Saat Rossoneri Ditekuk Si Setan Merah

Seperti biasa, sebenarnya saya tidak begitu suka nonton laga MU di liga Champion Eropa. Tetapi anak saya Khalid “Donnie” Adam telah menarik kaki saya saat babak kedua baru saja dimulai. “Tadi waktu mulai babak pertama saya mau bangunkanki tapi nanti marahki” Katanya. Skor 2-0 saat saya menonton partai mustahil bagi Milan ini. Hasrat melihat MU keok di Old Trafford tak terbukti (dan jauh dari janji Leonardo saat konferensi pers yang disiarkan stasiun televisi). Gerak pemain Milan superlamban seperti Carrasco di tubuh PSM dulu. Mereka mudah sekali kehilangan bola.

Park, Raphael, Nani dan sayap kanan MU asal Ecuador, Valencia begitu perkasa dan trengginas. Pemain Milan nyaris tak pernah menyentuh bola terlalu lama. Pres dan sergapan setan merah begitu ketat. Inilah kelebihan sepak bola Inggris, stamina, determinasi dan aggresifitas pemain sangat kuat. “Man to man marking” pemain MU sangat efektif.

Sepak bola Inggris telah benar-benar melampaui klub sepak bola negeri pizza, Italia peraih world cup 2006. Kemarin, Arsenal juga mencukur Porto, juara champion 2003 dengan skor telak 5-0. Leornardo, pelatih asal Brazil yang fasih berbahasa Inggris itu terlihat memble di tepi lapangan. Ferguson tenang saja. Pelatih kawakan dan piawai mengasah pemain muda ini tidak menunjukkan rasa panik atau tegang, Leonardo sebaliknya.

Formasi MU didominasi para talenta muda yang tidak grogi di lapangan. Raphael, Fletcher, Valencia, Gibson sangat padu. Di Milan, Ronaldhino, Seedorf, Pirlo, Inzaghi terlihat bagai badut. Layak jadi bahan tertawaan penonton. “Bikin malu saja” Kata Khalid Adam.

Pertandingan dini hari ini, menjadi bukti bahwa pengalaman Milan jadi juara Champion beberapa kali nyaris tak bertuah di Old Trafford. Karena mereka tidak berbenah saat tim lain sedang melaju kencang dalam reformasi tim dan taktik bertanding. Beckham yang masuk di 20 menit terakhir hanya menyuratkan simpati dari penonton yang tetap sayang padanya. Tapi, Beckham pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sekali tendangan geledeknya berhasil ditepis Van Der Sar.

Gol ketiga MU dari Park Ji Sung sangat indah. Dimulai oleh sodoran Scholes, Park berhasil melampaui pemain belakang Milan dan dari ruang sempit berhasil mengecoh kiper.

Penonton di Old Trafford kali ini terlihat “baik hati”. Mereka bersuka cita, karena mereka sangat yakin bisa memenangkan pertandingan ini. Mereka menunjukkan kecintaannya dengan menggelar spanduk “Love MU, Hate Glazer”. Mencintai MU dan membenci Malcolm Glazer, si pemilik klub.

Jika saya menulis tentang MU kali ini ada 4 alasannya: 1. Menyukai saat Arsenal melibas Porto 5-0 dan memberi aplaus untuk para pemain muda yang diorbitkan Wenger, hal yang sama juga terlihat di MU. Di Milan, sebaliknya. 2. Performa mereka layak disandingkan dengan Arsenal (di Liga Champion kali ini saya menjagokan Arsenal). 3. Dalam sepak bola betapapun kita membenci satu tim, apresiasi tetap diberikan pada penonton, para pelatih yang peduli regenerasi. Arsenal dan MU melakukannya. 4. Saya ingin Juventus dan PSM juga melakukan hal yang sama seperti Arsenal (pssssstttt jangan ngakak ya? :p ).

Selamat MU! Skor 4-0, dua dari Rooney, satu dari Darren Fletcher dan Park Ji Sung sebenarnya terlalu sedikit untuk Milan yang keropos!

Sungguminasa, 11-03-2010

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Olahraga. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s