Mewawancarai Angku Bauk Ihwal “Pakkue Sengkangang”

Sering, para perencana dan fasilitator pembangunan lalai untuk memerhatikan kualitas informasi yang dia peroleh dari lapangan. Mereka, kerap membuat penyederhanaan atas fakta lalu menuangkannya dalam kertas perencanaan atau rencana aksi program. Dalam merumuskan situasi dan urgensi tindakan mereka gagal memilah, yang mana fakta dan yang mana persepsi sebagai alas dalam menyusun perencanaan.

Lebih ekstrim lagi mereka tidak datang ke desa (sebagai misal) dan dengan bangga menyusun rencana kegiatan berdasarkan ekspektasi dan persepsi mereka atas situasi masyarakat di desa. Oleh karena ingin melatih ketajaman membaca fakta dan menyusun pertanyaan faktual itu maka kami, pada satu hari di bulan Maret 2010 mengunjungi Kampung Padang, Desa Bontosunggu, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar.

****

Pagi berangsur siang saat kami bertandang ke salah satu kios di dekat Pasar Padang, Kecamatan Bontoharu, Selayar. Kami akan berkenalan dengan warga desa dan mencoba membaca fakta dan denyut kehidupan mereka.

Saya mengajak Muhammad Harsani (staf perencana pada Bappeda Propinsi Sulawesi Selatan), Yulyvia Purnawarti dan Sultandar Zulkarnaen (staf perencana pada Bappeda Kabupaten Kepulauan Selayar) untuk mulai mewawancarai warga berdasakan entry point (biasanya merujuk pada apa yang faktual, atau apa yang sedang dipegang atau diketahui oleh warga saat ditemui).

Kami mampir di satu kios tidak jauh dari dermaga Padang. Di sana ada Angku Bauk, Dia adalah warga Padang. Di kiosnya tersaji empat gelas jualan yang berisi “tenteng kacang, tenteng kenari, kue serekung (lembaran tipis)”. Di mejanya terdapat satu benda berbahan kayu. Terlihat sebagai kayu keras. Dia terlihat sebagai cetakan kue. Inilah yang akan menjadi pokok masuk wawancara kami, “entry point” kata orang Inggris.

“Apa ini” Tanyaku.

“Ini pakkue sengkangang” Jawabnya. Menurutnya, ini adalah alat untuk membuat kue, kue Borobudur yang digemari banyak orang itu. Pertanyaan saya itu kemudian diikuti beberapa pertanyaan faktual dari kawan-kawan yang ikut tersebut. Setidaknya terkait 4 W tanpa H, apa, dimana, siapa dan kapan. Pertanyaan persepsi seperti mengapa dan bagaimana kami kesampingkan.

Dari wawancara itu terekam bahwa dahulu, sebelum menggunakan cetakan kue tersebut, warga Padang membuat kue dengan menggunakan alat cabut sengkang (terbuat dari aluminium tipis berbentuk V). Sengkang juga biasa digunakan oleh kaum lelaki untuk mencabut jenggot tapi dengan bentuk yang lebih kecil dan keras.

Kue Sengkang atau kerap juga disebut kue Borobudur bentuknya kecil dengan permukaan seperti bergerigi tumpul, layaknya bangunan Borobudur. Padang terkenal sebagai penghasil kue khas Selayar ini.

Angku , mengakui dalam sehari mereka dapat menghasilkan kue hingga 200 biji. “Inne rie’ tussuro buak” Katanya salam bahasa Selayar yang artinya, ini ada yang minta dibuatkan sebanyak 50 biji. Jika tidak ada yang pesan mereka biasanya hanya membuat hingga 100 biji saja. Kue yang mereka hasilkan selain dipajang di kios juga dibawa ke pasar.

Bahan-bahan untuk kue sengkangang adalah telur (tannoro dalam bahasa Selayar sebanyak 10 biji), gula pasir seliter , beras terigu sebungkus (labu’ berasa) , terigu sekilo, dan vanili 2 bungkus. Menurut Angku Bauk, vanili tidak boleh terlalu banyak, kalau terlalu banyak kue bisa pahit. Isi kue, ini yang menarik adalah biji kenari. Biasanya mereka siapkan hingga dua gelas biji kenari.

Dengan komposisi bahan seperti diatas, Angku Bauk dapat peroleh 110 biji kue sengkangan. Bahan-bahan yang disebutkan Angku Bauk ini dapat diperoleh di pasar Padang yang ramai pada hari Ahad, Rabu, Jumat. Isi kenari, biasanya diproses sendiri alias mereka yang jemus dan mengupas kulitnya. Warna kuning pada permukaan kue sengkangan karena diolesi kuning telur.

Kue sengkangan yang dipajang di kios harganya seribu satu biji. Saat saya mengunjungi kiosnya, Angku Bauk menyampaikan bahwa baru saja ada pemesan kue yang akan membawanya ke Makassar.Katanya ada acara kawinan dan mereka mau kue sengkangang.

Angku belajar membuat kue setelah belajar dari ibunya. Dahulu masih menggunakan sengkang jadi disebut “kue sengkangan”. Angku Bauk bersaudara 4 orang, satu meninggal. Orang tuanya, bernama Dado adalah tukang jahit, ibunya bernama Salihi. Sudah lama tinggal di Padang.

Beragam informasi mengalir dari mulut Angku Bauk saat kawan-kawan penanya menggunakan kalimat faktual. Angku menjawab dengan tepat dan cepat karena kami tidak membuatnya berpikir dengan pertanyaan persepsi seperti “bagaimana dan mengapa”. Begitulah.

****

Dengan menggunakan “pakkue sengkangang” sebagai entry wawancara setidaknya akan terbaca tiga arah informasi. Pertama, bahan pembuat cetakan kue tersebut, kedua, apa yang dihasilkan dari bahan itu dan ketiga, mau diapakan hasil dari alat itu. Wawancara kami semakin terfokus pada bagaimana dia memproduksi kue, siapa yang membeli, berapa yang diproduksi, bahan-bahan hingga asal pembuat kue sengkangan tersebut.

Jika kita sudah menentukan “konteks” wawancara maka kita dapat fokus apakah hendak menelisik lebih jauh mengenai teknik pembuatan atau jalur-jalur pemasaran kue Borobudur tersebut.

Sebagaimana layaknya wawancara pada warga desa atau aktor di desa maka kita dapat menentukan apa yang menjadi entry wawancara. Tergantung apa yang ada di dekat warga yang hendak kita wawancarai. Pada analisis yang lebih jauh kita akan dapat meraba arah wawancara pada “wajah kapasitas” warga yang kita ajak disksusi. Seorang perencana atau fasilitator dapat merekam informasi terkait tingkat pengetahuan, keterampilan, keuangan, fasilitas atau jaringan usaha warga desa atau komunitas.

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Pemberdayaan Masyarakat. Bookmark the permalink.

One Response to Mewawancarai Angku Bauk Ihwal “Pakkue Sengkangang”

  1. Siap Antar Kue Ulang Tahun, Halal, Model Unik & Menarik spt Foto Cake. http://www.KueUltahKalika.com atau http://www.KalikaCakeShop.com , telp (022)70553660

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s