Bertemu Mustanim dan Alfredo di Resort Baloiyya

Tanggal 14 Maret 2010, laut sedang teduh di beranda barat Kampung Baloiyya. Saat itu kami berada di satu resort yang dikelola oleh Mr. Bernhard, warga Jerman. Resort yang semakin berkembang. Setidaknya melihat bertambahnya jumlah cottagenya. Saya beruntung dapat memasuki salah satu cottage menawan di selatan Selayar ini. Bersama Evi, Tandar, Ros, Harsani, Andre saya menyusuri sisi barat cottage yang eksotik ini. Ada satu pulau kecil di hadapannya. Di dekatnya (berhadapan) terdapat tiga rumah wisata yang terpisah menghadap ke barat. Di halaman cottage terdapat taman yang indah.

Di bangunan inti dalam, terdapat jejeran kursi antik, yang berbahan kayu dan bambu menghiasi ruang makan. Penataannya sangat apik dan berkelas. Lampu-lampu gantung dan ornamen bergelantungan. Di sebelah timurnya ada t-shirt shop atau merchandise wisata. Saat kami datang, Pak Bernhard tidak sedang di Baloiyya.

Bertemu Mustanim

Kami menuruni sisi utara bangunan restoran dan segera menuju “open area”, saya menyebutnya beranda Cottage Baloiyya. di sana terdapat meja ping pong, lantai kayu yang menyerupai panggung kecil lebih tinggi dari hamparan pasir putih di dekatnya. Juga ada ayunan tidur (hammock). Kesan pelaut tergambar dari dua kemudi yang menempel di bangunan tempat mereka menyimpan peralatan selam.

Di sebelah kanan, beberapa kru sedang istirahat. Mereka ada tiga orang sedang bersenda gurau. Ada juga tempat tidur berayun yang terikat di dua batang kelapa (hammock). Di panggung kami diterima Mustanim. Dia adalah dive master dan merupakan guide selam di resort ini.

Rupanya, Mustanim atau Tanim adalah sahabat senior saya di Kelautan Unhas yang juga master dive professional berlisensi B1, yakni Muchsin Situju. Kami disambut dengan sukacita. Kami peroleh keramahan dan cerita petualangan yang menakjubkan dari seorang profesional seperti Tanim.

Menurut Tanim, Resort Baloiyya, mempunyai dua dive spot utama yaitu Ngapaloka di pantai timur Selayar dan di sekitar cottage di sisi barat yang masih kaya biota.

Sebelum bekerja di resort ini, Tanim dulunya adalah karyawan di Popsa, Makassar. Dari sinilah dia mengenal olahraga selam. “Ada yang mengajari saya waktu itu, namanya pak Kurdi dan Jan” katanya. Setelah mulai akrab dengan olahraga air ini, dia kemudian menjadi dive guide di Kepulauan Wakatobi setelah diorbitkan oleh pak Jan.

“Saya hampir enam tahun di Wakatobi. Pada waktu antara tahun 1997-2005” kata Tanim. Pemilik catatan selam 20.000 kali dan berlisensi A4 PADI ini merasa senang karena dapat kembali bekerja di Selayar, tanah kelahirannya. Tanim beristrikan pegawai pada Dinas Pariwisata, Selayar.

Sebelumnya, dia juga sempat membawa kapal wisata milik Andi Ilhamsyah Mattalatta. Kerap melakukan perjalanan dan penyelaman seperti di pulau wisata Kapoposang, Pangkep.

“Saya aslinya pulau Tambolongan” Katanya lagi. Tambolongan adalah pulau di sisi timur Selayar dekat Kayu Adi. Pekerjaannya di Popsa, membuatnya berkenalan dengan Pak Kurdi. Dari Pak Kurdi inilah dia memperoleh teknik-teknik penyelaman. Dia juga menyebutkan beberapa nama yang punya perhatian pada wisata bahari Makassar seperti, Pak Muhtar. Dia juga kenal Januar Jaury Dharwis, ketua POSSI Makassar.

Tentang kondisi pariwisata Selayar menurut Mustanim, mestinya bisa terus digenjot. Dari sisi ekologi, kondisi perairan, terumbu karang, dan daya tarik kelautan Selayar lebih patut berbangga karena lebih baik. “Hanya saja, manajemen wisata Wakatobi lebih maju dan jor-joran” Katanya menambahkan.

Tentang kondisi lokasi penyelaman di Selayar, menurut Tanim, pantai timur memiliki “wall” atau tebing yang indah dan menantang sementara pantai barat kaya vegetasi dan jenis ikan.

Bertemu Teman Sekampung Manny Pacquiao

Di resort Baloiyya, saya berkenalan juga dengan salah seorang kawan sekampung petinju juara dunia Manny Pacquiao. Namanya Alfredo Abillard. Alfred lahir dan besar di Kampung Osmenya, Cebu, Philipina Utara. “Saya biasa lihat Manny muda main bilyard” Katanya.

Alfredo sebelumnya adalah staf pada usaha wisata Pak Bernhard di Cebu selama beberapa tahun namun usaha itu tutup sejak memanasanya konflik antara pemerintah Philipina dan pemberontak Moro.

“Saya sudah 3 tahun di Baloiyya” Katanya dengan bahasa Indonesia yang fasih. Alfred dapat berbahasa Jerman, Spanyol, Inggris, Tagalog (bahasa ibu warga Philipina) bahkan kini telah berbahasa Selayar dengan para kru wisata resort ini.

“Saya senang kerja di Selayar karena aman” ucapnya. Alfred mempunyai satu kamar khusus di samping gudang resort, seperti tabung dan kompressor. Alfred sangat ramah dan punya selera humor yang bagus. Saat saya mengobrol dengannya, dia sedang rileks menikmati bir, lengannya yang atletis dihiasi tatto antik. Tatto khas anak pantai.

“Lain kali datang lagi ya?” Katanya saat mengantar kami menuju exit gate sekaligus menutup obrolan berharga kami.

Bulukumba, 16-03-10

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Sahabat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s