Di Punaga, Saat Lahan Budidaya Rumput Laut Mesti Dibeli

Sudah lama laut kerap dianggap sebagai wilayah tak bertuan, juga disebut “common property” atau milik bersama. Karena status itu, warga yang telah lama berdiam di sekitar wilayah pesisir utamanya sekitar wilayah desa pantai berhak mengelolanya sesuai dengan pandangan mereka atas wujud historis laut itu. Kini, untuk beberapa alasan, memanfaatkan laut rupanya tidak sesederhana yang kita bayangkan, misalnya dengan melayarinya atau menambatkan perahu semata namun lebih dari fungsi itu.

Di saat pertumbuhan penduduk semakin meningkat mereka mulai menganggapnya sebagai milik pribadi atau bahkan “tanah” tumpah darah. Karena mereka lebih dahulu di sana. Kehidupan warga keturunan Bajo seperti di Sulawesi Tenggara atau di pesisir timur Kalimantan Timur yang menghabiskan waktunya di atas laut dari awal mula hidup hingga berpulang adalah contoh nyata.

****

Bagaimana dengan pengelolaan laut di desa-desa Sulawesi Selatan? Memang, bagi warga Bugis Makassar laut adalah lambing kejayaan dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial ekonomi mereka. Sejarah mencatat, penguasaan navigasi dan teknik-teknik pelayaran, astronomi adalah kelebihan kedua bangsa maritim ini. Pemanfaatan laut masih sangat “tradisional dan melekat pada siapa yang lebih dahulu memanfaatkannya”. Ada indikasi bahwa lambat laun mereka mengklaimnya sebagai milik pribadi dan layak di”bayar”oleh siapapun yang mau menggunakannya.

Tanggal 18 Pebruari 2010, Kami menyusuri poros jalan raya utama Takalar – Jeneponto lalu berbelok ke kanan menuju kawasan wisata pantai Topejawa. Kami tidak hendak berwisata di Topejawa tetapi menyusur jalan desa Cikoang ke arah selatan. Cikoang, bagi sebagian besar warga Makassar dikenal sebagai lokasi perayaan maulid yang meriah nan heboh. Tiap tahun, kawasan ini selalu dikunjungi wisatawan domestic demi melihat perayaan hari kelahiran nabi Muhammad SAW itu.

Kami menuju desa Punaga, kecamatan Mangngara Bombang, Kabupaten Takalar. Sebelum sampai di sana kami lewati jalan beraspal namun terasa sempit. Di kiri kanan jalan hamparan rumput menghijau dan pohon jawa yang sangat lebat memberi kesan subur dan sejuk.

“Saat musim kemarau, kampung di sini sangat gersang sekali”. Kata Nurlinda Daeng Taco, salah seorang aktivis LSM di Takalar. Padang rumput hijau itu merupakan lahan bagi ternak warga. Tidak jauh dari itu, konon di seberang jalan pernah dibangun pemukiman transmigran tapi rumah yang pernah dibangun itu banyak yang sudah raib.

“Sebagian besar warga transmigran lokal dari Takalar, termasuk dari Jeneponton dan Galesong namun banyak yang kembali ke kampung asal karena kendala air tawar”. Kata Linda. Di kiri jalan sebelum masuk ke Desa Punaga, dari kejauhan terlihat kawasan Teluk Laikang, yang konon merupakan salah satu lokasi budidaya rumput laut terbaik di Takalar.

Selama hampir satu jam perjalanan dari ibukota Takalar akhirnya kami tiba di Kampung Malelaya. Di desa ini telah menunggu Ipah, salah seorang fasilitator masyarakat setempat yang telah menjadi peserta latih kami dalam tiga seri pelatihan fasilitator masyarakat di Takalar.

Matahari tegak lurus di atas kepala saat menyambangi Emba Dg Lawang yang sedang ditemani istrinya Daeng Mamu. Kami perhatikan mereka adalah sepasang suami istri yang hilir mudik dari sampan kecil yang sarat rumput laut menuju tempat penjemuran di ruas jalan depan mesjid desa. Bukan para-para tetapi bahu jalan. Saat itu saya juga sempat menyapa seorang wanita paruh baya, berbadan gemuk, berkulit hitam dengan aksen Jawa.

Saya mendekat dan memeriksa rumput laut (Euchema spp, Latin) yang dibawanya. Warnanya hijau tua dengan ruas batang kasar yang sangat tebal. Daeng Lawang adalah petani rumput laut yang telah mulai menanam sejak tahun 1995. Kedua pasangan ini memberi kabar bahwa saat ini harga rumput laut kering mulai membaik. “Harga yang beredar di sini, antara harga Rp.6.000,- hingga Rp. 7.000,-“ Ucap Daeng Lawang.

