Maka Menangislah Pagi

Pada lima Juli dua ribu sepuluh di Selatan Kota Sungguminasa. Hanya beberapa puluh meter dari Sungai Jeneberang, saat jarum jam di angka sepuluh lebih dua puluh menit. Pagi mulai panas. Para pengendara bergegas menderu menuju utara kota. Satu persatu, para tukang ojek berbaris mengantri penumpang.

Di dekat simpang tiga, di depan salah satu warnet yang baru buka, saya hentikan motor. Tidak jauh dari pos polisi yang disesaki para tukang ojek. Motor saya menghadap ke utara. Di depan, sepasang anak muda sedang diam beku. Salah satunya sedang menatap kosong.

Si gadis berbaju t-shirt hitam dengan celana denim abu-abu. Matanya sembab. Si lelaki duduk di atas roda dua. Dia berdiri hanya dua meteran dari si lelaki. Umur mereka sepertinya tidak lebih dari 17 tahun. Dia berkulit putih. Badannya padat dengan bentuk kaki nyaris O. Beratnya kira-kira 50an, agak gemuk. Si lelaki berbadan ceking, mungkin tidak sampai 45 kilogram.

Dia lelaki muda kebanyakan. Tanggung. Berbaju hitam dengan celana panjang ketat segitiga terbalilk, persis gaya celana vokalis Ungu, yang ujung celananya mencekik betis. Rambutnya dicukur tipis dengan beberapa bagian dibiarkan tetap panjang, persis ekor tupai.

Dari jarak pandang saya, celana dalamnya yang berwarna cokelat muda menyembul dari celananya yang kedodoran.

Mata si lelaki mengarah ke saya, saat blackberry di genggaman saya utak atik. Saya diam saja. Dia lalu berpaling ke si perempuan. Sepertinya hendak mengajaknya bicara. Si perempuan memutar badannya. Dia enggan. Kedua jemari tangannya memegang wajahnya. Sesekali jemarinya menyentuh hidungnya yang berair. Wajahnya yang putih bersih, terlihat kontras. Bagai merah di atas putih.

Si lelaki melihat ke saya lagi. Dia cemas. Jangan-jangan saya merekamnya dengan blakcberry di tangan. Tangannya tetap di stang motor. Badannya diluruskan di atas sadel seperti hendak menggamit sang gadis. Tapi sang gadis tetap saja bergeming. Air matanya meleleh. Dadanya kembang kempis.

Si lelaki melirik ke kiri dan ke kanan. Di kiri gadis itu di kanan orang yang lalu lalang. Saya di belakangnya. Mereka seperti sedang memikirkan banyak kemungkinan. Si gadis akan pergi, si lelaki mencoba menahannya. Entah apa yang mereka bincangkan hingga si gadis seperti sesak dan kehilangan kesabaran. Dia seperti dikejar kesedihan dan kesia-siaan bersama si lelaki. Lelaki itu tetap saja di atas motor.

Dia mulai cengengesan saat saya buka helm. Dalam hitungan detik setelah itu si gadis telah berdiri di tepi jalan mencegat pete-pete merah. Lelaki itu tersenyum kecut. Saat si gadis naik di kendaraan umum yang sedang penuh. Lalu si lelaki membunyikan mesin motornya dan perlahan berbelok ke dalam kompleks perumahan di arah barat.

Pagi yang berbicara banyak. Dalam hitungan tidak sampai lima menit di selatan Sungguminasa saya merekam kesedihan dan kebersamaan mereka yang sia-sia. Tidak ada basa basi. Tidak ada perbincangan. Ada yang ingin bicara, ada yang terlanjur sesak.

Si gadis menuju utara kota, si lelaki memutar ke lorong kompleks. Mereka berpisah.

Makassar 05072010

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Refleksi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s