Reuni Rajuni Di Atas Cahaya Rahmat

Taka Bonerate telah lama dikenal sebagai atol ketiga terbesar di dunia setelah Suvadiva dan Kwajifein di Pasifik. Terumbu karangnya mengoleksi biota yang nyaris terlengkap di Indonesia bahkan dunia. Kawasan ini dihuni tidak lebih 6.000 jiwa. Ada pulau yang berpenghuni ada pula yang tidak. Setelah ditetapkan sebagai Taman Nasional pada tahun 1992 dan dikelola oleh Departemen Kehutanan, upaya konservasi dan penegakan aturan pengelolaan yang ramah lingkungan mulai dicanangkan.

Beberapa tahun terakhir, Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan dan Pemkab Kepulauan Selayar mulai melirik kawasan ini sebagai satu destinasi wisata andalan. Berbagai festival untuk menarik kunjungan wisatawan digelar. Namun sejak ditetapkan sebagai kawasan konservasi dan tujuan wisata itu, hingga saat ini denyut ekonomi yang menghidupkan kawasan itu masih saja bertumpu pada sektor lain, sektor perdagangan dan jasa perhubungan laut. Persis sama dengan tradisi puluhan tahun silam.

***

Terdapat 9 pulau berpenghuni dari 21 pulau atol atau gosong pasir di dalamnya. Salah satunya Pulau Rajuni Kecil. Pulau ini merupakan pulau “tertua” dan telah jadi simpul kebudayaan dan denyut masyarakat Taka Bonerate secara turun temurun. Rajuni dibangun pertama kali oleh Puang Kali (seorang ulama asal Maros), yang konon datang pada tahun 30an merupakan bentukan dari tradisi Bajo dan Bugis Makassar yang masih kuat dipertahankan hingga kini.

Setidaknya terlihat dari jenis pekerjaan dan langgengnya ekonomi warga yang ditopang oleh jasa perdagangan laut. Ada yang secara tegas bahkan memilah bahwa warga Bugis, kuat di usaha perdagangan laut sementara warga Bajo ulet mencari hasil laut. Atau dengan kata lain, warga Bajo yang mencari ikan, pedagang Bugis yang memasarkannya.

Pulau desa ini terbagi atas dua kampung, Kampung Bugis dan Kampung Bajo. Kampung Bugis dihuni oleh dominan Bugis dari Sinjai (utamanya dari pulau pulau Sembilan) dan Bone sedangkan Kampung Bajo, bercampur dengan pendatang dari Selayar dan beberapa dari Buton dan Flores. Puang Kali berhasil mempersatukan orang Bajo dan Bugis-Makassar di pulau itu hingga “diasporanya”berkembang ke pulau-pulau lainnya dalam kawasan.

Pengaruh dan kharisma Puang Kali dirasakan hingga Pulau Tarupa, Pulau Jinato bahkan Pulau Pasitallu di selatan taman nasional ini. Namun sejak meninggalnya, banyak warga merasakan semakin longgarnya hubungan-hubungan sosial budaya itu. Apalagi dengan semakin intensifnya sosialisasi administrasi pemerintahan dan merebaknya partai politik hingga ke kampung-kampung. Namun demikian, denyut ekonomi dan perubahan sosial pada kawasan itu dari tahun ke tahun semakin menarik untuk disimak.

Pada tahun 1995 bersama beberapa sahabat dari Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan UNHAS melakukan penelitian translokasi kima (kerang raksasa, tridacna derasa Roding) yang didukung oleh WWF Indonesia Program dan menghabiskan waktu hampir tiga bulan penuh di Pulau Rajuni Kecil ini.

Kedekatan kami dengan warga Rajuni bermula saat menumpang kapal kayu yang dinakhodai Muhlis dari Pelabuhan Paotere hingga Rajuni di musim timur yang melelahkan. Selama 33 jam kami berjibaku dengan ganas musim timur (musim je’ne kebo, kata orang Selayar). Kami juga berinteraksi dengan para anak buah kapal. Salah satunya Saibung, saat itu umurnya kira-kira 14 tahun. Dari Saibung pulalah, kami memilih tinggal di rumahnya selama tiga bulan.

