, mereka harus memahami bahwa langgengnya kehidupan tidak melulu berdasarkan pada pencitraan status sosial belaka tetapi kerja keras dan kebenaran tindakan.

Di mata Aslan, Buku Susan masih terbatas pada locus Soppeng dan hanya memotret situasi pada tahun 70an hingga 80an serasa “tidak utuh” namun demikian dia tetap menganggap bahwa “generalisasi” masih dibolehkan jika membaca tren dan gagasan yang dikemukakan oleh Susan.

Hal lainnya adalah belum terkuaknya penjelasan tentang makna dan urgensi setiap prosesi bahkan yang terkait dengan “jenis kue yang disajikan dan berkelas, tentang siapa yang masak nasi, dan bagaimana apresiasi atas peran masing-masing pihak”

Usulan Aslan jika memang khalayak telah melihat atau bahkan melakoni praktek sedemikian ini adalah mengarahkan kompetisi untuk hal yang lebih penting dan strategis dibanding pada hal-hal materialistik. Menurut dia, budaya pesta perkawinan perlu dipertahankan karena dapat mempererat silaturahim antar kerabat.

“Dahulu, peran serta warga biasanya sangat tergambar dari keikutsertaan mereka membangun lamming atau tempat pesta. Mereka juga menunjukkan dukungannya dengan memberikan bantuan fisik semisal bambu atau kebutuhan operasional pesta” Katanya. “Partisipasi atas nama kekerabatan dan kedekatan emosional masih sangat terasa, tapi kini, coba lihat bagaimana pesta perkawinan kerap dilaksanakan bahkan menjadi sangat komersial dan bahkan menipu”, Katanya lagi.

Mau bukti? Coba lihat menu-menu buatan yang memanipulasi bentuk dan isinya. (semisal terlihat sebagai sate ayam tetapi setelah digigit ternyata potongan tahu) Ucapnya setengah bercanda.

Begitulah, ketiga penanggap sepakat bahwa telah terjadi perubahan pada tradisi dan pelaksanaan perkawinan Bugis ini, setting perkawinan yang sejatinya menjadi suci dan agung telah bergeser menjadi panggung penuh kepalsuan, “keterpaksaan” dan persaingan belaka. Mereka juga menyepakati bahwa hal ini terjadi karena cara berpikir masyarakat Bugis dalam menyikapi perbedaan strata dan peran sosial di tengah masyarakat.

Makassar 07/03/2010

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Buku. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s