Maka Menangislah Pagi

Pada lima Juli dua ribu sepuluh di Selatan Kota Sungguminasa. Hanya beberapa puluh meter dari Sungai Jeneberang, saat jarum jam di angka sepuluh lebih dua puluh menit. Pagi mulai panas. Para pengendara bergegas menderu menuju utara kota. Satu persatu, para tukang ojek berbaris mengantri penumpang.

Di dekat simpang tiga, di depan salah satu warnet yang baru buka, saya hentikan motor. Tidak jauh dari pos polisi yang disesaki para tukang ojek. Motor saya menghadap ke utara. Di depan, sepasang anak muda sedang diam beku. Salah satunya sedang menatap kosong. read more

Advertisement
Posted in Refleksi | Leave a comment

Mengapa Bong Tinggal Kelas

Tamarunang, Gowa pada satu pagi yang cerah di hari libur nasional tepatnya Kamis, tanggal 13 Mei 2010. Tidak jauh dari batang sungai Jeneberang. Belasan anak-anak antara 8 hingga 14 tahun sedang main bola di depan rumah kami. Rumah kami bersebelahan dengan rumah Haris Rasyid, staf pada Kantor Infokom Gowa dan mantan ketua RW 06, lingkungan kami.

Beberapa anak lainnya menonton kawannya yang main bola, ada yang main dengan mengenakan sandal, ada pula yang telanjang kaki di atas aspal jalan kompleks yang mulai mengelupas. Saya ikut bergabung di sisi jalan. Tangan kanan saya masih bengkak seusai kecelakaan di Parang Tambung sehari sebelumnya. -read more->

Posted in Refleksi | 6 Comments

Anak-Anak, Kita dan Goda Internet

Si sulung Intan kini sumringah. Bangga sejajar teman sekelasnya karena telah punya akun jejaring sosial. Khalid Adam, adiknya tidak mau kalah, merengek dibuatkan akun walau saya tolak. Dunia internet semakin dekat ke mereka, dunia yang disebut sebagai pemicu merebaknya gambar mesum, aksi tak senonoh. Dari koleksi vulgar anggota dewan, artis, pegawai negeri hingga adegan mesum murid sekolahan.

Anak saya euforia dengan goda internet karena cerita teman sekolahnya. Dua orang “pamannya” yang masih SD juga sudah punya akun, walau mereka gunakan hanya untuk main game, sebagaimana diakuinya. Lalu, beberapa petak rumah dari tempat saya, dua warnet telah beroperasi. Beberapa anak seusia Intan, telah keluar masuk warnet itu. Sebagai bandingan, saya mengenal internet beberapa tahun setelah sarjana. read more

Posted in Refleksi | 3 Comments

Kompasianer di CCC, Bincang Konten Hingga Curhat Yusran

Kasus korupsi sedikitnya Rp 4 miliar pada pembebasan lahan pembangunan gedung Clebes Convention Center (CCC) di Jl. Metro Tanjung Bunga, Makassar sedang bergulir di Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Namun kabar itu seperti tidak terasa pada pelaksaanaan Kompas Gramedia Fair, 27 April – 2 Mei 2010 di Gedung berperkara milik pemerintah tersebut. Warga hilir mudik keluar masuk stan pameran dan bursa buku murah di hari terakhir gala tersebut.

Selain bursa buku, beberapa kegiatan edukatif juga digelar diantaranya lomba mewarnai anak-anak dan kompetisi sains kreatif tingkat sekolah. Tanggal 2 Mei 2010 itu pula, Kompasiana, salah satu wadah jurnalisme warga keroyokan yang diasuh oleh unit kerja Kompas menggelar acara “Kompasiana Nangkring di Makassar”. read more

Posted in Sahabat | Leave a comment

Menyoal Predikat Miskin

“Sotta!” Kata anak saya ke teman mainnya saat kerja kelompok. Dia mengatai temannya sok tahu saat si teman menyebut sesuatu yang tidak jelas dalilnya. Lalu, lelaki usil pada perempuan, suka menggoda, dalam bahasa Makassar disebut lale, maleda’ dalam bahasa Luwu. Anak baru gede atau remaja yang kerap menulis dengan gaya nyeleneh di Jakarat semisal “ny3l3n3h, l4l3, m4l3d@k” disebut Alay.

Predikat dilekatkan pada si tersangka. Orang luar memberi label, bungkus, paket kepada siapa saja yang pantas diganjar. Entah darimana mulainya, kebiasaan memberi predikat itu semakin menjadi-jadi dan nyaris luput dari perdebatan. Bahkan orang orang terdidik, akademisi, ahli lebih asik memilih angka-angka standar, kriteria dan padanan yang pas untuk mengukuhkan bahwa miskin memang predikat yang menarik, pantas dan mesti diwaspadai. read more

Posted in Refleksi | Leave a comment