Mata Air Teppo, Mata Air Warga

Mengunjungi Kabupaten Sidrap berarti memandang hamparan sawah, gudang beras, kandang ayam, itik, telur dan tentu saja warga yang sibuk di lahan produktif mereka. Persawahan dengan latar bukit dan pepohonan rindang tersaji sejak dari Kota Pangkajene hingga Amparita, seperti saat saya menuju Desa Teppo, di Tellu Limpoe.

Pagi masih dipukul 10 saat kami menuju kawasan itu dari poros jalan Amparita – Soppeng. Kami berbelok kanan memasuki jalan sempit. Belum diaspal. Di kiri kanan, lahan kebun warga dipagar rapat dengan kawat dan pohon-pohon Jawa yang digantungi kain warna warni. Menurut rekan sejawat, itu untuk menakut-nakuti babi.

Di sepanjang jalan, terlihat tanaman jagung milik warga yang telah berbuah. Beberapa dari mereka terlihat meletakkan sesuatu dari telapak tangannya. Seperti sedang memupuk. Kami tetap melaju. Setelah melewati satu tempat kerja pemecah batu gunung menjadi kerikil dan berkelok di jalan licin dan sempit akhirnya kami sampai di salah satu mata air kampung.

La Dumma terlihat sedang berjalan dari arah utara. Tanpa baju. Dia membawa jerigen kecil. La Dumma masih harus menempuh perjalanan beberapa meter untuk sampai di kebunnya. Kami diantar menuju salah satu sumber mata air yang telah dimanfaatkannya sedari dulu.

Kami menuruni jalan bebatuan di kiri kanan terhampar rumput ilalang menghijau. Pohon jati mendominasi kawasan itu.

Mata air itu, tidak terlalu luas. Ada dua titik mata yang tak henti mengalirkan air. “Kami sudah lama mengambil air di sini” Kata La Dumma.

Pak Anis, warga lokal yang menemani kami bercerita bahwa mata air ini tidak pernah kering. Dahulu, hingga beberapa tahun belakangan ini, para pekebun mengambil air di sini untuk diminum dan seusai berkebun biasanya akan mandi di dekat mata air ini juga.

Saat kami pulang, kami berpapasan dengan seorang wanita tua, bernama I Tahang. Wanita beranak empat anak dengan 11 cucu (atau appo) sedang bergegas menuju mata air itu.

Dia baru saja pulang dari berkebun ditemani dua cucunya. Kampung sebenarnya ada di Massepe, sekitar tiga kilo dari mata air itu. Kebunnya berjarak sekitar 700 meter dari sini.

“Walau seluruh pekebun punya sumur di lahannya namun mereka lebih senang mandi di mata air ini” Kata pak Anis.

Warga pemanfaat selama ini berdomisili di atas bukit, di Bukit Teppo. Dia telah memanfaatkan mata air ini sejak tahun 45. Setelah perang kemerdekaan dia bersama keluarganya menyingkir dari bukit. Tapi tahun 1982 warga kemudian mulai kembali ke kawasan perbukitan, bercocok tanam dan membangun rumah.

Menurut pak Anis, di atas bukit konon ada mata air yang mengandung belerang dan bersuhu panas. Menurut cerita pak Anis, “konon mata air panas itu ada bersamaan sejak terjadinya gempa di Pinrang”.

Warga di sekitar Teppo, secara turun temurun telah memanfaatkan hutan, tanah, air untk kehidupan mereka. Untuk pertanian, dan mata pencaharian mereka. Kekayaan seperti ini merupakan modal bawaan mereka. Fakta-fakta seperti di atas mestinya menjadi masukan bagi para perencana pembangunan untuk selalu menjadikannya sebagai titik pijak. Atau, membiarkannya apa adanya.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Lingkungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s