Hamid Cs, Dari Tamalate Ke Tanah Bugis

Matanya sipit dengan bola mata kecoklatan. Berbadan tegap dan berkulit hitam. Saat saya salaman telapak tangannya terasa kuat menggenggam. Namanya Hamid. Di sampingnya, duduk dengan tenang Samir. Mereka datang ke ke tanah Bugis untuk bekerja di gudang beras Haji Karajeng. Di daerah “Maloku”, Sidrap. Saat saya temui dia sedang bersiap meninggalkan Pangkajene untuk kembali ke Tamalatea, Jeneponto. Bawaanya adalah beberapa ekor ayam jantan yang telah dia beli dan tentu saja uang gaji selama bekerja di sana.

“Nakke tena kussikola iya jari iyyaminne jamang jamangta” Kata Hamid. Artinya, saya tidak sekolah jadi beginilah pekerjaanku.

Baru hampir sebulan ini mereka bekerja di situ. Hamid dan Samir diboyong ke Sidrap oleh keluarganya yang telah lebih dahulu berkenalan dengan Haji Karajeng. “Di sana, saya menjaga gudang beras sekaligus menjemur dan mengarungkan gabah dan beras” Katanya.

“Selama 20 hari bekerja ini saya dapat satu juta” Katanya yang diaminkan Samir. “Kami akan pulang ke Tamalate dulu. Nanti datang lagi” lanjutnya. Mestinya mereka pulang berenam, temannya yang juga datang dari Tamalate tapi yang keempat masih menuntaskan pekerjaan tersisa.

Hamid tidak ingat tanggal lahirnya. Samir juga. Mereka terkekeh saat saya menunjukkan wajah kaget. Hamid, punya empat saudara, laki-laki semua. “Parallu ngaseng injo abboya doa nampa dipabbunþingi” Katanya yang berarti, “saudara lelakinya itu perlu cari uang untuk kemudian dikawinkan”. Sementara Samir bersaudara 10 orang. Samir dan Hamid, telah menikah. Hamid punya tiga orang anak yang masih kecil.

“Kalau sampai di Tamalate, uang gaji mau dibelikan apa?” Tanyaku. “Aih nanti istri yang tentukan. Terserah dia” Jawab Hamid.

Hamid bersama teman asal Tamalate selama di Sidrap tinggal di area pergudangan Haji Karaseng. “Kami terima gaji bersih saja. Selebihnya yang punya gudang yang tanggung. “Ada banyak beras dan telur ayam di Sidrap” Katanya. “Paling hanya perlu beli rokok saja”. Kata Hamid.

Mobilitas Hamid dan Samir yang asli Jeneponto layak dipuji. Dia yang sebelumnya berprofesi sebagai tukang becak di Makassar menemukan kenikmatan bekerja di Tanah Bugis, Pangkajene. Bekerja di gudang beras dianggapnya lebih baik dari pada menjadi tukang becak. “Tapi biar begitu, semua pekerjaan memang membutuhkan kerja keras. Apalagi jika sudah punya anak yang sudah mulai bersekolah” Katanya.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Refleksi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s