Saibung, anak pak Coang, nelayan Bajo yang tinggal di tengah kampung bersebelahan dengan mesjid desa. Selain dia ada pula Pak Ajis (kini sudah meninggal) dan Jismi, bapak anak dan dua orang lagi. Dari sana saya mendapatkan pengalaman berharga mengarungi selat Makassar hingga Laut Flores. Pada satu musim timur yang berat.

***

Reuni Rajuni

Semuanya serba kebetulan. Saat sedang menunggu kawan-kawan anggota perkumpulan fotografer Performa dan beberapa lainnya untuk berburu foto di Pelabuhan Paotere. Saat itu saya masih bisa menebak model kapal dan lokasi bersandar mereka. Dan tidak salah lagi, saat menaiki kapal KM. Cahaya Rahmat saya berjumpa lagi dengan sahabat lama.

Lima belas tahun setelah pelayaran itu, pada 4 April 2010 di atas KM. Cahaya Rahmat pada satu sore yang mendung di pelabuhan saya bertemu lagi dengan Muhsin dan Saibung. Saibung, kini terlihat kekar tetapi masih tetap sebagai anak buah kapal. Kapal yang diawakinya ini kepunyaan Muhlis, Haji Muhlis. Nakhoda yang membawa kami beberapa tahun silam. Saibung merupakan anak buah dari Nakhoda Muhsin. Muhsin adalah tetangga saya saat tinggal di rumah Pak Coang, adalah nakhoda pada kapal itu.

“Muhsin menjabat tangan saya dengan lekat. Saibung yang sedang bersiap untuk tidur sore itu di dalam geladak tersenyum lepas dan datang bergabung”. Kami mengobrol akrab dan saling memuji. Saibung kini berumur 28 tahun, tapi ia tidak yakin apa yang tertulis di KTPnya. Muhsin sendiri mengaku sudah 38 tahun dan telah puluhan tahun mengarungi lautan. Saya menggali banyak hal dan informasi berharga dari mereka berdua. Berikut penggalannya.

“Kapan merapat di sini?” Tanyaku pada mereka. Mereka datang satu hari sebelumnya dari Kota Maumere, Nusa Tenggara Timur. “Kami bawa muatan coklat sebanyak 18 ton kepunyaan Toko Fajar di sana. Miliknya Nona Nia” Kata Muchsin. Bobot kapal yang dinakhodainya sebenarnya 35 grosston namun kali ini muatannya lebih kecil.

“Kapal ini milik Haji Muhlis. Kini dia sedang buat kapal yang lebih besar” Lanjut Muhsin. Kapal yang dinakhodainya kini adalah yang terbesar yang pernah saya lihat tahun 2002 saat masih bekerja di sana. Saat itu tidak lebih dari 25 buah kapal yang dimiliki oleh warga Rajuni. Sebagian besar dipunyai oleh para penyedia jasa asal Kampung Bugis.

“Tapi sekarang inimi kapang (mungkin) kapal paling kecil dari sana” Kata Muhsin menambahkan. Rupanya selama rentang waktu sepuluh tahun terakhir, ukuran dan volume kapal dagang dari sana semakin bertambah dan menampung banyak anak buah kapal.

“Saat ini ada 30an kapal penyedia jasa ekspedisi di Rajuni. Kalau yang dulu-dulu sudah banyak yang rusak dan tak beroperasi lagi. Tidak layakmi” Sambungnya. Warga Rajuni memang dikenal sebagai pelaut yang ulung. Mereka menguasai jalur dan karakter peraiaran dari Makassar, perairan Selayar, Laut Flores, Bonerate hingga Maumere bahkan Kupang di NTT.

