Rindu Pepe’ Pepe’ Rumallang

Nun jauh dahulu, pada kampung-kampung penuh gairah  dan kecintaan yang dalam pada bulan penuh berkah dan maghfirah.  Pada saat kabel perusahaan listrik negara belum mengangkangi rumah-rumah panggung warga, pada saat mesin genset semahal pesawat terbang. Pada saat anak-anak dan orang tua hidup atas karunia alam kampung. Saat mereka berkreasi atas apa yang mereka punyai.

Saat itu, masih pagi sekali. Belasan anak-anak telah berkumpul di sekitar pepohonan punaga (bahasa Makassar). Mereka mencari buahnya, biasa disebut pude, yang jatuh berserakan dari pohon. Sekilas pohon punaga terlihat seperti pohon nangka, dengan daun nyaris serupa, licin. Batangnya keras. Biasa dijumpai berdiri kokoh di sekitar pohon mangga atau buah jambu putih, tidak jauh dari anak-anak sungai.

Buah pude bentuknya lebih kecil dari bola pingpong dengan kulit keras. Di dalam buahnya terdapat isi yang kenyal dan berminyak. Buah berminyak itulah yang jadi sasaran anak-anak itu. Bukan hanya anak-anak, para remaja dan orang tua kerap ikut mencari.

Lalu, mau diapakan buah pude itu?

Malam-malam menjelang peristiwa lailatul qadr di kampung-kampung disambut dengan “appepe’-pepe’”. Satu tradisi di masyarakat beberapa tahun silam yang menjadi ciri penerimaan dan apresiasi warga atas malam penuh berkah, lailatul qadr. Biasanya dirayakan tiga malam berturut-turut, walau beberapa warga tetap menyalakan lampu mereka hingga tujuh malam berturut-turut.

Buah pude, dipecah dan isinya ditumbuk untuk kemudian disatukan dengan isi buah pude yang lain. Dijemur dan beberapa saat kemudian dibuat semacam adonan untuk dilumuri atau dibalut di bilah bambu basah sepanjang 30 centimeter. Yang punya banyak buah pude akan membuatnya lebih panjang. Biasanya panjang lumuran bisa sampai 20 centimeter. Bayangkanlah satu bilah kecil bambu yang telah dilumuri isi buah pude dan ujungnya siap dibakar. Buah pude karena menyimpan banyak minyak, sangat mudah terbakar dan tahan lama.

Anak-anak lelaki lalu meletakkan semacam obor kecil berbahan buah pude itu di depan rumah, di balik pagar bambu. Biasanya dibuat formasi baris. Antara 3 – 9 batang. Semakin banyak semakin ramai. Menyulutnya di mulai dari ujung atas. Pepe’-pepe’ akan bertahan beberapa jam, untuk hari berikutnya, mereka telah siapkan.

Bukan hanya pepe’ pepe’ dari pude’. Di malam menjelang dan memasuki peringatan lailatul qadr, malam beribu maghfirah itu, warga akan membuat rumahnya semeriah mungkin dengan cahaya buatan mereka. Mereka membuat obor kecil yang dibuat juga berbaris. Biasanya dibuat dari sepotong bambu berukuran tidak lebih 50 cm. Bambu dilubangi, antara 5-10 lalu dimasukkan ranting bambu menyerupai pipa, sepanjang 7 centimeter telah diisi kain perca. Bayangkan sepotong bambu berisi minyak tanah dengan deretan pipa kecil yang telah diisi kain yang siap disulut.

Bukan hanya itu. Beberapa warga membuat pepe’ pepe’ dari kaleng susu bekas. Melubangi dan menempatkan pipa kecil yang juga telah diisi kain, dan minyak tanah. Bagi yang tertarik untuk tampil beda, lampu dari kaleng susu ini akan ditutup dengan bekas tempat sabun colek yang berwarna warni, ada merah, biru dan kuning lalu menggantungnya di teras (paladang) rumah mereka.

Formasi pepe’pepe’ di malam Ramadhan (orang Makassar menyebut, Rumallang) di kampung nun jauh dahulu, kira-kira sebelum tahun 80an, sebelum datangnya listrik masuk desa sungguh beragam dan mengagumkan. Warga memanfaatkan apa yang tersedia di kampung, buah pude’, bambu, kaleng bekas, kain perca atau sumbu kompor sisa, dan lain sebagainya.

Warga mulai menyalakan pepe’pepe’ mereka setelah selesai shalat magrib. Bagi sebagian anak-anak ada yang lebih memilih jadi pejaga pepe’pepe’, sebagian lainnya pergi tarwih. Yang, membuat ramai adalah seusai shalat tarwih. Banyak warga, utamanya para remaja memanfaatkan malam penuh cahaya itu dengan berkeliling kampung. Mereka menikmatinya.

Tapi dalam setiap keramaian yang melibatkan banyak warga itu selalu saja ada “godaan”. Sepertinya menjadi tradisi bahwa pepe’pepe’ (utamanya yang terbuat dari minyak buah pude’) sangat diminati oleh anak-anak dan mesti jadi rebutan. Sulitnya membuat pepe’pepe’ dari pude’, bagi sebagian sebagian anak-anak sehingga mereka kerap mengambil pepe’pepe’ yang tidak terjaga oleh si empunya rumah.

Seperti ada konvensi, bahwa warga yang tidak menjaga pepe’pepe’ yang mereka taruh di kaki pagar bambu rumah adalah kesempatan bagi anak-anak untuk mengambilnya. Karena situasi ini, banyak anak-anak lebih memilih duduk di teras rumah dan menjaganya

Asiknya di situ, mereka saling menjaga dan jika ada yang kedapatan mengambil pepe’pepe’, maka dia tidak dipukul atau disiksa tetapi ditertawai. “ya, kugappaiko!”, ya, saya pergoki!. Yang mengambil hanya terkekeh dan dengan spontan mengembalikan pepe’pepe’ curian.

Saat bersamaan pula, sebagian lelaki dewasa menyulut meriam bambu. Bambu betung (pattung, Makassar) yang besar dipotong sepanjang dua meter. Di buat satu lubang kecil di salah satu ujungnya. Ruas dalam bambu telah  di lubangi hingga tembus ke lubang sulut. Anak-anak remaja menyulut meriam bambu yang diposisikan miring, sebagaimana layaknya letak meriam dalam perang terbuka. Boom…duarrr!!!

Suasana menjadi semakin ramai. Ah, saya rindu suasana itu…

Sungguminasa, 28 Agustus 2010

*foto diambil dari okezone.com

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Desa-Desa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s