Iran Di Mata Prof Basri Hasanuddin

Ini pertemuan kesekian kalinya dengan beliau. Seperti minggu lalu, tampilannya terlihat tetap menarik. Sepatu hitam, celana panjang hitam dan baju lengan pendek bermotif kotak-kotak kecil biru dengan dasar putih. Beliau terlihat rapi. Dengan kumis tipis dan kacamata berbingkai keemasan di wajahnya, Prof Dr. Basri Bahanuddin, MA terlihat bersih dan kuat.

Mantan Rektor Unhas selama dua periode yang lahir di Pambusuang, Polman pada 6 November 1939, atau kini berumur 71 tahun ini adalah salah satu figur penting di Universitas terpandang di Indonesia Timur. Kharisma dan intelektualitasnya layak disandingkan dengan Prof Burhamzah (almarhum). Tidak salah jika mantan presiden RI, Gus Dur mendapuknya sebagai Menteri Kordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Indonesia ke-8, aktif pada rentang waktu 26 November 1999- 9 Agustus 2001.

Selain itu, mungkin banyak warga Mandar maklum bahwa karena beliaulah propinsi Sulawesi Barat saat ini dapat terwujud. Sudah dua sesi kelas kami diisi oleh kuliah beliau. Pengalaman dan penguasaannya pada strategi bisnis internasional layak dijadikan pelajaran. Tidak salah kiranya jika peraih gelar Doktor dari Universityof Philippines ini disebut sebagai salah satu ekonom berpengaruh di Sulawesi maupun Indonesia.

Tiga tahun menjabat sebagai duta besar berkuasa penuh di Iran, nampaknya memberi impresi dan banyak hal menarik bagi beliau. Cara Pemerintah Iran menghadapi krisis dukungan masyarakat internasional yang dimotori oleh Amerika, di mata Prof Basri layak diapresiasi dan dijadikan pelajaran bagi bangsa Indonesia kaitannya dengan daya tawar bernegara.

“Iran punya pesawat Air bus, juga punya Boeing” Kata Prof Basri. “Namun sejak di”batasi” haknya usahanya oleh Amerika Cs, negera itu pernah kesulitan memeroleh suku cadang. Namun, itu tidak bertahan lama, selain berhasil mendapatkan kebutuhan dimaksud melalui cara-cara taktis. Malah, mampu mengembangkan industri dalam negeri yang mampu bersaing di kancah internasional.

Bagi Prof Basri, apa yang ditempuh oleh Iran dalam menghadapi tekanan itu patut diapresiasi”. Beliau sangat bersemangat saat menceritakan bagaimana Iran dalam perkembangannya mampu berdiri di atas kaki sendiri. Menjadi negara mandiri dan tegar dengan mengembangkan kapasitas sendiri. Memajukan tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan, mengasah keterampilan teknokrat dan tentu saja solidaritas sesama bangsa Persia yang memang terkenal unggul secara akademik.

“Salah satunya adalah bagaimana negara itu melanjutkan program nuklirnya demi jati diri bangsanya” Katanya. Tenaga nuklir adalah salah satu opsi bagi Iran untuk mampu menunjukkan kelebihan mereka atas dominasi Barat.

Prof Basri menyebut bahwa dia termasuk (mungkin) satu-satunya orang Indonesia yang pernah diizinkan melihat instalasi nuklir Iran saat menjabat sebagai duta besar di sana.

“Mereka sukses melanjutkan program yang sempat tertunda saat terjadi revolusi Iran” Katanya. Menurut Prof Basri, “dahulu program nuklir Iran dikerjasamakan dengan perusahaan dari Jerman seperti Siemens dan beberapa perusahaan lainnya. Lokasinya di sekitar Teluk Persia. Namun sejak pecahnya rejim Syah Iran, perusahaan-perusahaan itu menarik diri dan tidak mau membantu program listrik nuklir iran. Namun Iran kemudian dengan upayanya sendiri berhasil menghasilkan energi yang dimaksud”.

Apa yang diceritakan oleh Prof Basri itu kemudian beralih ke hal yang pernah ditempuh oleh BJ Habibie yang dengan gesit pernah mengembangkan industri pesawat terbang.

“Saat saya jadi rektor, saya pernah mendatangkan BJ Habibie untuk berbicara mengenai pentingnya peranan teknologi dalam mengangkat citra bangsa” Kenangnya. “Waktu itu tahun 1992. Pada pelaksanaan konferensi himpunan mahasiswa kelautan se-Indonesia” Kataku pada beliau menambahkan.

Prof Basri bercerita tentang alasan Habibie. Habibie menempuh itu demi menjawab situasi dan kebutuhan Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau. Kelak suatu ketika, negara ini akan benar-benar membutuhkan banyak pesawat untuk melayani kebutuhan transportasi warga. Sekitar tiga puluh tahun lalu, jika saja industry itu benar-benar tumbuh kembang, mungkin kita tidak perlu lagi mengantri pesawat dari Eropa dan Amerika.

Sungguminasa, 03042010

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Ilmu Ekonomi. Bookmark the permalink.

One Response to Iran Di Mata Prof Basri Hasanuddin

  1. La Ode Muh. Yasir Haya says:

    banyak hal positif yang dapat kita petik dari sosok pribadi dan pengalaman panjang seorang Prof. Basri Hasanuddin..pencerahan beliau patut diteladani bg generasi warga bangsa,Salut N terus berkarya untuk Bumi Maritim tercinta INDONESIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s