Di tempat terpisah, Muntu Daeng Situju, Kepala Dusun Malelaya sedang mengamati tiga orang pekerja yang sedang memotong-motong rumput laut warna cokelat dan mengikatnya di kolong rumah. Belasan bentangan sepanjang 20 meter sedang disiapkan untuk mereka ikat lagi di laut sebagai permulaan menanam rumput laut.

Di desa ini terdapat dua jenis rumput laut yang dibudidayakan, jenis Euchema spp, berwarna hijau dan coklat bening. Budidaya rumput laut rupanya telah lama menjadi pekerjaan warga Malelaya. Mereka mengenal praktek ini saat tahun 1992, dinas perikanan kabupaten memperkenalkan spesies penghasil agar-agar ini.

Setelah mengobrol dengan mereka saya kemudian berjalan menuju pesisir pantai Punaga. Ternyata bukan hanya Daeng Lawang dan Daeng Situju tetapi beberapa warga di kolong rumah dan di pantai. Ada yang mengangkat tali rumput laut. Ada pula yang mengangkat ke dalam kolong rumah.

Cerita Daeng Ponto

Di satu ruas jalan desa yang beraspakl dan dipadati beberapa pohon beringin lebat saya terhenti. Terdapat banyak sekali perahu dengan model seragam (biru hitam) telah dijejerkan dengan rapi. “Itu bantuan dari pemerintah kepada para petani rumput laut di desa Punaga tapi belum diserahterimakan” Kata Daeng Ponto yang menerima kami.

Syamsu Alam Daeng Ponto, 30 tahun adalah petani rumput laut di Malelaya. Di kolong rumahnya terdapat empat perempuan muda sedang melepaskan bibit dari tali nilon warna biru.
Mereka sedang mempersiapkan bibit agara’ (dalam bahasa Makassar). Mereka adalah Intang, Kasmi, Daeng Bola, Daeng Kanang. Mereka sudah berkeluarga. Mereka digaji sesuai dengan berapa bentang yang mereka bisa siapkan. Nilainya Rp.500 perbentang.

“Bibit rumput laut ini sudah 25 hari ditanam dan kini kami akan perbanyak untuk ditanam lagi” Katanya. Biasanya akan ditanam pada malam hari tidak lama setelah diikat di tali bentangan saat air surut. Syamsu mengaku punya tiga lokasi yang telah dimanfaatkan sejauh ini. “Ada yang jaraknya 100 meter dari pantai ada pula 150 meter” Katanya. Dia peroleh keterampilan menanam rumput laut, menurun dari orang tuanya, saat masih SD.

Lokasi budidaya rumput laut Malelaya sangat berbeda dengan lahan lain seperti di Teluk Laikang. Di dasar laut terdapat hamparan bebatuan. “Saat surut batu-batu itu jelas terlihat” Kata Daeng Ponto. Di bagian laut itulah kami memasang bentangan tali nilon yang telah diikatkan bibit rumput laut. “Kami biasanya memilih kedalaman 50 meter saat surut” Katanya lagi.

“Bulan-bulan seperti ini kegiatan warga adalah mulai menebar bibit rumput laut walau ada juga yang telah panen, mengeringkannya dan menjual kepada pembeli dari kampung sekitar” Ujar Daeng Ponto.

Di dusun Malelaya, menurut perhitungan saya terdapat empat muara sungai kecil. Sangat kecil jadi tidak berpengaruh pada kadar salinitas. Mungkin ini salah satu alasan mengapa daerah ini sangat pas untuk budidaya rumput alut. Menurut Daeng Ponto, muara sungai besar itu adalah muara Cikoang. Beberapa kilometer dari kampungnya.

Warga menanam rumput laut pada bulan seperti ini hingga bulan April. Biasanya pada saat itu panen menjadi panen terakhir. Pada musim kemarau, warga memilih tidak menanam karena rumput laut sering diserang putih batang atau Ice ice.

Menurut perhitungan Daeng Ponto, karena dia mempunyai dua lokasi makan berton-ton rumput laut diproduksi dari lahannnya itu. “Kami menggunakan panjangan bentangan 20 meter dan jika telah panen dan dikeringkan tiap bentangan dapat menghasilkan 4-5 kilogram kering”. Saat di laut kami menggunakan metode lepas dasar. Dalam istilah budidaya disebut metode off bottom dimana tali dibentang tepat diantara tinggi patok yang telah dipasang berhadapan.