Jika menarik garis vektor perdagangan Makassar hingga Nusa Tenggara Timur maka dapat disebutkan sebagai berikut: kapal mereka akan mengambil barang di Makassar lalu melewati perairan Selat Makassar melewati Perairan Tanakeke, Takalar melewati peraiaran Selayar lalu, biasanya mereka akan transit selama dua hari di Pulau Rajuni Kecil. Kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri peraiaran Bonerate hingga masuk ke wilayah Nusa Tenggara Timur.

Pada pelayaran sebelumnya, sekitar sebulan yang lalu. Cahaya Rahmat berangkat dari Paotere ke Pelabuhan Maumere membawa semen sebanyak 500 zak (berukuran antara 40 dan 50 kgs) yang dipesan oleh Toko Fajar.

Dia kini sedang menunggu muatan beras sebanyak 500 karung, perkarung seberat 50 kg atau total 25 ton. Nilai sewa persekali trip itu sekitar 10 Juta. Menurut Muhsin, sewa ekspedisi ke Maumere, adalah Rp, 200 ribu perton. Jadi jika muat 25 ton dia akan dapat sewa hingga 5 Juta. Kapal mereka akan menghabiskan bahan bakar dari Makassar ke Maumere hingga 3 drum atau 660 liter. Kini, solar harganya sudah Rp. 4.800. Jika dihitung pengeluaran selama ekspedisi itu membutuhkan biaya sekitar Rp. 7 Juta pergi pulang, Makassar-Maumere.

Ada yang menarik dari model ekspedisi a la pelaut dari Rajuni ini. Rupanya, antara pemilik kapal dan nakhoda hanya berbagi pada akhir tahun, biasanya saat musim barat. “Di situ kita berbagi uang kes” Kata Muhsin. Juragan atau pemilik kapal akan dapat 25 persen. Untuk anak buah kapal mereka akan dapat tiap sekali trip. Sekali jalan biasanya akan dapat Rp. 500ribu maksimum. “Tapi kadang-kadang kurang juga. Tergantung muatan” Kata Muhsin.

Cahaya Rahmat dalam sebulah dapat menempuh dua kali trip. Perhitungannya, Makassar ke Maumere butuh waktu 4 hari – 3 malam Mereka, biasanya habiskan seminggu di Makassar, bbongkar muat biasanya dua hari. Mereka juga akan habiskan waktu bersama keluarga dengan transit di Rajuni baik ed an dari Maumere. “Yah, butuh waktu 15 hari hingga 20 hari sekali trip” Kata Muhsin.

Kru Cahaya Rahmat

Saat kami mengobrol akrab, seorang kru Cahaya Rahmat bernama Jae datang membawa kantung plastik berisi minuman ringan. Rupanya dia telah diperintah Muhsin untuk membeli minuman. Bersama Jae, duduk pula Adam, umurnya 19. Dia adalah kru kapal yang tamat SMP di Kupang, NTT. Sudah tujuh tujuh bulan di mengikuti kapal seperti ini. Adam, sebebelumnya ikut kapal Jismi, lalu pindah ke Nakhoda Ramli dan akhirnya sampai di Cahaya Rahmat. Orang tua Adam, adalah nelayan di Kalabahi, NTT. Dia mengaku muslim.

Di Kalabahi memang terdapat banyak warga muslim. Rupanya nama lengkap Adam adalah Abdul Rasid. Selain Adam, di kapal itu ada juga Junaedi (umurnya 14 tahun), Dominggus yang juga asal Kalabahi, penganut Kristen. Umurnya sama dengan Adam. Di Cahaya Rahmat terdapat 6 orang kru termasuk Nakhoda Muhsin.

Seingat saya, memang terjadi interaksi yang hidup antara pelaut dari Rajuni dan anak-anak muda asal Nusa Tenggara yang berdiam di sekitar pesisir dan Pelabuhan yang dikunjungi oleh kapal-kapal tersebut. Selain mengangkut hasil bumi dari sana seperti kakao, kacang hijau, dan tanaman lainnya seperti buah asam (biasanya bulan Juli hingga Agustus pasokan asam dari Flores sangat banyak), para pelaut ini juga mempekerjakan anak buah kapal asal Flores.