Hasilnya itu dijual kepada pengumpul lokal. Ada empat yang kerap membeli hasil mereka, yaitu H. Natsir, Daeng Tojeng, Pak Dusun Situju dan Daeng Mangka. Saat ini, harga perkilo rumput laut adalah Rp. 6ribu. Tahun lalu sempat naik pada harga 15ribu. “Saya ingat harga rumput laut kering pada tahun 2000, adalah Rp. 4.500. Rumput laut mereka di keringkan di depan rumah dan biasanya setelah 5 hari penjemuran pedagang pembeli datang menimbang.

Sebagian besar warga di Dusun berpenghuni 58 KK ini adalah pembudidaya rumput laut. Mereka juga punya sumber pendapatan lain yaitu dengan beternak sapi dan berkebun. Saat musim kemarau, mereka hampir tidak menanam rumput laut.

Dahulu warga menanam masih menggunakan model panjang bentangan cuma lima meter dengan metode rakit. Namun kemudian warga belajar bahwa ternyata metode patok atau off bottom lebih tepat. Daeng Ponto ingat usaha budidaya ini mulai berkembang pesat pada tahun 1994. Subur sekali. Hasilnya sangat menjanjikan. “Saya ingat tahun itu harganya masih Rp. 250 dan tahun 96-97 bergerak ke harga Rp. 600-700.

Semakin Padat

Sebagai kampung, Malelaya tidak terlalu luas. Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer. Pesisir pantainya membentar dari timur ke barat menghadap pantai selatan. Di sebelah timur telah ada beberapa bangunan wisata. Konon, sebagian merupakan milik pejabat di Takalar. Mereka membangun cottage pada bukit-bukit kecil yang asri menghadap pantai.

Tentang kegiatan budidaya yang semakin digemari warga ini, rupanya ketersediaan lahan semakin menipis karena sebagian besar telah dikapling oleh orang setempat. Banyak lahan yang dialihkan dari keluarga dekat, seperti anak ke bapak. Namun banyak pula warga yang mulai tidak kebagian.

Sejauh ini, mulai ada sedikit pertentangan kecil antar warga karena pengkaplingan laut untuk lokasi budidaya ini belum diatur secara khusus baik oleh pemerintah kabupaten maupun desa. Sedari dulu, warga setempat (warga kampung asli) memang bebas mengklaim lahannya. Namun,seiring semakin bertambahnya penduduk, kebutuhan lahan budidaya ini semakin meningkat.

“Sejauh ini konflik belum ada namun riak-riaknya sudah mulai terasa” Kata Daeng Ponto. Ada juga warga dari desa lain yang datang ke Punaga menyewa atau pinjam pakai lahan warga.“Mulai ada sistem kontrak bahkan “diperjualbelikan”. Yakni, transaksi antara yang pertama mengelola dan siapa yang berminat berusaha demikian sementara pemilik lahan sebelumnya tidak punya waktu mengelolanya.

“Saya termasuk yang membeli lahan budidaya ini. Saya harus merogoh kocek hingga Rp. 5 Juta untuk usaha budidaya ini” Katanya lagi. Investasi Daeng Ponto ini memang berbuah manis karena dari usaha itu dia meraup jutaan rupiah sejak menanaminya.

Namun ada pertanyaan, “apa jadinya nanti jika penduduk setempat semakin bertambah, sementara lahan budidaya semakin terbatas”? Bukankah laut adalah hak bersama?

Sungguminasa 20/02/2010

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Desa-Desa. Bookmark the permalink.

2 Responses to Di Punaga, Saat Lahan Budidaya Rumput Laut Mesti Dibeli

  1. solvapotter says:

    salam..

    saat ini saya menjual CD cara budidaya rumput laut yang benar, hanya dengan harga 60 ribu/CD (sdh msk ongkos krm). CD bukan berisi ebook PDF atau paparan data melainkan video interaktif/audio visual bagaimana prakteknya langsung di lapangan. dan ada juga buku panduannya (berwarna + bergambar) harga 60 ribu.

    jika berminat silahkan hub.saya di 081-911857815 atau email rozi679@gmail.com.

    terima kasih

  2. ronald says:

    Awas kena tipu dengan org yg menjual CD diatas “cara budidaya rumput laut yang benar”, isinya tidak sesuai dengan yang dibilang alias PENIPU!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s