Kapal-kapal dari Makassar mengangkut terigu, beras, gula hingga semen. Begitulah, lintas pengangkutan barang antara Makassar dan beberapa pelabuhan di Nusa Tenggara seperti, Maumere, Kalabahi, Larantuka, Riung hingga Wauwerang.

Nakhoda Muhisin bercerita bahwa sebelumnya dia pernah mengangkut kopi dari Pelabuhan Dili, Timor Timur pada tahun 1995 dan diangkut ke Kalabahi. Sudah tiga kapal kayu yang telah dinakhodai oleh Muhsin, pertama kapal Muhlis, Haji Sahur dan Kapal Kepala Desa Rajuni Alwani. “Kini dia kembali ke Haji Muhlis” Kata Muhsin yang dua anaknya meninggal waktu balita karena sakit yang tidak jelas. Kini dari empat anak yang dikandung istrinya, hanya dua yang bertahan hidup. Kini, istri dan anak-anaknya tinggal di Pulau Rajuni.

Saibung kini telah punya dua orang anak kecil di Kampung Bajo, buah cinta dari Hapsah istrinya. Saibung tinggal di rumah mertuanya. Saibung yang pernah jadi kru kapal yang membawa rotan ke Jambi beberapa waktu lalu mengaku menyukai pekerjaan ini. Walau punya jolor (perahu bermesin dalam) di Rajuni yang dapat digunakan memancing ikan tetapi dia lebih memilih berlayar.

***

Menurut Muhsin, “jIka dihitung kasar, jalur pergi pulang (PP) itu dapat penghasilan kotor hingga Rp. 15 Juta”. Biasanya yang menyewa kapalnya akan memberinya uang kes, saat sampai di pelabuhan pesanan seperti Maumere. Uang itu tidak ditransfer tetapi “cash on hands”. Nilai ini tentu akan lebih besar pada kapal berbobot hingga 50 tonase.

ABK akan mengambil gajinya saat masih di atas kapal. Mereka biasanya gunakan uang tersebut untuk belanja dan hiburan di darat. “Ada pula yang minta disimpankan saja. Nanti di pulau lalu diambil” Kata Muhsin. Dalam setahun, Mushin memperkirakan pemilik kapal, seperti Haji Muhlis di Rajuni itu dapat bersih antara Rp. 30-40 Juta.

Sejauh ini, menurut Muhsin yang diamini Saibung, selama melakukan pelayaran dari Selat Makassar hingga Laut Flores, perairan antara Tanakeke ke Selayar, utamanya pada musim timur sangat berat. Gelombang biasanya sangat keras dan memerlukan keterampilan ekstra. Selain itu, menurut Muhsin, perairan dari Pulau Bonerate ke Maumere juga sangat berat tapi begitulah yang mesti selalu dihadapinya.

Apa yang ditempuh Muhsin, Saibung dan anak-anak muda di atas Cahaya Rahmat adalah satu keniscayaan hidup. Mereka menggeluti pekerjaan ini apa adanya. Mereka tulus menggenapi kebutuhan keluarganya. Demi masa depan anak-anak dan keluarga. Dari merekalah Pulau Rajuni Kecil dari tahun ke tahun dapat bertahan dan terus menggeliat. Bukan dari hasil laut belaka, yang banyak digembar-gemborkan orang.

Di Rajuni Kecil, ada beberapa juragan atau nakhoda yang sudah tua dan bahkan telah meninggal dunia. Di Kampung Bugis, Haji Jawas, Haji Nurdin, sudah tua dan sakit-sakitan. Di Kampung Bajo, Haji Muhajar dan Haji Asri sudah semakin lelah di lautan. Sudah sulit berlayar. Tetapi sudah banyak generasi berikutnya yang telah melanjutkan profesi nakhoda seperti Muhsin.

Ya, betul. Dan mereka semakin tangkas di atas kapal kayu yang semakin berbobot besar dan menampung banyak tenaga kerja. Begitulah seharusnya hidup. Selalu ada yang berubah!

Makassar, 05042010

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Sahabat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s